
Alastair memasuki kamar Kleio di pagi hari. Kleio tidak merasa terganggu dengan itu kerana Alastair adalah pelapor tindakan Bern di malam hari.
"Apa yang di lakukan Bern tadi malam, tidak, kapan dia tidur?"
Kleio bertanya sambil mencuci wajahnya dan menyikat giginya. Namun balasan tidak datang dari Alastair membuatnya melihat Alastair dengan curiga.
"Kakak, dia, tidak tidur, dan melewati makan malam, membaca sebuah buku, lalu, hidungnya berdarah."
Alastair berbicara dengan suara yang kaku. Kleio yang mendengar itu merasa akan menelan sikat giginya kapan saja.
"Bawa sarapan ke kamarnya dan pastikan dia untuk makan! Dia sudah seharian tidak makan, jadi dia harus makan!"
Kleio berbicara dengan nada frustasi.
Vany yang bertugas menyelidiki Bern terlihat khawatir juga kerana Bern terlihat kurus dan sekarang dia sudah seharian tidak makan.
Jadi dia melapor hal itu ke Calistia.
"Dia tidak makan dan tidur? Apa yang di lakukan anak itu? Bunuh diri? Menyiksa diri?"
Calistia juga terlihat tidak tahan.
.
.
'Mengapa meja ku di penuhi makanan?'
Bern bingung ketika mejanya di penuhi makanan dan dia di perhatikan Kleio dan Calistia.
Kamar Bern sedang berantakan dengan banyak kertas tidak tahu apa yang tertulis di atasnya.
"Apa baik baik saja jika kita makan?"
Bern bertanya mengingat kondisi kota Sebasta saat ini.
"Jangan khawatir, lebih dari setengah makanan yang kita bawa di sumbangkan kepada kota ini. Jadi tidak ada yang marah jika kita makan."
Kleio mengatakan itu dengan yakin dan Calistia mengangguk setuju.
"Tapi ini sangat hebat bahwa ada kota di bawah air tanpa air."
Calistia mengatakan itu melihat sekeliling kota. Kota itu separuhnya di dalam air sedang pusatnya kering tidak ada setitis air pon di sana selain air minum dan untuk keperluan lainnya.
Bern menggerakkan tangannya untuk mengambil makanan sebelum terhenti.
"Saya lebih baik menyumbangkan makanan yang saya miliki untuk orang yang lebih lapar dari saya."
Althea ingin memberi kutukan pada Bern yang di namakan, 'jika tidak makan maka kamu akan mati!'
"Kamu sudah melewati makan satu hari, kamu harus makan apapon alasan mu."
Kleio terlihat memaksa.
"Maka aku baik baik saja dengan beberapa keping roti."
Bern mengatakan itu dan hanya menyentuh 2 roti panggang untuk memenuhi perutnya setelah seharian berlapar.
"Apa kamu tidak akan makan lebih banyak? Buang masa saja menyediakan ini jika kamu tidak makan pada akhirnya."
Kleio dan Calistia terlihat kesal kerana Bern menolak memakan kue yang di buat khusus untuknya.
Bern merasa bersalah melihat mereka kesal dan membuat keputusan untuk makan satu potong.
Namun masuk saja kue ke dalam mulutnya, dia tidak akan bisa berhenti makan hingga kue itu selesai.
"Uhuk, aku benar benar akan menjadi gemuk."
Bern bergumam merasa sesak kerana perutnya terlalu penuh.
"Tidak, lihatlah tubuh mu yang kurus itu! Kamu tidak akan gemok walau kamu makan 10 piring dan setelah itu tidak makan untuk 3 hari!"
Kleio benar benar terlihat kesal. Bern hanya menutup mulutnya seolah dia akan muntah sebentar lagi.
"Leo, apa kamu tidak tahu perkataan yang selalu di ucap ketika seseorang terlalu kenyang?"
Bern hanya mengucapkan itu dan membuat Kleio diam. Bern selalu bilang dia akan gemok setiap kali dia terlalu kenyang.
"Apa salahnya aku mengucapkan hal itu?"
Masalahnya adalah dia terlalu kurus.
"Juga, masalah semalam, lebih baik jika kita bertanya pada putri Faura. Dia mungkin mengetahui tentang telor naga itu."
Calistia mengatakan itu dan minum teh yang di sediakan untuknya.
"Tapi jika itu telor naga, maka itu adalah rahasia penting kota ini, apa putri Faura akan mempercayai kita sepenuhnya untuk memberitahu kita keberadaan telor makhluk lagenda itu?"
Kleio terlihat ragu untuk menanyakan hal itu. Itu sama saja dengan menanyakan keberadaan senjata mematikan dari sebuah kerajaan.
"[Kemas dan rapi adalah keindahan.]"
Bern menggerakkan tangannya dan mana mula mengelilingi ruangan itu dan membersihkan semua kertas dan hal berantakan di sana.
Mata Althea melebar melihat Bern menggunakan mananya.
{Apa gunanya kamu makan jika begini!!!}
Tekanan dari gangguan mana lebih besar dari yang di perkirakan Bern. Darah mengalir dari tenggorokannya menunjukkan kerusakan yang dia perolehi.
['Kakak.....']
Alastair hanya bisa menggenggam tangannya tidak puas. Bern tidak akan mendengarkan siapapon ketika dia menetapkan pendiriannya.
"Mengapa kamu menggunakan sihir! Apa kamu gila!? Zion bahkan batok darah ketika membuka lingkaran sihir, kamu hanya menyiksa diri!"
Zion awalnya ingin membantu yang terluka dengan sihir, namun pada akhirnya, dia hanya mampu membantu merawat luka kecil dengan alat bantuan medis.
"Benar, mengapa kamu harus membersihkan kamar mu tiba tiba sekali?"
Calistia juga bangun untuk memeriksa kondisi Bern. Bern menelan darahnya tanpa masalah dan mengangkat tangannya menunjukkan dia baik baik saja.
Dia mengambil daging dari piring di depannya dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Silakan masuk, yang mulia."
Bern terlihat tenang seperti seorang bangsawan yang sudah terbiasa berbicara dengan orang penting.
Alastair membuka pintu dan Faura memasuki ruangan yang kini sudah bersih. Namun Faura masih bisa merasakan mana yang masih tersisa di ruangan itu.
'Anak ini bisa menggunakan mana bahkan ketika area laut adalah area dengan gangguan mana alami?'
Alasan makhluk laut tidak menggunakan mana adalah kerana lautan ialah tempat dengan gangguan mana alami dan membuatnya 2 kali lebih kuat dari alat gangguan mana.
Alastair mengambil kursi dan mempersilahkannya duduk. Faura duduk dengan martabat seorang putri dan karismatik seorang ratu.
Bern juga duduk dengan martabat dan karismatik. Calistia dan Kleio menjadi kekok lalu duduk dengan sopan.
Kaki Bern bersilang sedang dia memakan daging di depannya. Itu terlihat Bern mendominasi keadaan sekarang.
{Makanan ada di depan mu, jadi makan saja! Jika tidak, aku tidak akan menyembuhkan mu!}
Namun dia hanya makan kerana dia di paksa Althea yang mencubit kupingnya. Walau begitu, Bern mencoba dengan hormat makan sesedikit yang mungkin kerana kondisi kota yang menyedihkan.
"Yang mulia, saya punya pertanyaan, dan itu berhubungan dengan telor naga."
Faura siap meledak mendengar soalan itu. Namun dia menahan diri dan mencoba untuk mendengarkan soalannya dulu.
"Saya tidak ingin tahu itu di mana atau ingin melihatnya. Yang saya ingin tahu ialah, apa itu ada di sini?"
Melihat Bern benar benar tidak tertarik dengan makhluk lagenda itu, Faura akhirnya berbicara.
"Ribuan tahun dulu, sang penguasa pupus dan meninggalkan telur mereka di dunia ini sebagai penerus. Ada banyak orang kepercayaan sang penguasa dan salah satunya adalah elf air dan di simpan dengan selamat di sini. Namun sampai sekarang, tidak ada yang tahu kapan telor itu akan menetas."
Calistia dan Kleio terlihat tertarik untuk melihat telor itu.
"Jadi begitu."
Bern mengatakan itu dan meletakkan garpu dengan lembut di meja.
"Incaran organisasi ini adalah telor naga itu."
Mata Faura terlihat marah dan mengeluarkan anergi penekanan.
"Berani mereka mengincar sang agung!"
Faura terlihat tidak bisa mengendalikan emosinya lagi.
"Tapi, apa yang di inginkan mereka dengan kota Narda?"
Kleio bertanya untuk mengubah topik melihat kemarahan Faura.
Satu kata itu membuat Calistia ingin membalik meja.
Pikirkan lagi, ada telor naga yang akan di dapatkan mereka, jadi mereka harus mencari tempat untuk menyembunyikannya. Kota Narda yang telah di tinggalkan warga akibat wabah dan menjadi kota mati akan membuat lokasi markas yang sempurna.
Calistia tidak bisa percaya, hanya untuk telor tidak berguna itu, kota kelahirannya ingin di jadikan markas mereka.
"Kita tidak bisa menulis laporan tentang telor naga. Bangsawan bahagian barat yang serakah itu akan memulakan perang lainnya jika mereka tahu."
Kleio mengeluh mengetahui banyak hal. Dia seharusnya memanggil Ailen sekali. Sekarang, dia harus berdiskusi dengan Ailen untuk laporan juga membuat ulang rencana bersama Uen.
"Kamu terlihat tidak tertarik dengan telor naga. Apa kamu tahu betapa kuatnya naga?"
Faura tidak suka dengan sikap Bern yang seolah merasa dirinya sangat kuat dan tidak mempedulikan makhluk lain.
"Mengapa aku harus peduli?"
Lihat saja cara dinginnya menjawab.
"Apa aku ibunya untuk peduli? Naga adalah makhluk yang kuat, makhluk yang bebas hingga di panggil makhluk yang agung. Juga, aku terlalu menyedihkan untuk membiayai makan seekor naga."
Faura kehilangan kata seketika mendengar alasan lain dari Bern.
"Jika tidak memiliki dana yang cukup, baik jangan pernah memelihara. Biarkan mereka di luar bebas mencari makan dari di ambil dan di seksa. Lagi pon, seekor naga tidak mungkin akan tunduk pada manusia."
Bern tersenyum dan bangun dari duduknya. Dia mengelus lembut kepala Alastair dan Althea pada masa yang sama.
"Aku juga sudah harus menjaga kedua orang ini, jadi, aku lebih baik fokus pada mereka."
Faura berpikir Alastair adalah bawahan Bern, tapi bukan itu?
"Bukan kah kamu terlalu ramah dengan roh penyembuhan mu?"
Calistia mengatakan itu tidak percaya. Namun Bern menggeleng pada soalan itu.
"Althea menyelamatkan hidup ku, jadi dia layak mendapatkan hidup yang lebih baik. Andai aku punya sebuah kerajaan, aku tidak akan ragu memberikan itu pada Althea."
Kleio mendengus.
"Kerana itu semua uang mu pada ku. Kamu akan menjadi miskin kerana terlalu banyak menyumbang."
Bern tidak tamak harta, dia tidak pernah peduli untuk berbagi apa pon yang dia miliki.
"Maaf, bisa aku mendapatkan nama mu?"
Calistia hanya tahu nama Bern dari buku yang dia tinggalkan. Dia tidak tahu nama penuh Bern.
"Nama ku? Bukan kah kamu sudah mengetahuinya, nama ku, Bern Kailyth."
Mata Calistia melebar mendengar nama penuh Bern.
"Kamu adalah anak yang menolak semua hadiah dan gelar juga hampir mati di pertempuran hutan hujan hitam?"
Kleio tersenyum mendengar Calistia kaget. Dia saja kaget awalnya. Faura terlihat bingung dengan reaksi Calistia.
"Aku berada dalam pertempuran ini untuk mendapatkan grimoir ku yang telah mereka curi. Juga memberikan kematian pada penyihir itu."
Penyihir tanpa grimoir mereka sama saja dengan bertarung dengan satu tangan yang di ikat pada tiang. Namun dengan kekurangan itu, Bern bisa menggunakan sihir dengan baik bahkan di area gangguan mana.
Calistia dan Faura merasakan bahaya dari kehadiran Bern.
Bang!
Ledakan di kawasan pemisah kawasan kering dengan kawasan basah terdengar.
"Mereka menyerang lagi."
Faura bangun dan siap bertempur.
- (Faura, area telor naga di serang! Aku sedang ke sana!)
Faura menggertak giginya mendengar laporan kakaknya. Sebagai elf, mereka bisa berkomunikasi lewat pikiran dari ikatan darah.
- (Aku kesana! Tunggu saja!)
Faura dengan cepat menaiki gelembung air yang di kendalikan menuju kawasan pertempuran.
"Aku pergi juga."
Bern mengatakan itu memanggil penyapunya.
"Kami akan pergi juga-"
"Tidak, kekal di sini dan lindungi yang terluka. Mereka sangat suka menyerang mereka yang lemah. Juga mereka suka menghasut mereka yang lemah untuk menjadi sebahagian dari mereka."
Ucapan Kleio di potong namun dia tidak marah. Apa yang di katakan Bern adalah fakta dan mereka bisa menggunakan pengendali pikiran ketika mereka menusuk titik lemah pikiran seseorang.
Bern berdiri di atas penyapu dengan tenang dan dengan cepat terbang turun.
"Steven!"
Steven yang sedang menuju arah yang sama mendengar namanya di panggil.
"Kamu ikut aku, yang lain pertahankan warga kota setempat!"
Anton berhenti dari berlari mengikuti para prajurit dan berlari kembali. Itu sama dengan yang lain.
Steven menyambut tangan Bern dan berjongkok di atas penyapu. Dia tidak tahu bagaimana Bern menyeimbangkan dirinya untuk berdiri bahkan dalam kecepatan itu.
.
.
Lewis melihat busurnya dan menggertak giginya.
"Aku harus melakukan hal yang aku bisa jika aku tidak bisa memanah lagi! Aku tidak bisa terus murung begini!"
Lewis menampar wajahnya dengan keras dan membawa tombak. Hanya kerana dia tidak bisa memanah lagi, bukan bermakna dia tidak bisa berjuang.
Dia bertemu Ailen dan Uen di jalan.
"Jari mu...."
Ailen dan Uen terlihat kaget melihat jarinya.
"Ini bukan waktu untuk bersedih kerana aku kehilangan jari ku, kita di medan pertempuran."
Lewis mengingat apa yang di katakan Bern padanya sebelum meninggalkannya sendirian.
'Ini bukan akhir dari segalanya. Percayalah, akan ada masa depan yang cerah bagi mereka yang tidak menyerah.'
Pegangan tangan Lewis pada tombak mengerat.
"Aku tidak akan mati dalam rasa putus asa, aku lebih rela mati ketika aku sudah berjuang untuk memperbaiki diri ku."
Lewis bertekad.
Ailen dan Uen tidak menghentikannya dan mereka pergi ke arah kerumunan.
Seperti yang di jangkakan Bern, ada 10 orang dari organisasi yang siap menyerang warga yang lemah.
'Dasar kotor!'
Hanya itu yang ada dalam pikiran mereka tentang organisasi itu.
.
.
Tump, tump.
'Ah, perasaan ku tidak enak.'
Bern memegang jantungnya ketika itu berdetak tidak stabil. Menggunakan mana di sana sangat berat, namun itu masih bisa di tampung.
'Mari selesaikan ini cepat.'
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...**Bersambung**...