
"Kalian masih pelajar, kan? Jadi bagaimana jika kalian menaiki kapal saja. Setahu ku, di kelas 1 baru para penyihir akan di ajari bagaimana menerbangkan penyapu."
Kleio mengangguk akan itu. Bern dan Zion tidak tahu cara menerbangkan penyapu.
"Aku akan menaiki penyapu. Bagaimana caranya?"
Bern mengatakan itu membuat yang lain merasa Bern masih marah pada mereka. Calistia menunjukkan wajah kaget kerana tidak mudah menerbangkan penyapu. Bahkan perlu 3 bulan bagi mereka yang jenius untuk menerbangkan penyapu dengan benar.
Namun dia masih memanggil salah satu penyihir di kumpulannya.
"Halo."
Penyihir wanita dengan rambut ungu kehitaman yang di warnai dengan sihir hanya untuk kecantikan semata menyapa Bern.
"Nama ku Lina. Cara menerbangkan penyapu sangat mudah, itu hanya perlu memasukkan mana ke dalamnya. Yang membuatnya sukar kerana tidak bisa menggunakan mana stabil yang di berikan tongkat sihir."
Tongkat sihir membuat mana stabil dan mudah di gunakan. Jadi kebanyakan anak muda yang berlatih dengan tongkatnya tentu saja kesulitan.
"Itu pasti sangat mudah bagi mu, bos."
Lina kaget mendengar seseorang mengatakan itu pasti mudah. Dia saja memerlukan 3 bulan untuk mempelajarinya.
"Tapi aku tidak punya penyapu."
Bern mengatakan itu dan Kleio memetik jarinya. Seorang pelayan datang memberikan penyapu pada Bern.
Hanya beberapa detik, Bern berjaya menerbangkannya membuat Lina ingin pingsan tidak percaya.
Calistia juga kaget melihat itu. Siapa yang tidak kaget melihat seseorang dengan mudah mengendalikan mana seolah mana mencintainya.
Bern duduk di batang penyapu dan turun kembali.
"Ini tidak selesa."
Bern bergumam memikirkan cara duduk yang lebih baik. Namun Uen menghela nafas dan Kleio mengangguk. Penyapu penyihir selalu di modifikasi menjadi banyak hal keren bagi penyihir pria yang kurang selesa dengan batang penyapu yang kecil itu.
Penyihir wanita selalu memiliki titik imbangan yang sempurna untuk duduk di atas penyapu, jadi mereka tidak perlu mengubahnya sama sekali.
"Gunakan ini. Kamu bisa membuat milik mu sendiri nanti."
Kleio mengatakan itu dan menyerahkan penyapu yang di modifikasi seperti sepeda tanpa roda.
"Ah, ini lebih selesa. Tapi aku lebih memilih penyapu biasa untuk bergerak sendirian."
Penyapu yang sudah di modifikasi menjadi lebih besar dan membuat pergerakan melambat. Bern yang jenis bergerak cepat tentu saja merasa itu menjadi beban.
"Sendirian?"
Kumpulannya seketika kaku. Siapa yang akan di boncengi Bern?
"Alastair, mari."
Alastair kaget, namun masih dengan patuh duduk di belakang Bern.
"Pegangan yang erat."
Alastair dengan ragu memegang pundak Bern.
"Em... Bern, bisakah aku bertanya, mengapa kamu harus menaiki penyapu?"
Anton bertanya dengan ragu.
"?"
Bern terlihat bingung dengan reaksi mereka.
"Kamu lupa ada laporan mengatakan jubah hitam terlihat berlumuran darah? Aku dan Alastair akan menjadi sasaran jika orang yang melawan organisasi itu salah mengira kami dari organisasi itu."
'Juga bisa menarik orang yang terlibat keluar.'
Mereka terlihat kaget seketika dan merasa lega. Mereka pikir Bern masih marah hingga tidak ingin berada di kapal yang sama.
"Aku juga ingin membonceng dengan mu!"
Zion terlihat iri pada Alastair.
"Tentu, tapi di lain kali. Sekarang bukan situasi kita bisa bersenang senang."
Zion tersenyum cerah mendengar itu. Bern merasa itu imut melihat bagaimana Zion terlihat senang dan mengelus lembut kepala Zion.
"Mari gerak."
Bern mengatakan itu dan Calistia mengangguk. Mereka menaiki kapal sedang Bern dan penyihir lainnya menaiki penyapu memerhatikan sekeliling.
"Kamu hebat. Bisa mengandalkan penyapu hanya dalam beberapa detik, siapa nama mu?"
Bern melihat Lina seketika dan menatap lautan luas.
"Bern."
Bern yang memakai penutup kepalanya terlihat mencurigakan. Wajahnya tidak terlihat jelas jika dia memakai penutup kepala.
Angin yang terhasil membuat penutup kepalanya terbuka. Alastair masih memegang penutup kepalanya. Akan gawat jika seseorang tahu dia adalah iblis.
"Ouh, kamu cukup tampan, Bern."
Lina memuji Bern dan Bern hanya mengangguk menerima pujian itu.
{Benar! Bern sangat tampan!}
Althea terdengar senang mendengar Bern di puji. Alastair mengangguk seolah ikut senang.
"Apa yang kamu setujui? Alastair, apa kamu tahu kamu tampan dan cantik? Kamu juga Althea, kamu sangat cantik dengan rambut perak mu."
Keduanya tersentak dan tersenyum menerima pujian dari Bern. Bern seseorang yang bisa memuji seseorang dengan mudah, namun pada masa yang sama, sangat sukar mendengarnya langsung.
"Althea?"
Lina bertanya dan Bern menunjukkan cincin di jari tengahnya.
"Althea, itu nama roh penjaga yang bersama ku."
Lina terlihat kaget dan memang benar ada anergi roh penjaga di cincin itu.
"Ouh, jenis apa?"
Lina terlihat tertarik dengan itu. Tentu saja dia tertarik, sangat jarang seseorang memiliki roh penjaga di zaman ini.
"Jenis penyembuhan."
Itu terlihat tidak berguna di mata Lina. Mungkin berguna di waktu perang di mana banyak prajurit yang terluka, namun sekarang, itu tidak begitu di perlukan.
"Jujur, aku berterima kasih padanya. Jika bukan kerananya, aku sudah berada di akhirat."
Lina hanya tersenyum. Dia pasti Bern dulunya memiliki sakit mematikan dan tidak sengaja menemukan Althea. Itu juga di dukung dengan bagaimana Bern terlihat kurus.
Bern cukup terkenal, namun tidak semua orang mengetahui tentang dirinya. Apa lagi dia hanya mengenalkan dirinya sebagai Bern tanpa nama keluarga.
Perjalanan berjalan lancar hingga mereka mencapai daerah gangguan mana. Kapal berhenti dan tidak memasuki area itu. Bahkan penyihir yang mahir tidak bisa dengan bebas terbang di sana.
Semuanya kembali ke kapal untuk berbincang tentang siasatan lanjut. Bern masih berada di atas penyapu. Itu kerana dia masih berhati hati jika ada yang salah sangka dengan kehadiran mereka.
Swing!
Suara pisau membelah udara memasuki kuping Bern.
"[Perisai.]"
Tang!
Pisau terbang ke arah Aalstair dan Bern memblokir dengan perisainya. Bunyi dengungan kasar itu membuat semua orang berlari ke arah dek kapal.
"Kamu pergi ke kapal."
Bern mengatakan itu ketika lompat turun dari penyapunya dan menggerakkan penyapu orang lain yang polos dengan mananya lalu berpegangan padanya. Penyapu milik Bern pergi ke dek kapal dengan tenang menghantar Aalstair.
Bern dengan gesit berdiri di atas penyapu polos entah siapa punya dia ambil.
Seorang wanita keluar dari air. Namun telinganya lancip seperti elf dari kisah dongeng. Wajah yang indah dengan rambut biru dan memiliki kilawan di dekat matanya ketika wajahnya terpapar cahaya matahari.
Dia dengan mudah berdiri di atas permukaan air laut dengan posisi siap menyerang. Pakaiannya juga tidak terlihat seperti pakaian tempur wanita pada umumnya. Dia memakai pakaian yang ketat dan beberapa pakaian biru terlihat seperti terbuat dari air.
"Aku tidak akan membiarkan kalian memasuki kawasan kami! Kalian sudah membunuh dan menghipnotis banyak warga Sebasta!"
Wanita itu berteriak dengan keras seolah, sangat marah juga sedih.
Wanita elf itu melempar bilah pisau yang terbuat dari air ke arah Bern. Bern dengan mudah menghindari pisau itu dengan gesit walau dia harus fokus menggerakkan penyapunya.
Wanita elf itu menggertak giginya dan menggunakan air laut menjadi duri tajam.
'Jika itu mengenai kapal, itu akan menghancurkannya.'
Bern dengan cepat terbang turun tepat di depan wanita elf itu.
"Tolong bertenang dan mendengar penjelasan ku. Aku bukan salah seorang dari organisasi tengkorak iblis. Jubah ku tidak memiliki lambang."
Bern mengatakan itu sambil memegang dada kirinya.
"Pembohong!"
Pisau air muncul dan ingin menusuk Bern. Bern menghentikan pisau itu dengan tangannya. Dia terlihat tidak kesakitan sama sekali dengan tusukan yang menembusi tangannya.
"Ini adalah jubah dengan kemampuan menunda kesakitan. Lihat, aku tidak merasa sakit sama sekali."
Melihat itu, wanita elf tadi langsung menarik pisau dan sedikit menurunkan penjagaannya dengan menghilangkan duri air.
"Baik, siapa kalian jika begitu?"
Wanita elf itu benar benar tidak menurunkan kecurigaannya pada Bern.
"Kami dari kota Narda. Kami menyelidiki mengapa sumber makanan di pantai selatan semakin berkurang."
Bern mengatakan itu dengan tenang sambil mengelap darah dari tangannya. Itu sudah berhenti mengalirkan darah berkat Althea. Itu semakin membaik dan akan sembuh dalam beberapa menit lagi.
"Begitu. Kami adalah penyebab dari hilangnya ikan dan binatang laut lainnya."
Bern pasti itu benar. Di lihat dari kesaksian di mana ikan yang di tangkap memiliki racun iblis.
"Ada wabah tidak di kenal di kota Narda mematikan hewan dan tumbuhan. Apa kalian tahu itu?"
Namun bertentangan dengan harapan semua orang, wanita elf itu menggeleng.
"Kami tidak tahu tentang itu. Bagaimana jika kalian datang ke kota Sebasta untuk itu?"
Wanita elf mengatakan itu dan Bern melihat Calistia untuk meminta persetujuannya.
'Apa dia benar benar penyihir kelas pemula? Bagaimana dia bisa menghindari semua itu dengan mudah? Bahkan penyihir senior akan kesulitan.'
Calistia tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Namun dengan cepat, dia menenangkan dirinya lalu mengangguk.
"Sebelum kita pergi, bisakah aku mendapatkan nama mu?"
Bern mengatakan itu membuat wanita elf itu mengerutkan keningnya.
"Untuk apa kamu memerlukannya?"
Bern menghela nafas ketika dia di salah pahami.
'Apa aku terlihat terpikat olehnya?'
Kumpulan Bern sudah menahan tawa. Kumpulan Calistia bingung dengan mereka yang menahan tawa.
"Mengapa kalian tertawa?"
Calistia akhirnya tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Tidak, Bern tidak tertarik dengan wanita. Jadi di salah pahami seperti dia terpikat oleh wanita itu lucu."
'Tidak tertarik....?'
Calistia tidak bisa percaya. Bagaimana mungkin seorang pria bisa tidak tertarik dengan kecantikan ras elf? Mereka sangat jarang dan bahkan dia tertarik untuk lebih mengenalinya.
"[Getaran melintasi samudra, suara adalah komunikasi.]"
Muncul layar di depan wanita elf itu. Dan di depan Kleio juga memiliki layar.
"Aku memerlukan nama seseorang untuk bisa berhubung jika sesuatu yang tidak diingini berlaku."
Semua orang tercengang dengan layar komunikasi. Semua orang harus menggunakan bola komunikasi untuk berhubung, namun Bern hanya memerlukan nama?
"Apakah ini sungguhan?"
Wanita elf itu masih ragu.
"Jika begitu, nama ku Felix. Coba hubungkan."
Bern mengangguk dan pasti itu bukan namanya. Itu mungkin nama salah satu keluarganya. Layar menghilang lalu muncul layar baru muncul. Seorang pria elf mirip wanita elf di depannya muncul di layar.
- "Hah?"
Pria itu terlihat sedang bersantai duduk di sofa.
Wanita elf tadi menggertak giginya melihat itu.
"Kakak......."
Pria elf itu panik mendengar suara wanita elf yang marah.
"To, tolong tutup ini! Dan bagaimana sihir bisa berada di sini!? Ini kawasan gangguan mana!"
Bern dengan cepat menarik kembali mantranya.
{Kamu melakukannya dengan baik! Kamu batok darah kerana gangguan mana! Kamu....!}
Alastair dan Althea sama sama terlihat kesal. Alastair hanya bisa menatap tajam Bern kerana dia tidak bisa berbicara mengingat orang di sekitarnya akan mendengarnya berbicara dengan bahasa aneh.
Namun Bern mengabaikan mereka dan menelan darahnya seperti menelan air. Dia terlihat baik baik saja berdiri di atas penyapu.
'Dia menggunakan mana di area gangguan mana? Bukan ke itu menyakitkan bagi penyihir?'
Calistia dan bawahannya hanya bisa tercengang melihat keterampilan Bern dalam menggunakan sihir.
"Baik, aku mempercayai mu. Nama ku Faura."
Tikd.
Faura memetik jarinya dan pusaran air terjadi lalu bertukar menjadi tangga.
"Ini jalan masuk ke kota Sebasta."
"Mengapa itu kota dan bukan kerajaan?"
Bern bertanya penasaran.
"Kerana makhluk laut tidak banyak, apa lagi populasi ras elf yang sedikit. Hanya beberapa hewan laut yang bisa menjadi makhluk laut, dan jika manusia memakan mereka, kami warga laut tidak akan diam."
Mereka semua kecuali penjaga kapal mula melompat ke tangga air dan sedikit kaget mendapati mereka bisa berdiri di atas air.
Namun, kesenangan mereka tidak tahan lama ketika mereka melihat banyaknya warga laut yang cedera dan ikan yang di racuni racun iblis.
Perjalanan mereka mula menjadi canggung dan tegang melihat situasi itu.
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...**Bersambung**...