From No Body To Hero

From No Body To Hero
Episode 9



Mereka semua terus saja mengikuti Bern dari belakang. Sudah sejam berlalu dan sudah lebih dari 50 kali mereka bertemu dengan jalan buntu. Namun Bern sekalipun tidak berbicara seperti yang lain mengeluh seolah dia baik baik saja untuk mengulang dari awal.


'Apa dia benar benar Bern atau yang palsu?'


Uen ingin menyentuhnya namun dia takut malah menghancurkan harapan adiknya yang terus mengikuti Bern untuk 3 minggu jika itu benar benar Bern palsu.


Lewis berjalan dekat dengan Anton kerana tidak selesa dengan tatapan tajam Zion. Anton memahaminya kerana dia sudah melewatinya 3 minggu. Apa lagi Lewis dari kalangan yang kurang berada.


Ailen mula merasa kesal melihat Bern terus berjalan tanpa memikirkan strategi apa pon. Tapi yang jadi masalahnya mengapa pasangan timnya mengikuti Bern?


Yah, tidak aneh kerana Zion juga mengikuti Bern. Sebagai anak Duke yang akan berkerja untuk kerajaan di masa depan, dia hanya bisa diam mengikuti keluarga kerajaan yang satu ini.


Tiba tiba Bern berhenti dan memerhatikan sekeliling. Matanya berubah dingin.


"Firasat ku buruk."


Itu adalah ucapan pertama Bern. Anton tersentak. Terakhir kali Bern merasakan firasatnya buruk, hantu kerbau muncul. Dia juga mula memerhatikan sekeliling.


'Tapi di sini ada guru. Itu tidak akan terlalu teruk, kan?'


Anton mula menggenggam erat tombaknya.


Bern menggeleng dan mula berjalan semula. Mereka semua hanya mengikutinya walau wajahnya berubah dingin dan sangat waspada.


15 minit kemudian.


Mereka tiba di jalan buntu lagi. Ailen sudah berangin sedari tadi dan ingin menghancurkan tembok.


"Sesuatu muncul."


Yang lain bingung ketika Bern dalam keadaan 100% waspada dan Anton memasuki posisi siap bertempur.


Tiba tiba mereka semua merasa merinding di tengkuk mereka.


Wiiiiiinnng!!!


Lingkaran sihir taliportasi muncul dalam skala besar hingga mencapai seluruh labirin.


"Lingkaran taliportasi?"


Semua pelajar bingung. Zion kemudian menatap Bern yang masih berwajah tenang walau memunculkan rasa dingin.


"[Detak jantung tetap berdetak, setiap detak bisa dirasai.]"


Semua yang dekat dengan Bern tersentak melihatnya bisa membaca mantra di dalam lingkaran yang menekan mana mereka bahkan ketika mereka bukan penyihir.


Bern menutup matanya dan merasakan keberadaan semua orang di dalam labirin itu. Satu persatu dari mereka masuk ke dalam lingkaran sihir putih berbentuk 2 lingkaran yang simple di bandingkan lingkaran taliportasi yang rumit itu.


"Ha.... Huh...."


Dengan nafas tenang namun sedikit berat, Bern membuka matanya yang setenang danau namun terlihat mengancam seperti seekor ular yang siap mematok. Matanya bercahaya biru kerana mengambil mana di sekelilingnya secara agresif.


"[Tempat semuanya berbeda, namun masih berada di atas tanah yang sama.]"


Satu persatu pelajar yang berada dalam lingkaran di taliportasi oleh Bern. Itu bukan sihir skala kecil apa lagi ketika di dalam lingkaran lawan yang kuat. Bern benar benar harus menggunakan segalanya.


Itu di mulai dari yang terjauh hingga yang terdekat. Namun sebelum bisa memindahkan tim di sekitarnya, lingkaran besar itu aktif.


****


Sha_____


Awooooooooo!!!!


Grooooooooow!!!!


Suara hujan dan auman iblis memasuki kuping mereka semua. Namun semuanya gelap gelita seperti malam menerjang siang. Perlahan, rambut dan pupil mata mereka bertukar warna hitam yang terlihat menjijikkan.


Hanya ada satu tempat yang bisa mengubah warna rambut dan pupil mata berubah.


"Uhuk..."'


Anton tersadar dan langsung berlari ke arah Bern.


"Bern!!! Apa-! !!?"


Bern yang batuk berdarah menutup mulut Anton.


"Apa kamu gila? Kita sekarang mungkin di sarang musuh."


Anton langsung diam. Walau Bern berdarah, dia masih bisa berpikiran waras.


"Hah....."


Anton menghela nafas menenangkan dirinya. Dia bisa melihat tangan Bern yang mengigil.


"Apa kamu baik baik saja?"


Bern bangun berdiri untuk menjawab itu.


Itu terlihat dia baik baik saja. Namun dia bisa merasakan perutnya seperti di jungkir balik dan beberapa organ tubuh lainnya.


Bern menelan darahnya. Dia tidak bisa menunjukkan sisi lemahnya ketika orang yang bersamanya adalah anak kecil di matanya.


"Apa kita di hutan hujan hitam?"


Lewis mengatakan itu ketika menadah tangannya dan air yang bertakung berwarna hitam.


Itu adalah tempat tinggal binatang iblis yang di tembok kerana banyaknya iblis yang hidup di sana.


Ailen mengerutkan kening ketika dirinya di basahi air hujan yang bahkan terlihat lebih kotor dari lumpur. Uen juga memijat batang hidungnya merasa frustasi. Dia bahkan tidak pernah duduk di tanah.


Bern pergi ke arah mereka dan tunduk.


"Maaf. Jika saja saya lebih cepat, kalian tidak akan terlibat."


Bern tunduk pada mereka dari kalangan bangsawan. Ailen, Uen dan Zion. Ailen dan Uen menghela nafas. Bahkan jika mereka frustasi, mereka tidak bisa menyalahkan orang yang sudah batok darah untuk itu.


Namun Zion hanya diam dengan kosong. Dia mengcengkam tongkat sihirnya dengan kuat. Dia tidak bisa melakukan apapon ketika itu.


'Apa aku bisa seperti itu juga? Apa aku bisa langsung bertindak untuk membantu seseorang? Apa aku bisa?'


Sebagai penyihir, dia kagum dengan Bern. Namun dia merasa tidak berguna tiap kali melihat Bern yang mengeluarkan sihir yang hebat.


'Apa ini alasan sebenar mengapa dia tidak ingin berteman dengan ku?'


Orang kuat selalu hanya ingin orang kuat di sisi mereka supaya tidak menjadi beban mereka. Apa itu yang di rasakan Bern?


"Bangun. Sampai kapan anda ingin duduk?"


Bern menghulurkan tangannya pada Zion yang masih kosong.


Zion ingin mengambil huluran tangan itu namun terhenti.


'Aku hanya beban....'


Namun Bern menarik tangan Zion membuatnya bangun berdiri.


"Fokus."


Mata Zion membulat. Memang dia keluar dari pikirannya untuk seketika.


'Tapi aku masih beban....'


Zion tertunduk lagi.


Semua orang menatap ke arah suara pukulan yang cukup kuat.


Zion kaget ketika punggungnya di pukul cukup keras dari Bern hingga dia tegak berdiri.


"Fokus. Jangan pikirkan sesuatu yang tidak berguna. Tidak ada yang mati di sekitar aku."


Bern mengatakan itu berpikir Zion takut dengan auman binatang iblis dan berpikir dia akan mati dengan wajah putus asa itu.


Bern langsung berbalik jadi dia tidak bisa melihat mata berbinar Zion.


'Itu bermakna dia menganggap ku, temannya, iya kan!!?'


Zion dengan semangat mula pergi ke arah Uen. Dia tidak bisa mendekati Bern mengingat Bern seorang yang serius dalam bertindak.


"Bagaimana jika kita pergi ke desa di dekat sini?"


Lewis mengatakan itu mengingat di sanalah asalnya. Tanah airnya, desa Black. Di namakan black kerana desa yang berwarna hitam dan penduduknya juga berambut dan pupil mata berwarna hitam.


Semua orang mengangguk. Lewis dengan mudah mencari jalan kerana itu memang tanah airnya. Desa paling kumoh di kerajaan itu.


Mereka tiba di tembok besar dan tebal yang memblokir jalan mereka.


"[Angin selalu ada, tidak peduli siang atau malam.]"


Angin mula muncul di kaki mereka semua dan mereka dengan cepat melewati tembok yang setinggi 10 meter itu dan melihat desa di sana.


Bern sudah melihat keanehan di sana.


'Ugh....'


Bern mengerang dari dalam dan menelan darahnya lagi. Mananya tidak bisa di stabilkan.


Seseorang berjubah hitam dengan tinggi 2 meter dan berotot besar mendarat di atas tembok tanpa bunyi.


'Menarik.'


Orang itu menatap Bern dengan sangat tertarik.


Bern tersentak dan menatap ke arah tembok. Namun dengan hujan hitam menutupi pandangannya, jarak 10 meter adalah titik buta bagi Bern.


Mereka bergerak ke desa Black. Tidak lama berjalan, mereka tiba di pintu masuk desa.


"Siapa kalian!!?"


Seorang wanita paruh baya dengan tubuh yang cukup berisi dan pupil mata bergetar mengacukan cangkul pada mereka.


Uen dan Ailen ingin mengambil senjata mereka. Berani rakyat jelata mengacukan sesuatu pada keluarga kerajaan dan bangsawan!


Namun Bern mengangkat tangannya seperti merasakan kemarahan mereka berdua.


Ailen yang sudah panas ingin berteriak tidak puas ketika Bern bersikap seperti ketua.


Bern membuka matanya dan menoleh menatap mereka berdua seperti mangatakan mereka mati jika mereka bahkan mengucapkan sepatah kata.


Ailen yang panas tiba tiba langsung diam seperti anak baik dan Uen hanya memijat batang hidungnya menenangkan diri.


Anton agak kaget melihat mata sangat dingin dan mengancam Bern untuk pertama kali. Zion hanya merinding bersembunyi di balik Uen walau tidak salah.


"Makcik Yin."


Lewis ke depan seolah supaya tidak ada pertempuran berlaku. Apa yang di lakukan makcik Yin sangatlah salah dan bisa di bilang mengancam keluarga kerajaan.


"Lewis? Mengapa kamu bisa di sini? Bukan kamu berada di academy Luxana?"


Makcik Yin menjatuhkan cangkulnya dan memeriksa kondisi Lewis.


"Saya juga tidak tahu apa yang terjadi. Tapi ada lingkaran taliportasi muncul membawa kami ke sini."


Namun Lewis merasa ada yang aneh. Desa itu terasa sedikit lebih selalu.


"Makcik, mana orang lain?"


Lewis bertanya kerana merasakan perasaan aneh.


"Mereka keluar pergi mengambil makanan di kota. Ramai yang pergi juga mengambil bahagian."


Makcik Yin dengan lembut menerangkan itu dan pelawa mereka semua masuk. Bern bisa melihat wajah khawatir makcik Yin.


Mereka di bawa ke penginapan yang tidak lebih dari kandang kuda. Nama juga daerah paling kumoh, pasti penginapannya juga tidak layak di huni.


"[Api adalah teman.]"


Bern membakar kayu api membuat ruangan itu sedikit lebih hangat. Semua orang duduk mengelilingi api kecuali Uen dan Ailen.


Ailen berkerut dan Uen memijat batang hidungnya lebih kuat. Namun mengingat lelah perjalanan yang mereka lalui, mereka akhirnya duduk juga.


"Jadi kamu dari desa ini ya, Lewis. Pantas saja kamu sepertinya tahu banyak."


Lewis hanya tertunduk seolah malu dengan pujian Anton.


"Mengingat kamu tidak punya nama keluarga, aku seharusnya sudah menyangka."


Anton berbicara seolah kagum Lewis bisa memasuki academy Luxana yang sangat mahal itu.


"Mengapa seseorang tanpa nama keluarga adalah rakyat jelata?"


Bern bertanya dan Anton tidak percayanya.


"Ya teman ku! Kamu hidup di dunia mana selama ini!?"


Anton berbicara dengan nada bercanda. Bern yang sudah di suruh berkerja sejak sudah bisa berjalan pasti tidak mengetahuinya.


Namun Bern terlihat canggung dengan itu. Bern yang sekarang benar benar hidup di dunia lain sebelumnya.


"Seperti aku memiliki nama keluarga kerana keluarga aku di masa depan mungkin mencapai tingkat Baron. Tuan muda Ailen adalah anak Duke dan yang mulia pangeran adalah keluarga diraja. Kamu juga, hanya keluarga Baron kamu runtuh kerana ketamakan kakek mu dan jadilah kamu yang sekarang."


Bern mengangguk paham. Dia tidak tertarik dengan derjat sosial seseorang.


"Berbicara tentang itu, bukan ini tanah dari wilayah kota Marquis Zeke, kan. Mengapa dia tidak membantu desa ini? Desa ini sepertinya kekurangan makanan."


Anton memikirkan itu kerana dia sangat tahu kekurangan suatu daerah. Itu juga kerana dia adalah keluarga pedagang yang berjaya hingga mungkin menjadi Baron.


Uen dan Ailen mula memikirkannya. Sangat tidak cukup makanan di situ. Bagaimana seorang Marquis menjaga wilayahnya?


"Tentu saja mereka tidak bisa datang membantu. Desa ini, tidak, kota ini sedang mengalami penculikan massal."


Bern dengan tenang mengatakan itu sambil melempar satu kayu api ke dalam api.


Semuanya terdiam di sana membuat bunyi api memenuhi ruangan itu.


.


.


.


.


.


...**Bersambung**...