From No Body To Hero

From No Body To Hero
Episode 8



Guru itu memiringkan kepalanya melihat grimoir di dalam sarungnya di ikat pinggang Bern.


"Kamu..... Penyihir?"


Bern mengabaikan kebingungan gurunya itu.


"Bern Kailyth. Saya tidak peduli apa kelas saya. Yang penting adalah nama saya adalah Bern."


Bern berbicara dengan nada biasa.


"Fttt... Kamu tidak menunjukkan rasa hormat mu. Apa kamu ingin berlagak sombong?"


Guru itu juga melakukan kuda kuda untuk teknik dasar.


"Tidak. Guru, apa kamu beneran guru? Kamu terlihat seperti seorang bangsawan di bandingkan itu."


Senyuman terukir di bibir guru itu.


"Baiklah.... Aku Witt. Aku hanya orang biasa kok. Hanya aku seorang ksatria peribadi pangeran mahkota."


Jadi dia seorang yang berpangkat tinggi untuk melindungi pangeran mahkota secara peribadi. Dan kerana dia lagi cuti, dia datang ke kelas pemula itu.


"Jadi aku tidak perlu memanggil mu dengan hormat ketika kita di bawah bumbung yang sama."


Witt tidak menyangka bahwa dia akan bertarung dengan orang yang Kleio benarkan dia memanggilnya Leo. Dia sedikit bersemangat untuk tahu kemampuannya.


"Baik, mulakan."


Bern mula bergerak dengan teknik dasar. Cukup lambat mengingat dia sedikit lemah pada fisik jika dia tidak menggunakan mana untuk menguatkan tubuhnya.


"Hnm.... Kamu cukup baik menggunakan teknik pedang dengan baik. Namun jika di perhatikan, kamu tetap hanya cocok menjadi penyihir."


Witt mengatakan itu sambil menangkis serangan dasar Bern dengan mudah.


"Maaf. Saya hanya belum terbiasa dengan teknik dasar."


Semua gerakan awal hanya pemanasan bagi Bern yang sudah menggunakan pedang untuk 22 tahun.


Bern melihat sekeliling. Dia bergerak lebih cepat hanya dengan gerakan dasar. Witt membulat matanya dan Bern sudah di belakangnya. Ketika kamu sudah berpengalaman, gerakan dasar saja bisa membunuh orang.


"Kode seorang prajurit yang bertarung dengan jarak dekat adalah 'Jangan meremehkan lawan bahkan jika mereka hanya bersenjatakan tumpukan batu.' Guru, kamu seharusnya tahu kode ini."


Semua orang terdiam melihat Bern dengan mudah menjatuhkan Witt.


Suara tepukan terdengar dari para pengguna pedang. Mereka cukup tertarik dengan cara Bern menggunakan teknik dasar sebagai senjata tajam membunuh ketika semua orang meremehkan teknik itu.


Tentu saja Bern hanya berpikir dia melakukan sesuatu yang semua pelajar pengguna pedang bisa lakukan.


Bern tanpa hormat ke Witt kembali ke tempat duduknya.


"Oi, berlatih dengan aku nanti."


Anton bercanda dan Bern mengabaikannya. Bagaimana Anton yang malas bisa ingin berlatih? Dia mungkin memilih menjadi penyihir jika dia bisa.


Namun apa yang Bern lakukan hari ini bukan kekuatan punuhnya. Dia tidak perlu melakukan sesuatu seperti itu hanya untuk menunjuk.


Dia hanya ingin mengetahui level orang yang berkerja dengan orang yang sama dengannya.


"Dia cukup menyedihkan."


Anton tersentak mendengar itu. Itu kerana Bern seorang yang tidak merendahkan seseorang.


Namun mata Bern cukup dingin menatap Witt. Pekerjaan melindungi seseorang adalah pekerjaan dengan tanggungjawab yang besar. Nyawa selalu ada di pundak tidak peduli misi apa yang di terima. Sikap Witt membuatnya kurang suka. Bercuti? Dia tidak mungkin mengambil cuti jika tugasnya adalah melindungi bosnya.


Bern menghela nafas. Itu hanya pemikirannya. Dia tahu itu berlebihan ketika dia bahkan jika tidak bisa mengambil cuti untuk bahkan sehari. Namun pengalaman dia berkerja, dan semua yang dia biasakan sejak dia 18 tahun tetap membuatnya kesal. Ketika tugas yang menjadikan seseorang bertanggungjawab atas nyawa seseorang, itu bukan tugas mudah. Berat tanggungjawab itu adalah hal yang tidak ada sesiapa pun ingin galas.


****


3 minggu berlalu dan Zion terus mengikuti Bern seperti hantu. Bern juga mengabaikannya seperti hantu dan malah Anton yang kurang selesa kerana Zion terus menatapnya dengan tajam.


Uen cukup kagum juga kesal melihat adiknya terus di abaikan.


"Suruh anjing kau layan Zion."


Itulah mengapa dia terus ke Kleio.


"Sudah 3 minggu dia mengabaikannya. Suruh saja dia layan Zion."


Namun Kleio malah tersenyum seolah tidak percaya.


"3 minggu? Benarkah? Aku juga memerlukan 2 minggu dengan banyak hadiah membuatnya kesal hingga dia akhirnya berbicara dengan ku."


Uen menatapnya seperti Kleio melontarkan omong kosong. Namun mengingat bagaimana Bern menolak medali, itu mungkin terjadi.


"Biarkan saja dia. Dia akan terbuka sendiri nanti. Bagaimana jika kamu lihat ini?"


Kleio memberikan sehelai surat pada Uen. Uen mengerutkan kening dan mengambil surat itu.


[Aku perhatikan gerak geri Witt kerana aku cukup kesal dengannya di kelas beberapa hari lalu. Dia mata mata dari pangeran kedua. Maaf bergerak tanpa melapor.]


Mata Uen membelalak.


"Bagaimana?"


Uen kaget. Bagaimana mungkin Bern memata-matai orang lain ketika dia terus diikuti Zion dan dirinya.


Kleio memberikan cadangan. Namun Kleio juga tertanya hal yang sama. Mata mata miliknya yang dia letak untuk memerhatikan Bern dan semua pelajar berpotensi tidak menyadari pergerakan Bern untuk memerhatikan gerak geri Bern.


Itu bahkan lebih aneh kerana semua mata mata adalah kelas assassin yang punya tingkat tinggi juga Uen yang mengikutinya kerana Zion juga seorang kelas assassin dengan seni belati.


"Ini mungkin menjawab pertanyaan mu."


Kleio memberikan surat lain. Uen dengan cepat mengambil surat itu.


[Mata mata anda semuanya pemalas. Kerjaannya tidur dan makan. Baik aku saja yang jadi mata mata. Mereka bahkan tidak sadar aku mencoret wajah mereka ketika mereka tidur. Kamu harus memberi sedikit hukuman pada mereka.]


'Itu tidak mungkin. Aku terus mengikutinya....'


Uen bingung.


"Hanya ada 1 jawaban di sini. Sihir tiruan."


Uen kaget. Jika itu benar, selama ini, yang mereka ikuti adalah Bern palsu dan bahkan seorang penyihir pon tidak menyadarinya.


"Sihir tiruan hanya ada 2 kelemahan. Itu akan menghilang ketika itu di sentuh juga tidak bisa berbicara."


Selama 3 minggu, Bern yang tidak banyak bicara dan menjauh dari ramai orang. Namun itu normal mengingat kepribadian Bern yang tertutup.


"Bukan ke ini maknanya usaha Zion sia sia saja? Dia mengikuti orang yang salah."


Kleio sedikit tersenyum. Bern benar benar di luar jangkaannya.


'Mengetahui mata mata hanya kerana dia kesal dengannya? Insting yang bagus.'


Uen sedikit marah dan memijat batang hidungnya. Bukan kerana Zion mengikuti orang yang salah. Namun kerana dia tidak menyadari itu sama sekali ketika dia adalah assassin yang sangat peka dengan sebuah keberadaan.


Dia bisa melakukan apa pon untuk Zion. Itu sama dengan ibunya. Keberadaan yang lucu dan ramah di istana dingin membuatnya dan ibunya ingin melindunginya.


Kerana itu, ibunya atau dirinya tidak mengincar tahta dan membantu Kleio dengan syarat dia tidak mencelakai Zion. Zion juga ramah dengan Kleio namun sangat membenci Hilen dan Jone, pangeran kedua. Itu kerana mereka selalu ingin membunuhnya jika bukan Kleio sasarannya.


"Mungkin kalian bisa berbaik dan saling menyapa dalam permainan labirin besok."


Uen hanya menghela nafas. Dia tidak pernah melihat Kleio sangat senang membicarakan seseorang sebelum ni setelah kematian ibunya kerana racun ratu pertama.


Uen hanya keluar tanpa bisa mendapatkan sebuah hasil.


Keesokan harinya di pintu masuk labirin yang tinggi temboknya 5 meter.


Semua orang merasa tidak sabar untuk bermain.


Zion masih menatap tajam Anton yang tidak ada salah apapon. Uen pula menatap tajam Bern.


'Apa masalah pangeran kembar ini?'


Anton yang ingin menangis di sana sedang Bern hanya melakukan hal yang selalu dia lakukan yaitu mengabaikan segalanya.


"Baik, guru akan memanggil nama untuk tim."


Banyak suara mengeluh kerana itu.


"Diam. Bern Kailyth, Lewis. Antonio Will, Zion Mark."


Bern melihat seorang anak yang memiliki rambut dan mata coklat mendekatinya. Dia membawa busur dan banyak anak panah di belakangnya.


"Saya Lewis, salam kenal."


Lewis menyapa sambil menggaru belakang kepalanya seolah malu. Lewis, hanya dengan nama yang tidak punya nama keluarga bisa tahu bahwa dia benar benar miskin dan mungkin hanya gelandangan yang di kutip seorang guru kerana kasihan.


Bern tunduk seperti menghormatinya juga. Namun dia tidak menyebut namanya kerana guru sudah menyebutnya.


Lewis juga tahu itu namun jika tidak menyebut nama, akan menjadi sangat canggung.


Zion mengabaikan Anton dan Anton juga mengabaikannya. Tidak ada yang ingin berbicara dan Anton sangat lega akan itu. Anton percaya bahwa mereka hanya akan mengikuti Bern hingga akhir.


"Uen Mark, Ailen Theor."


Seorang dengan rambut perak dan mata biru yang terlihat suci menatap dingin Uen yang seorang pangeran raja. Uen juga menatapnya dingin. Ailen Theor, anak Duke Theor dari wilayah barat.


'Siapa yang menyatukan kepala dingin itu?'


Itulah yang di pikirkan semua orang. Mereka merasa akan beku jika mendekati mereka.


Mereka memalingkan wajah dan Uen kembali fokus pada Bern yang masih diam. Zion pula melirik tajam Lewis yang tidak bersalah.


"Baiklah, kalian bisa mulai. Tolong jangan di hancurin temboknya ketika lagi frustasi."


Mereka pon memasuki labirin itu tanpa banyak pikir kerana itu hanya labirin biasa yang penuh jebakan jalan buntu.


.


.


.


.


.


...**Bersambung**...