
Bang! Bang! Bang!
pertarungan sengit sudah berlangsung selama 30 menit.
Tklang!
"Ugh!"
Kleio terpelanting setelah memberi serangan.
"Yang mulia!"
Tang!
Ailen menghalangi cakar iblis dominated itu dari menyerang Kleio.
Lewis mengambil tiga panah, dan memaksakan dirinya. 3 panah beratribut api di lepaskan. Itu adalah pencapaian yang tinggi bagi seorang pemanah di kelas pendukung.
Kepalanya pusing, namun dia tidak akan berhenti.
Tang!
"Ugh! Hei, bukankah kulitnya terlalu keras? Gimana cara melawannya?"
Steven mengatakan itu melihat pedang ketiganya yang patah.
Crash.
"Sial."
Uen mengutuk melihat belatinya juga ikut patah.
Banyak dari senjata mereka hancur kerana kerasnya kulit makhluk itu. Ada beberapa korban jiwa dan cedera parah. Namun mereka masih dalam kondisi yang baik.
Calistia menggunakan aura pedang hingga pedangnya tidak patah dan cukup melukainya. Faura dengan kekuatan tempurnya juga elf yang veteran dapat melukai sedikit kulit iblis itu.
"Jika kita ingin bertarung, maka, kita harus menggunakan aura juga."
Kleio bergumam pada dirinya sendiri. Kelas ksatria adalah kelas atas yang mana bisa dengan mudah menggunakan aura pedang. Sama seperti penyihir, aura pedang mengikuti warna mengikut setiap individu. Namun, setiap warna aura melambangkan tingkat aura tersebut.
Ailen dan Kleio di kelas ksatria. Tapi mereka tidak semakin kuat sama sekali!
Grooooowl!!!
Baaaaaaaang!!!
Suara melengking lagi dari iblis dominated dan kakinya menghantam istana hingga menyebabkan gempa membuat semua orang kehilangan imbangan.
Kleio terlempar keudara dengan serpihan lantai yang hancur.
Grooowl...
Mata Kleio melebar.
"Yang mulia!"
Ailen berteriak melihat Kleio tepat di depan mulut iblis dominated. Masa di depannya terlihat perlahan, sangat perlahan.
'Aku akan mati?'
Masa juga terlihat lambat bagi Kleio. Dia menggigit bibir bawahnya, dan mengangkat pedangnya.
'Tidak!'
'Aku harus menyelamatkan yang mulia!'
Ailen memegang pedangnya yang bilahnya sudah hancur melompat mendekati iblis dominated.
"Aku belum bisa mati!"
Kleio berteriak ketika pedangnya di selimuti aura merah, menusuk mata iblis dominated.
Groooooowl!
"Jangan sentuh yang mulia!"
Aura ungu terlihat berantakan sebelum berubah menjadi bilah pedang ketika menggantikan bilah yang hancur. Ailen tidak tahu apa apa ketika dia dengan sepenuh hati menusuk leher iblis itu.
"Aura ungu!?"
Calistia kaget melihatnya. Aura merah sudah bisa di bilang kuat dan itu adalah tingkat menengah. Aura ungu tidak terlihat untuk ribuan tahun, kini muncul. Tentu, itu bukan yang terkuat. Aura terkuat berwarna hitam.
"Gwaaaaaaaah!!!"
Ailen tidak berhenti hingga akhirnya menebas urat leher iblis dominated itu.
Lewis memanah kaki iblis dominated itu supaya tidak menyerang mereka. Yang lain juga tidak duduk diam dan terus melancarkan serangan.
Groooooowl!!!
Dengan pekikan terakhir, iblis dominated itu jatuh dan berhenti bernafas.
"Ha, hah....."
Ailen dan Kleio sama sama kehabisan nafas. Pandangan mata mereka kabur dan tidak bisa mendengar dengan jelas.
"Tuan muda Ailen, Yang mulia!"
Lewis dengan cepat mendekati mereka.
"Sepertinya itu efek pertama kali menggunakan aura."
Steven mengatakan itu sambil membuang pedangnya.
"Sial, kelas ksatria memang beda ya."
Ucap Steven ketika dia merasa iri. sebagai seorang assassin, kekuatannya saja sudah kuat, namun tidak dengan mereka yang berada di kelas ksatria. Ini baru permulaan bagi mereka.
"Mari pindahkan mereka dan yang terluka ke kamar pasien. Bern ada di ruangan darurat, jadi kita tidak bisa mengganggu proses penyembuhannya."
Ucap Uen mengeluh pendek.
"Tapikan sudah lebih 30 menit, apa belum selesai perawatan?"
Steven bercanda sedikit mengangkat Ailen di belakangnya sedang Lewis mengangkat Kleio. Selalunya rakyat jelata tidak bisa menyentuh bangsawan, tapi sekarang, apa lagi yang bisa di lakukan? Kleio maupon Ailen tidak membawa pengawalnya, jadi salah mereka sendiri.
Ailen tidak ingin di pandang rendah sedang Kleio sedang membina kekuatannya sendiri untuk bertarung di kursi pewaris. Pangeran kedua dan ketiga dari ibu yang sama juga memiliki kekuatan politik yang banyak mengingat latar belakang ibu mereka.
'Namun, hari ini akan mengubahnya.'
Uen memikirkan itu melihat para dan warga lautan lainnya. Jika mereka menjadi sekutu....
Bibir Uen sedikit naik mengukir senyuman. Dia tidak menginginkan tahta, tapi dia memerlukan orang yang layak untuk tahta supaya Zion tidak kesulitan.
.
.
.
"Jadi, Bern baik baik saja?"
Kleio bertanya ketika dia berbaring di tempat tidur. Dia, Ailen dan Bern tidur di tempat yang sama. Banyak dari mereka yang tercedera, namun mereka semua baik baik saja.
"Yah, dia mungkin koma, tapi dia dalam keadaan stabil sekarang. Untungnya dia memiliki Althea hingga proses penyembuhan lebih baik."
Anton mengatakan itu sambil menyerahkan catatan medis pada Kleio.
Steven, Lewis, Uen dan Zion membantu pembangunan kota Sebasta bersama dengan group Calistia. Anton membantu dalam permasalahan dana, jumlah kerusakan juga kerugian yang mungkin di hadapi. Sebagai seorang anak pedagang, menghitung dana, untung dan rugi adalah hal yang mudah.
Alastair pula mengikuti beberapa orang kota untuk memutilasi iblis dominated yang bahagian tubuhnya bisa di jual atau di jadikan senjata.
"Dengan kemampuan mu, bagaimana membuka kedai di festival sekolah?"
Kleio bercanda dan Anton hanya mengabaikannya. Festival sekolah memang menyenangkan, jika kamu tidak terpilih dalam acara.
"Ugh...."
"Jangan memaksa diri. Nona Calistia bilang itu efek dari pertama kali menggunakan aura."
Ailen tidak membalas Anton dan mengambil air di meja sebelah tempat tidurnya.
"Apa yang mulia semua baik baik saja?"
Ailen bertanya. Sebagai keluarga Duke, Ailen selalu memegang tanggung jawab untuk melindungi keluarga kerajaan. Mereka menjaga kerajaan, namun yang terpenting, keluarga Theor adalah keluarga yang melindungi keluarga kerajaan lebih dari keluarga lainnya.
"Mereka baik baik saja."
Anton mengangguk ketika dia akan keluar.
Anton menutup pintu dan membiarkan mereka di sana untuk menyuruh koki untuk memasak sesuatu.
"Bern?"
Ailen bertanya pada Kleio.
"Dia di sana sedang tidur seperti putri tidur."
Kleio mengatakannya sambil menunjuk tempat tidur di sebelahnya. Mereka tidak bisa melihat Althea, tapi mereka pasti ada di dekat Bern. Juga di sampingnya, di bawah selimut, ada gumpalan yang sepertinya adalah naga air yang belum di berikan nama.
Althea yang kelelahan tidur bersama naga cilik itu dengan nyaman. Naga adalah makhluk perkasa, itu membuat naga juga bisa melihat roh suci. Jadi mereka bisa berkomunikasi.
"Ah~ah~"
Kleio mengeluh.
"Padahal cuti cuman seminggu, tapi ini lebih pada pergi ke medan perang dari cuti."
Kleio mengeluh akan itu. Padahal dia hanya ingin bersenang senang di Villa yang dia berikan pada Bern.
"Apa kita masih akan melakukan pembangunan? Dalam beberapa hari, kita akan mula bersekolah lagi."
Ailen juga mengeluh. Yah, sebagai pelajar, siapa juga yang menyukai sekolah?
"Ngomong ngomong, kalian akan masuk kelas 1 bukan?"
Kleio bertanya. Dia berada di kelas 3, yang mana memang sudah di latih untuk membunuh iblis. Namun dengan Bern dan yang lainnya, Kleio tidak merasa bersama dengan pelajar dari kelas pemula sama sekali.
"Aku percaya aku hanya memerlukan satu hari untuk naik ke kelas 2."
Kleio juga mempercayainya. Namun di kelas 2 semuanya harus menunggu 3 bulan sebelum naik ke kelas 3.
"Aku tunggu kalian di kelas 3."
Kleio mengatakan itu dan Ailen mengangguk. Untuk masuk ke kelas 4, mereka harus lulus dari ujian kertas maupon ujian pertempuran bersama senior mengikuti kelas mereka.
[Note: Kelas keterampilan mereka. Seperti penyihir, ksatria atau apapon itu.]
Dan ujian itu hanya berlaku setahun sekali. Kleio bolos tahun lalu kerana pekerjaannya. Jadi tahun ini, dia harus menghadirinya.
"Ouh iya, di mana yang mulia akan magang?"
Kleio menggelengkan kepalanya. Dia juga tidak tahu itu. Sebagai pangeran mahkota, sangat tidak nyaman magang di manapon. Pangeran kedua dan ketiga pasti mengincarnya.
"Mungkin aku ikut Bern saja nanti."
Kleio mengambil jalan mudah dan Kleio tidak membantah bahwa bersama Bern adalah pilihan terbaik.
Sebagai seorang Duke dari keluarga terkemuka, dia tentu saja melihat banyak prajurit. Namun dia belum pernah menemukan seseorang seperti Bern.
.
.
.
2 hari berlalu dan akhirnya Bern bangun dari tidurnya yang panjang. Tinggal 2 hari tersisa untuk cuti. Namun mereka harus kembali besoknya kerana persiapan sekolah juga harus kembali ke rumah. Hanya Bern di sini yang tidak memiliki rumah dan akan langsung ke asrama.
"Bern, terima kasih, kerana kamu, yang mulia raja kembali pulih. Untuk berterima kasih, kamu bisa meminta apapon dari kami."
Felix, sebagai perwakilan raja, tersenyum ramah. Namun, dia tidak mempercayai bahwa ayahnya tidak akan memberikan Bern hadiah yang layak bahkan setelah mempertaruhkan nyawanya!
Dia malu sebagai anaknya. Ayahnya menolak untuk bertemu Bern mengatakan manusia adalah makhluk yang menjijikkan. Itu mungkin kerana dia hampir mati kerana manusia juga.
Tetap saja, Felix tidak bisa menerima itu. Itulah mengapa dia di sini alih alih kakaknya. Faura pasti tidak punya nyali melihat Bern.
Walau Felix mengatakan itu, dia tahu ayahnya tidak akan benar benar memberikan hal yang layak pada Bern.
Kerana itu, dia meminta Bern untuk menentukan hadiahnya sendiri.
Kleio yang berada di samping Bern menggelengkan kepalanya. Apakah dia benar benar menyuruh Bern memilih hadiahnya? Dia akan mendermakan hadiahnya!
"Apa itu benar benar di perlukan?"
Bern bertanya membuat Felix bingung sedang Kleio mengeluh pendek.
"Aku melakukan ini kerana aku mau. Lagi pula, aku memang berdendam dengan organisasi Satan, jadi ini situasi win, win. Aku juga mendapatkan grimoir ku kembali kerananya."
Althea tidak bisa tidak menggertak giginya kerana kesal. Dia akhirnya hanya memeluk tanduk kecil naga air yang imut itu untuk menenangkan dirinya.
"Hah, Bern, kamu tidak pernah berubah."
Kleio bergumam sedikit tidak berdaya.
"Bagaimana mungkin!? Kami harus memberikan kompensasi juga!"
Felix tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Jika kamu ingin memberikan kompensasi berbentuk uang, berikan pada Alastair. Jika kamu memberikan itu pada banjingan ini, aku takut itu berakhir di panti asuhan."
Kleio menambahkan hingga Felix kehilangan kata katanya.
"Ada apa dengan wajah mu? Dengan kekuatan Bern, kamu pikir dia tidak pernah mendapatkan pengakuan? Dia menolak segalanya dan kebanyakan dari hartanya berada di panti asuhan dan gelandangan yang tidak punya rumah."
Felix tidak bisa membantu tapi menganga. Itu juga berlaku pada 2 pengawal di sampingnya.
"Bagaimana jika kita membuat kesepakatan alih alih hadiah?"
Bern bertanya membuat Kleio merasa aneh.
"Ini bukan untuk ku, tapi kamu, yang mulia."
Kleio tahu itu adalah pembicaraan yang serius kerana Bern tidak memanggilnya Leo.
"Tiram, itu adalah makhluk yang menghasilkan mutiara. Dan itu sangat sukar di dapatkan kerana berada di laut dalam. Bagaimana jika menukarkan tiram dengan sayuran kami sebagai imbalan?"
Kerana virus di kota Narda, itu membuat ekonomi kota terjejas. Tapi dengan perdagangan ini, itu akan memulihkan ekonomi kota Narda, juga membantu para elf dengan makanan. Manusia ikan memang banyak, namun ketika di kota Sebasta, mereka harus menjadi vagetarion untuk menghormati elf.
Dan sayuran di laut hanyalah rumpai laut. Jika elf bisa berdagang dengan sayur, maka setidaknya mereka bisa punya beras dan banyak hal lainnya selain rumpai laut.
Itu adalah kesepakatan yang bagus. Tidak ada alasan untuk menolaknya.
Kleio menatap Bern dengan tidak percaya. Dia bahkan belum memikirkan itu, namun Bern melangkah maju.
"Bagaimana?"
Bern tersenyum seperti biasanya.
.......
.......
.......
.......
.......
...**Bersambung**...
Hai, pada nunggu update kah? Aku aja kagak punya ide. Help me! Haha, hope kalian enjoi. Like komen dan fav jika kalian suka, ok?