
"Leo......"
Suara Bern seolah dia sedang merayu. Kleio menahan tawanya ketika melihat Bern kesulitan.
"Baik baik. Aku tidak akan memaksa mu makan. Kamu tahu, perhargaan-"
Kleio berhenti untuk melihat reaksi Bern pada perkataan 'penghargaan'.
"Uhuk. Aku tidak merasa aku bisa pergi dengan kondisi ku. Juga aku menyebabkan keluarga kerajaan terluka. Aku tidak layak untuk penghargaan."
Satu urat marah terlihat di leher Kleio.
"Tapi aku sudah menyiapkan hadiah penghargaan untuk mu. Bagaimana ini?"
Kleio mencoba berbalah. Namun pupil mata Bern bahkan tidak bergetar dengan itu.
"Jika begitu, saya akan menyusahkan yang mulia untuk menukar hadiah penghargaan untuk jamuan. Desa Black agak kekurangan makanan. Mungkin bisa mendermakan sebagian dari itu ke mereka."
Kleio kehilangan kata seketika. Melihat Bern menggunakan yang mulia alih alih Leo membuat Kleio tahu Bern sedang serius.
"Juga baik jika menggunakannya untuk membantu desa miskin lainnya. Pada akhirnya, aku tidak mampu membawa uang yang seharusnya tidak aku miliki."
Kleio jadi malas ingin berdebat. Sebenarnya dia sudah mengharapkan ini. Jadi dia menyediakan hadiah lain.
"Baiklah. Namun kerana ini juga adalah kegagalan sekolah, mereka memberikan tongkat baru pada mu juga hutang kamu menghilang. Itu kompensasi tanda maaf mereka."
Bern memikirkannya seketika dan mengangguk.
"Jika itu adalah permintaan maaf sekolah, tidak ada yang bisa aku lakukan."
Kleio menghela nafas lega. Sebenarnya itu tidak terjadi. Luxana academy adalah sekolah yang sombong. Mereka takkan menerima ini sebagai kesalahan mereka dan memberikan kompensasi. Jadi yang membelikan Bern tongkat baru juga denda sekolah kerana kehilangan tongkat juga hutang Bern adalah Kleio.
"Tapi, bisakah saya melihat dokumen hutang milik ku, yang mulia?"
Kleio tersentak mendengar itu. Jika dia melihatnya, tentu saja Bern akan tahu yang Kleio melunasinya.
"Hah..... Yang mulia, saya yang belajar di sini. Saya harus membayarnya sendiri. Tapi kerana yang mulia sudah membayarnya, saya akan membayar dengan gaji saya pada anda. Ambil saja 50% dari gaji ku."
Urat marah yang lain muncul di leher Kleio.
"Jika begitu, aku akan menambah gaji mu ke 2,000 emas."
Mata Bern melebar.
"Tapi yang mulia-"
"Uang ku, terserah aku ingin melakukan apa."
Bern langsung diam mendengar itu. Memang benar bahwa itu uang Kleio.
"Juga sampaikan terima kasih pada guru yang memberikan tongkat untuk ku."
"Eh?"
"Hnm?"
Kleio bingung sejenak.
'Ouh, benar, itu tidak ada tertulis pada kertas peraturan! Jadi Bern tidak mengetahui denda itu! Dewa, jangan biarkan dia tahu tentang itu selamanya!'
Kleio menghela nafas.
"Tentu saja. Kamu harus pergi ke penghargaan juga. Aku akan memberikan kursi roda untuk mu. Aku pasti warga dari desa Black akan sangat berterima kasih."
Kleio mengatakan itu dan meninggalkan ruangan.
****
Seminggu berlalu untuk pemulihan Bern. Dia masih mencoba yang terbaik untuk tidak menelan bubur cendawan sihir itu. Hanya ketika Kleio datang melawat, dia bisa merasa lega.
Dia selalu muntah setelah menelan bubur itu. Namun semua orang berpikir Bern hanya terlalu sakit untuk makan. Hanya Kleio yang mengetahui Bern membenci bawang putih dan menahan tawanya setiap kali menjenguknya.
Hari acara penghargaan tiba. Bern melihat seorang pelayan wanita memasuki ruangan itu dengan kursi roda. Itu pelayan peribadi Kleio, Lucy. Lucy lah menjaganya untuk seminggu itu.
Bern dengan lemah duduk di kursi itu. Mereka bergerak hingga pintu masuk perjamuan yang sedang berlangsung.
"Berhenti."
Lucy berhenti dengan arahan Bern. Bern bisa melihat semua temannya tertawa dan bergembira di sana. Jika dia datang dengan kursi roda, mereka mungkin akan merasa sedih dan kasihan.
Bern perlahan bangun dari kursi rodanya membuat Lucy kaget.
"Terima kasih. Tapi aku tidak bisa pergi ke jamuan itu dengan kursi roda. Aku akan membuat mereka yang melihat ku sedih di hari yang menyenangkan ini."
Bern tersenyum lembut pada Lucy seolah meminta maaf. Dia pasti Lucy sudah berjalan jauh hanya untuk membawa kursi roda untuknya.
Namun mata pelayan itu berkaca dengan apa yang Bern ungkapkan. Hanya dia menunduk hormat membuat Bern tidak bisa melihatnya.
Lucy adalah pelayan yang pernah di bantu Kleio. Lucy juga berasal dari desa Black. Dia mendapati adiknya menjadi salah seorang mangsa dari penculikan massal itu dan mendengar seluruh cerita darinya.
Baginya, dari semua orang yang mendapatkan penghargaan, Bern adalah yang paling layak. Dia juga sangat bersyukur bisa melayani Bern untuk membalas jasanya.
'Jika begitu, saya akan menyusahkan yang mulia untuk menukar hadiah penghargaan untuk jamuan. Desa Black agak kekurangan makanan. Mungkin bisa mendermakan sebagian dari itu ke mereka.'
Namun ketika dia secara tidak sengaja mendengar perbincangan Kleio dan Bern tentang penghargaan, dia tidak bisa tidak mengalirkan air mata.
Dari yang dia dengar, Bern tidak menerima satu sen pun dari usahanya! Dia dengan keras mengatakan dia tidak layak. Dia hanya mendapatkan tongkat sihir sebagai hadiah! Pelayan itu masih di sana ketika Kleio keluar.
'Jaga dia dengan baik. Hanya itu yang bisa kita lakukan untuknya.'
Lucy menyimpan apa yang Kleio katakan dalam hatinya.
'Bersenang senanglah di sana, tuan Bern.'
Lucy hanya bisa berdiri di sana melihat Bern berjalan dengan baik seolah dirinya yang lemah tadi tidak pernah ada.
"Ah, Bern! Kamu akhirnya tiba!"
Anton sangat senang melihatnya. Zion langsung menerjang Bern dan memeluknya.
"Uwah..... Uen jahat tidak membenarkan aku melawat mu!"
Zion merengek dan melirik tajam Uen. Uen hanya memijat batang hidungnya tidak peduli.
"Sudah lah. Tidak usah khawatir. Aku baik baik saja."
Steven mendekat dan dengan cepat membuat Bern duduk di kursi.
"Aku tahu kamu masih dalam pemulihan. Duduk saja."
Ailen dan Uen mengangguk setuju. Bern duduk saja tidak begitu peduli. Dia mencapai daging dan makan dengan baik tanpa di suruh.
Akhirnya tiba yang mulia raja dan semua orang berdiri dan tunduk menyambutnya. Tepukan dan musik terdengar memeriahkan suasana penerimaan.
"Uen Mark."
"Zion Mark."
Zion naik dengan wajah yang sangat bangga tertulis di wajahnya.
"Ailen Theor."
Ailen naik juga dengan wajah tabah.
"Lewis."
Lewis naik dengan wajah merah seolah sangat malu.
"Antonio Will."
Anton naik juga dengan wajah bangga. Orang tuanya tidak di sana kerana perjalanan bisnes. Mereka akan pulang minggu depan.
Banyak di sana menerima medali. Namun orang yang di tunggu orang dari desa Black tidak kunjung muncul.
"Baik, ini yang terakhir. Semoga kalian bersenang senang."
Thomas yang datang untuk melihat pahlawannya, mengerutkan kening tidak puas.
"Tunggu! Di mana Bern Kailyth!?"
Thomas akhirnya berteriak.
"Ya, benar! Mana anak itu!?"
"Benar!"
Banyak suara yang memanggil Bern membuat Bern tersedak.
"Itu, kerana suatu alasan, Bern Kailyth menolak menerima penghargaan. Dia juga menolak semua hadiah yang di tawarkan pangeran mahkota untuknya dan mendermakannya ke desa dan jamuan ini."
Thomas tidak bisa mempercayainya. Namun sebelum dia bisa membantah, Kleio berbicara.
"Bagaimana jika kita memberinya ruang untuk berbicara? Bern Kailyth, mahukah kamu berbagi beberapa kata?"
Bern terkaku ketika seluruh tumpuan terfokus padanya. Dia perlahan bangun untuk memberikan beberapa kata.
"Heh, anak itu lagi. Apa yang bagusnya anak itu? Dia hanya lebih berbakat sedikit."
Terdengar gumaman seorang penyihir yang iri dengan Bern.
"Benar. Mengapa semua orang mencarinya? Aku juga muntah darah waktu itu."
Orang yang menerima medali bergumam kesal. Itu adalah penyihir dengan perisai warna biru muda waktu itu.
Banyak lagi suara penyihir yang iri membuat ramai orang ingin melempar apa saja yang ada di tangan mereka.
Namun Bern tenang seolah tidak mendengarkan cacian dan pelecehan itu. Malah kumpulannya juga Kleio yang ingin memberi pelajaran dan terlihat terganggu. Juga orang orang yang tahu betapa menderitanya Bern terakhir kali juga kesal mendengarnya.
"Terima kasih kerana mengingat kebaikan yang pernah saya lakukan. Namun saya tidak merasa saya layak berdiri di sana ketika para senior yang berbakat turun tangan. Mereka lebih berjuang dan lebih layak. Saya masih belajar dan harus menerima pembelajaran dari mereka yang berpengalaman."
Mereka yang mendengarnya merasa Bern mengucapkan omong kosong. Mengapa Bern ingin membicarakan tentang penyihir yang merendahkannya?
"Manusia tidak luput dari kesalahan. Saya juga membuat banyak kesalahan. Namun, saya akan berjuang untuk memperbaiki diri saya. Saya akan melakukan yang terbaik. Untuk semua yang berada di sisi yang sama dengan saya, saya rela mati untuk mereka. Itulah jalan yang saya pilih. Saya tidak memerlukan penghargaan apa pon untuk itu. Pada akhirnya, hidup adalah sesuatu yang harus kalian tentukan sendiri."
Itu adalah bahasa yang halus dan tidak terlihat mengancam sama sekali. Namun mereka yang melecehkan Bern tahu betul apa yang Bern bicarakan.
'Jaga tingkah kalian hingga kalian tidak berada di sisi musuh. Kalian bisa mati.'
Itulah yang di sampaikan Bern pada mereka membuat tulang mereka kedinginan. Semua wajah penyihir yang melecehkannya berubah pucat.
Pada saat itu, mereka perasan, mata Bern sangat dingin seperti siap memangsa siapa saja.
'Dia bukan anak yang naif! Dia seseorang yang mengenal dunia dengan baik!'
Mata Bern menunjukkan semua pengalaman hidup yang dia bawa. Jalan hidupnya yang menyakitkan, menyenangkan, dan sebagainya. Semua pengalaman selama 40 tahun hidupnya menjadikan dirinya yang sekarang. Dia bukan anak harimau melainkan naga dewasa yang bersarang di tubuh anak harimau.
Steven tersenyum hingga menampakkan gigi taringnya.
"Benar, bos yang aku pilih tidak akan di tindas begitu saja!"
Semua orang menatap ke arah Steven. Steven bergerak dengan cepat menyerang Bern.
Namun Bern sedikit pon tidak bergerak. Tangan itu berhenti tepat 1 cm lagi sebelum mengenai hidung Bern. Angin yang datang bersama menerbangkan rambut Bern ke belakang seketika. Namun Bern sedikit pon tidak bergeming.
"Bos, kamu benar benar mempercayai seseorang ketika mereka di sisi mu, kan."
Bern menghela nafas pada itu.
"Kamu bahkan tidak memancarkan niat membunuh. Aku tidak perlu membuang tenaga ku untuk itu. Juga, sejak kapan aku bos mu?"
Bern tiba tiba merasakan dirinya di tusuk ribuan jarum.
'Mengapa sekarang?'
Darah mengalir ke tenggorokannya.
"Uhuk."
Bern batok darah tanpa dia bisa menelannya. Mata Steven melebar pada itu.
Kakinya mati rasa dan tanpa sadar jatuh ke arah Steven dan langsung kehilangan kesadaran kerana kondisinya yang masih belum pulih.
Steven menyambutnya dengan alis yang di rajut bersama. Senyumannya juga menghilang.
"Inilah orang yang kalian ejek! Dia bahkan sebenarnya tidak bisa berdiri dengan kakinya! Dia juga tidak ingin datang kerana kondisinya yang terlihat menyedihkan! Dia menyembunyikan ini supaya tidak ada yang merasa bersalah atas kondisinya! Teman atau warga! Dia tidak ingin melihat mereka bersedih hati di hari yang menyenangkan ini! Namun kalian mengejeknya!? Kalian tidak tahu terima kasih!"
Steven tiba tiba meledak dalam kemarahan.
"Kamu, penyihir Duke Zeke, kan? Kamu bahkan selamat gara gara Bern mengirim perisai untuk kalian. Bisa saja dia meninggalkan semua orang termasuk aku. Namun dia tidak melakukannya dan menyelamatkan mu! Kalian bisa mengejek siapa pon yang kalian mahu. Namun bukan bos ku! Ku tandai kalian."
Steven berjalan sambil mendukung Bern dengan satu tangannya membuat badan Bern melengkung ke depan. Berjalan dengan gagah lalu meletakkannya di kursi roda. Lucy sudah berkaca kaca ketika melihat kondisi Bern.
Kumpulan Bern juga memiliki mata yang dingin pada diri mereka. Juga beberapa warga yang bersedih melihat kondisinya.
"Baiklah, seperti yang di inginkan anak itu, lebih baik kalian tidak bersedih. Mari tersenyum untuknya."
Alen langsung dengan cepat mengubah topik pembicaraan. Mereka semua juga tidak ingin bersedih di hari yang menyenangkan itu.
.
.
.
.
.
...**Bersambung**...