H -

H -
ch 37. Naya ( H-15 )



cringgg... cringg... cringg..


Ponsel Rara berdering beberapa kali, Rara yang sedang menyetir menepikan mobil nya di bahu jalan. Ia melihat nama yang tertera di layar ponsel nya.


"Naya?"


Rara mengigit sudut bibirnya dan dengan ragu ia mengangkat panggilan dari gadis itu.


"Halo.. Ra.. Terimakasih sudah mau mengangkat telpon gue. gue mau bicara Ra. please denger dulu jangan di matiin ya Ra"


Rara memutar bola matanya lalu menghela napas malas.


"Ra.. halo.."


"Ya"


Sahut Rara dingin.


"Ra, Ada hal penting yang mau gue bilang, Kita ketemuan ya.. please.."


Naya begitu memohon. Sedangkan Rara hanya diam saja.


"Ra, Halo.. Please jawab Ra.."


"Mau apa lagi lo.."


Tanya Rara dengan kesal.


"Gue tunggu di cafe X ya.. Sekarang gue kesana. Kita ketemuan ya. penting Ra.."


"Ok"


Tanpa basa basi Rara mengakhiri panggilan itu terlebih dahulu.


*


Naya duduk dengan gelisah menunggu kehadiran Rara di cafe X. Ia berkali-kali melihat ke pintu masuk cafe berharap Rara segera datang menemuinya.


Setelah satu jam berlalu, Rara tiba di cafe tersebut. Dengan wajah tak suka Rara menatap Naya yang terlihat kurang sehat. Rara duduk di depan Naya, Gadis itu terlihat seperti baru saja menangis.


"Apa? Gue tidak banyak waktu"


Ucap Rara memulai percakapan.


Naya menunduk malu. Ia mulai menangis tersedu-sedu.


"Kalau lu nyuruh gue kesini cuma untuk ngeliatin lu nangis, Gue gak ada waktu..!"


Rara beranjak dari duduknya, Dan mulai melangkah untuk pergi.


"Gue hamil..!!!!!!"


Ucapan Naya membuat langkah Rara tertahan. Ia membalikan badannya lalu menatap Naya yang sedang menatap Rara. Rara menghela napasnya, Lalu ia kembali duduk di kursi.


"Gue hamil anak Andreas"


Ucap Naya lagi. Rara hanya mampu menatap Naya dengan dingin.


"Lu yakin mau menikah dengan lelaki br*ngs*k itu..?"


"Yakin, Seyakin saat elu tidur dengan tunangan gue"


Ucapan Rara membuat Naya semakin merasa malu.


"Ra, Gue tau gue salah. Tapi gue cuma mau mengingatkan, Andreas bukan lelaki baik-baik. Bukan karena gue hamil dengan dia, Tetapi gue gak mau lu sengsara saat menikah dengan Andreas"


Rara Tersenyum sinis saat Naya mengatakan pendapatnya tentang Andreas, Lelaki yang menghamili Naya dan juga tunangan Rara.


"Gue tau diri lu gak akan pernah memaafkan gue Ra. Tapi gue minta, Please jangan menikahi Andreas"


"Setelah lu tidur dengan tunangan gue sampe hamil, Sekarang lu mau membatalkan pernikahan gue gitu?"


Rara tertawa sambil menatap Naya dengan jijik.


"Terserah lu anggap gue apa, Lu gak pernah mau kenal gue lagi gak apa-apa Ra. Tetapi jangan pernah sengsara kan diri lu sendiri dalam pernikahan dengan Andreas..! Seorang peselingkuh pasti akan berselingkuh lagi Ra..! Dan gue gak mau lu menghadapi hal begini saat lu jadi istrinya"


Naya mencoba menyentuh tangan Rara. Tetapi Rara langsung menggeser kedua tangannya menjauhi tangan Naya.


"Lu pikir gue bodoh?"


"Bukan begitu Ra.."


Naya kembali menangis. Naya memang sedikit cengeng akhir-akhir ini. karena hormon kehamilannya.


"Terus?"


Rara melipat kedua tangannya sambil menatap antara benci dan kasihan kepada Naya.


Cukup lama mereka saling diam. Naya sama sekali tidak mampu menatap wajah Rara. sedangkan Rara lama-lama merasa iba kepada Naya. Bagaimanapun, Naya sudah sebelas tahun mengisi hari-harinya. mereka pernah tertawa bersama, Pernah menangis bersama. Bahkan tidur pun kadang bersama.


"Sudah berapa minggu kehamilan lu?"


Akhirnya Rara mencoba untuk bertanya tentang kehamilan Naya.


"Enam minggu"


Ucap Naya masih dengan menunduk malu.


"Lu gue maafkan, Asal lu mau melakukan sesuatu untuk gue.."


Naya langsung menatap Rara dengan mata berbinar.


Rara tersenyum mendengar Naya yang begitu mengharapkan kata maaf dari bibirnya.


...


Naya terdiam saat Rara mengatakan keinginannya kepada Naya.


"Gimana?"


Pertanyaan Rara membuat Naya gelagapan.


"Gue sebenarnya tidak ingin Andreas bertanggung jawab sih, Cuma gue ingin dia tahu kalau anak yang gue kandung itu anak dia. Gue berani sumpah, Cuma dia satu-satunya"


"Ya, Makanya itu.."


Sahut Rara.


Naya pun kembali terdiam.


"Kalau lu gak mau ya sudah, Gak rugi kok buat gue. Bagaimana pun pernikahan gue harus tetap berjalan sesuai rencana gue"


Rara kembali beranjak dari kursinya.


"Ok gue mau..!!"


Ucap Naya dengan sambil menahan tangan Rara.


"Ok, kita lanjut di pesan saja"


Rara Tersenyum kepada Naya, Dengan ragu Naya membalas senyuman Rara.


*


"Kemana saja kamu seharian?"


Rara yang baru saja sampai di boutique nya, Menatap Andreas yang sudah menunggunya di ruang kerja Rara.


"Eh, Kapan datang?"


Tanya Rara sambil berusaha tersenyum.


"Kamu dari mana..? Pertanyaan ku belum kamu jawab..!"


Andreas menatap menyelidik kepada Rara.


"Oh, Ada urusan di rumah client"


Jawab Rara dengan santai.


"Kamu tidak pergi sama si b*j*ngan Fathur kan..!"


"Hah..? Apa katamu? B*j*ngan?"


Rara menatap Andreas tak percaya.


Akhir-akhir ini Andreas menjadi posesif terhadap Rara. Ia selalu bertanya hal-hal yang membuat Rara tidak nyaman. Terlebih tentang Fathur, Andreas mencurigai Fathur menyukai Rara. Hingga Andreas berpikir hal yang sama akan Rara lakukan kepada dirinya. Yaitu berselingkuh saat hari pernikahan mereka semakin dekat.


Andreas tidak bisa membayangkan bila dirinya di khianati oleh Rara dan Fathur.


Ia pasti tidak akan bisa memaafkan Rara dan Fathur. Membayangkannya saja membuat Andreas menjadi sakit hati. Bagaimana bila hal itu benar terjadi. Maka dari itu, Andreas lebih mengawasi Rara. Ia tidak mau bila kekhawatirannya benar-benar terjadi.


"Yang B*j*ngan itu kamu sayang.."


Rara tersenyum palsu kepada Andreas.


"Sebenarnya kamu udah maafin aku belum sih? Kenapa kamu masih mengungkit-ungkit yang sudah terjadi..!? Ini tidak adil bagiku Ra..!"


Rara mengakat kedua alisnya dan menatap Andreas dengan tak percaya.


"Ya adil bagaimana dong?"


Tanya Rara mencemooh.


"Kamu mulai lagi kan..! Sudahlah, Tutup buku Ra, Kita buka lembaran baru. Mau tidak mau kamu harus maafkan aku. Kita mau menikah Ra.. dan itu tidak akan bisa dibatalkan. Kamu Harus menjadi istriku..!"


Andreas mencengkeram kedua pundak Rara.


"Dasar egois..!"


Gumam Rara.


"Iya, kita tutup buku, Kita buka lembaran baru"


Rara tersenyum simpul lalu duduk di kursi kerja nya.


Andreas menghela napas lega. Ia tersenyum kepada Rara, Lalu ia duduk di sofa hanya untuk menunggu Rara bekerja.


"Sayang, kamu belum coba baju pengantin kita? Aku mau lihat dong.. kamu coba ya.."


Andreas menatap gaun pengantin yang terpajang di patung manekin.


"Aku sibuk, Nanti juga kamu lihat saat aku menikah"


"Please di coba ya.. Aku ingin melihat kamu memakainya"


Andreas memohon kepada Rara.


"Kamu kalau memaksa terus lebih baik kamu pergi dari sini. Kamu mengganggu..!"


Bentak Rara sambil menatap Andreas dengan tajam. Lelaki itu hanya terdiam melihat sikap Rara yang begitu muak kepada dirinya.