
Keesokan pagi.
'Apa yang terjadi ketika aku tidur?'
Anton menanyakan itu di benaknya ketika melihat kamarnya yang sudah tidak memiliki kotak. Kotaknya sudah terlipat rapi di sudut ruangan.
Bern masih tertidur namun dengan bantalan dan selimut yang empuk dan hangat.
Dapur mereka juga di penuhi dengan makanan.
'Mari tidak pikirkan apapon lagi.'
Anton bangun dan mengabaikan hal itu. Dia mandi dan bersiap. Pakai wangi wangian dan pakaian yang mencolok. Mana tahu dapat pacar di sana....
'Anak itu belum bangun?'
Anton yang mengambil masa 2 jam untuk bersiap melihat Bern dengan tidak percaya.
"Bern, bangun."
Dengan sapaan kecil, Bern bangun dengan sedikit mamai. Sepertinya dia hanya bisa tidur 3 jam hari itu.
Bern bangun dan bersiap dalam 10 minit. Dia memakai apa saja yang ada di lemarinya dan sedikit membenarkan rambutnya.
Pap, pap, pap.
Anton bertepuk tangan. Selamat tinggal Bern yang selekeh, selamat datang Bern yang kemas. Dan itu hanya perlu 10 minit.
"Wajah benar benar segalanya. Walau kamu pas pasan, kamu masih terlihat tampan."
Anton mengatakan itu dengan nada sedikit iri. Wajah mereka sama sama pas pasan. Namun Bern lebih sedikit berupa. Bulu matanya yang panjang dan hidung yang tinggi. Sedang Anton memiliki bulu mata yang pendek dan hidung tinggi juga. Namun parut di mata kirinya kerana sangat nakal sewaktu kecil membuatnya sedikit kehilangan.
"Mengapa kamu bisa memiliki parut?"
Bern bertanya sambil memakai tali leher.
"Ini? Ouh, aku sangat nakal ketika masih kecil. Aku jatuh dari pohon ketika mencuri epal dan mendatangkan parut ini."
Anton mengingat ibunya sangat khawatir dan ayahnya hingga pulang dari perjalanan bisnes melihat keadaannya. Dan setelah dia pulih, dia di bantai ibunya habis habisan. Dia sangat takut dengan ibunya bahkan sebelum kejadian itu.
"Apakah begitu? Kamu tidak terlihat seperti itu."
Selama Bern di sana, Anton adalah sosok yang baik dan pengertian. Juga dia tidak mudah marah dan sangat mudah di ajak bicara.
"Semua orang bisa berubah."
Bahkan bocah setan bisa menjadi malaikat ketika dewasa. Mengapa anak nakal tidak bisa menjadi baik?
Yah, alasan sebetulnya, sifat nakalnya masih tersisa. Namun dalam erti yang berbeda. Seperti bolos kelas dan sebagainya.
Tok, tok.
Pintu di ketok dan Anton seperti biasa tukang buka pintu membukanya. Dia terkaku kaget.
"Ya, yang mulia! Se, selamat datang!"
Yah, semua orang akan sangat kaget dan canggung jika bertemu pangeran manapon.
Anton tunduk dan Kleio mengabaikanya.
Bern menyelesaikan ikatan tali lehernya dan pergi ke pintu dan mengabaikan Anton yang tunduk juga.
Kleio menatap Bern dari hujung rambut hingga kaki beberapa kali. Dia mengangguk seolah puas.
"Mari pergi ke jamuan. Kalian akan menaiki kereta kuda bersama ku."
Anton yang sudah berdiri sejak Bern mendekat sangat kaku dan kekok.
"Leo, apa kamu punya sarapan? Aku belum makan."
Anton tersentak mendengar Bern berbicara sangat informal pada pangeran mahkota yang dia jauhi sebelumnya.
Kleio juga mengangguk seolah tidak peduli. Bern mula mengikutinya dan Anton dengan kekok mengikuti mereka.
****
Kaliup, kaliup.
Bunyi kaki kuda menghiasi jalan. Banyak pelajar yang datang menaiki kuda dan kereta kuda juga.
Suara tawa pelajar menghiasi suasana. Namun 1 kereta sunyi.
'Ibu, biarkan aku turun....'
Anton sangat gugup hingga dia berkeringat deras. Dia duduk di hujung kereta seolah tidak mahu mengotorinya.
Namun Bern dengan santai makan kue dan biskut yang di sediakan Kleio. Kleio menatapnya dengan puas dan tentu saja mengabaikan Anton yang seperti tikus di depan harimau.
Bern makan sambil menatap ke luar jendela kereta. Anton melakukan yang sama. Hanya wajahnya yang sangat kaku.
"Kamu datang dengan ku, jadi kamu tahu apa yang perlu di lakukan, kan?"
Kleio bertanya.
Dengan santai, Bern mengangguk seolah itu bukan hal yang sulit.
Yang perlu di lakukan Bern hanyalah menolak ajakan para senior memasuki kumpulan mereka.
Kelas di academy itu ada 5.
Pemula
1
2
3
4.
Kelas pemula adalah kelas membosankan di mana pelajar akan mendengar ceramah dan mencatat belbagai hal untuk 6 bulan.
Kelas 2 adalah kelas untuk menentang para senior. Mereka akan di pertemukan dengan kelas 4 dan bertarung dengan mereka. Mereka akan naik kelas setelah 3 bulan.
Kelas 3 adalah kelas yang akan di ajarkan pembunuhan binatang iblis. Mereka akan mula bertarung dalam kumpulan yang di bentuk di masa depan dan bahkan bisa membawa adik kelas. Itulah tujuan perjamuan ini. Sangat bagus jika tidak memasuki kumpulan yang hanya ingin membuat kalian menjadi perisai daging.
Kelas 4 tidak akan ada di jamuan. Mereka akan magang dan melalui masa tempur sebenar dengan militer atau pusat lainnya. Magang akan berakhir hingga komandan atau ketua yang menjaga kalian mengakui kalian. Setelah itu, kalian secara resmi akan menjadi apa yang kalian impikan.
Juga guru tidak akan hadir dalam jamuan itu. Bagaimana pelajar ingin berbual jika ada guru? Rasanya pasti tidak menyenangkan.
Tiba tiba, firasat Bern memburuk. Rasanya sesuatu yang sial akan terjadi. Bern masih menatap langit dengan santai.
"Anton, firasat ku tidak enak.Jika sesuatu terjadi, pastikan tidak ada yang jatuh."
Anton yang canggung menatapnya dengan aneh. Namun dia mengingatnya di benaknya walau dia mengabaikannya. Bagaimana dia bisa melupakan itu ketika pangeran mahkota menatapnya buat pertama kali kerana Bern berbicara padanya.
Namun dia memikirkan apa yang bisa berlaku ketika cuaca sangat cerah? Mungkin itu hanya perasaan Bern. Bahkan dirinya akan punya firasat buruk kerana bersama pangeran mahkota.
****
Kaliup.
Mereka berhenti setelah 15 minit perjalanan dari asrama mereka. Kleio keluar dari kereta dengan santai. Anton terlihat takjub dengan keindahan aula perjamuan. Itu sangat besar hingga bisa memuatkan 10,000 orang di sana.
Bern masih santai melihat aula. Itu benar benar terlihat mewah. Namun dia tidak bisa menurunkan penjagaannya ketika firasatnya buruk. Sesuatu pasti akan terjadi.
Mereka semua masuk dengan pakaian yang mencolok dengan senjata mereka. Bern mencolok dengan tongkat besarnya. Kleio mencolok dengan wajahnya yang tampan juga langka kerana hanya keluarga kerajaan yang akan memiliki rambut emas dan mata merah. Anton mencolok dengan cara dia berpakaian yang membuatnya setaraf untuk berjalan bersama Kleio.
Namun dia di dalam sangat gugup.
Dung. Dung.
Jamuan di mulai dan diiringi music yang menghibur.
Anton dan Bern mengikuti Kleio yang melakukan perang lidah. Mereka hanya duduk di belakang kerana perang lidah bukan kemampuan mereka. Bisa bisanya mereka yang terjerat dalam permainan itu.
"Hhoam..."
Anton menguap dan menyiku lengan Bern.
"Makan yuk. Aku lapar."
Anton berbisik dan Bern hanya mengikutinya. Kleio pasti baik baik saja bermain pedang di bawah lidah sendirian.
Kleio menoleh ke belakang dan Bern sudah menghilang juga Anton.
Kleio tidak perlu terlalu keras berpikir ke mana mereka pergi. Dia meninggikan sedikit lehernya dan dengan cepat dapat melihat seseorang dengan tongkat besar di meja makan.
Seorang yang membawa tongkat besar dengan expresi tenang walau piringnya terus di penuhi segunung makanan oleh seseorang yang membawa tombak.
"Kakak."
Tiba tiba ada yang menyapanya memebuatnya menoleh. kedua orang itu memiliki rambut emas dan mata merah sama sepertinya. Wajah mereka sedikit seiras. Namun seorang berwajah dingin dan seorang berwajah ceria. Pangeran kembar dari ratu ketiga.
"Zion, kamu juga ke sini? Aku pikir kamu tidak menyukai jamuan seperti ini."
Kleio juga menyapanya dengan ramah. Kembar Zion, Uen Mark, menatap Kleio dengan tatapan jijik.
"Berhenti gunakan pedang di bawah lidah."
Tidak seperti Zion yang ramah, Uen adalah sosok yang dingin.
Mata Zion melihat Bern dan ingin berjalan ke arahnya. Namun kerahnya di tarik Uen.
"Sudah ku bilang jangan berbuat seenaknya."
Uen dengan dingin mengingatkan kembarnya itu. Zion hanya memuncungkan bibir seolah ngambek. Uen memijat batang hidungnya dengan expresi sakit kepala.
'Apa yang membuat anak ini sangat tertarik pada si tongkat besar itu?'
Uen di penuhi omongan yang mengatakan dia sangat mengagumi orang yang memiliki tongkat besar. Zion terus membicarakannya untuk 2 minggu terakhir.
Kleio mengabaikannya dan ingin ke arah Bern. Namun dia terhenti dan mengerutkan kening melihat seseorang mendekati Bern.
Orang yang sama sepertinya juga. Pangeran ke 3, Hilen Mark. Dia adalah slaah satu musuhnya yang tidak bisa dia abaikan seperti pangeran kembar. Mereka hanya berjarak 5 bulan.
"Hormat yang mulia."
Anton dengan mudah tunduk dengan penuh kesopanan. Bern mengikutinya dengan sedikit kekok kerana piringnya memiliki segunung makanan.
"Langsung ke intinya. Bergabung dengan ku."
Hilen tidak berniat basa basi ketika dia adalah seorang pangeran. Dia tiba bersama Kleio. Jadi dia sebenarnya tahu orang di depannya adalah anjing Kleio. Niatnya adalah merampas hak kakaknya yang menyebalkan itu.
'Sial.'
Kleio mengumpat dalam benaknya dan menatap Hilen dengan tajam. Mata mereka bertemu dan Hilen tersenyum ramah namun matanya dingin. Dia ingin mengambil semua milik kakaknya itu.
Juga setelah di selidiki, orang di depannya hanya terikat dengan gaji. Orang seperti itu pasti mudah di bawa ke sisinya.
"Bagaimana menurut kalian? Aku bisa memberikan 3,000 emas untuk itu."
Kleio semakin berkerut dan Anton hanya melihat ke arah Bern yang masih menunjukkan wajah santai. Anton tahu yang diinginkan Hilen adalah Bern, bukan dirinya.
Tapi dia juga akan mencoba menolak jika dia berada di posisi Bern. Itu kerana pangeran ketiga adalah pangeran yang kejam dan sadis. Semua orang tahu itu.
'Apa yang akan dia lakukan?'
Semua orang memiliki pemikiran yang sama.
.
.
.
.
.
...**Bersambung**...