
Steven dengan terampil bersembunyi dan menyerang secara diam.
Namun-
Tang!
Steven mengernyit ketika serangannya bahkan tidak menggores kulit gurita itu.
'Mengapa ini sangat keras!?'
Walau Steven dan yang lain sudah mengerahkan segala yang mereka bisa, mereka hanya bisa mencegahnya untuk maju lebih jauh.
Semua dari mereka yang berpartisipasi memiliki luka pada tubuh mereka. Steven juga memiliki banyak goresan di tubuhnya.
Tang!
"Ini gila! Bagaimana anak kurus itu bisa memotong leher jerung tadi!?"
Seorang assasin bergumam kesal. Belatinya bahkan tidak dapat menembus pakaian yang sedang di kenakan gurita itu.
Itu sudah 30 menit mereka bertarung di sana. Semuanya tampak lelah juga setengah dari mereka sudah tidak bisa bergerak kerana kecederaan yang serius.
'Pikir Steven, pikir! Pasti ada celah pada kekuatan ini!'
Steven terus memerhatikan serangan gurita itu. Dia dengan frustasi mencoba menggunakan otaknya.
'Tunggu, bukankah ini aneh? Gurita kan seharusnya menyerang dengan dakwat hitam mereka?'
Jika pemikirannya benar, gurita itu tidak menggunakan semua kekuatannya. Dia juga pasti dakwat itu akan menjadi racun mematikan dengan bantuan kekuatan iblis.
Tang! Tang! Tang!
'Apa ini saja yang aku bisa? Apa aku kalah sama anak kecil!?'
Vany menjadi frustasi ketika serangannya tidak bisa melukai musuh. Dia merasa dirinya lemah, sangat lemah.
"Heh, hanya ini yang kalian punya?"
Steven tersentak dan berhenti melangkah melihat senyuman licik di wajah gurita itu.
"Mundur!"
Steven dengan cepat berteriak menyuruh yang lain ikut mundur.
Instingnya mengatakan sesuatu yang bahaya muncul. Itu sama dengan assasin lainnya yang punya insting kuat.
Tangan gurita itu di penuhi cairan hitam sebelum memenuhi seluruh tubunya.
Semua orang berhenti menyerang dan melihat batu yang mencair ketika mengenai cairan hitam itu menitis mengenainya.
"Seranglah! Apa yang kalian khawatirkan!? Kahahaha!!!"
Semua orang berkerut mendengar provokasi itu.
'Bagaimana melawan orang dengan racun mematikan di seluruh tubuh mereka!? Pikir Steven, pikir!'
Gurita itu mula bergerak menyerang para pengawal istana dan beberapa orang lainnya. Racun mengenai kulit mereka dan rasa terbakar menusuk hingga ke tulang membuat mereka tidak kuat. Bahkan ada yang mati di tempat ketika racun mengenai wajah mereka.
Aaaaarrrgggg!!!
Banyak jeritan dari pertempuran itu. Banyak juga yang mundur kerana takut dengan keberadaan racun itu.
"Kahahahaha!!! Rasakan itu dasar lemah!"
Gurita itu terlihat sangat senang merendahkan mereka.
'Apa yang harus aku lakukan? Ini situasi putus asa, tidak ada yang bisa kami lakukan!'
Steven melangkah mundur merasa urgensi dengan lawan yang sangat di untungkan.
Dengan otaknya yang lemah, di mana dia harus menyerang?
Steven melihat pedang besarnya.
'Persetanlah! Mari kita serang saja!'
Steven menggenggam erat pedangnya dan menutup matanya.
'Selagi bisa melukainya, itu cukup!'
Steven mula bergerak dengan cepat yang melebihi kecepatan biasanya dan bergerak ke belakang gurita itu.
"Arrgghh!!!"
Steven mengahayun pedang besarnya dengan semua kekuatan yang dia punya.
Tang!!!
Tangannya bergetar hebat ketika dia mengerahkan seluruh tenaga dan kekuatannya. Namun itu tidak berhasil sama sekali. Dia mula menggertak giginya hingga membuat gusinya berdarah.
"Kamu pikir aku bodoh untuk menurunkan penjagaan ku? Kamu salah besar."
Gurita itu tersenyum mengejek.
'Sial! Sial! Sial! Mengapa aku terlalu lemah dalam hal ini!'
Steven mengutuk durinya sendiri dengan kejam. Pedangnya perlahan mula cair akibat racun yang membuat semua benda keras mencair.
'Apa aku akan mati di sini? Sebelum membawa banjingan ini bersama ku? Tidak!'
Steven tidak bisa membiarkan itu terjadi. Dia tidak bisa membuat tempat itu sebagai kuburannya sebelum membawa bangjingan gurita itu bersamanya.
Gurita itu mula menyemburkan racun pada Steven yang tidak bisa menghindarinya. Steven menutup matanya.
"[Sifat alami sang pengecut, lari dan berlindung!]"
Namun, sebuah suara terdengar merapal mantra. Steven mengenal suara dan mantra itu.
Perisai bersinar berwarna emas melindungi Steven dari racun. Gurita itu terlihat kesal dengan perisai itu dan melototi orang yang melemparkan mantra untuk melindungi Steven.
"Uhuk!"
Zion berlutut di tanah memuntahkan darah.
"Erk, ini lebih sakit dari gangguan mana di hutan hujan hitam....."
Walau begitu, Zion tidak menarik mantranya.
Dengan kesempatan itu, Steven dengan cepat melangkah mundur.
"Terima kasih."
Steven mengatakan itu dan Zion hanya diam sambil mengerang kesakitan. Namun tidak lama, dia berdiri dengan kaki yang bergetar dan tangannya memegang dada kirinya.
Steven tidak punya waktu untuk membantunya walau dia mau. Dia juga hampir mati sebentar tadi.
"Sial, mengapa ada begitu banyak pengacau sekarang?"
Gurita itu mengutuk dan semakin agresif menyerang perisai Zion yang rapuh kerana gangguan mana juga kondisinya yang mengenaskan.
"Apa arahan Bern?"
Dengan nafas berat, Zion bertanya. Dia bahkan tidak bisa berdiri dengan benar, namun matanya di penuhi dengan tekad ketika nama 'Bern' keluar dari mulutnya.
"Bunuh banjingan ini."
Steven tidak masalah menjawab. Jika dia menganggap Bern adalah bos, Zion menganggap Bern sebagai idolanya dan bahkan menjadi begitu obses ketika sesuatu terkait dengan Bern muncul.
"Maka, itu adalah perintah mutlak."
Kegilaan muncul di mata Zion yang di penuhi tekad. Siapa yang berani melawan perintah Bern? Jika perintahnya adalah membunuh, maka kamu harus membunuh. Itu kerana Bern tidak mungkin membunuh seseorang tanpa alasan.
"Bagaimana mungkin banjingan menjijikkan ini bisa mati di tangan Bern. Tapi, bagaimana caranya kita membunuh banjingan ini?"
Steven punya soalan yang sama.
Bang! Bang!
"Menyebalkan sekali! Kalian akan menjadi yang pertama ku bunuh setelah ini!"
Gurita itu semakin kesal.
Crack... Crack...
Perisai Zion mula retak dengan semua serangan yang menimpanya. Darah semakin banyak mengalir keluar dari mulutnya.
Itu mengingatkannya dengan insiden jamuan murid pemula yang di ganggu dengan kehadiran 20 ekor hantu kerbau. Itu buat Zion tersenyum mengingat awal mula dia memperhatikan Bern.
"Ngomong ngomong, mengapa kamu di sini? Bern menyuruh yang lain tetap di istana, kan."
Zion menggelengkan kepalanya perlahan.
"Aku di dekat wilayah tengah merawat warga yang terluka."
Jadi, Zion yang tidak mendengar arahan itu langsung menuju sumber kekacauan kerana tidak punya petunjuk apapon.
Walau Zion menjadi seorang yang obsesi, dia tumbuh menjadi lebih berani dan pintar. Itu berkat pengalaman dan didikan yang benar dari Bern. Itu jauh lebih baik dari guru yang hanya membesarkan tentang sihirnya dan mencoba mengambil hatinya.
Bang! Bang! Bang!
Gurita itu terus menyerang perisai Zion.
Crash!
Akhirnya itu hancur dan membuat Zion memuntahkan banyak darah. Dia berlutut merasakan kesakitan yang belum pernah dia rasakan.
'Sangat berat tampan Bern di sini.'
Zion akhirnya merasakan betapa putus asanya mereka tanpa Bern di sana sebagai ketua.
"Apa yang kalian bincangkan ha!? Terima ini!"
Urat nadi terlihat jelas di kepala gurita menunjukkan dia sangat kesal sekarang. Letusan dakwat hitam seperti pancuran air menuju ke arah mereka.
"Sial!"
Zion mengutuk. Dia tidak bisa konsentrasi dengan dirinya yang sekarang untuk melempar mantra perisai lainnya.
"Aarrrggghhhh!!! Lari!!!"
"Aaahhhh!!! Tangan ku!!!"
"Ahhhkkk!!! Sesiapa tolong!!!"
Banyak teriakan terdengar dari orang yang paling dekat dengan di gurita itu.
Itu benar benar pemandangan yang mengerikan untuk di lihat. Steven sudah cukup terbiasa dengan pertempuran seperti itu. Namun lain halnya dengan Zion yang hanya mengikuti pertempuran bersama Bern di mana tidak ada korban sama sekali selain dari pihak musuh.
Walau sedikit, itu pasti membuatnya trauma dengan pemandangan itu.
"[Bunga mawar berduri tajam, melindungi si pemilik!]"
Perisai berwarna hijau muncul di depan mereka. Itu terlihat lebih bersahabat lebih dari perisai milik Zion yang terlihat mewah.
"Uhuk! Ini benar benar sakit! Bagaimana Bern bisa membawa penyapu coba!?"
Mana itu berasal dari Lina. Dia batok darah persis seperti Zion namun masih mendukung dirinya dengan tongkat sihir.
"Nona Lina!"
Zion terlihat senang melihatnya. Mereka menjadi dekat setelah mereka sama sama menyedihkan dalam sihir untuk menyembuhkan mereka yang terluka berkat gangguan mana.
Namun, Lina bisa melihat pupil mata Zion yang bergetar kerana pemandangan yang mengerikan terjadi tepat di depan matanya.
'Dia masih bocah yang ketakutan...'
Lina merasa menyesal membiarkan anak muda seperti Zion bertarung di depan.
"Bocah, apa yang kamu senangin coba? Ini tidak akan bertahan lama dengan kondisi ku, serang mereka!"
Walau begitu, Lina lebih memilih untuk membiarkannya. Pengalaman seperti itu membuat seseorang menjadi dewasa dan bisa memilih jalannya sendiri di masa depan.
"Ah! Penyihir sialan ini!!! Terus saja mengganggu kesenangan ku!"
Gurita itu semakin kesal dan menyerang perisai milik Lina dengan lebih agresif hingga Lina harus berlutut menahan kesan sampingan dari serangan itu.
"Cih, dasar penyihir tidak tahu diri."
Gurita itu menyerang dengan semakin ganas kerana frustasi. Assasin lain mula menyerang, namun pada akhirnya mundur kerana tidak punya hasil dan malah terkena racun membuat sisi mereka semakin kewalahan.
Kulit gurita itu kerasnya di luar nalar!
Crash!
Salah satu sudut perisai Lina di tembusi.
Tentakel gurita yang bisa memanjang itu mula ingin menyerang Zion yang tidak bisa mempertahankan dirinya.
"Zion!"
Lina berteriak menatap Zion.
Tang!
Namun serangan itu di tangkis oleh Steven dengan setengah pedangnya yang tersisa.
'Kita tidak bisa terus begini!'
Steven merasa frustasi memikirkan jalan keluar dari pertempuran itu.
Zion mengingat apa yang Bern katakan ketika dia menanyakan mantra yang membuat panah dari air hujan hitam.
'Bern bilang kita bisa menggunakan mantra yang kuat sekali ketika kita membuat limit.'
Grimoir miliknya mula bercahaya seolah mendukung keputusan Zion.
'Kali ini saja, berikan aku kekuatan untuk membunuh banjingan ini!'
Zion menggenggam erat tangannya. Mulutnya berasa berat untuk merapal. Mungkin kerana itu adalah mantra yang kuat bahkan untuk dirinya sendiri menahan kekuatan itu.
"[Berkahi yang baik, murkai yang jahat.]"
Steven tersentak ketika pedangnya yang sudah tinggal setengah kini kembali menjadi sempurna dengan bantuan mana Zion. Setengah bilah bersinar emas mengikuti warna mana Zion.
Darah mengalir keluar dari mulut Zion, namun dia mengabaikannya kali ini.
Matanya bersinar emas menunjukkan ledakan mana terhasil kerana melebihi batasnya. Rasanya seolah seluruh organ tubuhnya di putar balik.
"Ini baik baik saja."
Zion bergumam pada dirinya sendiri ketika air matanya mengalir menahan rasa sakit yang teramat.
"Bern bahkan pernah di racuni racun iblis dan tidak bisa memulihkan diri. Ini tidak seberapa."
Lina merasa iba melihat Zion yang ceria itu menangis menahan rasa sakit.
"Benar, jika bos bisa membunuh jerung dengan mudah, maka aku juga bisa!"
'Aku tidak bertarung sendirian sekarang. Mari tamatkan ini!'
Steven akhirnya bergerak sekali lagi ke depan. Dia hanya punya satu tujuan, membunuh musuhnya.
'Si bodoh itu!'
Vany muka khawatir melihat kegilaan di mata Steven.
"Banjingan sialan ini!!!"
Racun hitam tersembur ke arahnya. Namun perisai hijau menyelamatkannya.
Tess!!!
Kali ini, Steven berjaya membuat tangan gurita itu putus.
"Keparat!!!"
Gurita itu semakin marah dan agresif.
"Mati kau!!!"
Tang!
Bunyi dentingan kuat terdengar ketika pedang mengenai leher gurita.
Tes...
Setitis racun menitis ke tangan Steven. Rasanya membakar hingga ke tulang dan dia ingin berteriak kesakitan.
'Aku tidak bisa membiarkannya pergi kali ini!!!'
"Aaaaaaarrrrgggggg!!!!!"
Steven tidak mencoba untuk mundur, dia semakin teguh.
"Bangjingan!!!"
Semakin banyak racun menitis ke tangan Steven. Namun dia tidak mundur.
"Sudah ku bilang, kamu mati di sini!"
Gurita yang merasa urgensi menyerang dada Steven. Tumbukan beserta racun mengenai dadanya. Steven merasa dia ingin mundur dan jatuh kerana sakit.
"Ini belum seberapa!!!"
Teesss!
Dan akhirnya, dia berjaya menebas kepala gurita itu.
'Setidaknya, aku membawanya bersama ku.'
Gurita itu mati dengan puas. Tidak ada penawar untuk racunnya dan bahkan sihir tidak akan menyembuhkannya.
Buk.
Tubuh gurita itu jatuh ke lantai menandakan kematiannya.
Klang!
Namun tidak ada yang bisa bersorak kerana kemenangan mereka.
Pedang besar jatuh ke tanah beserta tubuh besar Steven. Cahaya emas perlahan menghilang dari pedang Steven menunjukkan Zion sudah berada di ambang batasnya.
Stevan akhirnya bisa mengerang kesakitan dan meringkuk di tanah tanpa rasa khawatir akan musuhnya.
Bagaimana mereka bisa bersorak senang ketika orang yang mengambil nyawa gurita itu sekarat?
"Steven!"
Zion dengan cepat mendekatinya.
"[Takut akan kehilangan, kesihatan adalah yang terpenting!]"
Walau Zion lemah dalam menyembuhkan, itu tidak bermakna dia buruk. Dia salah satu dari 10 yang terbaik di kelas dalam hal itu.
"Mengapa itu tidak sembuh!?"
Zion yang panik melihat Lina.
"Tidak ada gunanya, racun seperti ini tidak ada penawar, bahkan sihir tidak akan membantunya."
Keputusasaan muncul di wajah Zion.
"Ti, tidak mungkin! Pasti ada cara! Jika itu Bern, jika itu dia, apa yang akan dia lakukan!? Pikir Zion, pikir!"
Walau dia menghentak kepalanya hingga berdarah, dia tidak dapat memikirkan solusi. Jika bukan dengan sihir, maka dengan apa!?
Di sisi lain, Steven hanya bisa mengerang kesakitan kerana racun yang menyebar ke seluruh tubuhnya.
Lina menggaru kepala mereka frustasi sama sementara Vany mencoba menenangkan Zion dari melakukan hal bodoh.
****
Bern dan yang lain memasuki sarang naga yang berliku seperti labirin. Hanya mereka yang selalu berada di sana bisa tahu jalannya dengan cepat.
Mereka hanya bisa bergerak maju mengejar belut listrik sialan itu. Bern mengikuti mereka sembari mengingat jalan keluarnya. Dia harus segera keluar kerana firasatnya buruk.
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...**Bersambung**...