From No Body To Hero

From No Body To Hero
Episode 15



Bern menelan kembali darahnya dan menyeka mulutnya dengan lengan bajunya walau itu tidak berguna sama sekali. Darah yang keluar dari mulutnya terlalu banyak hingga terlihat Bern akan pingsan kerana kehabisan darah kapan saja. Kulitnya sangat pucat namun tidak terlihat dalam gelap.


Bunyi banyak tapak kaki terdengar mendekat.


'Setidaknya ada 30 orang yang datang ke mari.'


Bern memperkirakan tahap kemenangan mereka.


'Woe! Apa kamu tidak bisa menghindari itu!? Kamu buta!?'


Mata Bern melebar ketika mendengar suara Anton yang lagi marah.


'Mereka keluar? Yang kejar mereka.... 50.'


Alis Bern mula berkerut. Pertarungan ini dari awal sudah memberikan mereka sisi yang tidak menguntungkan. Dia tidak bisa menerima kematian di sisinya yang mana isinya hanya anak kecil.


"Itu mereka!"


Anton Berteriak ketika dia menemukan Bern. Lewis dari atas pohon melempar tongkat sihir setinggi pinggang Bern pada Anton dari atas pohon.


"Bern! Ambil ini!"


Anton melemparnya dan Bern mengangkat tangannya ke sisi Anton tanpa melihatnya.


Tongkat sihir terlempar tepat masuk ke genggaman Bern. Bern mengerutkan kening lagi ketika tongkat sihir yang di bawa itu sangat besar. Itu hanya akan menghambat gerakannya.


'Persetanlah.'


Bern hanya mengabaikan itu adalah tongkat sihir dan memegangnya seolah itu adalah pedang.


'Setidaknya, kamu jangan jadi beban, ok.'


Bern agak kesal dengan tongkat sihir besar yang baginya seperti beban. Namun melihat Anton dan Ailen yang terluka akibat serangan jarak jauh, hanya menghela nafas. Dia seharusnya menghargai usaha mereka.


Bern menghilangkan perisainya. Lewis dari atas pohon melempar tongkat sihir Zion. Zion juga ingin menangkapnya dengan keren seperti Bern. Namun dia malah membuatnya mengenai kepalanya dan baru berakhir di tangannya.


'Tongkat sialan.....'


Zion sedikit kesal.


"Zion, kau jaga Thomas. Yang mulia-"


"Aku tahu."


Uen langsung muncul entah dari mana berdiri di belakang Zion dengan dua belati.


Zion mengangguk dan mula menggunakan mana. Rasa seperti dirinya di tusuk ratusan jarum. Namun dia bertahan.


Sekali lagi, Thomas merasa dirinya hanya beban.


"Thomas, bisakah kamu melakukan sesuatu untuk ku?"


Bern bertanya. Thomas tentu saja mengangguk.


Bern mengambil sebuah bola kristal di tanah yang sepertinya alat komunikasi para organisasi itu.


"[Kertas mengikuti angin, Cahaya menuntun seseorang dari kegelapan.]"


Bola kristal itu bercahaya terang di mana tempat itu sangatlah gelap yang membuatnya sangat mencolok.


"Ah, bertarung di tempat terang lebih baik."


Anton bergumam ceria ketika dia bisa melihat musuh dengan jelas. Sudah gelap, jubah organisasi mereka pula hitam. Sangat menyusahkan untuk bertarung. Namun Uen mengerutkan kening. Dia adalah kelas assasin yang lebih baik berkerja dalam gelap.


Tapi dia tidak punya protes kerana di kumpulan mereka, hanya dia seorang kelas assasin sedang musuh memiliki setidaknya lebih dari 20 kelas assasin.


"Pegang ini dan jangan sampai lepas. Cahayanya akan mati jika kamu melakukan itu. Akan terlalu membebankan ku jika ini tidak memiliki penalti yang wajar."


Penyihir bisa mengurangi beban dari mantra ketika di berikan kelemahan pada mantra. Seperti, akan terus meniupkan angin hingga sesuatu menyentuhnya.


"Hah, kamu benar benar membaca buku sihir yang membosankan itu."


Uen mengejek sedikit. Namun dia tidak terlihat membencinya.


Thomas mengangguk semangat. Setidaknya, dia melakukan sesuatu. Bern menyerahkan itu dan mula fokus pada musuh di depan.


"[Sifat alami pengecut, lari berlindung.]"


Lingkaran berwarna emas dengan simbol rumit tidak seperti milik Bern yang sederhana muncul di bawah kaki Thomas. Perisai emas transparan muncul melindungi Thomas. Thomas memegang erat bola kristal yang bercahaya itu.


Warna emas dan cahaya putih menyatu membuat cahaya yang lebih terang.


"Jangan khawatirkan punggung mu. Aku di sini."


Zion mengangguk. Dia bisa mempercayai Uen sepenuhnya kerana Uen selalu melindunginya kapan pon itu.


Tang! Tang! Tang!


Panah melayang ke arah Zion yang terlihat paling lemah. Namun dengan gesit, Uen menangkis semua panah itu.


"Langkah mayat aku sebelum menyerang adik aku."


Mata Uen dingin mengatakan itu.


'Uen, itu sedikit memalukan.....'


Zion mearasa malu. Namun itu tidak lama kerana dia merasa kesakitan yang cukup membuatnya mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Ugh....."


'Bagaimana Bern menahan ini tanpa sedikitpun berkerut?'


Dia melihat Bern yang maju bersama Ailen.


"Mengapa kamu menjaga Thomas dengan alasan menjadikannya lampu?"


Wajah Bern tenang dengan soalan tu sambil menangkis senjata musuh.


"Siapa bilang aku menjadikannya sumber cahaya?"


Ailen bingung dengan itu. Namun dia tidak terus bertanya. Dia pasti Bern memiliki rencananya sendiri.


Tang! Tang! Tang!


Lewis mendukung dari pepohonan dengan menembakkan panahnya. Dia kehabisan nafas dengan bergerak gesit dan sediam yang dia bisa.


Sreet.....


Dia menarik tali busurnya lagi. Dia berkerut dengan tarikan itu.


Darah mengalir mengikuti tali busur. Darah yang datang dari jari jarinya yang terpotong akibat terlalu banyak menarik tali busur.


"Sial..."


Lewis mengumpat dan menembakkan lagi panah.


"Ketemu."


Mata Lewis membesar mendengar bisikan di belakangnya. Dia dengan cepat ingin berbalik dan menggunakan busurnya untuk memukuli orang itu.


Namun sebelum bisa berbalik, dia di tendang dan mendarat di dekat Zion.


"Ugh!"


"Lewis!"


"Sudah cukup bermain. Pemanah."


Orang yang menendang Lewis turun dari pohon dan menarik sarung tangannya seolah itu menjadi berantakan. Dia tidak menutupi kepalanya seperti yang lain.


Rambut hitam dan mata hitam kerana keunikan tempat itu. Namun mata hitamnya menunjukkan sedikit cahaya merah.


"Ketua!"


Seorang dari organisasi itu berteriak seolah dia senang. Pemanah dengan cepat diam dan siap menembakkan panah kapan saja.


"Tch."


Bern mendecakkan lidahnya.


"Berundur."


Ailen dan Anton yang mendengarnya juga mundur. Ailen dan Anton juga sebenarnya sudah kehabisan tenaga juga sudah terluka cukup banyak. Mereka hanya ingin duduk dan berehat sekarang.


"Tembak."


Panah yang di lapisi racun iblis mula di tembakkan lebih dari 30 orang pemanah yang membuat kumpulan Bern di hujani panah.


Bern mencapai kumpulannya bersama Anton dan Ailen. Bern langsung menarik Thomas yang sedikit jauh dari kumpulannya masuk ke pelukannya.


"[Perisai]"


Lingkaran sederhana muncul dan membuat perisai transparan berwarna putih mengurung mereka.


Tang! Tang! Tang!


Bern sedikit berkerut ketika ratusan panah menghantam perisainya. Dia tidak sadar yang dirinya masih memeluk Thomas ketika itu.


"Mengapa menghabisi tenaga mu untuk beban yang tidak berguna seperti mereka? Apa lagi yang berada dalam pelukan mu itu. Dia tidak melakukan apa pon selain memegang bola kristal itu."


Suara menggoda iblis itu membuat mereka semua menunduk. Memang benar mereka hanya beban. Namun suara itu di tujukan pada Bern.


Pelukan Bern pada Thomas mengerat tanpa dia sadari.


"Beban?"


Bern seolah ingin mengejek pernyataan itu.


"Jika mereka beban, kalian sampah. Mungkin lebih rendah dari itu."


Mereka semua melihat Bern tidak percaya. Bern benar benar mengejek mereka.


"Apa kalian melupakan, bahwa kami semua seorang pelajar? Bahkan belum memasuki umur untuk magang. Kami semua rata rata 16 tahun. Tapi kami semua melawan kalian yang bahkan hanya tahu lawan dengan keroyokan seperti ini. Tapi kami masih bertahan. Bukan kah kalian yang tidak tahu malu?"


Mereka semua menatap Bern seolah tidak percaya. Bernlah yang mengatakan tidak baik membuat musuh dari lidah.


Bern melihat kebingungan mereka.


"Hnm? Dia dari awal adalah musuh. Mengejek musuh adalah hal wajar."


Mereka mula memikirkannya lagi dan mengangguk. Musuh hanya akan berbicara omong kosong dan mereka mula mengabaikannya.


Tang! Tang! Tang!


Semakin banyak panah menghantam perisai itu. Darah mula mengalir keluar dari mulut Bern kerana tidak bisa di telannya. Namun itu masih jumlah yang sedikit dari yang seharusnya kerana dia masih menelannya.


Sudah lebih dari 5 menit mereka terus bertahan. Panah mereka sepertinya tidak ada habisnya.


Bern mula sedikit kehilangan pijakannya. Thomas yang berada dalam pelukannya mula mendukungnya dengan cemas.


"Tuan, kamu bisa berhenti sekarang! Mengapa kamu begitu menyiksa dirimu!"


Anton yang membantu mendukung Bern mengangguk setuju dengan Thomas.


"Kamu benar."


Mereka tersentak mendengar itu.


"Sudah waktunya orang dewasa berkerja."


Senyuman halus terukir di bibir kaku Bern.


Tang! Tang! Tang!


Suara dentingan panah itu mula sedikit menjauh. Mereka mengangkat kepala mereka melihat perisai biru muda transparan di atas perisai putih Bern.


Orang yang mengatakan dirinya ketua mengerutkan kening. Dia langsung menghilang ke dalam portal taliportasi. Tidak ada gunanya untuk tinggal.


Thomas dengan cepat menoleh.


"Ayah!"


Dia bisa melihat Duke Zeke dengan wajah yang sangat dingin.


"Uhuk! Uwek!"


Penyihir yang melemparkan mantra perisai berlutut di tanah memuntahkan beberapa liter darah.


"Bangun! Apa kamu akan kalah pada anak itu!? Setidaknya kamu bisa membuat pelindung dengan sihir jika kamu tidak bisa membuat portal taliportasi!"


Duke Zeke seorang yang tegas. Bagaimana dia bisa diam melihat seorang anak rela menyakiti dirinya untuk teman temannya? Juga betapa kesal melihat anak itu terlihat tenang sambil memeluk anaknya yang memegang bola kristal bercahaya yang menuntun mereka ke sana?


"Bantuan pertama tiba."


Rencana Bern berjalan dengan sukses. Mereka tidak akan bisa bertahan hanya dengan diri mereka saja. Mereka perlukan bantuan. Kerana itu, dia membawa masuk Duke Zeke dalam permainan.


Duke Zeke di kenal sebagai seorang yang penuh kasih sayang terhadap anaknya. Jika mereka melindungi Thomas, dia pasti tidak bisa mengabaikan keberadaan mereka.


Dari awal, Bern sudah memasukkan Thomas dalam permainannya. Dia agak bersalah membawa seorang anak sepertinya dalam bahaya. Namun selagi dia baik baik saja, dia tidak akan terlalu bersalah.


Dia bisa saja melepaskan tali di awal pintu masuk dan membuat ilusi untuk menukarnya. Namun dia membawa Thomas dalam pertempuran itu supaya bisa menjadi pisau yang tidak terlihat. Dia membawa Duke Zeke dan tenteranya.


"Maaf membawa mu masuk ke pertempuran ini. Tapi aku memerlukan ayah mu untuk membawa kita semua keluar."


Bern bergumam dan mata Thomas berkaca. Bern hanya berpikir Thomas kecewa bahwa Bern mencoba menggunakannya. Dia tertunduk kerana kepalanya sedikit pusing.


Jadi dia tidak melihat wajah Thomas yang sepertinya marah padanya.


'Membawa ku? Kamu melindungi ku dari awal hingga akhir hanya kerana kamu menginginkan ayahku!? Betapa omong kosong itu! Bahkan jika itu benar, itu tidak menutup bahwa kamulah yang melindungi ku! Jika kamu tidak menyuruh teman mu melindungi ku, dia juga tidak akan melakukannya! Kamu bahkan memelukku!'


Namun itu semua tersangkut di tenggorokannya. Semua juga merasakan hal yang sama. Bern mula menarik kembali perisainya membiarkan perisai biru muda melakukan pekerjaannya.


Bern mendorong Thomas yang menopangnya dengan lembut lalu berdiri dengan tegak seolah orang yang baru saja kehilangan pijakannya itu tidak pernah ada.


'Permainan baru bermula.'


.


.


.


.


.


...**Bersambung**...