From No Body To Hero

From No Body To Hero
Episode 12



Setelah Bern pergi, Anton merobek pakaiannya dan membalut bahunya untuk pertolongan pertama. Zion juga memuntahkan semua darah yang ingin keluar.


Zion selesai muntah dan pergi ke jeruji besi yang memerangkap orang di dalamnya.


Dia membuka kunci dan jeruji besi itu terbuka dengan mudah. Namun tidak ada yang ingin keluar. Wajah mereka penuh dengan ketakutan.


Zion merasa aneh. Namun dia hanya berpikir bahwa mereka masih takut dengan apa yang berlaku.


Anton yang siap membalut bahunya, berpaling ke arah Zion. Matanya melebar.


"Yang mulia!!!"


Zion mendengar itu dan menoleh. Seorang pria dengan otot dan pedang besar di punggungnya berdiri di belakangnya.


Mata Zion juga melebar.


Tukd.


Namun matanya langsung kabur dan pingsan setelah tengkuknya di pukul dengan tangan kosong.


"Sial!"


Anton mengambil tombaknya.


'Aku setidaknya harus memberikan 1 pukulan!'


Dia tahu dia takkan menang. Namun dia tidak bisa diam saja ketika musuh di depan.


"Aaaaarrrgggg!!!!!"


Pria itu menggaru belakang kepalanya. Dia mengepal tangan kanannya.


Buk!


kreek...


"Aarggkk"


Anton langsung hilang kesadaran dalam 1 pukulan. Bunyi retakan juga terdengar ketika kepalan tangan yang besar itu menghantamnya. Satu atau dua tulang rusuknya pasti patah.


"Ah, apa terlalu kuat?"


Pria itu menggaru belakang kepalanya lagi. Dia juga memakai jubah hitam dengan lambang tengkorak iblis juga.


****


Lewis mengikuti Ailen dari dahan ke dahan sambil menyembunyikan kehadirannya seperti yang di arah Bern.


Chang, Chang, Chang.


Bunyi air terpercik cukup kuat menandakan Ailen tidak mencoba menyembunyikan keberadaannya.


Ailen berlari di tanah basah dengan kecepatan luar biasa. Tangannya menggenggam erat pedang menebas semua benda yang menghalangi jalannya.


Swing!


Ailen melengkungkan tubuhnya ke belakang mengelak pedang yang terbang ke arahnya.


Tukd.


Pedang itu tertancap di pohon dan Ailen berguling di tanah lumpur kerana kehilangan keseimbangan. Pria dengan paras biasa biasa dengan jubah hitam lambang tengkorak iblis muncul dari kegelapan dan menarik pedangnya lalu menatap Ailen.


"Kalian cukup jenius. Memilih ketika kumpulan kami tidak di sini untuk menyerang langsung, sungguh layak untuk di puji."


Ailen mengerutkan keningnya. Tanah pijakannya licin dan sukar mempertahankan kuda kudanya.


Tang!


Pria itu menangkis panah dengan mudah dengan pedangnya. Lewis bergerak ke dahan lain untuk terus menyembunyikan keberadaannya. Sebagai seorang pemanah, ketahuan adalah chackmate mereka jika dalam pertempuran kelompok.


Ailen tidak melewatkan celah yang di berikan Lewis, langsung menyerang ke depan.


Klang! Klang! Tang! Tang! Swing! Swish!


Bunyi besi berbenturan yang memekakkan terus menghiasi daerah itu.


Namun Ailen tahu, orang di depannya tidak menggunakan kekuatan penuhnya.


'Dia meremehkanku!'


Ailen tidak suka di remehkan. Lewis hanya bisa terus terusan menukar posisi walau kakinya sudah mati rasa kerana terus bergerak. Dia bukan kelas assasin untuk bergerak diam. Itu menguras tenaganya sangat banyak.


Klang! Klang! Klang!


"Heh."


Pria itu mendengus. Aura gelap mula muncul di tangannya dan meresap ke pedangnya seolah itu adalah oura. Namun Ailen tahu itu bukan oura.


'Anergi iblis!'


Ailen menggertak giginya. Alisnya semakin berkerut seiring berjalannya waktu.


"Mari akhiri ini."


Ailen memantapkan lagi pijakannya dan mencoba yang terbaik untuk memberikan pukulan.


Swing!


Mata Ailen melebar.


'Pedang ku....'


Pedangnya terpotong menjadi 2 bagian dengan mudah. Pria itu tersenyum dan mengangkat pedangnya lagi.


'Tidak....'


Badan Ailen kaku. Pedangnya yang kini hanya sedikit bilah tersisa tidak akan mampu menahannya.


Chung!


Satu panah melesat mengenai bahu bagian belakang tangan yang terangkat. Wajah pria itu menjadi dingin.


Lewis mengambil 3 panah di letakkan di senar busur.


Pria itu menggertak giginya menarik panah itu keluar dari dagingnya.


Ailen tidak mensia siakan peluang itu dan mula menyerang.


'Aku belum bisa jatuh!'


Ailen menendang tanah dan kakinya mencoba menendang kepala pria itu. Namun pria itu dengan cepat menghadang tendangan itu dengan lengannya.


Tangan pria itu ingin menggenggam kaki Ailen yang tidak bisa mengelak di udara.


Swish...


Suara angin menerjang tangan pria itu membuat telapak tangannya tergores.


Tukd.


Ailen melihat ke arah mana bunyi sesuatu tertancap. Itu adalah belati. Belati itu dengan cepat hilang walau tidak ada yang mendekatinya.


"Tsk."


Pria itu mencklik lidahnya dan anergi iblis yang terlihat seperti oura master pedang berwarna hitam menjadi semakin kuat.


Ailen dengan cepat merasa bahaya dan melangkah mundur. Namun belum sempat, Ailen mengenai serangan itu.


"Uuuugggg!!!


Pedangnya tidak menyentuhnya sama sekali. Namun itu menghiris paha kirinya sangat dalam. Sayatan itu sangat dalam hingga tulang pehanya mungkin terlihat jika dia tidak berdarah. Ailen hanya bisa mengerang kesakitan walau dia mencoba menahan erangannya.


Pria itu mengangkat tangannya lagi.


3 panah menyerbunya. Namun tidak bisa mencapainya ketika oura gelap itu memotong panah Lewis menjadi abu. Lewis menggertak giginya.


Uen dengan cepat muncul dan menendang Ailen meninggalkan tempat dia berpijak sejauh 5 meter dan menghantam pohon langsung terduduk.


Pedang pria itu bergerak dan Uen berniat menahannya dengan belati. Namun belatinya hancur berkeping keping mengenai pedang dengan anergi gelap itu.


Alis Uen berkerut dan pria itu menendangnya mengenai pohon.


"Uhuk!"


Uen batuk darah dengan hentaman itu. Pohon yang dia langgar itu retak dan tulang punggungnya pasti bergeser kerananya. Tulang rusuknya juga jangan di tanya keadaannya. Dia hanya mampu mengerang dalam diam.


Pria itu berjalan mendekati Uen dan Lewis menjadi cemas. Ailen juga mencoba bangun namun gagal kerana kakinya terlalu sakit.


'Panah ke langit jika perlu bantuan.'


Lewis mengingat kata kata Bern. Jadi dia mengambil panah terakhirnya dan menggunakan sedikit mana untuk membuatnya sedikit terang dan menembaknya ke langit.


Dia hanya mampu berharap. Lalu dia turun dan berdiri di depan Uen dengan busur menghala ke arah pria itu.


"Dasar bodoh!"


Ailen dan Uen berteriak mengutuk pada masa yang sama. Namun mereka hanya bisa melihat kerana mereka juga dalam keadaan berantakan. Lewis siap untuk menerima akibat dari tindakannya.


'Menjadi perisai daging juga tidak mengapa.'


Lewis tahu bahwa dia lemah. Jadi itulah mengapa dia baik baik saja menjadi perisai daging. Setidaknya dia berguna.


Pria itu menggertak giginya ketika mengingat panah yang menusuk pundaknya.


Buk!


Lewis di tendang dan langsung jatuh ke tanah dan busurnya melayang pergi entah kemana. Dia juga sudah tidak peduli.


Pria itu menarik lengan kanannya dan menginjak punggung Lewis.


Kraack!


"Aaaarggg!!!"


Lewis tidak bisa tidak berteriak ketika tangannya di patahkan begitu saja. Air mata mengalir menahan rasa sakit.


Pria itu melepaskan lengannya seperti puas dan menendangnya hingga menghantam pohon juga.


"Uhuk!"


Lewis juga batok darah kerana itu. Serasa tulang rusuknya patah dan organ dalamnya berputar putar tidak jelas setelah tendangan itu.


Pedangnya kembali terangkat dan ingin segera menyingkirkan Lewis yang sudah melukai bahunya.


Swing!


Namun langkahnya terhenti ketika gagang pedang dengan sedikit bilah tersisa terbang ke arahnya menggores pipinya.


"Kemana kau melihat?"


Ailen mengatakan itu dengan nada mengejek. Namun dia benar benar buntu sekarang. Dia tidak memiliki senjata atau bisa bergerak.


Pria itu menggertak giginya tidak puas dengan mereka. Setelah 1 muncul 1. Benar benar membuat frustasi.


Pria itu sudah tidak peduli dan terus ingin menusuk Lewis.


Mereka semua menutup mata tidak sanggup untuk tahu apa yang terjadi setelahnya.


"[Perisai]"


Tang!


2 lingkaran polos cukup terang menerangi kawasan itu muncul di bawah Lewis dan menghadang pedang dari melukainya. Bern mengambil busur yang tergeletak di tanah dan segera berdiri di depan Lewis dan menarik mantra perisainya kembali.


Lewis membuka matanya untuk melihat punggung Bern. Dari awal, mereka semua mengandalkan dirinya. Entah mengapa, dengan kedatangan Bern, mereka merasa lebih tenang.


Bern melihat sekeliling bahwa tidak ada yang bisa bertarung atau bahkan bangun lagi. Rasa besi di mulutnya juga tidak berhenti untuk memberikannya nafas.


Pria itu mula frustasi lagi dan menghunus pedangnya. Bern mengelak serangan itu seolah dia adalah air yang tidak bisa di potong.


Dia mengelak dengan akurat dan lincah seolah dia baik baik saja. Namun matanya kabur dan hanya bergerak berdasarkan bunyi dan insting.


Bern mengambil pecahan belati yang berada di tanah dan memutuskan satu sisi tali busur Lewis.


Mereka bertiga hanya bisa menonton walau ingin membantu. Tubuh mereka kaku bagai mereka menjadi boneka es.


Pedang sekali lagi terhunus dan Bern melompat tinggi dan menginjak tangan yang memegang pedang lalu melompat lagi.


Menggunakan tali busur langsung mencekiknya, menendang belakang lutut membuatnya jatuh ke tanah dan menggunakan hujung badan busur yang talinya di putuskan menusuk pundaknya yang terluka.


"Ughh..."


Pria itu kehabisan nafas. Namun Bern tidak berhenti. Mereka semua merasa ini akhirnya dan menghela nafas lega.


"Bisakah kamu berhenti?"


Namun datang sebuah suara dari dalam kegelapan. Seorang pria besar setinggi 2 meter sambil memegang Zion yang tidak sadarkan diri dengan pisau di lehernya.


Uen menggertak giginya dan ingin bangun walau kesakitan.


"Sial! Lepaskan adik aku!"


Uen meronta dengan tidak berdaya.


"Tenang. Aku di sini untuk tawar menawar. Leapskan banjingan itu dan aku akan melepaskan anak yang imut ini."


Bagaimana mungkin mereka ingin melakukan itu? Namun Bern bisa merasakan mana yang kuat di sekitarnya. Kumpulan tengkorak iblis itu pasti sudah kembali.


Juga tidak ada yang bisa bertarung lagi.


Ini kekalahan mereka. Kalah adalah kalah. Tidak ada yang bisa mengubah itu. Namun Bern tidak bisa menerima tawaran itu dengan mudah.


"Berikan kami ramuan sihir dan aku akan lepaskan dia."


Ramuan sihir adalah ramuan yang bisa langsung menyembuhkan semua jenis kesakitan selain mati jika itu ramuan tingkat tinggi seperti potion. Tapi ramuan tingkat rendah menengah sudah cukup untuk mereka semua.


"Gunakan janji maut."


Janji maut adalah perjanjian dalam jangka masa pendek di mana dalam 24 jam, jika mereka tidak menunaikan janji, mereka akan mati.


"Mnnm... Itu agak sulit."


Pria itu seperti kesulitan menerima hal itu. Bagaimana mungkin dia menerima hal yang membuat sisinya langsung kalah?


"Tentu, kamu bisa mengecualikan aku."


Mereka bertiga tersentak mendengar itu dan menatap Bern dengan tidak percaya.


Bibir pria itu mengukir senyuman dan mata mereka bertemu.


"Baiklah."


Suara pria itu tidak tertekan sama sekali. Dia terlihat senang dengan jawaban Bern.


.


.


.


.


.


...**Bersambung**...