
Beberapa Minggu berlalu. Orang tua Anton selalu datang melawat Bern yang membuat Anton merasa Bern lah anak mereka dari dirinya.
Walau begitu, Bern masih meneruskan pembelajarannya dengan membaca banyak buku di perpustakaan.
"Apa kamu rajin atau terlalu rajin?"
Kleio bertanya ketika dia masuk dengan kue di tangannya. Banyak buku menggunung di samping tempat tidur Bern.
"Aku hanya menjalankan tanggung jawab seorang pelajar."
Kleio meletakkan piring kue itu di samping Bern kerana mejanya di penuhi buku.
"Siapa pelajar yang serajin diri mu?"
Bern hanya diam tidak mempedulikan Kleio.
"Haih.... Kapan kamu akan makan? Aku dengar kamu menolak untuk makan beberapa hari ini. Apa kerana semua makanan terlalu kaya rasa bawang putih?"
Bern menggeleng lembut pada pernyataan itu.
"Jadi mengapa!? Ini terlihat seperti aku mengurung mu dan kamu marah dan tidak ingin makan!"
Kleio mula kesal. Bern sudah menolak makanannya untuk seminggu.
'Bagaimana aku ingin mengatakan makan hanya memperparah keadaan ku? Asam lambung ku pasti rusak teruk dan jika aku makan, itu akan semakin parah. Bagaimana aku bisa mengatakan itu?'
Bern memikirkan cara untuk membalas Kleio. Namun dia tidak tahu bagaimana caranya.
Dia membuka halaman seterusnya dan mendapatkan ide.
"Aku hanya terlalu fokus untuk ini."
Bern menunjukkan sebuah peta harta Karun. Yah, di sana mungkin adalah peninggalan atau makam yang di tinggalkan dari di sebut harta karun.
Kleio melihatnya dan matanya membelalak dan mengambilnya.
"Bukan ke ini peta makam ksatria putih! Dengar kata, di sana terdapat roh penyembuhan! Kita harus pergi ke sana! Kamu mungkin akan langsung sembuh total!"
Bern terdiam seketika.
"Kita harus menemukan serpihan selebihnya!"
Kleio terlihat senang. Bern hanya kaku terdiam. Dia sudah menemukan semua serpihan itu. Hanya dia tidak tahu untuk apa itu.
'Yah, tidak salah untuk memberikannya pada dia.'
Bern mengambil serpihan lain dari peta itu dan memberikannya pada Kleio.
"Leo, ini yang selebihnya. Apa kamu akan pergi mencarinya?"
Mata Kleio berbinar melihat serpihan yang tidak pernah di temukan siapapon. Sepertinya, Bern benar benar membaca semua buku membosankan di perpustakaan untuk menemukan semua peta itu.
"Tentu saja!"
Tib tiba Kleio terdiam.
"Kamu tidak berniat mengikuti expedisi, kan?"
Bern memikirkannya sejenak. Dia fokus pada itu, jadi seharusnya dia ingin pergi.
"Yah, aku ingin pergi. Namun kondisi ku tidak memungkinkan."
Kleio juga mengangguk seolah paham apa yang Bern pikirkan.
"Aku akan menyiapkan kursi roda dan kereta kuda untuk mu."
'Apa?'
Kleio keluar dengan expresi cerah. Bern tidak tahu mau senang apa sedih melihat itu.
Seminggu berlalu dan mereka akan bertolak dengan jumlah 20 orang. Anton, Steven dan Ailen mengikuti expedisi itu juga.
Zion dan Lewis ingin mengikuti mereka. Namun mereka punya tugas lain yang harus mereka lakukan. Uen tentu saja hanya mengikuti Zion.
"Mari cari roh penyembuhan itu!"
"Ya!"
Ailen mengabaikan Steven dan Anton. Mereka memang berteman baik setelah mengenal satu sama lain.
"Apa semua sudah berada di sini?"
Tanya Kleio yang mengetuai expedisi kali ini.
"Tidak. Bern masih belum sampai."
Ailen menyahut. Beberapa bangsawan kecil yang hanya setaraf Viscount mula mencebir dan terlihat tidak suka.
"Yah, dia terluka. Jadi pastilah dia akan mengambil masa."
Kleio menggaru belakang kepalanya. Dialah alasan Bern berada dalam senarai itu.
"Leo, tidak baik mengata di belakang."
Kleio tersentak dan memutar tubuhnya. Bern berada di atas kuda dan di kendalikan dengan baik.
"Kamu.......!"
Kleio ingin berteriak marah.
'Mengapa kamu datang dengan kuda alih alih kereta!? Kamu kan masih terluka!'
Bern dengan tenang mengendalikan kuda itu. Untungnya dia sudah belajar menunggang kuda selama 3 minggu pembelajaran.
"Mengapa kamu tidak menaiki kereta yang sudah aku siapkan?"
Kleio bertanya dengan kesal.
"Leo, apa kamu ingin aku menjadi penghalang dalam expedisi ini? Menaiki kereta sama saja dengan menghambat perkembangan perjalanan."
Kleio memegang kepalanya dan mengabaikannya saja. Jika dia terlalu serius, dia akan menjadi gila ketika menangani Bern.
"Diakan penyihir, mengapa dia tidak menaiki penyapu terbang?"
"Shh... Sudah untung dia naik kuda. Kamu tidak tahu ke yang dia sedang terluka?"
Banyak bisikan yang merendahkan Bern. Bern bukan seseorang yang begitu memikirkannya ketika mereka hanya anak kecil yang tidak mengenal dunia. Pada akhirnya, mereka akan menyesalinya sendiri di masa depan.
Bagaimana sang pembuli menyesal. Bagaimana seorang kaki pukul menyesal. Semuanya ada jalan sendiri. Dia tidak perlu repot repot menangani hal itu.
Karma pasti terjadi. Tidak peduli berapa lama itu mengambil masa, karma selalu terjadi. Sama seperti firasatnya.
"Leo, apa kamu pasti ingin pergi hari ini? Firasat ku tidak enak sejak pagi ini."
Kleio jadi memikirkannya. Firasat Bern jika buruk tidak bisa di abaikan.
"Heh, kamu hanya tidak ingin harta itu di ambil orang, iyakan? Jadi kamu mengatakan hal seperti itu."
Mata Anton, Steven dan Ailen berubah menjadi dingin.
Orang yang berbicara adalah anak kepada Count Damian, Excardo Damian. Seorang anak yang angkuh dan hanya tahu merendahkan orang di bawahnya. Bern pastilah sasaran yang bagus mengingat dia adalah anjing Kleio dan seorang rakyat jelata.
"Excardo, apa kamu ingin aku lapor ke orang tua mu? Jangan mengganggu orang ku!"
Kleio berbicara dengan nada dingin dan tegas. Walau dia adalah pangeran yang tidak memiliki kekuasaan, dia masih lah pangeran yang di mahkotai.
Namun kerananya, Kleio tidak punya pilihan lain selain bergerak. Semuanya bergerak dengan kuda mengikuti petunjuk yang ada di peta.
Mereka sekarang melakukan perjalanan luar kerajaan. Dari 3 kerajaan dan 1 kekaisaran, ada kawasan kosong terbentang luas untuk acara perburuan dan mungkin tempat tempat seperti makam kuno berada.
Namun beberapa orang masih kesal.
"Ku tandai dia."
"Aku juga."
Ailen mengangguk setuju kali ini. Bern melihat mereka bingung.
"Apa yang kalian tandai?"
Serentak, mereka menggeleng.
"Bern, ayah ku mengatakan ingin bertemu dengan mu. Namun kerana kondisi mu tidak baik, jadi sekarang baru aku memberitahu mu."
Ailen mengatakan itu. Ayah yang dia bicarakan pastilah Duke Theor, Lan Theor.
"Untuk apa dia ingin bertemu dengan ku? Bukan alasan pernikahan, kan?"
Bern banyak menerima surat undangan pernikahan untuk menarik Bern ke sisi mereka. Dan tentu saja, Bern bahkan tidak melirik itu. Bern tidak pernah berhubungan romantis dan tidak pernah berniat membuat satu.
"Tentu saja tidak. Untuk apa keluarga Theor yang kuat mengambil kamu ke dalam? Dia hanya ingin berterima kasih kerana telah menjaga ku di desa Black."
Bern mendengar itu menggeleng ringan.
"Kamulah yang menjaga diri mu sendiri. Aku tidak melakukan apa apa. Kamu harus sedikit bangga dengan dirimu."
Click, click.
Pedangnya keluar dari sarung sedikit dan masuk kembali. Anton dan Steven tahu itu gerakan kerana kekesalan.
'Kamu yang seharusnya sedikit bangga tentang diri mu, iya kan.'
Kerana mereka juga kesal.
Namun Bern tidak memerhatikan itu dan terus mengikuti yang lain.
"Uhuk."
Bern batok perlahan dan menyeka darahnya dengan saputangan. Dia punya satu kali lagi untuk batok darah. Dia akan batok darah 3 kali sehari.
'Firasat ku buruk.'
Bern tidak pernah bisa tidur ketika firasatnya memburuk. Itu kerana firasatnya mungkin berlaku dalam seminggu. Tidak pernah ketika dia merasakan firasatnya buruk, tidak terjadi apa apa dalam seminggu itu.
Semakin mereka bergerak, semakin buruk firasat Bern merasakannya. Itu juga alasannya menaiki kuda alih alih penyapu terbang. Dia harus menyimpan mananya jika sesuatu yang buruk berlaku.
"Berjaga jagalah. Sesuatu yang buruk pasti bakal berlaku. Dan teruknya itu mungkin seseorang dapat kehilangan nyawa mereka."
Ailen dan Anton tersentak dan mengencangkan tangan mereka ke senjata mereka seolah mereka paham. Steven hanya santai saja.
"Seburuk apa yang bisa terjadi? Mungkin kita hanya akan bertemu iblis tingkat 3 rendah. Atau mungkin organisasi Satan."
Bern menghela nafas. Walau Steven santai, matanya mengawasi seperti milik Bern. Bern pasti itu kerana dia sudah punya banyak pengalaman.
"Juga kita punya 5 ksatria dari istana. Apa yang bakal terjadi? Hahahaha."
Steven hanya tertawa untuk meredakan ketegangan. Dia tahu Bern tidak mungkin mengatakan seseorang mungkin mati tanpa sebab.
Bern pasti tahu sumbernya. Mungkin juga dia tahu berapa kuat musuh mereka. Tapi yang pasti, ucapan Bern bukan sesuatu yang bisa di abaikan seperti Anton atau Ailen yang tidak berpengalaman.
****
Malam menjelang dan tidak ada yang berlaku. Mereka berkhemah dan beberapa mengata tentang firasat Bern. Hari itu berakhir dengan baik saja.
Steven tiba tiba berdiri merasakan niat membunuh yang kuat. Namun itu hanya sesaat sebelum memudar seolah sedang menyembunyikan keberadaannya.
'Bern benar benar hebat! Bagaimana aku bahkan tidak merasakan niat membunuh yang luar biasa ini mengikuti kita!?'
Steven langsung melompat mencari. Dan dia mengingat dia tidak melihat Bern sama sekali malam itu.
Dia akhirnya melihat Bern dengan darah mengalir dari mulutnya.
"Bos!"
Bern membulat matanya seolah dia tidak mengharapkan Steven berada di sana.
"Apa yang berlaku!?"
Bern menggeleng dan hanya meludah darah keluar dan menyeka mulutnya dengan saputangan.
"Apa maksud mu tidak ada ketika aku merasakan niat membunuh yang sangat kuat!?"
Bern tersentak lagi.
"Maaf, aku berlebihan."
Steven bingung. Mengapa Bern meminta maaf?
Kerana gelap, Steven tidak melihat dengan baik. Namun setelah bulan memunculkan dirinya, Steven bisa melihat 5 iblis tingkat 9 rendah.
"Apa niat membunuh itu, datang dari mu."
Bern hanya memalingkan wajahnya seolah tidak mendengar.
'Niat membunuhnya sangat kuat. Bahkan lebih kuat dari milik ku!'
Steven tidak bisa mempercayainya.
"Kamu bahkan tidak melepaskan niat membunuh terakhir kali. Mengapa kamu melepaskan niat membunuh kali ini?"
Steven bertanya dan memeriksa mayat iblis itu.
"Pada akhirnya, mental seseorang adalah sesuatu yang lemah."
Steven bingung lagi. Namun dia tidak bisa bertanya lagi ketika Kleio dan ksatria yang peka terhadap niat membunuh tiba.
Bern sedikit menggertak giginya.
'Aku seharusnya membakarnya menjadi debu.'
Pada akhirnya, rasa marah tidak akan pudar bahkan ketika hal itu sudah lama berlalu.
Iblis tingkat 9 itu sangat mirip, monster shadow dari dunianya yang dulu. Mata Bern sedikit merah dengan perasaan marah dan sedih.
'Wacth, terima kasih.'
Bern menggelengkan kepalanya. Tidak ada sesuatu yang baik dari mengingat hal buruk.
'Aku harus menenangkan diri.'
Bern dengan cepat berjalan ke kerumunan. Di tempat banyak orang, dia bisa menenangkan dirinya. Tempat yang sunyi sangatlah menakutkan baginya ketika mentalnya agak tidak stabil seperti sekarang.
Sambil menikmati langit malam, dia menenangkan pikirannya.
.
.
.
.
.
...**Bersambung**...