From No Body To Hero

From No Body To Hero
Episode 16



Bern menghunus pedangnya dan mematah tongkatnya menjadi dua bahagian untuk mengurangi tinggi tongkat itu. Dia mengambil bahagian atas tongkat sihir dan meletakkannya di ikat pinggangnya.


Bertarung dengan sihir adalah hal yang membebankan. Jadi dia hanya akan bertarung dengan pedang.


Uen juga berjalan dengan belatinya dan langsung menghilang setelah cahaya menghilang. Kelas assasin benar benar hebat.


Ailen dan Anton juga mengambil senjatanya. Anton memegang tombak kerana pedangnya sudah patah dua.


Zion dan Lewis hanya berada di belakang sebagai pendukung. Mereka hanya memastikan apakah teman mereka selamat atau tidak. Pihak pendukung harus tahu kerja mereka supaya tidak membebankan orang lain.


"Kami menyambut kehadiran anda, Duke Zeke."


Bern membungkuk menunjukkan tanda hormat. Namun hanya Bern yang melakukannya. Bahkan Lewis tidak melakukannya ketika dia adalah rakyat jelata. Mereka terlalu letih untuk tata karma.


"Lupakan tata karma. Kita dalam pertempuran dan tingkat kita setara."


Wajah Duke Zeke tegas dan tabah. Dia kemudian melihat Thomas.


"Bawa Thomas kembali dengan mangsa penculikan massal."


Nadanya dingin dan tidak peduli. Tapi Bern tahu di dalam, Duke Zeke sangat mencemaskan anaknya hingga meliriknya lebih 10 kali.


Namun Thomas menundukkan kepalanya seolah malu di sana. Dia benar benar beban hingga ayahnya menghalaunya pergi.


Pat.


Bern menepuk kepala Thomas dengan lembut.


"Kamu akan terluka jika kamu di sini. Cara bertarung bukan hanya dengan bertarung dengan senjata dan terluka. Itu gaya ku bertarung dengan musuh. Namun ada banyak cara bertarung. Bertarung dengan lidah, bertarung dengan keahlian lain seperti medis dan sebagainya."


Thomas tahu yang Bern mencoba membujuknya. Namun dia tidak bisa tidak mendengarnya seolah itu sebuah dentingan logam yang memekakkan kupingnya.


"Setiap orang ada kelemahan. Itulah mengapa tim pendukung itu ada. Kerana seseorang lemah dan tidak sempurna, mereka hidup. Jadi, jangan di pikirkan."


Bern berjalan melewatinya dengan tenang. Dia tidak bisa melihat mata Thomas yang berkaca. Dia sejak kecil terus terusan di bandingkan dengan adik perempuannya yang lebih kuat darinya dan selalu saja di remehkan.


Namun seseorang melihat keberadaannya sebagai seorang yang layak. Dia menggigit bibir bawahnya.


"Nak, apa nama mu?"


Duke Zeke bertanya dengan nada dingin namun lembut.


"Bern Kailyth."


Bern juga tidak berniat menyembunyikan identitasnya. Duke Zeke sedikit tersentak mendengar nama itu. Nama Bern menyebar cukup luas dengan perbuatannya yang hebat dalam mencegah penyergapan sekumpulan binatang iblis. Namun juga kerana dia menolak medali hanya kerana dia mengatakan dia melakukan hal yang sangat ceroboh dan mungkin menyebabkan lebih banyak kematian.


Duke Zeke ingin membuka mulutnya.


"Bern Kailyth."


Namun Thomas memanggil Bern terlebih dulu. Bern berbalik dan tersentak.


Thomas membungkukkan badannya seolah hormat padanya. Namun sebelum sempat Bern ingin mengatakan sesuatu,


"Terima kasih."


Kata terima kasih yang tulus terdengar di kupingnya yang membuatnya bingung.


"Terima kasih untuk segalanya, tuan Bern."


Di panggil tuan oleh seorang tuan muda sangatlah aneh di kuping Bern. Dia tertanya apa yang telah dia lakukan untuk menerima rasa terima kasih yang tulus itu. Dia menggunakan Thomas untuk menjerat Duke Zeke. Mengapa dia mendapatkan terima kasih untuk itu?


Namun sebelum dia bisa membuka mulut bertanya, Thomas berbalik dan berjalan pergi bersama beberapa prajurit.


"Benar. Terima kasih. Anak itu tampaknya tumbuh banyak setelah mengenal mu."


Semakin bingung Bern jadinya. Namun dia menggeleng seolah dia memahami apa yang terjadi.


"Saya tidak melakukan apa-apa."


Bern jujur dan semestinya itu terdengar tulus yang membuat Duke Zeke merasa Bern sangat rendah hati seperti yang di rumorkan.


Duke Zeke ingin terus berbicara dan mengenali Bern dengan baik. Namun itu tidak bisa mengingat situasi mereka sekarang.


"Serang!"


Beberapa assasin melempar senjata mereka juga pemanah menembakkan panah dan petarung melagakan pedang mereka.


Sisi Duke Zeke benar benar tidak menguntungkan mengingat lawan mereka menggunakan anergi iblis dan menjadikan mereka dua kali lebih kuat dari orang biasa. Juga hutan hujan hitam sangat kaya dengan anergi iblis.


Namun dalam tekanan yang menekan mereka, Duke Zeke bisa melihat Bern bertarung dengan unggul bahkan jika dia di tekan.


Teman temannya yang lain seperti mereka yang tertekan akan anergi iblis. Namun Bern seolah dia juga bisa menggunakan anergi iblis di sana.


'Aneh. Mengapa tidak ada binatang iblis ketika ini tempat yang kaya dengan anergi iblis?'


Bern mula memikirkan itu ketika dia memerhatikan sekeliling. Ada banyak suara binatang iblis. Namun tidak ada satupon kelibat binatang iblis. Bahkan yang terkecil pon tidak ada.


Bern membulat matanya.


'Ilusi!?'


Dia memegang tongkat dan menggunakan mantra deteksi perlahan seperti dia hanya membuka dan menutup mulutnya menyumpah tanpa suara.


'Seperti yang aku jangkakan!'


Bern bisa melihat ratusan titik merah di sekelilingnya. Dia melutut ketika rasa sakit menerjang dirinya kerana penggunaan mana.


"Kau!"


Mata Bern tertumpu pada pria yang memegang tongkatnya. Dia sudah menghilang cukup lama seperti tidak merasa sedikit pon bersalah setelah menjadikan temannya perisai daging.


Pria itu tersenyum seolah dia sangat merindukan Bern.


"Ah, kamu benar benar hebat. Kamu bahkan bisa mendeteksi ilusi ku."


Ilusi tidak berguna ketika ada seseorang yang mengetahuinya. Ilusi akan hancur.


Ilusi hancur seperti sebuah kaca yang hancur berantakan menunjukkan ratusan bianatang iblis yang menuju ke arah mereka.


"Sial! Bagaimana kita ingin menghentikan itu!?"


"Berkumpul dulu!"


Penyihir itu membuat sebuah bola mana iblis yang sedikit lebih besar dari bola sepak. Senyuman mengerikannya membuat Bern merasakan firasat buruk yang teruk. Firasatnya mengatakan dia akan mati jika itu mengenai dirinya.


Namun sebelum dia bisa bergerak melakukan sesuatu, penyihir itu melemparnya ke arah mereka.


Cahaya gelap mengelilingi semua orang di sisi Duke Zeke.


Tud, tud, tud.


Satu persatu dari mereka jatuh ke tanah seolah mereka kehilangan nyawa mereka. Namun itu hanya racun pelumpuh dari anergi iblis yang membuat tubuh mereka mati seketika.


'Sial! Kita memasuki perangkap mereka!'


Duke Zeke hanya bisa menyumpah dari dalam. Racun iblis ini tidak kuat untuk membunuh mereka. Namun beberapa dari penyihir sudah kehilangan kesadaran kerana cahaya gelap itu.


Racun iblis adalah racun yang mematikan bagi penyihir yang dalam gangguan mana.


Bern membuka matanya melihat dirinya terduduk di tanah yang 10 meter jauh dari kumpulan itu.


"Kamu bisa mati jika kamu mengenai ledakan anergi iblis itu, kamu tahu."


Bern menoleh melihat pria bertubuh besar yang pernah memaksanya meminum ramuan. Wajahnya sedikit kesal.


"Mengapa?"


Hanya satu kata yang keluar. Namun pria itu bisa tahu berapa banyak soalan dari satu kata itu.


"Mengapa? Aku hanya ingin membantu. Apa aku salah ketika membantu seseorang yang membutuhkan?"


Bern mengabaikannya dan menggunakan sarung pedang untuk membantunya bangun.


"Bagaimana jika aku membantu mu? Masukkan aku ke sisi mu, ya?"


Pria itu berkata dengan senyuman lebar menunjukkan gigi taringnya seperti dia tidak ikhlas sama sekali.


Kumpulan Bern tentu saja mengerutkan kening mendengar itu. Siapa yang sangat bodoh menerima orang yang menyebabkan kekalahan mereka di awal?


Namun pria itu sudah memutuskan untuk mengikuti Bern. Dia mengingat alasannya.


'Mengapa?'


Alasannya sederhana.


'Kerana mereka di sisi ku. Siapa pon di sisi ku, tidak akan kehilangan nyawanya sebelum aku hancur musnah menjadi debu.'


Dia yang berjuang sendirian, tidak pernah menetap di satu sisi kerana terus terusan di khianati temannya. Kata itu menyentuhnya. Dia ingin berada di sisi orang seperti itu. Orang yang bisa melakukan apapon untuk kumpulannya.


"[Perisai]"


Bern mengabaikannya dan menciptakan perisai skala kecil untuk melindungi sisinya. Pria itu sedikit tertunduk seolah mengharapkan tanggapan seperti itu.


"Ten! Kamu mengkhianati kami!? Kamu sekarang membantu musuh!?"


Salah satu dari organisasi Satan berteriak marah. Pria itu tersenyum seolah mengejek mereka.


"Mengkhianati? Tidak, tidak. Kalian bahkan tidak tahu nama asli ku. Bagaimana mungkin itu di kira mengkhianati?"


Orang yang berteriak itu marah dan menembakkan panah ke arah pria itu. Namun pria itu tidak berniat untuk mengelak mengingat dia masih di sisi organisasi itu hingga Bern menerimanya.


Tang.


Namun panah itu di tepis oleh pedang Bern.


Semua orang membulat matanya termasuk pria itu. Tindakannya saja sudah cukup menunjukkan Bern menerimanya di sisinya.


"Apa? Kamu menerimanya hanya kerana dia bilang dia di sisi mu? Apa jika aku bilang aku juga ingin di sisi mu, kamu akan menerima ku?"


Orang itu berbicara mengejek tindakan Bern. Namun pandangan Bern langsung tidak bergetar dengan hasil ejekan itu seolah dia tidak mendengar apapon.


"Sudah ku bilang, kalian sampah. Mengapa aku ingin memungut sampah seperti kalian? Dari yang aku lihat, dari awal, pria itu memang bukan di sisi kalian."


Pria itu tersentak mendengar Bern berbicara seolah dia sudah di perhatikan sangat lama.


"Dia tidak masuk campur urusan kami bahkan ketika orang kalian terbunuh. Namun dia masuk campur ketika kalian semua ingin pulang seolah membantu kami. Belum lagi dia diam diam memberikan ramuan pada tim ku juga diriku."


Mereka semua menatap pria itu dengan tidak percaya.


"Juga, dia tidak menggunakan anergi iblis seperti kalian. Aku menghargai kerja keras dirinya di banding orang yang hanya tahu mengorbankan orang yang tidak bersalah."


Tangan besar pria itu tergengam erat mendengar dirinya berkerja keras. Dia adalah kelas assassin terkuat di kerajaan itu. Namun semuanya hanya mengatakan dia punya bakat. Tidak ada yang melihat kerja kerasnya. Bahkan semua temannya memandang jijik dirinya kerana dia di bilang punya bakat sedang mereka tidak.


"Heh."


Orang itu mendengus.


"Bagaimana kamu tahu dia berkerja keras? Semua orang tahu pria besar dengan pedang besar dan kelas assasin adalah seorang pria berbakat sejak lahir."


Pria itu menggertak giginya. Namun Bern tidak tergerak dengan itu.


"Tidak perlu berbicara dengan orang bodoh seperti kalian. Tidak ada di dunia ini bakat jika hal itu tidak di latih."


Di lihat dari otot dan warna kulit wajahnya saja sudah menunjukkan betapa keras dia berusaha mencapai tingkatnya sekarang.


"Hei, apa nama sebenar kamu? Jika kamu mengkhianati, setidaknya aku tahu kemana aku ingin memberi kutukan."


Itu alasan yang konyol. Namun pria itu tidak keberatan.


"Steven. Itu nama ku."


Senyuman lebar seperti orang bodohnya muncul yang menunjukkan semua ketulusannya pada Bern. Orang yang melihat kerja kerasnya.


.


.


.


.


.


...**Bersambung**...