From No Body To Hero

From No Body To Hero
Episode 11



Mereka semua melewati tembok. Bern melihat sekeliling. Hutan itu terlihat sepi dengan suara hujan. Mereka berhenti ketika Bern berhenti sebelum memasuki hutan yang tebal dan gelap. Sebagai seorang pelajar academy Luxana, melihat dalam gelap adalah dasar yang bisa di lakukan semua orang. Namun itu masih gelap untuk level mereka. Berbahaya jika langsung terjang dengan anak muda bersamanya.


"[Detak jantung tetap berdetak, setiap detak bisa dirasai.]"


Dia menggunakan sihir pendeteksi yang pernah dia lakukan. Dia menutup matanya dan bisa merasai anergi merah pada radar sihirnya yang menandakan binatang iblis.


Dalam titik titik besar, bergerak 2 titik merah kecil dan 3 titik kecil yang diam dengan banyak titik putih yang dia yakin itu korban penculikan. Titik merah pasti menunjukkan pengguna iblis. Namun samar, dia merasakan titik putih di dekat mereka. Namun jika itu putih, dia tidak masalah.


"2 bergerak, 3 berjaga. Bagaimana kita bergerak ke depannya?"


Bern bukan watak yang langsung mengetuai. Dia lebih suka bergerak sendiri atau dia yang di suruh. Dia bukan seseorang yang bisa mengetuai dengan mudah kerana pendapat orang lain sangat penting baginya.


"Ikut kau."


Uen bersuara sambil lengan bersilang dengan waspada pada sekelilingnya.


Semua mengangguk setuju. Detik ini, pendapat Bern adalah yang terpenting dari mereka yang amatir. Namun mereka merasa sedikit aneh seperti Bern sangat santai dalam hal yang tidak pernah dia lakukan. Ini adalah pengalaman yang tidak lebih dari magang dan Bern belum pernah magang sekali pon.


"Baiklah, jika begitu."


Bern mengangguk tanpa banyak bicara lagi. Setiap detik amat penting.


"Aku, Anton dan yang mulia Zion akan lurus terus ke korban. Ailen pergi ke jam 8 bersama Lewis. Lewis dukung dari belakang dan coba yang terbaik untuk sembunyikan kehadiran kamu. Yang mulia Uen, anda sebagai seorang kelas assassin lebih baik sendirian. Pergi ke jam 10."


Bern mangambil nafas seketika. Dia masih merasa tidak nyaman dengan titik putih yang berada di dekat mereka. Namun dia masih membiarkannya selagi tidak mengganggu mereka. Juga titik di jam 8 cukup kuat auranya.


"Lewis, jika perlukan bantuan halakan panah ke langit."


Lewis mengangguk. Firasat Bern tidak bisa di remehkan jika sesuatu yang bahaya mungkin terjadi.


"Mari bergerak."


Semua mengangguk dan bergerak ke arah musuh mereka.


Uen dengan cepat bergerak dari dahan ke dahan. Untuk pertama kali, dia merasa sangat ringan dan bebas menggunakan kelas assasin yang sembunyi sembunyi dengan sangat leluasa. Dia seorang pangeran. Bagaimana dia bisa pergi sendirian?


'Ini benar benar hebat. Assassin benar benar harus bergerak sendirian. Aku mempelajari sesuatu yang baru. Siapa dia sebenarnya untuk tahu manfaat kelas orang lain?'


Uen merasa dia menyatu dengan persekitaran. Tidak lama, dia bisa melihat seorang wanita dengan tombak dan jubah lambang tengkorak iblis.


'Musuh.'


Kata itu langsung muncul di benaknya. Seorang pangeran dingin tidak akan berbelas kasihan bahkan jika lawan adalah wanita. Tangannya sudah ternodai dengan banyak pembunuhan. Sebagai pangeran, mereka harus hidup di lingkungan yang keras.


Chung!


Dengan cepat, belati memisahkan kepala wanita itu. Bahkan tidak memiliki teriakan dari wanita itu. Wajah wanita yang terpenggal itu seolah tidak tahu mengapa dia bisa mati.


Walau darah berceceran, itu langsung tidak terlihat dengan hujan hitam juga suasana yang gelap dan suram.


Uen merenung cukup lama memikirkan apa yang harus dia lakukan seterusnya.


Uen menyeka dagunya dengan belakang tangannya. dia mengingat sesuatu dan bergerak ke jam 8. Dia mengingat Bern nmemberikan peringatan sebelum berpisah.


****


Anton dan Zion tegang dengan senjata yang di pegang dengan erat. Anton paling depan, Bern tenang di tengah dan Zion di belakang.


"Yang mu-"


Zion menghentikan Bern.


"Bern, panggil aku dengan nama aku. Kita teman sekarang."


Walau tangannya menggigil dengan tekanan yang dia hadapi, dia berharap Bern mengesampingkan gelarnya dan memanggil namanya dengan tulus. Mulut Bern sedikit terbuka kemudian tertutup semula.


"Anton, kamu pastikan kuda kuda kamu benar. Jangan terlalu tegang. Kamu hanya akan menjadi perisai daging jika kamu melakukan itu."


Anton hanya bernafas dengan pelan kerana gugup. Dia tidak punya waktu untuk melihat expresi Zion yang kecewa.


"Zion, lemparkan mantra perisai saja. Jika tidak bisa, jangan memaksa. Cukup kamu bisa melindungi diri sendiri."


Mata Zion berbinar dan menggenggam erat tongkat sihirnya.


"Baik."


Bern puas dengan kecepatan balasan itu dan bergerak dengan perlahan. Dalam gelap yang suram itu mereka samar samar bisa melihat tubuh dengan kepala yang terputus. Bau bangkai dan beberapa binatang iblis tingkat rendah memakan tubuh mayat itu.


Zion dan Anton menggertak gigi mereka dan diri mereka di penuhi kemarahan. Bern juga sama. Namun dia masih berjalan dengan tenang seolah dia hanya sedang ingin bermain sembunyi sembunyi dengan teman.


"Kendalikan emosi kalian. Marah hanya membuat diri kalian kaku. Jangan biarkan emosi menutupi akal pikiran. Jangan menyesal setelah segalanya berlaku dan menyalahkan emosi kalian."


Mendengar itu, mereka benar benar merasa bahwa mereka sedang magang dan di beri pendidikan langsung dari ksatria yang bertarung di depan


"Ha.... Huh....."


Mereka hanya bernafas untuk menenangkan diri mereka. Apa lagi yang bisa mereka lakukan selain bernafas di situasi itu?


Mereka akhirnya bisa melihat batu besar seperti goa yang mungkin adalah penjara untuk memenjarakan korban. Semakin mereka dekat, mereka bisa melihat jeruji besi yang menutupi goa seperti penjara dan beberapa orang di sana.


Bern menghela nafas.


"Anton, serang langsung. Pastikan seorang tumbang atau kita yang mati."


Bern memberikan arahan. Kakinya tidak akan bertahan lama mengingat kondisinya. Dia tidak bisa terus menerus menggunakan sihir untuk menyerang.


Anton menggenggam erat tombaknya dan menjilat bibirnya. Rasa pahit air hujan hitam memenuhi tenggorokannya. Ini pertama kali dia harus membunuh.


Tubuhnya menggigil tidak ingin bergerak. Dia menggertak giginya.


'Mereka layak mati. Jangan tunjuk belas kasih pada musuh atau kamu yang mati.'


Dia mengingat apa yang di ajarkan ayahnya. Anton melihat ke arah goa dan bisa melihat nenek yang lemah menggigil kesejukan dalam goa yang sempit dan kumoh.


'Ah, persetanlah!'


Anton malas untuk berpikir lagi apa yang benar dan salah.


"Aaaaarrrrrgggggg!!!!!"


Anton bergerak ke depan dengan teriakan depresi.


"!!?"


Ketiga orang berjubah itu tersentak. Hujung tombak tajam Anton pergi ke arah pria yang memegang tongkat Bern. Namun dengan hati yang dingin, dia menarik temannya sendiri menjadi perisai daging.


Chung!


Tombak tajam Anton langsung menembusi leher mengambil nyawa orang itu.


Dia kaku di situ. Darah memercik mengenai wajahnya. Rasa daging di hujung tombaknya membuatnya loya dan jijik. Tubuhnya bergetar. Dia keluar dari pikirannya.


"Ish! Dari mana para bocah ini datang!?"


Seorang lagi pria dengan jubah menarik tali busurnya.


Chung!


Dia melepaskan 1 tembakan. Anton yang kaku tidak mungkin akan bergerak. Mayat di hujung tombaknya jatuh ke tanah.


"[Sifat alami pengecut lari berlindung.]"


Zion yang diam dari tadi bergerak. Perisai berwarna emas transparan dengan lingkaran sihir di bawah kaki Anton membuatnya mencolok mengingat keadadaan gelap itu.


"Uhuk..... Sial.... Ini benar benar sakit...."


Zion batok darah dan berlutut. Namun dia tidak menarik kembali perisainya.


"[Air akan membunuh mu.]"


Penyihir yang mengambil tongkat Bern merapal mantra dan membuat air hujan hitam di sekelilingnya menjadi tajam seperti panah.


Pemanah tadi yang menyerang Anton tersenyum dan mengarahkan panahnya pada Zion yang mencolok.


'Apa yang aku harus aku lakukan!!?'


Zion panik dan membuat perisai pada Anton memudar kerana dia kehilangan fokus.


"Tarik mantra mu."


Zion mendengar itu dan menarik mantranya segera dan membuat perisai di sekelilingnya.


Tang!


Panah dengan racun iblis mengenai perisainya. Perisainya yang tidak stabil bergetar kerana hentaman itu.


Zion memuntahkan darah dan perisainya menghilang sepenuhnya. Dia menggertak giginya.


'Belum lagi! Jika aku tidak bisa melindungi yang lain, aku harus bisa melindungi diri sendiri!'


Lingkaran sekali lagi muncul dan grimoirnya seperti menyambut seruannya terbang di udara. Lingkaran emas membuat dirinya sepenuhnya terlindungi. Ketika itu, dia bisa melihat Bern dengan lingkarannya yang menerangi kawasan itu sedang tersenyum seperti mengatakan dia melakukannya dengan baik.


Bern berbalik dan dengan cepat berada di depan Anton yang kaku. Dia mengambil jubah hitam pada mayat di depannya. Merobeknya dan menutupi setengah wajahnya.


"Bangun. Apa kamu ingin mati?"


Anton tersedar ketika Bern berbisik di dekatnya.


Tang! Tang! Tang!


Panah terus melesat ke arah Zion. Darah juga terus keluar dari mulut Zion kerana panah terus menerus mengenai perisai emasnya yang sangat mencolok.


Anton bergerak menggenggam tombaknya kembali. Dia dengan cepat bergerak ke arah pemanah itu.


Ketika sudah banyak panah air yang terhasil, penyihir itu menggerakkan tongkat sihir ke depan. Panah air yang di penuhi anergi iblis itu melesat ke depan dengan kecepatan luar biasa.


Anton dan Zion tersentak.


'A, aku bahkan tidak akan bisa menahan itu!'


Zion panik lagi dan menghilangkan perisai di sekitarnya. Anton juga panik dan melupakan lawannya.


Cung!


Panah menyayat daging di bahunya ketika dia lengah dalam keadaan panik. Untung tidak ada racun di panah itu.


"Ugghh...."


Anton mengerang namun dia bahkan tidak bisa berpikir tentang kesakitannya ketika panah air tepat di depan matanya.


"[Perisai.]"


Panah air hanya berjarak 1 cm dari matanya ketika 2 lingkaran putih muncul di bawahnya membuat perisai kecil.


Tang! Tang! Tang!


Perisai putih itu bahkan tidak bergetar ketika mengenai panah air yang melesat dengan cepat.


Mereka bertiga berada di dalam perisai putih yang kokoh dan tidak tergoyahkan.


"Hah...."


Bern menghela nafas.


'Untung aku menutupi wajah ku.'


Bern tidak bisa menunjukkan sisinya yang berdarah darah pada anak muda dengannya. Dia berdiri teguh seperti tidak ada yang berlaku. Namun di sebalik kain hitam dan baju hitam yang di basahi air hujan hitam, Bern berdarah teruk. Dia hanya bisa memuntahkan semua darahnya kerana sudah terlalu banyak menelan darah. Dia mungkin bisa menjadi vampir jika itu berterusan. Mana semua darah itu adalah darah kotor yang rasanya seperti besi.


Wajah penyihir berkerut tidak puas. Dia kesal melihat penyihir yang berbakat.


'Aku sudah mengambil grimoir dan tongkatnya! Mengapa dia masih bisa menggunakan sihir!!?'


Penyihir itu meluncurkan panah air dengan lebih banyak dan cepat.


"[Angin selalu ada untuk mendukung.]"


Bern merapal sihir ganda. Semua orang kaget dengan itu. Pedang yang terbuat dari angin muncul di tangan Anton.


Bern mengingat yang sebelum Anton menggunakan tombak, dia adalah pengguna pedang.


Anton merasakan kepercayaan Bern dalam tindakan ini dan memegang gagang pedang angin itu dengan erat. Dia perlahan bangun dan lingkaran sederhana itu mengikutinya.


"Bagaimana mungkin!!?"


Penyihir itu tidak bisa mempercayai itu. Pemanah itu juga.


Pemanah itu mula menarik tali busurnya dengan urgensi.


"Mengapa kamu terus berjuang!!? Mengapa kamu terus melindungi orang yang tidak penting itu!!?"


Tang! Tang! Tang!


Penyihir itu hilang sabar dan semakin cepat menyerangnya.


"Mengapa?"


Suara Bern tenang bagaikan badai panah air itu tidak terjadi. Walau suasana sangat berisik, suaranya entah bagaimana bisa di dengar semua orang.


"Kerana mereka di sisi ku. Siapa pon di sisi ku, tidak akan kehilangan nyawanya sebelum aku hancur musnah menjadi debu."


Alasan itu tidak bisa di terima penyihir atau pemanah itu. Omong kosong apa itu? Namun Anton dan Zion menggenggam erat senjata di tangan mereka tersentuh dengan ayat itu. Tentu, Bern tidak berharap mereka bahkan bisa mendengarnya dalam keberisikan itu.


Bern menutupi matanya.


Sha-------


Suara hujan memasuki kuping Bern. Dia mengingat pemandangan kuburan tanpa nama. Dia membuka kembali matanya dan senyum santai terukir di bibirnya yang kaku walau tidak ada yang bisa melihatnya.


"Kamu kalah."


Penyihir itu semakin marah.


"Aaaaarrrgggg!!!"


Anton berteriak dan melompat ke arah pemanah itu.


Tang! Tang! Tang!


Pemanah itu buntu. Dia tidak bisa menyerang Anton yang berada di dalam perisai.


Perisai Bern terbuka ketika pedang tiba di leher pemanah.


Chung!


Kepala pemanah terpenggal dengan mudahnya.


Dengan wajah marah, penyihir itu menghilangkan mantra pada panah air dan memunculkan lingkaran di bawah kakinya dan langsung menghilang menggunakan taliportasi.


"Hah......"


Mereka semua menghela nafas lega. Mereka semua terlihat berantakan. Hanya Bern yang terlihat baik baik saja kerana dia menutup separuh dari wajahnya.


"Eh..."


Mata Bern kabur dan sedikit tersandung kerana kelelahan juga sakit. Dia ingin duduk dan istirahat kerana tubuhnya dalamnya seperti di hancurkan dengan kasar.


Namun.....


Swish!


Sebuah suara memasuki kuping Bern yang tajam. Dia menatap ke arah langit. Dia kembali teguh berdiri seperti orang yang tersandung tadi hanyalah sebuah khayalan belaka.


Itu adalah panah. Panah dengan mana di hujungnya membuatnya sedikit terang. Sangat mencolok seperti ada bintang di langit gelap itu.


"Aku pergi. Kalian urus selebihnya."


Anton dan Zion hanya mengangguk. Mereka juga berantakan untuk melihat kondisi Bern dengan benar.


Bern dengan cepat berlari ke arah datangnya panah itu. Dia seperti seseorang yang sihat dan baru saja datang dari sebuah taman ketika berlari tanpa rasa gerun dengan kecepatan yang tinggi.


'Aku harap mereka baik baik saja.'


Bern masih memikirkan orang lain ketika kondisinya berantakan lebih dari yang lain.


.


.


.


.


.


...**Bersambung**...


Nulho: Aku kesal di sini. Mengapa Bern! Kamu tercedera itu! Huah!!! 😭😭😭


Apapon, hope enjoi episode ini. 😁😁😁