From No Body To Hero

From No Body To Hero
Episode 21



'Wacth, lihatlah, bukankah dunia ini masih indah?'


Suara lembut yang menenangkan terdengar. Pemandangan yang indah di lautan luas yang berwarna oren kemerahan matahari senja terlihat. Suara ombak laut yang menenangkan membuat semua orang ingin bermain di dalamnya.


'Wacth, jika kamu mencapai detik detik keputusasaan, ingatlah, aku sentiasa mendukung mu.'


Sudut pandangan berubah memperlihatkan seorang pria dengan otot yang cukup besar tersenyum ke arahnya. Namun wajahnya samar seolah mencoba menutup identitas orang itu.


.


.


.


Bern membuka matanya. Matanya sedikit bergetar seolah mimpi tadi sangatlah menyedihkan baginya. Dia menarik dan menghembus nafas beberapa kali untuk menenangkan dirinya.


'Benar benar mimpi buruk.'


Dia duduk dan melihat sekelilingnya. Bunyi nafas dan bunyi dengkuran yang menjengkelkan memasuki deria pendengarannya.


Mungkin itu bunyi yang menyebalkan dan seseorang akan memukul mereka kerana berisik. Bern tersenyum lembut melihat Steven dan Anton yang berdengkur kuat di samping Ailen yang mungkin kesulitan untuk tidur kerana mereka.


Di sampingnya juga ada Kleio yang tidur dengan nyenyak. Mengingat Kleio tidak memiliki orang yang di percayai nya, Bern adalah pilihan terbaik. Bern tidak akan menyakiti sisinya bahkan jika dia di lecehkan. Kleio bisa mempercayainya. Juga dia ingin mempercayai Bern.


Semakin berisik dengan suara dengkuran temannya, semakin tenang Bern. Bagi orang lain, kesunyian adalah ketenangan. Namun bagi Bern, semakin berisik, semakin dia tenang.


Dia menatap langit yang gelap tanpa bintang atau bulan kerana tertutupi awan mendung.


'Sepertinya besok siang akan ribut.'


Bern memperkirakan cuaca esok hari dengan tenang.


Bern bangun dan ingin pergi mengambil air di sungai. Namun Kleio di bangunkan dari gerakan perlahan itu.


"Kemana kamu ingin pergi?"


Kleio bertanya sambil menggosok matanya.


"Hanya mengambil air di sungai."


Kleio bangun dan mengikutinya ke sungai di dekat mereka yang sangat sunyi hingga suara jangkrik terdengar kuat.


"Hei, aku tidak pernah melihat mu minum. Bagaimana jika kamu minum segelas?"


Kleio mengatakan itu sambil mengeluarkan botol vine dari tas ruangnya. Sihir penyimpanan adalah sihir yang agak rumit untuk di pelajari. Jadi tas ruang sebenarnya sangat mahal.


'Apa sudah bisa minum di umur 16 tahun?'


Bern terlihat ragu membuat Kleio tidak bisa menahan tawanya.


"Apa yang kamu pikirkan? Semua orang pasti sudah minum di umur 15 tahun."


Bern tidak menjangkakan itu. Sepertinya umur untuk minum itu sangat muda di sana.


"Aku tidak minum."


Bern dengan santai menolak. Kleio sering minum di malam hari jika dia terbangun di tengah malam. Jadi bisa di sebut, sebuah kebiasaan baginya untuk minum ketika terbangun di tengah malam.


"Ouh Bern, satu gelas saja. Apa yang kamu khawatirkan? Bahkan jika kamu terluka, sebuah vine dengan kadar alcohol rendah seperti ini tidak akan menjatuhkan kesihatan seseorang bahkan jika dia meminum 5 botol."


Bern menghela nafas dan mengambil gelas yang sudah di isi setengahnya dengan vine.


Firasat Bern memburuk lalu memerhatikan sekeliling. Namun tidak ada yang terjadi dan Bern mula meminumnya.


Bern mengerutkan kening ketika rasa terbakar mengalir di tubuhnya.


'Racun!?'


Bern secara tidak sadar langsung melempar gelas itu menjauh.


"Uhuk."


Bern batuk darah dan mata Kleio membelalak.


"Apa seteruk ini kondisi mu!?"


Bern menggeleng.


"Racun....."


Dengan susah payah kata itu keluar. Kleio tidak percaya dan menghidu botol vine itu. Dan benar saja ada bau racun di sana.


Kleio dengan cepat mengeluarkan ramuan dan menyumbatnya ke dalam mulut Bern walau dia tahu Bern membenci rasanya.


Bern semakin berkerut dengan rasa bawang putih.


"Uhuk, uhuk."


Setelah beberapa detik tenang, akhirnya Kleio bisa melempar botol vine itu dengan marah.


"Siapa banjingan yang berani meletakkan racun dalam vine ku?"


Dia terlihat sangat kesal.


Bern melihatnya dan tersenyum lega. Jika itu Kleio yang meminumnya, dia harus menggunakan sihir penyembuhan kerana dia tidak tahu banyak tentang racun. Tapi tetap saja, dia juga kesal kerana harus meminum ramuan sihir.


Mereka menghabiskan malam bersama dengan Kleio mengutuk dan Bern mendengarkan hingga akhirnya kembali seolah tidak ada yang terjadi.


****


Keesokan paginya.


"Bern, apa kamu baik baik saja? Wajah mu pucat."


Anton bertanya ketika warna kulit Bern pucat.


"Hanya sedikit mimpi buruk."


Bern menjawab dengan tenang seolah dia tidak memaksudkannya. Yah, setengah dari kepucatan itu adalah kerana racun yang di minumnya malam itu. Ailen juga pucat menunggangi kuda di samping Bern.


"Aku juga mimpi buruk. Ada 2 makhluk dengan banyak mulut membuat ku mendengarkan nyanian mengerikan mereka."


Bern tahu yang 2 makhluk itu pasti Anton dan Steven. Namun Anton bahkan tidak mempedulikan Ailen ketika dia menunggang kudanya lebih cepat mengejar Steven yang di depan.


"Seven, apa sarapan hari ini?"


Anton bertanya dan Steven mengeluarkan roti dari kantongnya.


"Roti adalah yang terbaik untuk sarapan."


Anton tersenyum cerah dan mengambil roti itu.


"Kamu yang terbaik! Kamu teman terbaik ku!"


Steven dan Anton berbual dan tertawa bersama sehingga mungkin seseorang dapat melihat bunga di antara mereka.


"Bukan ke anak itu terlalu dekat dengan Steven?"


Ailen bergumam malas. Jauh dari dua banjingan itu sudah cukup baik. Ailen benar benar tidak serasi bersama mereka. Jika mereka adalah kucing, dia adalah kura kura yang tidak ada kene mengena dengan mereka.


Tentu saja pangeran mahkota bukan target yang mudah bagi Ailen yang tegas akan etika. Dia iri dengan cara bebas Anton dan Steven bergaul.


Bern memerhatikannya dan menghela nafas.


'Anak anak tetaplah anak anak.'


Walaubagaimanapun matang seorang anak, mereka pasti ingin berteman dengan bebas. Bern pasti, dalam rumah tangga Ailen, dia harus memilih temannya mengikut apa yang di inginkan keluarganya.


Orang berjiwa bebas seperti Anton dan Steven pasti di tolak mentah mentah.


"Apa kamu tidak pergi?"


Bern bertanya dan Ailen tersentak. Dia tidak ingin terlalu dekat dengan Bern. Itu kerana keluarganya menyuruhnya berteman dengan Bern sedekat yang mungkin kerana Bern di masa depan akan menjadi orang yang hebat. Dia tidak ingin berteman hanya kerana alasan seperti itu. Dia cukup kuat dari mengandalkan orang lain yang di samarkan dengan status teman. Dia cukup muak berteman dengan orang yang bahkan tidak serasi dengannya.


"Kamu harus bijak dalam memilih teman. Dari memilih teman dari status, mengapa kamu tidak berteman dengan mereka yang tidak akan mengutuk mu di belakang?"


Ailen tersentak mendengar itu. Dia mencoba yang terbaik untuk bersikap sopan dan berteman dengan mereka yang berstatus layaknya bangsawan. Namun dia tidak pernah bisa menghindari ketika mereka semua merendahkannya di belakang.


Bern tersenyum lembut dan memberikan 3 roti daging miliknya pada Ailen. Dia tahu bahwa Ailen tidak akan membawa bekal sendiri dan hanya menunggu mereka berhenti untuk makan berkumpulan. Bern juga begitu. Namun Kleio menyiapkan lebih dari 10 roti daging untuknya.


"Pergilah."


Ailen mengambilnya dengan ragu dan dengan perlahan mendekati mereka berdua.


'Benar benar imut. Bagaimana itu bisa di sebut tuan es yang dingin?'


Kleio yang melihat Ailen pergi, mendekati Bern.


"Kamu seperti orang tua saja. Jika tidak seperti seorang kakak yang pengertian."


Kleio bercanda dengan lembut dan Bern tidak memperdulikannya. Kleio bisa melihat Anton dan Steven yang senang dengan roti daging dan mula berbicara bersama.


"Apa kamu tidak kesepian kehilangan teman mu?"


Yang di bicarakan adalah Anton. Satu satunya teman Bern yang selalu dekat dengannya adalah Anton ketika mula sekolah.


"Bagaimana aku kesepian ketika tawa mereka bisa di dengar walau sudah berjarak ribuan mil?"


Bern bercanda juga. Tidak ada di antara mereka yang serius. Berada di antara kerumunan sudah cukup bagi Bern.


"Bagaimana jika kamu makan? Kamu benar benar terlihat pucat."


Kleio bertanya dan Bern menggeleng. Mengingat kepucatan itu di keranakan dirinya, Kleio tidak bisa merasa tidak bersalah.


Namun bagi Bern tidak ada gunanya untuk makan ketika itu tidak di cerna oleh perutnya dan dia hanya akan muntah kembali. Bahkan ramuan sihir mungkin tidak akan berkerja lagi untuk menyembuhkannya.


"Tapi jika bertanya tentang salah memilih teman, kamu mungkin teman yang paling teruk yang pernah aku jumpa."


Kleio menghela nafas ketika ajakannya di tolak.


"Aku anjing mu bukan teman."


"Kamu....!"


Kleio akan meledak kerana marah ketika rasa marahnya hilang melihat Bern tersenyum padanya.


Kleio hanya bergerak ke depan untuk memimpin. Bern menggelengkan kepalanya melihat Kleio kehilangan mata untuk berbalah dengannya.


****


Seperti yang di prediksi Bern, ribut melanda dan perjalanan terhenti seketika.


Setelah reda, mereka mula mendaki gunung yang di tandai di peta. Sepertinya perjalanan mereka tidak lama di sana kerana itu lokasi terakhir dari peta.


"Berhenti!"


Bern dan Steven serentak menyuruh semua orang berhenti.


"Apa lagi yang di inginkan banjingan tanpa gelar ini!? Apa yang mungkin berlaku!?"


Orang yang dari awal perjalanan sudah menjelek jelekkan Bern bersuara. Orang itu adalah Excardo Damian.


Anton dan Steven sudah menjadi dingin hanya dengan mendengar suaranya. Ailen malas untuk fokus pada kecoak tidak berguna itu dan hanya bersiap dengan apa yang menanti.


'Aura membunuh ini!'


Bern dengan cepat mengambil pedang yang dia bawa dari hasil gajinya menusuk udara kosong.


"Fttt.... Hahaha! Apa yang dia lakukan!?"


"Apa dia hanya menunjuk? Dasar pecundang."


Banyak suara yang mencemooh gerakan Bern. Bahkan Steven merasa aneh dengan gerakan Bern kerana dia tidak merasakan apa apa.


Tang!


Namun ketika mereka mendengar suara besi bertrabakan, semua orang menutup mulutnya.


"Steven!"


Steven tersadar dan melihat iblis tingkat 1 kelas rendah. Iblis itu sebesar 5 meter dengan gabungan antara gorila dan ular. Gorila yang bersisik ular.


"I, itukan gorila besi! Semuanya bertahan!"


Banyak yang panik setelah melihat iblis itu. Dengan pedang besar menghentikan gerakannya.


"Sial, keras sekali sisiknya!"


Steven bahkan di dorong mundur oleh gorila itu.


Tang! Tang! Tang!


Namun sisi Bern lebih menakutkan. Mereka tidak tahu apa yang di lawan Bern. Namun melihat bagaimana Bern di dorong mundur juga suaranya yang menakutkan.


"Bagaimana dia tahu di mana untuk menyerang? Apa mungkin dia merencanakan semua ini!?"


Excardo sepertinya harus tahu kapan untuk menutup mulut. Kerana tombak terbang ke arahnya hingga membuat pipinya berdarah.


"Dari kamu memfitnah teman ku, lebih baik kamu diam, babi sialan."


Wajah Excardo merah kerana malu dan marah. Dia ingin marah namun Anton dengan cepat bergerak dan mengambil tombaknya kembali.


Ailen juga dengan cepat melompat membantu Steven. Walau dia ingin membantu Bern, dia tidak tahu di mana makhluk itu berada. Lebih baik tidak masuk campur dari mencederakan Bern dengan niat membantunya.


Mereka memasuki pertempuran yang telah di prediksi Bern di awal perjalanan.


.


.


.


.


.


...**Bersambung**...