From No Body To Hero

From No Body To Hero
Episode 43



"Baiklah, walau kamu kuat dan hebat, kamu masih junior. panggil aku senior! Terbang dan bantu aku menyiram teman teman mu." Shin awalnya merasa kekok, tapi Bern anak yang baik, tidak mungkin membuat masalah.


"Baiklah." Balas Bern dan berdiri di atas sapu terbang.


"Ka, kamu berdiri di atasnya?" Soal Shin kaget.


"Sulit bertempur ketika duduk." Bern menerbangkan sapunya dan bisa terbang dengan normal.


Shin memikirkan bagaimana ada orang yang semahir itu ketika umurnya baru 16 tahun? Tapi yah, melihat orang hebat membuat matanya sejuk.


Buat apa iri ketika kita bisa melihatnya saja? Melihatnya terbang saja keren, apalagi ketika bertempur?


"Wau, apa aku bisa menjadi fans mu juga? Kamu junior yang hebat!" Ucap Shin juga terbang.


Bern mula menyukai sifat Shin yang tidak terlalu peduli dengan kekuatan orang lain lebih kuat atau tidak. Dia seseorang yang mudah bergaul.


"Zion, fokus pada mengendalikan mana, kamu akan mati jika perlu bertempur di langit jika terus seperti ini." Ucap Bern mengetuk lembut kepala Zion dengan tangannya.


'Kapan dia di sana!?' Semua orang kaget.


Bern menatap mereka semua yang sangat amatir dalam mengendalikan mana.


"Baik, akan tidak adil jika aku menggunakan mana begitu saja ketika menyerang kalian. Aku akan menutup mataku dan kalian hindari itu." Ucap Bern dan menutup matanya dengan kain.


Shin kehilangan kata kata melihat Bern dengan percaya diri menutup matanya.


"Baik, mari mulakan!"


Shin berteriak ketika dia menembak para juniornya dengan bola air yang hangat.


Sudah 5 menit, namun Bern tidak melancarkan serangannya.


"Bern, ada apa?" Tanya Shin.


"Tidak, mereka terlalu perlahan." Ucap Bern ketika dia langsung menembakkan bola air tepat pada beberapa pelajar.


Shin terdiam. Bahkan dengan mata tertutup, Bern bisa menyerang dengan baik?


Kelas selesai dan Bern kembali ke asramanya ingin di dekorasi. Dia menatap lama asramanya sebelum mula menggunakan mananya untuk menggerakkan barang barang.


Memasang langsir, memasang karpet, dekorasi bunga bungaan dan banyak lagi. Dan setelah selesai, dia berbaring di tempat tidur dan menikmati kenyamanan kasur itu.


["Wau, dia benar benar mengubah asrama ini menjadi kamar seorang tuan muda."] Gumam Alastair kaget.


{Wau! Karpetnya sangat lembut!} Ucap Althea berguling guling di karpet.


-Grooool!!!


Naga biru itu juga terlihat bersemangat.


Bern duduk dan menatap naga biru itu.


"Hei naga biru, kapan kamu akan bisa berbicara?" Soal Bern.


-Gwool!


Naga biru menunjukkan 2 cakarnya.


"2 tahun?" Soal Bern. Namun naga menggelengkan kepalanya.


"2 bulan?" Soal Bern lagi. Naga biru tersenyum dan mengangguk.


Bern tidak terlalu memikirkannya ketika dia kembali berbaring.


"Apa lagi yang harus aku lakukan?" Gumam Bern memikirkan dia masih punya satu hari.


Bibirnya berbentuk senyuman dan memikirkan apa yang akan dia lakukan besok.


.


.


Keesokan harinya, di ruang Osis.


"Ketua! Pelajar Bern Kailyth memukuli banyak bangsawan hari ini!" Ucap anggota Osis.


Wanita yang terlihat tegas, juga membawa hawa dingin hanya dengan menatap matanya yang berwarna ungu, menatap tajam anggota Osis itu.


Anggota Osis terdiri dari mereka yang ingin terus berada di academy bahkan setelah kelas magang. Tugas mereka adalah mendisplinkan murid yang sombong.


"Bawa dia ke sini."


Rambut putihnya bersinar mengenai cahaya matahari ketika dia berbicara.


Dia terlihat indah, namun sangat sulit untuk di dekati. Sama seperti bunga ros yang cantik namun berduri.


.


.


Bang!


"Apa yang kau inginkan?" Bern yang menendang pintu, masuk begitu saja tanpa salam.


Ketua Osis menatap Bern semakin tajam.


"Mengapa kamu memukuli para bangsawan tanpa alasan?" Soal ketua Osis.


"Hnm? Soal itu? Salahkan mereka kerana mengejekku sebelumnya. Dia hebat kerana jenius, apa yang hebat dengan itu? Dia hanya orang rendahan, dia bahkan di buang keluarganya, Dia pasti menggunakan kekuatan iblis untuk menjadi lebih kuat. Apa aku harus diam? Yah, dulu aku diam, namun aku masih marah." Balas Bern tersenyum.


Bern tidak pernah peduli tentang itu, namun kepribadian gandanya membenci di pandang rendah, apalagi dari orang yang bahkan bukan kerikil jalanan.


Ketua Osis terdiam seketika.


"Aku paham situasi mu. Namun aku yang harus mengurusnya jika keluarga mereka angkat bicara." Balas ketua Osis.


Bern mengklik lidahnya.


"Memangnya, apa yang bisa mereka lakukan ketika semua kelemahan mereka ada di tangan ku? Jika aku memberikan kelemahan itu ke Leo, repotasi mereka akan jatuh dan hilangnya kepercayaan dari pangeran mahkota." Ucap Bern percaya diri.


Kemudian dia melihat wajah ketua osis dengan teliti.


"Ketua, apa kamu bukan dari kerajaan Sun?" Soal Bern melihat rambut putihnya yang mengingatkannya pada salju.


Ailen memiliki warna rambut perak, tidak murni putih. Dan ciri ciri dari rambut putih adalah mereka dari kerajaan Froze, yang membeku sepanjang tahun hingga gen dalam tubuh mereka membuat rambut mereka putih. Kerana itu, rambut merah yang melambangkan api, dan mata hijau melambangkan kesuburan menjadi ciri ciri darah dari keluarga kerajaan.


'Rambut seperti itu pasti sangat mencolok hingga mudah di targetkan.' Pikir Bern ketika membaca itu di buku.


Bern menatap ketua osis dengan santai membuat alis ketua osis berkerut.


"Ya, aku memang memiliki darah orang kerajaan Froze. Dan aku anak haram dari Count terkaya di kerajaan ini, apa ada masalah dengan itu?" Ucap Ketua Osis sangat dingin.


Bern menatap tag nama yang berada di dadanya.


[Xestroy Lumi.]


Count Xestroy adalah count terkaya, juga memiliki keluarga yang harmonis walau sempat bertengkar kerana anak haram count.


"Sepertinya kamu memiliki masalah dalam kepercayaan diri." Ucap Bern dan ingin pergi.


"Apa maksud mu? Aku percaya pada kemampuan ku." Ucap Lumi sangat dingin.


Bern berbalik dan tersenyum seolah merendahkan.


"Kamu berdarah Froze, tapi kamu mencintai kerajaan Sun, namun tidak mudah di terima ketika kamu berdarah campuran. Itulah mengapa kamu bertindak kuat sekarang, bukan? Es itu sejuk dan menyenangkan, namun bisa berbalik menusuk mu jika kamu terlalu tenggelam ke dalamnya." Ucap Bern dan langsung pergi.


Lumi memegang wajahnya ketika Bern menghilang. Dia bisa merasakan topeng yang iya kenakan. Topeng yang membuatnya kekal tabah menghadapi orang yang merendahkannya.


Namun semakin lama, itu menjadi satu dengannya hingga tidak bisa di tanggal sama sekali. Menjadi tangguh adalah prioritas utama. Dia tidak bisa terlihat lemah.


.


.


.


Bern yang menghajar para bangsawan itu, tersenyum puas ketika dia menutup matanya untuk tidur.


Keesokan paginya.


Tangan Bern bergetar ketika membuka lemarinya.


"Alastair, kemana barang barang ku yang lama?" Soal Bern dengan suara kaku.


"[Hnm? Kamu sendiri yang membakarnya.]" Balas Alastair yang melapisi roti dengan madu.


Bern merasa ingin menghantukkan kepalanya ke dinding. Kerana semuanya sudah di bakar, apa yang bisa dia lakukan selain memakai pakaian mahal itu.


Yah, walau itu hanya kemeja putih kosong dan seluar hitam yang membuatnya terlihat seperti pekerja kantoran.


"Apa aku terlihat baik baik saja?" Soal Bern.


Ketiga anak itu mengangguk.


Bern mengambil getah dan mengikat rambutnya, memakai mantel yang sudah di modifikasi oleh Bern yang lainnya, lalu melihat kacamata satu mata di meja.


Dia memakainya, supaya tidak terlalu mencolok. Mereka bilang seseorang yang memakai kacamata itu cupu, bukan?


Klang!


Bern mendengar sesuatu terjatuh, dan menatap Alastair yang menjatuhkan pisaunya. Althea dan naga biru ternganga.


Bern mengambil pisau itu dan duduk menikmati sarapannya sebelum matanya tertumpu pada naga biru.


"Apa kamu punya nama?" Soal Bern pada naga biru. Kerana naga setelah menetas langsung bisa memahami percakapan manusia, Bern berpikir naga itu mungkin punya nama sendiri.


-Grooool.....


Naga biru itu menggeleng sedih.


"Mau ku beri satu?" Soal Bern.


Naga itu bersemangat dan mengangguk keras.


Bern memikirkan sebentar ketika "Nerio Elan" keluar dari mulutnya.


{Nama yang bagus! Apa maksudnya!?} Soal Althea tertarik.


Alastair adalah pelindung, sedang Althea adalah penyembuh. Nama yang mudah, namun bermakna buat mereka.


"Air kebahagiaan." Jawab Bern singkat.


Kerana naga biru menetas di laut, maka dia pasti memiliki atribut air.


"Jadilah naga yang bahagia hingga akhir." Sambung Bern.


Pupil mata naga itu bergetar sebelum berair dan memeluk Bern dengan erat.


Sebagai telur naga, setelah bersenyawa, mereka bisa mendengar dan memahami apa yang orang di sekitarnya berbicara tentangnya.


Menjadi monster adalah kata yang sering dia dengar hingga dia selalu enggan keluar.


"Tugas mu sekarang cuman makan dan tumbuh. Aku tidak perlu kamu menjadi kuat." Ucap Bern ketika memberikannya daging.


Althea dan Alastair menatap sesama sendiri.


Entah mengapa, Bern memberikan sensasi seperti ayah yang merawat anaknya. Itu berlaku untuk ketiganya ketika Bern selalu mengutamakan mereka terlebih dulu dalam segalanya.


Alastair yang tertua, Althea yang tengah dan Nerio si bungsu.


{Apa di masa depan kita akan dapat adik lagi?} Bisik Althea.


["Mungkin. Tapi bisa juga Bern mendapatkan anaknya sendiri, bukan?"] Balas Alastair berbisik juga.


Bern datang ke kelas lebih awal dari siapapon seperti biasa. Dia merenggangkan tubuhnya, dan Hector masuk dengan tasnya menatap Bern di kelas.


"Rajin kamu hari ini? Kamu selalu muncul di saat akhir." Sapa Hector.


Bern tidak kaget kerana mendengar langkah kaki.


"Iya. Maafkan kelakuan saya 2 hari lepas. Selamat pagi, senior." Balas Bern sopan sambil menundukkan kepalanya.


Hector mengingat teman Bern bilang bahwa 3 hari lepas, adalah kepribadian gandanya.


Dia awalnya tidak percaya, namun setelah melihat bagaimana cara berbicara dan berpakaian Bern yang sangat berbeda, dia tidak punya pilihan selain percaya.


Bern menatap wajah Hector yang memiliki parut di pipi dan dahinya cukup lama.


"Apa yang kamu lihat?" Soal Hector. Dia berharap Bern tidak mengatakan seperti surat cinta atau apalah.


Bern menggeleng dan mula bergerak dengan tongkatnya.


"Kamu bawa tongkat?" Hector perasan dua hari lepas, Bern tidak membawa tongkatnya bersama.


Bern tidak membalas ketika tongkat kayu yang menjalar itu mula bergerak dan berubah menjadi pedang.


Hector cukup tertarik dengan gerakan Bern yang sangat mulus.


"Lawan dengan ku." Ucap Hector.


Bern menatap Hector lagi.


"Berapa umur mu?" Tanya Bern.


"Umur? 23 tahun." Hector membalas jujur. Di kelas magang, di umur segitu cukup muda.


Bern mengangguk.


"Maka, aku tidak akan berlembut." Balas Bern dan bersiap menyerang.


Hector mengambil pedangnya dan mula menyerang Bern juga. Tentu, tidak seperti Bern yang lembut pada anak anak, Bern tidak masalah menyiksa sedikit dalam latihan bagi mereka yang di atas 20 tahun.


Yah, walau itu beda cerita untuk anak anjingnya.


Buk! Clang! Swiss!


Bern menang dengan pedang di leher Hector.


"Mengapa kamu masih di kelas 2 coba? Naik sana ke kelas magang." Ucap Hector frustasi kerana kalah.


Bern hanya diam tidak membalas.


"Hei, bagaimana kamu bisa mendapatkan kulit yang gelap?" Soal Bern tiba tiba membuat Hector kaku.


Baru Hector paham apa yang Bern gumamkan tentang tipe ketampanannya. Bern ingin memiliki kulit gelap.


"Berjemur di bawah matahari?" Balas Hector yang secara alami menjadi gelap kerana matahari membakar kulitnya.


Bern terlihat sedikit kecewa.


"Ada apa?" Soal Hector.


"Aku selalu berjemur seharian ketika berkeliling, dan aku bahkan sudah mandi air hujan hitam." Ucap Bern lemah.


Hector menjadi serba salah dan mengingat sesuatu.


"Kamu bisa mengubah warna kulit, mata, dan rambut dengan sihir. Itu dinamakan sihir penyamaran. Bagaimana jika kamu mencobanya?" Ucap Hector.


Bern sedikit tertarik, dan mengambil cerminnya. Kulitnya perlahan sedikit gelap, namun warna mananya aja putih, membuat warna kulit Bern menjadi manusiawi saja.


Kulit Bern putih mulus seperti cewek, apalagi di tambah dia sering sakit hingga terlihat pucat.


Crack!


Kaca di tangan Bern pecah.


'Sepertinya aku benar benar tidak bisa berkulit gelap.' Pikir Bern ketika menghilangkan sihirnya.


Tapi dia tidak masalah mengubah warna rambut dan matanya membuat Bern bingung.


"Ada ya, orang yang tidak di takdirkan bisa menjadi gelap. Cewek cewek akan iri dengan mu, tahu." Ejek Hector ketika pelajar lainnya mula masuk ke kelas.


Mereka semua bisa melihat pakaian Bern yang tidak terlalu bagus namun masih menunjukkan ketampanannya juga berubah menjadi sosok yang terlihat begitu dewasa.


"Apa yang kalian lakukan? Hector, kamu terlihat berantakan." Tanya Shin membersihkan debu di tubuh Hector.


Bern tunduk hormat dan berjalan ke arah Anton dan Ailen yang baru saja tiba.


"Bocah itu mengalahkan ku dalam berpedang. Aku pikir kamu harus berpikir 2 kali sebelum menyuruhnya melakukan sesuatu." Hector tersenyum mengejek ketika melihat tubuh temannya yang kek cewek.


Yah, semua penyihir seperti itu. Mereka fokus pada mana hingga mereka mengabaikan kondisi fisik mereka.


Shin menelan ludah ketika melihat Bern mencubit Anton secara perlahan bahkan Anton hanya tertawa.


Dan tangan itu yang mengalahkan temannya?


"Daddy Bern, ampuni aku." Ucap Anton ketika di cubit. Dia menggoda Bern seperti itu kerana dia terlihat seperti orang dewasa.


Ailen menahan tawanya hingga pundaknya bergetar ketika Zion dan Uen tiba. Lewis juga tiba agak terlambat kerana berlatih hingga lewat malam.


"Kamu baik baik saja?" Soal Bern ketika menatap bawah mata Lewis yang hitam.


Lewis mengangguk. Dari terlihat lelah, dia terlihat bersemangat.


"Ahem, kerana aku dan Hector sudah setuju, apa yang perlu kalian lakukan hari ini adalah menangkap kami. Kami tidak bisa menyerang kalian. Namun...." Shin menatap Bern.


"Bern, kamu juga menjadi mangsa di sini, dan bisa menyerang mereka. Tapi jangan berlebihan." Sambung Shin dan Bern mengangguk tanpa bantahan.


Mereka semua mula berpikir untuk mengabaikan saja Bern dulu dan fokus menangkap Shin yang terlihat paling mudah.


"Baik, mari mulakan!" Ucap Shin bersemangat ketika terbang dengan penyapunya masuk ke hutan.


'Mereka semua pasti akan mengejarku.' Pikir Shin tersenyum.


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...**Bersambung**...


Ok, ini episode kali ini!? Bagaimana? Aku mau sambung tapi males kerana aku overnight tadi malam dan mengantuk.


Tapi aku baik baik saja kok!


See you next time! Tata 👋