
Penculikan massal bukan sesuatu yang bisa di anggap remeh.
"Bagaimana kamu bisa tahu itu? Kita baru saja sampai dan kamu menyimpulkannya begitu mudah."
Ailen bertanya dengan tangan di gagang pedangnya. Sebagai seorang penerus, urusan penculikan pasti adalah pengalaman yang baik untuknya.
"Terlalu sunyi. Bahkan jika semua orang pergi meninggalkan desa, mereka tidak akan membawa anak mereka. Juga yang menyambut kita bukan kepala desa melainkan seorang wanita yang menggigil ketakutan."
Fakta itu tidak terlalu kuat mendukung bahwa penculikan massal terjadi. Namun sekarang mereka tahu mengapa Bern menjadi sangat dingin di depan pintu masuk desa.
'Tapi jika di pikirkan.....'
Semua orang mula memikirkannya kembali. Mereka terbawa ke sini dan labirin tidak memiliki guru. Jika mereka tidak membawa guru, mereka akan menjadi makanan binatang iblis dan mangsa culik yang begitu mudah.
Jika Bern tidak menggunakan lingkaran taliportasi untuk memindahkan pelajar lain, sesuatu yang sangat buruk pasti terjadi.
'Kemungkinan dalang yang sama dengan insiden di jamuan untuk pelajar baru.'
Itu bisa di simpulkan bersama mengingat jajak lingkaran taliportasi yang besar juga mengangkut 20 ekor hantu kerbau ke sana.
Rasa dingin mresapi tengkuk mereka. Jika apa yang mereka pikir itu benar, ini bukan sekadar penculikan massal biasa.
"Pengguna kekuatan iblis."
Anton bergumam.
Pengguna kekuatan iblis adalah kriminal. Menggunakan kekuatan iblis memang bisa membuat seseorang menjadi 3 kali lebih kuat. Namun setelah mendapatkan kekuatan iblis, mereka akan di kuasai iblis menghilangkan rasionalitasnya sebagai seorang manusia. Mereka bahkan bisa membunuh seorang nenek yang lemah dan tidak bersalah hanya untuk kesenangan semata.
Bern berdiri dan memegang tongkatnya menunjuk ke satu tempat. Semua orang bingung dengan itu.
"Tunjukkan diri mu. Tidak ada gunanya bersembunyi."
Tiba tiba muncul seorang pria berjubah dengan tongkat sihir yang yang ukurannya normal saja. Di jubahnya memiliki lambang tengkorak iblis yang bertanduk kerbau dan belakangnya di hiasi bingtang empat bucu.
Semua orang memegang senjata mereka dengan erat dan waspada pada pria itu.
"Cih, mengapa anak ini terus menerus mengganggu kerja kami. Atasan akan marah, kamu tahu."
Orang yang dia sebut itu adalah Bern.
"Kamu bahkan lebih menyebalkan dari ksatria di istana. Mengapa kamu begitu suka memasuki sebuah situasi yang membuat diri mu terluka?"
Tidak ada yang bisa membantah itu. Yang pertama atau sekarang, Bern terluka untuk orang lain.
"Apa maksud mu? Aku hanya bertindak rasional dan bergerak ke depan."
Yah, setidaknya pemilik tubuh tidak peka.
"Siapa kamu?"
Kembali ke soalan semula. Namun pria berjubah hitam paras lutut itu menatap jijik Bern.
"Betapa berbakat. Aku membenci orang berbakat."
Dengan cepat dia berada di depan Bern dan merampas tongkatnya juga grimoirnya.
"Selamat tinggal."
Dengan begitu, pria berjubah misterius itu menghilang dalam lingkaran taliportasi berwarna abu abunya. Tongkatnya yang normal di tinggalkan begitu saja.
"Ugh....."
Bern mengerang dan menelan darah yang berada di mulutnya. Rasa darah benar benar tidak enak.
"Bern!"
Anton menopangnya. Bern tidak tahu mengapa tubuhnya seperti di tusuk ribuan jarum setelah pria itu pergi. Jadi dia tidak siap dengan kesakitan itu.
'Aku baik baik saja.'
Namun itu masih bisa di tahan. Bukan waktunya tumbang hanya kerana di hujani ribuan jarum.
"[Gertaran melintasi samudra...] Ugh...."
Bern mencuba merapal mantra baru lagi.
"Hentikannya Bern!!!"
Anton panik tidak tahu mana langit mana tanah melihat Bern mencoba merapal mantra lagi. Bukan dia seorang. Semua orang di sana sangat panik mengingat kondisi Bern.
Namun Bern mengabaikan kepanikan mereka. Jika mereka terus diam, tidak ada yang bisa mereka lakukan.
"[Suara adalah komunikasi.]"
Tiba tiba layar muncul menunjukkan ruang kerja Kleio yang sedang serabut. Kleio mengangkat kepalanya dan melompat jatuh ke belakang kerana kaget.
Semua orang hanya diam melihat reaksi itu dari pangeran mahkota yang selalu menunjukkan sikap anggun di depan umum.
Kleio dengan cepat membenarkan rambutnya. Dia berdiri dan melihat ke layar itu dengan senyuman ularnya kerana kesal.
"Siapa yang berani sekali memanggil langsung ke ruang kerja pangeran mahkota ini?"
Kleio benar benar seperti siap membunuh seseorang.
"Leo, ini aku."
Senyuman ularnya menjadi kaku dan akhirnya melihat dengan benar ke arah layar. Dia akhirnya bisa melihat beberapa orang yang hilang dan Bern yang tertunduk sambil di topang Anton. Matanya berubah dingin dan senyuman ularnya menghilang.
"Bern, kamu baik baik saja?"
Kleio bertanya.
"Iya."
Jawaban Bern ringkas. Zion menjadi marah. Namun yang berbicara memotongnya dengan nada geram adalah Ailen.
"Kamu bisa mengatakan kamu baik baik saja!? Kamu batuk darah dan baru saja mengerang kesakitan!"
Kleio tahu 'iya' Bern itu tidak bisa di percaya. Namun mendengar kondisinya dari tuan muda Ailen yang angkuh adalah hal yang tidak bisa dia percaya.
"Lupakan. Aku hanya akan membuat laporan singkat kerana mana ku sedang tidak stabil."
Semua orang diam.
"Penculikan massal terjadi dan kemungkinan dalangnya sama dengan insiden di aula jamuan. Kirimkan bantuan ke hutan hujan hitam secepat yang kamu bisa."
Kleio tidak merasa itu laporan singkat jika dia harus menulis laporan untuk Alen yang mulia raja.
"Juga aku akan bergerak."
Semua bingung seketika. Di tengah kebingungan Bern menarik mantranya kembali. Baru Kleio tahu apa maksudnya dan ingin marah.
"Kamu.......!!!"
Apa yang di maksud Bern adalah dia akan bergerak untuk menyelamatkan mangsa yang di culik.
Kleio langsung berlari ke luar. Dia merasa jantungnya akan copot jika terus berkerja dengan punk yang begitu suka meletakkan nyawanya di atas benang.
Kleio dengan cepat bergerak. Dia juga mencapai pedangnya.
"Ya, Yang mulia, kita tidak bisa menghubungi mereka! Ada gangguan mana yang sangat besar!"
Penyihir kerajaan itu berteriak cemas ketika seorang penyihir terbaring ke lantai mengerang kesakitan.
'Apa? Gangguan mana? Seberapa besar efek bagi Bern untuk beberapa minit berbicara dengan ku!? Pantas saja tidak ada laporan dari Duke Zeke! Ah! Aku akan jadi gila!'
Kleio menggaru kepalanya kesal dengan semua hal yang akan membuatnya sakit kepala.
"Sediakan kuda! Kita harus ke sana segera! Tidak apa jika kita tidak memberitahu kedatangan kita!"
Kleio dengan cepat memberikan arahan dan semua orang dengan cepat bergerak.
"Sediakan perlengkapan medis sebanyak mungkin!!! Tabib sihir kerajaan terhebat! Bawa semuanya!"
Mengingat bagaimana kondisi Bern yang sekarang, dia hanya bisa siap sedia untuk yang terburuk.
****
Bern menarik mantranya dan batuk sedikit darah. Dia tidak bisa menelan semuanya.
Dia bangun dan mengambil tongkat di tanah. Dia bergerak dengan cepat keluar dari ruangan itu. Hujan hitam masih dengan deras turun membasahi Bern yang sudah sedikit kering.
Hutan hujan hitam sangat jarang tidak hujan. Dalam sebulan, bisa di hitung dengan jari berapa kali itu tidak turun hujan. Itulah mengapa desa itu tidak bisa di bangun dengan baik.
"Bern tunggu!"
Anton menghentikan langkah kaki Bern.
"Apa kamu harus pergi! Lihat kondisi mu! Tunggu saja bala bantuan!"
Anton mencoba membujuknya.
"Kalian tidak perlu mengikuti ku. Aku bisa seorang diri pergi. Kalian tinggal dan tunggu di sini."
Bern juga tidak ingin mereka ikut mengingat mereka masih sangat muda.
"Apa maksud mu!? Jika kamu pergi, kita ikut! Apa kamu tidak bisa mempertimbangkan untuk duduk diam!?"
Lewis juga agak marah mengingat itu adalah tanah airnya namun Bern yang bergerak seperti itu tanah airnya. Dia benar benar tidak berguna. Dialah yang harusnya bersikap seperti Bern. Namun tangannya yang memegang tombak menggigil.
"Berapa lama dari istana ke sini?"
Bern bertanya.
"Hah? 3 hari dengan kuda. Tapi kita bisa menggunakan lingkaran taliportasi."
Anton menjawab dengan bingung.
"Taliportasi? Aku harap aku bisa mengirim kalian lewat taliportasi juga."
Bern mengatakan itu dan semua orang bisa melihat tangan Bern yang bergetar. Mana di dalam tubuhnya sangat tidak stabil dan menyakitkan hingga dia ingin berguling di tanah sejauh 10 meter. Namun dia tetap berdiri teguh. Sebagai orang dewasa di sana, dia tidak bisa tunduk dengan lemah dan meruntuhkan semangat orang lain.
"Aku baik baik saja. Yang mulia, bagaimana jika kamu membuat lingkaran."
Zion bingung. Semua orang di sana bingung. Mengapa tiba tiba menyuruh seseorang membuat lingkaran?
Zion pon mencoba saja.
"Ugh!!!"
Zion langsung mengerang dan ingin berguling guling di tanah namun Uen menahannya. Semua orang kaget dan melihat Bern yang masih dengan tenang berdiri walau sudah menggunakan banyak sihir.
"Hah.... Hah..... Ba, Bagaimana....?"
Nafasnya berat dan menatap Bern dengan tidak percaya. Bagaimana Bern masih bisa berdiri dengan kesakitan, tidak, mungkin 100 kali lebih sakit dari yang dia alami kerana dari awal mananya sudah tidak stabil.
"Bala bantuan tidak akan sampai hingga 3 hari. Mana yang tidak stabil membuat seorang penyihir kesakitan ketika menggunakan mana. Jadi aku akan pergi sendiri. Kalian tunggu saja di sini."
Bern mengatakan itu dan ingin pergi. Namun Lewis menarik lengan bajunya.
"Ini kampung halamannya ku. Aku akan pergi walau akan kehilangan nyawa. Aku tahu aku beban.... Tapi...."
Lewis tidak bisa membiarkan orang yang bahkan tidak ada hubungannya dengan desa itu menyelesaikannya sendirian. Di mana harga dirinya sebagai penduduk asli?
Betapa menyedihkannya dalam situasi itu? Dia pasti Bern yang kuat tidak akan mengambilnya. Lebih baik mengambil Ailen atau Uen yang benar benar berpengalaman.
Pat.
Namun yang dia rasakan adalah sebuah tangan yang tidak besar juga tidak kecil mendarat di pundaknya. Namun rasa tangan itu sangat berat.
"Sejak kapan aku adalah ketua hingga kamu harus meminta izin? Ini kampung halaman mu. Jadi kamu yang seharusnya dengan berani mengetuai, bukan meminta izin."
Mata Lewis bersinar. Dia selalu diejek kerana dari kalangan miskin juga sangat lemah.
"Beban? Hanya orang yang yang tidak tahu bahwa dia lemah adalah beban. Semua orang masih belajar. Tidak ada yang namanya lemah ketika belajar. Luruskan punggung mu dan berjalan dengan percaya diri."
Dengan begitu, sudah di putuskan, mereka semua akan pergi menyelamatkan mangsa penculikan.
"Yang mulia, mengapa penyihir lemah?"
Bern bertanya sambil menepuk pundaknya juga. Namun Zion hnaya diam.
"Itu kerana penyihir tidak bisa menahan rasa sakit. Tidak ada orang di dunia ingin menahan itu. Jadi jangan di pikirkan. Lakukan saja dengan perlahan."
Zion tahu apa yang di lakukan Bern. Bern mencoba untuk menenangkannya mengingat dia mengerang kesakitan. Bern tahu bahwa dia juga merasa dirinya lemah dan beban. Cengkraman tangannya pada tongkat sihirnya menguat.
'Dia tidak akan berlebihan, kan. Anak muda harus tidak berlebihan dan menyakiti diri mereka.'
Namun Bern hanya mengatakannya supaya Zion tidak perlu berlebihan mengingat dia masih muda dan untuk menanggung rasa sakit yang seperti dirinya, dia tidak bisa membiarkannya.
"Kamu cukup duduk di belakang jika kamu tidak bisa menahannya."
Bern berjalan maju tidak bisa melihat mata tidak puas Zion.
'Apa gunanya kamu mengatakan itu ketika kamu yang paling menderita?'
Zion di penuhi tekad membara.
Dengan begitu, mereka kembali masuk ke dalam tembok yang penuh dengan binatang iblis.
Hanya hujan dan kegelapan yang menemani mereka.
.
.
.
.
.
...**Bersambung**...