
"Bern!!!"
Melihat Bern yang jatuh ke tanah, Kleio langsung melompat turun dari kudanya.
"Tabib sihir kerajaan, periksa dia!"
Tabib sihir kerajaan juga langsung melompat turun dari kuda mendengar seruan dan mendekati Bern. Dia hanya menyentuhnya sedetik dan matanya melebar kaget.
"Bawa cepat ramuan sihir, transfer darah dan transfer mana! Semuanya! Bawa saja! Cepat! Jantungnya akan berhenti berdetak sebentar lagi!"
Semua orang di sana terkaku mendengar kondisi Bern kecuali bala bantuan dari Kleio.
"Penawar racun iblis juga! Dia sudah terinfeksi sangat lama! Bagaimana seorang anak bisa bertahan hingga akhir dengan kondisi mengerikan ini."
Tabib itu dengan cepat melakukan pekerjaannya. Steven bangun dan memberikan ruang pada para tabib untuk melakukan pekerjaan mereka.
Hanya ahli medis dan tabib kerajaan yang berada di samping Bern sekarang. Transfer darah, mana, penawar racun, semua di gunakan pada Bern.
Kleio terlihat acuh tak acuh. Namun jarinya bergerak gerak seolah dia sangat khawatir.
"Apa yang di lakukan anak itu ketika dia di sini?"
Kleio bertanya dengan nada tabah dan sedikit kesal tambah khawatir. Mereka semua hanya tertunduk tidak bisa menceritakan. Mereka semua masih kaku mendengar kondisi Bern.
Duke Zeke juga terlihat keluar dari pikirannya. Dia pasti merasa sangat tidak berguna ketika anak kecil melindunginya. Dia adalah keluarga ksatria dan di lindungi. Bukan saja dia memalukan dirinya sendiri, dia sangat menyedihkan dan tidak berguna. Betapa terpukulnya dia ketika mendengar kondisi anak itu?
Kleio akhirnya hanya bisa pergi ke pilihan terakhir. Dia melihat ke arah Steven yang mengenakan jubah organisasi Satan pada dirinya. Dia lupa untuk melepasnya.
"Siapa kamu dan mengapa kamu bisa berada di sisi ini?"
Kleio bertanya dengan tabah. Steven tahu yang Kleio hanya ingin mengetahui apa yang terjadi.
"Jangan salah paham. Aku berada di sisi Bern, bukan kerajaan Sun."
Steven tidak malu untuk mengungkapkan siapa yang dia ikuti.
'Bern, siapa masalah yang kamu ambil ini?'
Kleio ingin mengatakan itu namun terhenti. Dia malah mengatakan hal lain.
"Dia adalah anjing ku. Jika kamu anjingnya, itu bermakna kamu juga anjing ku."
Steven menatap Kleio tidak percaya. Dia pasti pangeran mahkota ini sangat mengambil berat tentang Bern. Mungkin alasannya sama dengannya. Hanya beberapa perkataan bisa membawa seseorang ke sisi mereka.
"Baiklah, anak itu dari awal, mananya sudah tidak stabil. Anergi iblis kaya di sini membuat setiap kali dia bernafas, racun menyebar dalam tubuhnya. Itu cukup untuk mengungkapkan betapa menderitanya dia selama 3 hari ini, kan."
Jari jemari Kleio kaku terhenti. Wajahnya berubah seperti milik kumpulan yang bersama Bern.
Anton hanya duduk bersandar di pohon sambil tertunduk. Lewis di sebelah Anton melakukan hal yang sama. Ailen menggenggam pedangnya dengan erat hingga tangannya mati rasa. Uen memijat batang hidungnya mencoba menenangkan dirinya dan Zion duduk memeluk lutut dengan tongkat sihir di tangannya.
Mereka semua terlihat frustasi bahkan ketika mereka menang. Steven pasti, itu pertama kali untuk mereka merasai dunia sebenar yang keras. Lawan mereka bukan hanya binatang iblis. Manusia juga bisa menjadi lawan mereka. Ketamakan dan rasa iri membuat pertempuran sia sia tercetus.
Mungkin sedikit lebih baik untuk Uen dan Kleio yang benar benar mengetahui betapa keras dunia sejak mereka lahir. Pertarungan politik tercetus di antara mereka sejak mereka lahir. Orang yang akan menikam mereka dari belakang tentu saja sangat banyak. Zion terkecuali kerana dia sangat polos dan sangat di lindungi ratu ketiga dan kakaknya Uen.
Tidak lama kemudian, tabib mendekati Kleio.
"Yang mulia, jantungnya mula stabil. Namun untuk memulihkannya, kita harus pergi ke lokasi lebih baik. Anergi iblis di sini tidak baik untuknya."
Kleio mengangguk dan para penyihir bersiap membuka portal taliportasi. Gangguan mana sudah menghilang sejak organisasi Satan menghilang.
"Kamu, kita memiliki sesuatu untuk dibicarakan."
Steven hanya mendengus. Yang Kleio inginkan pastilah informasi tentang organisasi Satan.
'Tapi aku juga tidak tahu organisasi apa itu dan apa tujuannya.'
Yang dia tahu hanyalah nama organisasi itu adalah Satan.
****
Di istana.
"Bagaimana dengan kondisinya?"
Kleio bertanya di ruangan semua kumpulan Bern dan Steven beristirahat. Mereka ingin tahu kondisi Bern secepatnya.
"Kondisinya, Yang mulia, bisakah saya jujur?"
Kleio mengangguk menandakan iya. Dengan hati yang berat, tabib itu berbicara.
"Kondisinya sangat meresahkan. Banyak organ ********** yang mati berfungsi akibat darah yang kurang. Walau detak jantungnya sudah stabil, saya tidak tahu apakah dia punya peluang untuk bangun."
Kleio ingin terduduk dan pingsan mendengarnya.
"A, apa organnya bisa di obati?"
Zion dengan tergagagap bertanya.
"Dengan ramuan sihir, itu mungkin jika di ambil secara permanen. Namun tetap saja, tubuhnya akan selalu mengalami gangguan mana kerana racun iblis yang bersarang dalam tubuhnya. Dari pendapat saya, saya akan memilih mati dari menderita hal ini."
Semua orang menampilkan wajah putus asa. Tabib itu mula rasa bersalah setelah melihat itu. Jika saja penyihir kerajaan rela sedikit kesakitan dan membuka portal, Bern mungkin hanya sedikit menderita.
Tekad yang Bern lakukan membuat tabib itu kaget. Bahkan seorang penyihir kerajaan tidak akan sanggup untuk berdiri lagi jika dia menderita 1% dari apa yang Bern derita. Itu membuat penyihir kerajaan kehilangan wajah.
Walau begitu, tidak sedikit yang hanya iri dan berpikiran Bern hanya berbakat sejak awal untuk bertindak seperti itu. Dan kerana iri, tentu saja mereka menjelek jelekkan Bern.
****
Dengan waktu untuk merenovasi desa Black dan kota Plum di wilayah Duke Zeke, sebulan berlalu dan penyampaian hadiah akan segera di lakukan.
Tangan Bern bergerak sedikit lalu membuka matanya. Cahaya terang memasuki pandangannya sejenak hingga akhirnya bisa melihat sekeliling.
Rasa sakit menerjang dirinya. Dari kepala hingga kaki, semuanya seperti di tusuk ribuan jarum.
'Sakitnya di kurangin napa?'
Bern mencoba untuk tidak mengerang namun sia sia. Bern tidak punya kekuatan untuk menahan rasa sakit ketika tidak ada sebarang bahaya dan dia sendirian. Tidak ada yang akan melihatnya membuatnya tidak perlu khawatir tentang harga dirinya.
Pada akhirnya, ketika sendirian, dia hanyalah anak anjing yang lemah terhadap rasa sakit. Tidak ada manusia di dunia ini yang akan terbiasa dengan rasa sakit.
"Uhuk."
Bern batok darah dan sedikit lega. Walau masih terasa sakit, dia bisa merasakan sedikit berkurang.
"Sudah ku bilang, aku tidak percaya umur mu 18! Kamu setidaknya harus di atas 20!"
"Aku 18! Ini semua hasil kerja keras ku! Percayalah!"
Namun dia kaku setelah mendengar suara Anton dan Steven. Sepertinya berdebat tentang umur.
'Tidak, aku baru saja batok darah.'
'Sial.'
Bern berharap pintu itu tidak akan terbuka. Namun harapannya tidak tersampaikan dan pintu di buka oleh Anton.
Mereka bertiga bertatap mata. Anton langsung melirik cairan yang berwarna merah gelap.
"Tabib!!!"
Anton langsung berlari mendapatkan tabib sedang Steven mendekati Bern.
Dia mendudukkan Bern dan membantunya minum.
"Apa kamu ingin muntah darah lagi? Aku dengar kamu mungkin akan sering mengalami gangguan mana kerana racun iblis yang sudah tertanam dalam diri mu."
Bern hanya menggelengkan kepalanya bermakna dia tidak akan muntah darah.
'Jadi, itulah mengapa tubuh ku masih sakit. Racun benar benar menyebalkan.'
Bern hanya menghela nafas secara internal.
"Umur mu......"
Bern juga sebenarnya agak tidak percaya dengan umur Steven. Dia terlihat tua.
"Aku 18. Aku berlatih sejak kecil membuat ku tinggi, berotot dan bertubuh besar."
Steven pasti, Bern juga tidak akan mempercayainya.
'Bukan ke itu bermakna aku berkasar dengan seorang anak yang baru saja mencapai usia bebasnya? Aku tidak bisa melihat umur dari rupa lain kali.'
Namun Bern hanya berpikir tentang kekasarannya. Dia seorang yang cukup lembut pada anak anak.
Steven mengambil ramuan dan memberikannya pada Bern.
"Selama ni kamu menerima ramuan dari transfusi, jadi lebih baik jika kamu meminumnya. Akan lebih baik khasiatnya jika kamu minum dari di transfer langsung ke tubuh."
Bern mengambilnya namun tidak langsung meminumnya.
'Baunya saja sudah seperti bawang putih. Aku tidak akan meminum ini.'
Steven merasa aneh melihat Bern hanya menatap ramuan dengan wajah putus asa.
"Kamu tidak akan meminumnya?"
Dengan perlahan, Bern mengangkat botol ramuan itu ke mulutnya. Tangannya bergetar menolak untuk minum. Namun Steven hanya berpikir itu bergetar kerana dia sedang sakit.
Bang!
Bern kaget dan langsung menjatuhkan botol ramuan itu ke lantai.
"Aku membawa tabib. Tuan, tolong periksa dengan benar."
Seorang wanita paruh baya dengan cepat memasuki ruangan itu. Bern bersyukur melihat ramuan yang jatuh ke lantai itu.
'Aku tidak perlu meminumnya.'
Tabib itu mula memeriksa kondisi Bern dan mengatakan Bern baik baik saja. Bern hanya mungkin mengalami gangguan mana 3 kali sehari. Itu adalah sesuatu yang melegakan.
"Tidak perlu meminum ramuan sihir lagi."
Bern merasa lega seketika.
"Namun konsumsi bubur cendawan sihir ini. Sangat baik untuk mu."
Bern melihat bubur putih yang di hidangkan kepadanya dan ingin menolaknya kembali.
'Ini bubur cendawan apa bawang putih? Baunya saja.... Apa kalian membuli ku? Aku sudah sangat tua jika kalian ingin membuli ku.'
Sekali lagi, wajah Bern bertukar menjadi wajah putus asa.
"Bern, apa kamu baik baik saja?"
Anton bertanya setelah melihat wajah putus asanya.
"Aku baik baik saja tanpa ini. Kondisi ku tidak dapat di obati juga."
Anton, Steven dan bahkan tabib itu merasakan ada sesuatu yang menusuk hati mereka. Melihat Bern yang putus asa dengan kondisinya ketika dia dengan gagah maju, mereka tidak bisa menerimanya.
Tuk, tuk.
Ketukan terdengar.
"Aku ingin berbicara dengannya sendirian."
Suara itu adalah Kleio. Semua orang keluar dan membiarkan mereka berdua berbicara dengan tenang.
"Ouh, bubur cendawan sihir. Itu sangat baik untuk seorang penyihir yang mengalami gangguan mana."
Kleio mengatakan itu ketika melihat bubur di depan Bern.
"Kamu bisa memilikinya jika kamu mahu."
Bern bahkan tidak melirik Kleio ketika berbicara saat melihat bubur itu dengan putus asa.
"Mengapa? Kamu tidak menyukainya?"
Bukan saja bubur cendawan sihir sangat bagus untuk sihir, itu juga sangat enak dan hanya bangsawan yang bisa memakannya.
Namun Bern dengan perlahan menggeleng. Kleio mencoba yang terbaik untuk memikirkan alasannya.
"Kamu tidak menyukai cendawan? Tidak tidak. Kamu makan cendawan bakar dengan baik di festival. Kamu tidak menyukai bawang putih?"
Bern tersentak dan berpaling. Senyuman langka terukir di bibir Kleio.
"Hnm..... Begitu kah? Aku akan menyuap mu hingga kamu memakannya."
Bern tahu bahwa Kleio sengaja menggoda dirinya. Namun dia benar benar tidak bisa menelan sesuatu yang kaya rasanya akan bawang putih.
.
.
.
.
.
...**Bersambung**...