
Tump, tump.
Jantung Bern terung berdetak dengan ritme yang kacau.
"Bos, apa kamu baik baik saja?"
Steven terlihat khawatir tentang kondisi Bern.
"Aku baik baik saja."
Bern mendarat di depan lapisan air yang memisahkan kawasan itu.
"Bagaimana mereka bisa bertarung di dalam air?"
Steven bertanya dengan penasaran. Sebagai manusia, mereka tidak mungkin bisa bernafas apa lagi bertarung di dalam air dengan baik.
"Apa kamu lupa, penduduk kota Sebasta bukan hanya elf air? Mereka masih memiliki ras manusia ikan seperti jerung dan lainnya. Kamu tahu, bukan hanya manusia yang bisa memiliki keserakahan. Kita tidak tahu siapa musuh kita."
Bern mengatakan itu dan Steven bisa melihat manusia separuh ikan dengan jubah hitam dengan lambang organisasi Satan.
Hanya 3 diantara mereka, namun mereka setinggi 3 meter dengan gigi tajam dan kuku yang sepertinya ada racun iblis padanya.
Ikan yang menahan serangan itu menjadi hitam seiring berjalan waktu dan mati di tempat.
"Mereka benar benar membuat ku kesal."
Steven menghayunkan pedang besarnya. Dia tidak bisa bertarung di dalam air, namun ketiga manusia ikan itu juga tidak bisa terus di dalam air.
Bern menyingkirkan penyapunya dan membuat kuda kuda dari seorang pemain pedang. Dia tidak bisa mensia siakan kondisi fisiknya hanya untuk mana. Dia sedang bertarung di area gangguan mana yang membuat dia bertarung dengan tangan yang terikat.
"Kamu bisa menggunakan pedang?"
Assasin dari bawahan Calistia terlihat tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Bagaimana seorang penyihir bisa bertarung dengan pedang? Tubuh penyihir selalunya lemah bahkan untuk mengangkat sesuatu yang berat, apa lagi bertarung dengan kekuatan?
Sedikit darah mengalir keluar dari mulut Bern. Bern dengan cepat menyeka darah itu seolah tidak terjadi apapon.
Gelak tawa terdengar dari balik lapisan air. Mereka sepertinya bersenang senang menginjak mereka yang lemah. Steven semakin jengkel setiap kali dia mendengar tawa mereka.
Masuk saja kaki mereka ke area kering, Steven ingin menghempas mereka dengan kejam. Namun Bern lebih cepat darinya dan memotong beberapa jari manusia ikan yang terlihat sepertinya dari ras jerung.
"Arrgghhh!!!"
Jerung itu melangkah mundur sambil berteriak kesakitan.
"Bukankah kalian menikmati menginjak yang lemah? Jadi, mengapa kamu berteriak hanya kerana beberapa jari yang putus?"
'Di mana anak kurus yang lemah itu!?'
Bern selalu bertindak sopan dalam segala tindakannya, dan itu membuatnya terlihat lemah di mata bawahan Calistia.
"Bos, kamu, sedang marah?"
Steven hanya bertanya untuk berjaga jaga. Siapa yang tahu apa yang akan di lakukan Bern jika dia sedang marah?
"Iya."
Mendengar suara dingin Bern, Steven tidak bertanya lagi. Dia marah kerana jari Lewis, kerana kematian kakak Alastair dan kesakitan yang dia rasakan kerana grimor yang di curi organisasi itu.
"Ku peringatkan, lepas dari lapisan air ini, tidak ada dari kalian yang bisa pulang."
Bern menghayunkan pedangnya dan darah merembes turun ke tanah dari pedangnya.
"Berani kamu!"
Manusia gurita dengan cepat menyerang Bern dengan tentakel miliknya. Bern tidak bergerak sedikit pon dari posisinya dan Steven menangkis serangan itu dengan pedang besarnya.
Tang!
"Woah, aku pikir itu akan perpotong. Apa itu benar benar kaki cumi yang kenyal dan lembut?"
Steven di dorong mundur beberapa langkah dengan serangan itu.
"Aku gurita bukan cumi! Berani makhluk rendahan seperti mu mengejek ku!"
Manusia gurita itu dengan agresif mula menyerang Steven.
"Hei, apa kalian anggota dalam?"
Bern bertanya dengan dingin.
"Heh, memnagnya siapa yang ingin menjawabnya, bodoh!"
Manusia jerung itu dengan kasar menengking Bern.
"Bos, anggota dalam memiliki lambang yang berbeda dengan mereka, itu yang aku dengar ketika bersama organisasi ini. Mereka tidak lebih dari bawahan yang di kendalikan tanpa tahu tujuan mereka."
Steven menjawabnya dengan santai sambil terus menangkis serangan manusia gurita dari mengenai Bern.
"Begitu."
Bern berjalan menjauh dari pertempuran.
"Jadi mereka tidak ada gunanya. Pastikan gurita itu mati, jika tidak, hanya buang tenaga ku saja membawa mu."
Steven merasa di tusuk ketika Bern mengatakan itu.
"Siap di laksanakan!"
Steven hanya bisa pasrah.
Bern merasakan kehadiran yang cukup kuat lalu melihat Felix dan Faura yang datang ke arah mereka.
"Jaga pintu masuk telur naga! Jangan biarkan para banjingan tidak tahu diri ini masuk!"
Felix mengatakan itu dan Faura memukulnya!
"Hanya beberapa saja yang menjaganya! Jangan biarkan mereka mendekati sarang naga!"
Faura pergi ke arah Bern yang berdiri di situasi itu dengan tenang dari yang lain terlihat panik menahan sang gurita.
"Apa situasi saat ini?"
Faura bertanya dan Bern tunduk hormat sebelum menjawab.
"Hanya 3 musuh di depan. Namun di pastikan ada musuh di kawasan lain yang menargetkan warga."
Faura mengertak giginya mendengar itu.
"Kakak, kamu kembali dan lihat apa warga kota setempat baik baik saja atau tidak. Serahkan bahagian ini pada ku."
Felix mengangguk tidak protes. Dia sangat lemah di dalam pertempuran dan hanya akan menjadi beban di sana.
"Berani kamu melihat ke arah lain ketika kamu sudah melukai ku!?"
Jerung itu melangkah ingin menyerang Bern. Sekali lagi, Bern hanya berdiri tidak sedikit pon tergerak untuk menghindar.
Bang!
Pedang air memblokir serangan itu. Faura yang terlihat marah siap bertempur dengan mata yang penuh dengan tatapan membunuh.
Bern mengangkat pedangnya dan ada angin terasa seolah ada yang bergerak di sana.
"Kemana kamu ingin pergi?"
Listrik terlihat dari tubuhnya.
"Kamu, belut listrik?"
Belut listrik itu tersenyum dan memegang pedang Bern. Aliran listrik mengalir dari pedang ke tubuh Bern.
Namun, Bern hanya berdiri diam seolah dia tidak sakit sama sekali dengan sengatan itu.
"Hanya ini?"
Bern terlihat mengejek pada kekuatan listrik itu. Walau jubah hitam yang di kenakan Bern bisa menunda rasa sakit, itu tidak bermakna Bern tidak akan sakit ketika pertama kali menerima serangan.
"Aku tidak punya urusan dengan mu."
"Erk! Jaga pintu masuk!"
Faura di dorong mundur mengalihkan pandangannya panik.
"Kemana kamu melihat? Muhahaha!"
Jerung itu mula menggigit pundak Faura yang kehilangan fokus.
"Ugh..."
Faura menggertak giginya dan alisnya berkerut menahan rasa sakit.
"Sepertinya kamu tidak pernah belajar."
Bern dengan cepat berada di antara keduanya dan ingin menebas leher si jerung itu.
Tang!
Namun pedangnya tidak bisa menebas kulit keras itu.
'Anergi iblis?'
Menggunakan kekuatan iblis untuk membuat tubuh mereka menjadi kuat. Pantas saja tangan gurita itu keras seperti pedang.
"Apa kamu pikir aku akan jatuh pada trik yang sama!? Bodoh!"
Bern menarik Faura menjauh.
"Kamu sangat berisik."
Steven melihat Bern yang sedari tadi sangat dingin merasa sangat ketakutan sekarang.
"Aiya, seharusnya kamu diam saja. Kamu seharusnya tidak memancing lagi emosi bos."
Steven hanya tunduk pada Bern dan senang ketika Bern senang. Namun ketika Bern sedang marah, selain dari rasa hormat, rasa takut muncul dalam dirinya.
"Kalian membantu si penyihir itu, maka aku tidak punya belas kasihan untuk membiarkan kalian pergi. Yang mulia, kerana mereka makhluk laut, apa akan baik baik saja jika aku membunuhnya?"
Faura mengangguk dengan mudah.
"Mereka melukai warga Sebasta, mereka layak menerima eksekusi mati."
Bern menerima izin dan mana hitam mengelilinginya.
'Mana itu lagi, apa itu sebenarnya?'
Terakhir kali, dia tidak melihatnya dengan benar, namun itu adalah mana yang sama Bern gunakan untuk memotong lengan kiri si penyihir.
Mana itu akhirnya berkumpul pada pedang Bern dan menjadikan bilahnya berwarna hitam.
"Heh, kamu pikir aku akan takut hanya dengan itu!? Kemari!"
Sang jerung dengan percaya diri ingin menerima serangan Bern. Namun beberapa detik kemudian, kepalanya sudah berada di tanah tidak tahu apa yang sedang terjadi.
'Apa aku mati? Begitu mudah?'
Buk.
Tubuh si jerung itu terbaring di tanah membuat semua orang di sana terdiam.
"Uhuk."
Darah hitam mengalir keluar dari mulut Bern.
"Bos!"
Bern mengangkat tangannya menandakan dia baik baik saja. Dia menyeka darah hitam itu dengan lengan bajunya dan masih berdiri kukuh seperti tunggul kayu.
'Tubuh ini masih terlalu lemah untuk mengendalikan kekuatan ku.'
Banyak kerusakan terjadi pada tubuhnya hanya kerana dia menggunakan kekuatannya untuk beberapa detik. Itu adalah kekuatannya dari dunianya yang dulu.
"Mari pergi."
Bern mengatakan itu dan Faura hanya mengikutinya.
Tang!
"Apa kamu tidak akan membantu di sini!?"
Salah satu assasin Calistia bertanya sembari menangkis serangan si gurita.
"Bodoh!"
Steven dengan cepat menutup mulutnya.
"Apa kamu mencoba membunuh ku....!?"
Steven berbisik dengan nada menekan pada assasin itu.
"Steven adalah assasin terkuat di kerajaan Sun, jika dia tidak bisa mengalahkan gurita itu, maka dia hanyalah bahan tertawaan bagi kerajaan Sun. Siapa yang berani meremehkannya?"
Bern mengatakan itu tanpa memutar tubuhnya melihat Steven.
Walau ucapan Bern kasar kerana dia sedang marah, yang di perhatikan Steven hanyalah bahwa Bern mempercayainya untuk mengurus gurita itu. Bern benar benar memiliki hati yang lembut pada mereka yang berada di sisinya.
"Apa apaan itu? Apa dia tidak memikirkan temannya sama sekali?"
Vany menyiku temannya itu dengan kasar.
"Jika bos di katakan tidak memikirkan temannya, maka semua orang yang memanggil diri mereka sahabat harus mundur."
Bern adalah orang yang paling mengambil berat tentang sebuah ikatan dari siapa pon kenalannya.
"Juga,"
Tang!
Steven menyerang gurita itu dengan pedangnya.
"Jika dia mati atau membuang ku, aku tidak tahu kemana lagi aku harus pergi."
Mungkinkah dia menjumpai orang yang sama seperti Bern setelah di buang atau sejenisnya?
'Apakah aku bisa tunduk pada orang lain?'
Steven tersenyum dengan senyuman orang bodoh khasnya.
"Bos mempercayai ku untuk membunuh mu, maka aku harus memenuhinya."
Aura membunuh akhirnya muncul dari Steven.
Steven menghilang di udara menggunakan teknik assasinnya. Bahkan jika dia tidak secepat Bern, dia adalah assasin dengan banyak pengalaman dan tahu bagaimana menggunakan lingkungan sebagai senjata.
Lingkungan dengan banyak kehidupan adalah lingkungan yang paling di sukainya.
"Kita juga, jangan mau kalah sama anak kecil!"
Vany memulai serangan dan temannya mengikuti langkahnya. Para prajurit kota Sebasta juga tidak kalah ketika menyerang untuk masa depan kota kelahiran mereka.
"Jangan mundur hingga musuh tumpas!"
Seorang prajurit berteriak semangat dan menyerang dengan membabi buta.
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...**Bersambung**...