H -

H -
ch 33. Lupakan



Sepeninggal Rara, kini tinggal mereka bertiga. Andreas, Naya dan Alin.


mereka bertiga hanya diam tanpa kata.


"Aku tidak tahu, ternyata kamu sebrengs*k ini"


Naya mengambil tas nya yang tergeletak di lantai.


"Jangan pernah temui aku lagi"


Sambung Naya lagi. Ia hendak keluar dari kamar Andreas, tetapi lelaki itu menahan tangan nya. Naya menatap Andreas dengan gejolak benci yang tak bisa ia lukiskan.


"Nay, sebenarnya aku juga mencintaimu. Tetapi maaf aku tidak bisa memilih kamu Nay"


Ucap Andreas dengan wajah sendu.


"Cinta? Bukankah kamu mengatakan hanya nafsu kepada ku? Kamu tadi bilang sendiri sama Rara kan?"


Ucap gadis itu sambil mengusap air matanya yang kembali meleleh di pipi.


"Aku bilang begitu hanya karena aku tidak mau pernikahan ku gagal Nay, maafkan aku ya"


Ucapan Andreas membuat gadis itu menjadi geram.


"Kamu memang buaya Andreas..! Aku benci sama kamu. Kamu selalu mengatakan hal yang berbeda-beda kepada setiap gadis. Aku tidak akan mau melihat wajah mu lagi"


Naya menghempaskan tangan Andreas dari lengan nya. Lalu ia meninggalkan apartemen itu dengan luka di hati nya.


Naya mulai menyesali persahabatan yang sudah ia bangun selama sebelas tahun, hancur hanya gara-gara kesalahan nya yang mencintai lelaki bermulut manis itu.


Kini Naya tidak mempunyai sahabat lagi. Semua pasti akan membenci dirinya. Kini, Andreas pun akan tetap bersama Rara karena Rara memaafkan semua perbuatan Andreas kepadanya.


Secuil kebodohan membuat semuanya hancur berkeping-keping.


Naya menyesali semua yang sudah terjadi. Ia menangis di dalam taxi yang ia tumpangi.


Saat ini, dunia tidak berpihak kepadanya. Ia benar-benar merasa frustasi dan sendirian.


..


"Beb... aku memaafkan kamu kok beb.. Jangan tinggalkan aku ya beb. Aku tetap bisa jadi yang kedua kok beb. Aku gak mau semua nya berakhir"


Alin mencoba membujuk Andreas untuk tetap bersama nya. Lelaki itu hanya menatap Alin dengan tatapan muak.


"Kamu itu sakit jiwa..! Aku sudah tahu latar belakang kamu. Aku tidak mau dengan wanita seperti mu..!"


Ucap Andreas sambil membuka kemejanya lalu mengganti dengan kemeja yang baru saja ia ambil dari lemarinya.


"Tetapi kamu tidak bisa begini beb, aku mencintai kamu beb. Jangan tinggalkan aku..! Aku akan terima kamu apa adanya, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu beb. Terserah kamu mau nikah sama siapa aja, asal kamu tidak pernah meninggalkan aku..!"


Alin mulai histeris, tubuh nya bergetar ia menghampiri Andreas lalu mencoba untuk memeluk lelaki itu. Tetapi tangan nya buru-buru di tepis Andreas.


"AKU.. TIDAK... MAU.. LAGI... PUNYA... HUBUNGAN.. DENGAN... KAMU..!!! PAHAM?"


Andreas menatap Alin dan mempertegas ucapan nya kepada gadis itu.


"ANDREAS...! KAMU TIDAK BISA MENCAMPAKKAN AKU SEPERTI INI..!"


Alin mulai menggila. Ia terus-menerus memohon dan menarik kemeja Andreas hingga kancing kemeja itu copot dan bertebaran di lantai. Kini kesabaran Andreas sudah Habis terhadap Alin. Dengan kesal Andreas menyeret Alin keluar dari apartemen nya lalu mendorong Alin tepat di depan pintu nya.


"Jangan pernah kembali lagi ke sini..!"


BRAKKKKK..!!!!


Andreas membanting pintunya.


sedangkan Alin terus menerus menggedor pintu apartemen Andreas sambil terus berteriak untuk di bukakan pintu oleh lelaki itu. Tetapi Andreas tidak peduli, lalu ia menelpon pos security untuk mengusir Alin dari depan pintunya.


Tidak lama kemudian dua orang security datang dan mengusir Alin dengan kasar.


Gadis itu merasa hancur, dendam dan benci secara bersamaan. Ia tidak bisa menerima perlakuan Andreas kali ini terhadap nya. Alin berpikir akan melakukan sesuatu yang lebih gila lagi dari pada apa yang sudah ia lakukan saat ini.


....


Nia tertawa terbahak-bahak saat ia mengemudikan mobilnya untuk mengantarkan Rara pulang kerumah.


"Parahhhh parahhhh... ide lu Ra.. cadasss pokok nya"


Nia melirik Rara dengan senyum penuh kepuasan.


"Kalau mereka bisa saling pukul kenapa harus pakai tangan gue?"


Sahut Rara dengan puas.


Sambung Nia lagi.


Rara hanya tersenyum kecut lalu ia menatap sahabatnya itu dengan seksama.


"Masih ada rencana yang lebih seru lagi"


"Rencana apa? By the way lu serius maafin Andreas? Lu jadi nikah sama dia? Lu gak gila kan?"


Tanya Nia sambil menempelkan punggung tangan nya ke dahi Rara.


Rara hanya tersenyum menerima perlakuan Nia.


"Liat aja nanti.. gue jadi nikah kok"


Nia menghentikan laju mobilnya di bahu jalan. Lalu menatap Rara tak percaya.


"Lu gak bercanda kan? Apa lu mau bikin Andreas menderita di dalam pernikahan kalian? Lu rela tidur gitu di samping Andreas yang seperti itu? Gak jijik?"


Nia mencari kesungguhan dari ucapan sahabat nya, Rara.


Rara hanya tersenyum penuh arti. Ia hanya memeluk sahabat nya itu, lalu mengucapkan terimakasih atas semua dukungan dari Nia. Tanpa Nia, mungkin semua ini tidak akan terungkap.


Tetapi, Nia terus mendesak Rara untuk mengatakan bahwa ucapan Rara akan tetap menikah itu hanyalah guyonan belaka. Tetapi Rara tidak mau mengatakan apa-apa lagi, selain terimakasih.


Akhirnya Nia menyerah, lalu ia melanjutkan perjalanan menuju rumah Rara.


...


flashback on


Nia dan Rara memantau pintu cafe milik Alin.


Ia melihat Alin dengan terburu-buru keluar dari cafe nya, lalu mengendarai mobilnya dengan cepat menuju Apartemen Andreas.


Mereka pun mengikuti Alin dari belakang.


Setelah sampai di depan Apartemen Andreas, sambil memakan cemilan, Rara dan Nia terus mengawasi Alin yang menunggu kedatangan Andreas.


Tidak lama kemudian, Andreas pulang ke apartemen nya dengan Naya. Dan masuk kedalam dengan merangkul Naya yang sudah berjalan dengan sempoyongan.


Mereka melihat Alin mengikuti Andreas masuk kedalam gedung apartemen tersebut, sesaat setelah Andreas masuk kedalam gedung itu.


"Seru nih..!"


Ucap Nia, sambil menatap Rara dan tersenyum.


"Seru lah, tunggu cakar-cakaran dulu baru kita masuk"


Ucap Rara. Lalu gadis itu meraih sebotol air mineral dan meminum air itu sampai tinggal setengah.


Setengah jam kemudian, Rara menyusul masuk kedalam apartemen Andreas. Rencana awalnya, ia ingin seperti layak nya sedang mampir ke apartemen Andreas dan tidak sengaja memergoki Andreas, Naya , dan Alin yang sedang bertengkar.


Ternyata diluar dugaan nya. Ia bisa masuk kedalam apartemen tanpa harus mengetuk pintu terlebih dahulu. Karena, pintu apartemen Andreas tidak tertutup. Hal itu membuat Rara merasa beruntung, karena ia tidak perlu mencari ide alasan dan drama untuk Andreas membukakan pintu.


Sebenarnya Rara melihat semua yang Alin lakukan kepada Naya. Dan sebenarnya juga ia tidak tega melihat sahabat-sahabatnya terjebak situasi yang seperti itu. Tetapi apa daya, Rara terlanjur merasa sakit hati karena kelakuan sahabat-sahabat nya di belakang dirinya. Dan lelaki itu, Andreas. Ia pantas mendapatkan pelajaran dengan apa yang telah ia lakukan terhadap semua wanita yang mempunyai hubungan kepadanya.


flashback off.


Tringgggg..!


Ponsel Rara berbunyi saat ia baru saja menaruh tas nya di atas meja di kamar nya.


Ia langsung mengecek pesan tersebut. Rara menatap latar ponselnya dan langsung membaca pesan dari Farah.


Farah


Hi... hari Rabu minggu depan, di cafe z. jam makan siang.


Jangan telat..!


Rara Tersenyum membaca pesan dari Farah.


"Siap"


Ketik nya singkat, lalu mengirimkan nya kepada Farah.


Rara menghela napas nya dan merebahkan tubuh nya di atas ranjang.


Ia mulai memikirkan tentang hari pernikahan nya. Rara memejamkan matanya lalu membawa pernikahan impian nya ke dalam alam mimpi.