
Fathur berjalan disamping Rara mengimbangi langkah kaki gadis itu.
Di halaman villa milik keluarga Rara.
Sesekali ia melirik paras cantik Rara yang terlihat mencoba bersikap biasa saja.
"Hmmmm Ra.."
"Ya"
Jawab Rara dengan kikuk.
"Masalah tadi, hmmm gue... hmmm.."
"Apa?"
Fathur terdiam, ia menghentikan langkah nya dan menatap Rara.
"Ra.. gue..."
"Jadi kenapa surat-surat itu tidak pernah kamu kasih ke aku?"
Tanya Rara sambil menatap mata Fathur yang terlihat sangat terkejut.
"Su..su..surat apa Ra?"
Tanyanya kepada Rara dengan wajah yang penasaran.
"Surat di box hitam"
Jawab Rara, lalu gadis itu kembali melangkahkan kakinya menuju bangku taman. Fathur pun langsung menyusul Rara dan ikut duduk di samping Rara dengan gelisah.
"Lu kok tau?"
Tanya Fathur penasaran, Rara pun hanya tersenyum tipis.
"Maaf, aku mengacak-acak kamar kamu"
Ucap Rara sambil menundukkan pandangan nya.
Fathur hanya terdiam, ia mengusap wajah nya dengan kedua telapak tangan nya. Ia merasa begitu malu karena perasaan nya di ketahui oleh Rara.
"Kenapa?"
Tanya Rara sambil melirik Fathur dengan santai.
"Gak, gak apa-apa"
Fathur mengepalkan kedua tangan nya, mencari kekuatan untuk bisa menatap gadis yang selama ini ia cintai. Hingga ia mencoba memberanikan dirinya untuk kembali menatap Rara.
"Maaf, gue memang pengecut"
Ucap nya, lalu mereka berdua terdiam.
Rara menggigit sudut bibir nya, dan membuang pandangan nya ke sekumpulan burung-burung yang bertengger di pepohonan di halaman villa tersebut.
"Apa perasaan itu masih sama?"
Pertanyaan Rara membuat Fathur semakin gelisah. Ia menatap mata Rara dengan seksama.
"Ternyata selama ini kamu mencintai aku? semua yang kamu lakukan untuk ku itu cinta?"
Fathur tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya mampu terdiam sambil terus menatap gadis itu. Fathur merasa sangat bersalah bila Rara merasa semua perbuatan baik nya hanya karena dirinya mempunyai maksud kepada Rara. Padahal ia memang tulus melakukan apa saja untuk Rara.
"Gue tulus, melakukan apa saja untuk lu... gue tulus Ra, bukan hanya karena cinta. Tetapi gue memang tidak ingin lu kenapa-kenapa"
Ucap Fathur dengan pelan. Rara pun tersenyum menatap Fathur.
"Aku faham kok"
Fathur melirik Rara saat mendengar ucapan gadis itu.
Gumam Fathur.
"Hmm.. maaf tentang ciuman tadi"
Fathur memberanikan diri untuk membahas ciuman ke dua mereka.
Wajah Rara terlihat memerah, dan ia pun menunduk malu.
"Hmmm.. aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Tetapi, aku mulai sadar. Selama ini aku sangat membutuhkan kamu. Kamu yang selalu ada di samping aku. Kamu yang perhatian nya melebihi perhatian siapa pun untuk ku. Aku... aku tidak mengerti apa yang saat ini aku rasakan. Aku sudah tidak peduli kepada masalah ku, saat ini.. entah mengapa... bayangan mu... ck..."
Rara tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia pun berdiri dari duduk nya dan kembali berjalan menuju ke arah sungai kecil yang mengalir di sisi barat Villa.
"Ra...! kamu bertanya apakah cinta itu masih ada? jawaban nya tidak pernah padam Ra..!"
Ucapan Fathur sukses menghentikan langkah kaki Rara.
"Iya.. aku mencintaimu sejak awal pertama kali kita berjumpa saat Masa Oreintasi Siswa di SMA. Sejak saat itu, rasa ini tidak pernah berubah Ra.!
Dan kamu juga pernah bertanya, mengapa aku tidak pernah mau pacaran atau aku tidak mau serius dengan wanita mana pun.
Itu karena kamu Ra..! Sebelas tahun Ra..! Cinta ini tidak pernah berubah..!"
Fathur menghampiri Rara. Kini ia sudah berdiri tepat di hadapan Rara.
"Aku sudah berusaha membunuh rasa ini Ra, saat kamu dan Andreas bertunangan. Tetapi..., rasa ini tidak mau pergi..! ya, ini cinta...! cinta untuk kamu..! hanya kamu satu-satunya..!"
Mata Fathur mulai berembun, akhir nya ia bisa mengatakan semua isi hatinya yang selama ini ia pendam. Ia terbawa emosi saat mengatakan perasaan nya kepada Rara.
Rara menatap kedua bola mata Fathur. tanpa basa basi lagi, Rara langsung mengecup bibir Fathur. Gadis itu pun menangis dan memeluk erat tubuh Fathur.
Mereka menangis meluapkan emosi mereka di sore hari itu.
....
Nia kembali ke mobilnya saat ia selesai mengintai Alin dan Andreas yang sedang berjalan-jalan di gedung mall tersebut. Ia berhasil merekam semua kegiatan mereka. Hanya satu yang ia tidak bisa merekam, saat di dalam gedung bioskop. Tetapi Nia dapat menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya, bahwa Alin berciuman dengan mesra dengan Andreas.
Nia yang sengaja mengambil kursi di atas mereka tidak melepaskan pandangannya kepada dua penghianat itu.
Darah Nia mendidih seakan dirinya lah yang sedang di khianati.
Alin dan Andreas tidak menyadari kehadiran Nia di dalam studio bioskop itu. Karena Nia memakai masker dan topi milik Rafael, adik sepupunya yang kebetulan tertinggal di mobil milik nya.
Nia juga memakai kaos gombrong milik Rafael. Hingga Aline dan Andreas tidak menyadari kehadiran nya.
Nia juga sukses merekam Alin yang sedang asik berbelanja bersama Andreas dan juga makan di restoran di gedung mall tersebut.
Nia mengatur napas nya saat duduk di balik kemudi mobilnya. Ia meraih botol air mineral milik nya yang tergeletak di kursi penumpang. Lalu menenggak habis isi dari botol kemasan tersebut.
Lalu ia mulai mengendarai mobilnya setelah ia melihat mobil Andreas mulai beranjak dari mall tersebut.
"B*st*rd"
Makinya, sambil memukul kemudi mobil.
Setelah itu Nia melihat Andreas kembali ke apartemen nya. Tidak berapa lama kemudian, Alin pun turun dan pergi dari apartemen tersebut. Aline terlihat sangat gembira saat turun dari apartemen Andreas.
Gadis itu pun memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia menyetel lagu favorit nya di dalam mobil, sambil ikut bersenandung mengikuti lagu-lagu yang terputar otomatis dari flashdisk. Ia pun menuju ke cafe milik nya.
Setelah sampai di cafe milik nya, dengan santai Alin mengambil sebotol beer dari lemari pendingin di samping meja kasir. Lalu ia ke taman belakang untuk duduk dan menikmati beer dingin nya dengan sebungkus rokok yang ia keluarkan dari dalam tas nya.
Alin tersenyum puas saat mengingat janji Andreas yang diam-diam akan menikahinya setelah pernikahan Andreas dan Rara terlaksana. Ia tidak masalah menjadi yang kedua bagi Andreas. Asal, setelah itu dia akan berusaha membuat Rara dan Andreas bercerai di kemudian hari.
"Tidak sia-sia aku merajuk berhari-hari kepada Andreas, nyatanya lelaki itu tidak tahan bila aku merajuk kepadanya. Sekarang, ia berjanji akan menikahi ku, akhir nya hubungan ini tidak lagi hanya sekedar main-main bagi Andreas. Ia akan serius kepada ku"
Gumam nya sambil menghisap rokok yang ada di tangan nya. Ia pun memandangi satu persatu kantung belanja yang berjejer rapi di atas meja nya. Apa pun yang dia inginkan, Andreas pasti membelikan untuk nya. Asal, dirinya tidak lagi merajuk dan terus tetap mempertahankan hubungan mereka.
"See.. kita lihat Rara, lu akan menjalani rumah tangga yang seperti neraka, lalu kalian bercerai. Sekarang, bersenang-senang lah dahulu, gue pinjamkan Andreas untuk lu, sebelum gue mengambilnya kembali"
Alin tersenyum puas lalu menenggak beer itu secara perlahan dan menaruh nya kembali di atas meja. Lalu ia bersenandung kecil merayakan kebahagiaan nya hari ini.