From No Body To Hero

From No Body To Hero
Episode 17



"Steven."


Suara pria itu tulus mengatakan itu.


"Juga aku selalu di panggil dengan Seven."


Steven tersenyum seperti seorang anak kecil yang mengenalkan dirinya. Namanya terdengar seperti angka bilangan yang membuatnya memilih menggunakan angka sebagai nama samaran.


Bern berjalan ke depan seperti mengabaikannya. Dia hanya berjalan kerana dia perlu bertarung sekarang.


Steven mengerutkan kening sambil menatap Bern dari atas ke bawah. Dia tidak bisa percaya yang Bern masih ingin bertarung.


"Kamu masih akan bertarung dengan kondisi-"


"[Diam]"


"!!?"


Steven tersentak ketika mulutnya di tutup secara paksa oleh mana. Bern cukup kasar padanya. Namun itu hanya berlaku untuk 3 detik.


"Kamu benar benar kasar dengan ku. Apa kamu masih menganggap ku musuh?"


Steven mengambil pedang besar di punggungnya. Dia hanya bercanda ketika mengatakan itu. Akan agak aneh jika Bern langsung lembut dengannya mengingat dirinya adalah musuh beberapa waktu lalu.


Namun Bern hanya memperlakukannya sebagai seorang teman. Bern tidak akan berkasar pada anak anak. Bern pasti Steven setidaknya berumur lebih 20 tahun.


"Kondisi ku bukan sesuatu yang bisa kamu angkat begitu saja."


Itu alasan yang tidak masuk akal sama sekali. Namun Steven merasa itu masuk akal kerana Bern terus terusan menelan darah setiap kali darah mengalir di tenggorokannya.


"Baik, baik. Namun aku peringatkan lagi, tubuh mu tidak akan bertahan lebih lama. Apa lagi ketika mempertahankan sihir di situasi seperti ini.


Bern sekali lagi mengabaikannya. Hanya mereka berdua yang bisa bertarung sekarang.


Dengan cepat, Bern melompat menyerang diikuti Steven di belakangnya. Perisai Bern melindungi semua orang yang jatuh kerana ledakan iblis dari serangan apapon. Binatang iblis juga sangat liar dengan ledakan anergi iblis tadi.


"Ten! Inilah balasan mengkhianati kami!"


Steven di serbu dan masih bertahan. Pedang besarnya di hayunkan dengan semua otot besar yang dia miliki.


Organisasi Satan itu bukan apa apa di banding dirinya. Kelas assasin membuatnya bisa bersembunyi dengan baik ketika dia menghasilkan serangan maut dengan pedang besar miliknya.


Namun ibarat 100 melawan 1, dia masih kehabisan nafas dan terluka di sana sini.


'Dia benar benar monster.'


Steven berpikir dia adalah monster mengingat dirinya yang kuat di banding para assasin yang hanya mengandalkan teknik sembunyi sembunyi. Namun Bern berada di level yang berbeda.


Dia adalah penyihir yang sangat lemah terhadap efek samping dari penggunaan mana berlebihan. Namun orang yang menderita efek samping itu masih bertarung dengan gagah seolah dia tidak apa apa.


Walau begitu, matanya kabur. Perisai Bern juga redup terang kerana Bern terlalu memaksa diri. Bern menelan dan meludah banyak darah pada masa yang sama.


Timnya menggertak gigi melihat perisai itu. Hanya melihat perisai itu, mereka bisa tahu kondisi Bern. Tangan mereka terkepal erat dan mencoba bangun dengan sia sia.


Ailen dan Anton berjaya bangun sedikit sebelum terkapar dengan kesakitan yang seperti membakar semua pembuluh darah mereka.


'Sial!!!'


Mereka hanya bisa mencengkam tanah dengan rasa putus asa. Zion juga mencoba yang terbaik untuk tetap pada kesadarannya. Lewis dan Uen memegang senjata mereka dengan putus asa.


Sangat menghibur melihat mereka terlihat putus asa di dalam lumpur hitam ketika mereka semua terlihat jijik dengannya sewaktu pertama kali menjejakkan kaki ke sana.


Mereka semua tumbuh dengan melihat bagaimana Bern menangani situasi di sana. Bern tidak lebih dari seorang ksatria yang mengajari mereka ketika mereka akan magang di masa depan.


Air mata Anton dan Zion mengalir tidak berdaya. Mereka sangat putus asa kerana tidak bisa membantu Bern dan malah terjebak dalam racun anergi iblis itu. Dari mereka semua, Steven mungkin yang paling berguna di sisi Bern.


Walau mereka marah dengan Steven, itu tidak menutup bahwa Steven lebih layak berdiri di samping Bern dari mereka.


Anton menggertak giginya dan mengangkat kepalanya bahkan merasa kesakitan. Pembuluh darah di lehernya terlihat dari usahanya bergerak.


"Bern! Tarik perisai ni! Kamu berlebihan bodoh!"


Anton berteriak frustasi. Walau rasanya seeprti semua pembuluh darahnya terbakar untuk berteriak, dia setidaknya ingin menyampaikan rasa kesal dan putus asanya.


Dia mewakili perasaan semua timnya.


Namun mereka semua tahu jika Bern menarik perisainya, mereka semua akan mati.


Bern menatap mereka sebelum kembali berbalik. Bagaimana dia bisa membiarkan anak anak yang di masa depan akan menjadi sangat kuat mati? Juga dia tidak tega melihat orang di sisinya mati.


Dia benci melihat orang di sisinya mati atau terluka. Dia benci melihat pembantaian ketika dia mampu mencegahnya. Dia hanya tidak suka melihat orang baik yang tidak bersalah mati. Dia hanya menjadi seseorang dengan pola pemikiran yang sederhana.


Bern melangkah ke depan dan dia kehilangan pijakannya kerana sedikit tergelincir oleh lubang yang di tutupi air. Pada kesempatan itu, tombak musuh ingin menusuknya.


Tang!


Tusk.


Mata Bern melebar melihat darah yang mengalir tercampur air hujan hitam di depan matanya.


"Steven?"


Steven menangkis serangan itu untuk Bern. Namun untuk itu, dia di tusuk dengan pedang di bahagian abdomennya dari belakang.


Tusk.


Steven membalas menusuk bahagian jantung dan orang yang menusuknya langsung mati.


Darah mengalir keluar dari mulutnya ketika dia melutut tanpa daya. Dia tidak mengerutkan kening pada rasa sakit itu. Bukan masalah jika dia mati sekarang. Tidak ada orang yang penting atau alasan baginya untuk tetap hidup.


"Sial."


Bern mengutuk perlahan. Suara itu terdengar seperti ******* kesal bahwa dia menjadi beban.


Bern menarik Steven yang besarnya 2 meter itu ke arah perisai. Namun pastilah ada yang mengejarnya.


Swing!


Bern berbalik ingin menangkis pedang.


Teesss....


Namun yang dia dapatkan adalah tebasan yang menyayat bahagian perutnya.


Bern bahkan tidak mengerang ketika dia hanya mengerutkan keningnya.


"[Sampai darah mengalir kering, tongkat ku takkan jatuh.]"


Perisai dalam skala tidak besar namun cukup menampung semua orang di sisinya terhasil. Darah mengalir keluar dari mulut dan perutnya.


'Ini yang terakhir.'


Sihir yang hanya bisa di gunakan sekali itu saja.


'Ku mohon, berikan aku berkah mana, hanya untuk kali ini.'


Mata Bern bersinar putih kerana ledakan mana yang terhasil di dalam tubuhnya.


"[Jadikanlah ini sebuah lagenda.]"


Semua orang tersentak melihat Bern menggunakan mantra ganda. Hanya Anton dan Zion yang sudah tahu Bern bisa menggunakan mantra ganda.


Namun mereka masih tersentak merasakan anergi mana yang mengamuk mengelilingi Bern.


"[Hanya sekali kegelapan menjadi senjata suci.]"


Bern menggertak giginya merasakan organ tubuhnya seperti semuanya berubah tempat.


"[Lindungi warga mu.]"


Mana mula meledak dari Bern.


'Mantra 3 perenggan?'


Duke Zeke benar benar tidak dapat mempercayainya. Mantra selalunya hanya sekadar 2 perenggan seperti 'Awal hari hujan, di akhiri senja yang indah'. Semakin banyak dan panjang mantra, semakin terbebani pengguna. Apa lagi sekarang Bern menggunakan mantra perisai yang benar benar membebaninya.


Namun sesuatu yang tidak terduga terjadi. Air hujan hitam bertukar menjadi air putih dan bercahaya. Lalu itu menajam seolah itu ribuan duri suci yang jatuh ke dunia.


Chung! Tusk! Pang! Tang!


Awwwwoooo!!!


Aaarrrggggg!!!


Banyak bunyi suara jeritan dan tangkisan dari monster ataupon manusia. Penyihir yang mengambil tongkat dan grimoir Bern seolah tidak peduli dengan rekannya yang mati dan melompat masuk ke lingkaran taliportasi sendirian.


"Uwek...."


Bern langsung muntah darah. Namun mantranya tidak terbatal walau begitu. Matanya masih memancarkan cahaya putih.


Namun setelah beberapa detik, Bern akhirnya merasa sedikit terbiasa dengan rasa sakit lalu kembali tegak seolah orang yang muntah darah itu tidak ada.


"Ini."


Steven menyerahkan ramuan pada Bern. Dia sudah menarik pedang yang tertusuk. Darah mengalir keluar dari tempat dia di tusuk. Dia mungkin akan mati jika dia tidak minum ramuan itu sebentar lagi.


"Ini yang terakhir."


Namun di banding dirinya, Bern lebih berantakan. Hanya Bern berdiri tegap dan tenang seolah dia tidak terluka sama sekali.


Bern mengambilnya dan Steven hanya duduk bersandar pada pohon dengan mata yang cahayanya mungkin hilang sebentar lagi. Dia menutupnya dan akan menerima kematiannya dengan ikhlas tanpa dendam.


Glup.


Namun sesuatu yang hangat memasuki tenggorokannya. Dia membuka matanya tersentak melihat botol ramuan itu di mulutnya.


Cahaya kembali ke matanya. Bern terlihat puas dan berbalik.


'Mengapa?'


Steven tidak bisa tidak merasa Bern aneh. Mengapa dia menyelamatkan orang yang dia baru kenal beberapa menit? Juga mata puas Bern membuatnya kewalahan. Di banding dirinya, Bern jauh lebih menderita sebenarnya.


'Orang ini.... Bodoh atau bagaimana?'


Steven tidak pernah bertemu orang sebaik Bern.


Namun yang dia tidak tahu adalah, Bern membalas dendam kerana telah menyumbat ramuan yang kaya dengan rasa bawang putih itu ke mulutnya. Itulah mengapa dia terlihat puas.


Dari minum ramuan, dia lebih rela minum 10 liter darah. Dia bukan vampir. Hanya dia akan muntah jika dia makan sesuatu yang sangat kaya rasanya akan bawang putih. Jika itu hanya sebiji yang di potong potong ke dalam nasi goreng atau sesuatu seperti itu, dia juga bisa menerimanya.


Suara di area luar semakin pudar dan akhirnya menghilang menunjukkan bahwa musuh sudah lenyap atau bahkan melarikan diri.


Bern menghilangkan semua mentranya dan pandangannya sedikit demi sedikit perlahan menjadi semakin kabur.


Hujan hitam yang sangat jarang berhenti, berhenti. Matahari fajar mula naik menerangi kawasan yang selalunya gelap. Itu seperti cuaca di sana seolah menyambut kemenangan mereka.


Semua orang menghela nafas lega dengan kemenangan ini. Tidak ada yang mati kerana kegigihan Bern lagi. Hanya pihak lawan yang mengalami kerugian ketika merekalah yang mendapat keuntungan dari awal.


Kaliup, kaliup, kaliup.


Terdengar bunyi tapak kaki kuda. Itu pasti bala bantuan dari Kleio.


Tidak butuh waktu lama bagi Kleio menemukan Bern. Hanya dia seorang yang berdiri di antara semua orang yang tergeletak di tanah. Namun Kleio bisa tahu mereka tidak mati ketika melihat mereka mula bisa bangun namun hanya duduk kerana kaki mereka mungkin lumpuh.


"Bern!!!"


Kleio berteriak melihat Bern yang berdiri dengan semua warna hitam di tubuhnya. Dia tidak tahu yang mana air hujan hitam atau yang mana darah. Yang dia tahu, sesuatu yang hitam di mulutnya adalah darah.


Mata Kleio dan Bern bertemu. Namun pandangan Bern sudah menjadi gelap sejak mendengar tapak kaki kuda.


Seperti bisa merasakan kehadiran Kleio, Bern tersenyum lembut ke arahnya.


Tubuhnya kehilangan kekuatan untuk menampung dirinya dan dalam suasana yang tenang dan damai, dia dengan senang hati bisa kehilangan kesadaran.


"Bern!!! Banjingan bodoh ini!!!"


Hanya kutukan Kleio menjadi kata kata terakhir yang dia dengar sebelum pingsan.


.


.


.


.


.


...**Bersambung**...