
2 minggu kemudian di asrama Bern.
"Kita akan tidur di atas kotak jika pangeran mahkota mengirim hadiah lagi."
Anton dengan santai meletakkan kotak yang sudah seperti hiasan kamar yang berlebihan.
Bern menghela nafas melihat kotak kotak itu. Sangat menyebalkan baginya. Namun apa yang bisa dia lakukan? Dia tidak bisa membuang barang mahal itu sembarangan.
"Ouh, kamu ingat kan, akan ada perjamuan untuk pelajar baru? Setelah itu kita akan mulakan kelas dan kamu tidak akan bisa berkerja lagi."
Bern mengangguk. Walau begitu, dia masih harus pergi berkerja.
"!!?"
Bern sedikit kaget ketika membuka pintu dan seorang pengirim barang ingin mengetok pintunya.
"Pengiriman untuk Ber..."
Belum habis pengirim barang itu mengucapkan kata, mana yang liar menekan pengirim kotak itu hingga terdiam.
"Kirimkan kembali kotak itu ke pemiliknya."
Dengan dingin, Bern meninggalkan pengirim itu. Pengirim itu menatap Anton dan anton mengangkat pundaknya.
****
Pengirim itu kembali dan dengan gugup mendekati Kleio.
"Yang mulia, saya takut, anda harus berbicara secara peribadi. Dia sepertinya sangat sukar di bawa bicara."
Kleio dengan dingin menatap kotak yang ada di tangan pengirim. Pengirim hadiah itu adalah bawahannya yang terpercaya.
Kleio memberikannya makanan dan dia berhutang budi dan tidak akan menghkianatinya hingga akhir.
Itu adalah ikatan yang dia sukai. Dan sangat sukar baginya mengikat Bern ke sisinya dengan ikatan itu ketika Bern terus menolak hadiahnya.
Kleio berjalan pergi tanpa menjawab bawahannya.
****
"Woahm..."
Bern menguap. Tubuhnya sangat letih mengingat dia menajamkan 100 pedang dengan 1000 koin perak. Yah, lumayanlah jika di bandingkan gaji di tempat lain.
Tiba tiba dia melihat seorang anak yang memasukkan roti ke dalam kotak. Bern sedikit kesal mengingat kamarnya sudah menjadi ruang penyimpanan kotak.
"Bisakah anda berhenti, yang mulia?"
Kleio tersentak dan menatap Bern yang sedang menatapnya dengan tangan yang bersilang. Kleio adalah pangeran mahkota, tapi entah mengapa, dia merasa sangat kecil di bandingkan orang yang berada di bawahnya. Yah, walau itu hanya berjarak 1 tahun.
"Aku akan berhenti jika kamu menerima apa yang aku berikan."
Kleio mengatakan itu dan tatapan matanya tegas.
"Hah......"
Bern menghela nafas membuat Kleio tersentak lagi.
"Yang mulia, saya berterima kasih pada anda memberikan hadiah, tentu saja. Namun jika anda bertujuan mengikat saya, cukup memberikan saya gaji."
Kleio terdiam. Dia tidak suka dengan hubungan yang sangat rapuh seperti itu. Melihat Kleio yang diam, Bern menghela nafas pelan.
"Saya akan membayar hutang saya dengan usaha saya sendiri. Saya yang menggunakan uang itu, jadi saya harus melakukannya sendiri. Juga impian saya tidak bisa di beli dengan uang."
Kleio tersentak.
"Apa impian mu itu?"
Kleio dengan cepat bertanya.
'Keluarga.'
Kata itu hampir saja keluar dari mulut Bern. Dia mengingat tubuh yang sekarang dia duduki masih memiliki keluarga. Sangat berbeda dengan dirinya yang yatim piatu sedari kecil.
Bern menatap langit yang di penuhi bintang sangat indah. Sangat indah namun sangat sepi.
"Yang aku impikan adalah keluarga tanpa pertalian namun kokoh. Tanpa ikatan hutang budi atau nyawa. Hanya menganggap aku adalah aku. Menganggap aku adalah seseorang yang bernama Bern Kailyth, tidak lebih dari itu."
Kleio terdiam. Walau Bern menggunakan kata informal, Kleio tidak bisa merasa marah. Matanya terpaku pada mata kesepian Bern yang sepertinya tidak bisa di sembunyikan walau wajahnya sangat tenang.
Angin bertiup di antara mereka yang diam.
Kleio mula berpikir, apa yang selama ni bawahan terpercayanya memikirkan tentang dia? Pengeran mahkota? Penyelamat hidup? Apa mereka pernah berpikir dia hanyalah manusia bernama Kleio?
"Apa-"
'Apa itu bisa di hujudkan?' Itulah yang ingin dia ucapkan. Namun, Bern menoleh ke arahnya dan bibirnya membentuk senyuman lembut. Itu membuatnya diam.
"Maaf. Tidak perlu di pikirkan, yang mulia."
****
'Maaf. Tidak usah di pikirkan, yang mulia.'
Kata itu masih terngiang di benak Kleio. Bern sudah lama meninggalkannya. Namun wajahnya yang tersenyum lembut dan mata yang kesepian masih memenuhi pikirannya.
Itu adalah senyuman pertama yang dia lihat sejak dia mengenalnya. Namun itu tidak membuatnya merasa senang.
Kleio mengertak giginya dan menggenggam erat kotak yang di pegangnya.
****
Tok, tok, tok.
Ketukan ringan terdengar dan Bern langsung bangun. Itu adalah kebiasaannya untuk bangun hanya dengan ketukan ringan. Bern pergi ke pintu dan membukanya.
"Ha.... Hah...."
Dia melihat Kleio yang tertunduk penuh keringat dan bernafas berat seolah baru berlarian.
"Yang- !!?"
Bern ingin menyapanya namun Kleio langsung menolak kotak di tangannya pada Bern hingga Bern sedikit tertolak ke belakang. Bern hanya mengambilnya untuk saat ini.
"Sebulan, hah.... 1000 emas setiap bulan. Itulah gaji yang akan aku berikan."
Dengan tajam, Kleio menatapnya.
Itu adalah tawaran yang menggiurkan bagi Bern yang miskin. Namun dengan gaji yang besar, datangnya kerja yang sukar.
"Apa yang harus saya lakukan?"
Bern bertanya tanpa basa basi.
Kleio tersenyum.
"Tidak ada."
Gaji besar namun tidak perlu berkerja.
"Cukup berada di sisi ku dan tidak berpihak pada pangeran lain."
Itu sama saja di suruh menjadi anjing yang terikat. Namun bibir Bern yang kaku itu mengukir sedikit senyuman seolah dia mengenang sesuatu.
"Saya dengan senang menerimanya, yang mulia. Namun saya punya syarat."
Kleio tersentak namun menenangkan dirinya. Dia mengangguk seolah tidak peduli.
"Di masa depan, apa pon yang saya lakukan, akan berada di bawah nama anda, yang mulia."
Kleio tersentak.
"Apa kamu ingin membalas dendam?"
Namun Bern menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu pikir aku akan menyuruh mu membunuh?"
Kleio terlihat tidak percaya. Dia tidak seperti itu walau dia juga bisa membunuh. Dia lebih suka melakukan itu sendiri.
"Ini hanya syarat yang saya bagi untuk berkerja dengan seseorang yang belum saya kenali dengan baik."
Bern mengungkapkan hal yang wajar. Tidak mungkin seseorang yang pintar dan jenius dalam sihir sepertinya akan mengambil pekerjaan tanpa syarat.
"Baiklah."
Kleio hanya setuju walau tidak puas.
"Juga,..."
Kleio berhenti sejenak.
"Iya, yang mulia?"
Kleio mengerutkan keningnya tidak suka dengan cara formal Bern.
"Seperti yang kamu inginkan, aku akan menganggap kamu keluarga ku. Mulai sekarang, panggil aku Leo."
'Leo'
Itu adalah nama panggilan yang di berikan ibunya. Tidka ada yang bisa memanggilnya dengan nama panggilan itu. Bern adalah satu satunya.
Bibir Bern sedikit terbuka seperti sedikit kaget dan mengukir senyuman lembut lagi.
"Baik, aku akan melakukan itu."
Kleio puas dengan itu.
"Arahan pertama bos mu ini, adalah berapkaian yang rapi. Gunakan semua yang aku berikan. Jangan membuat bos mu ini malu."
Kleio mengatakan itu setelah melihat Bern sangat selekeh. Juga kerana kesal melihat kotaknya yang terlihat seperti hiasan kamar dan bahkan ada yang tidak di buka.
"Baik."
Dengan begitu, ikatan mereka terbina. Ikatan yang tidak begitu kokoh. Namun Bern tidak akan menghianati tuannya ketika dia sudah mimilihnya.
.
.
.
.
.
...**Bersambung**...