
Tawaran yang di berikan Hilen menggiurkan. Namun Bern tidak punya niat menerimanya. Namun dia di dalam keadaan yang menentukan nasibnya di masa depan.
Jika dia menerima, Bern harus menjadi anjing yang patuh pada seseorang yang bahkan tidak menunjukkan kebaikannya padanya. Jika dia menolak, dia pasti akan di tekan oleh kekuasaan yang di pegang Hilen sebagai seorang pangeran.
Semua orang tahu kepahitan untuk menolak pangeran ketiga. Kleio hanya melihat dari kejauhan. Walau dia seorang pangeran mahkota, kekuasaan yang di pegang ratu kedua cukup untuk menekannya.
Bern mula membuka mulutnya.
"Tidak."
Semua orang tersentak mendengar jawaban Bern yang singkat dan padat.
"Apa kamu merendahkan ku? Tidak ada yang bisa menolak tawaran ku, kamu tahu."
Wajah Hilen berubah dingin. Di masa depan, Bern pasti akan di sulitkan olehnya.
"Saya adalah anjing yang setia, yang mulia. Saya tidak berniat merendahkan anda."
Bern tunduk seperti minta maaf. Menyebut dirinya adalah anjing adalah jalan keluar yang mudah. Namun harga diri mereka akan tercoreng kerana itu. Seseorang harus berpikir 2 kali sebelum melakukan itu.
"Di mana harga diri mu?"
Hilen tersenyum mengejek.
"Mengapa itu penting?"
Hilen tersentak dan menatapnya dengan tajam. Menyebut diri sendiri adalah anjing, apa lagi yang lebih memalukan?
"Harga diri tidak akan membawa anda ke kejayaan. Harga diri tidak akan membuat anda kenyang. Harga diri kapan saja bisa di perbaiki. Namun sekali anda mengkhianati, kata itu akan melekat pada anda selamanya sebagai sebuah penyesalan."
Semua orang merasa Bern merendahkan Hilen secara halus. Harga diri yang terlalu tinggi bisa membuat seseorang jatuh. Itulah makna dari ucapan Bern.
"Dari anda merampas anjing orang lain, mengapa anda tidak memerhatikan anjing anda saja? Saya adalah anak yang sudah di telantarkan, mengapa saya harus peduli dengan harga diri?"
Hilen tiba tiba merasa tatapan Bern yang tenang itu bisa menikamnya kapan saja jika mereka menjadi musuh. Keringat mengalir darinya. Dia merasa tubuhnya dingin hanya dengan melihat tatapan tenang Bern tidak seperti dia marah atau apapon.
'Bagaimana seseorang bisa begitu tenang?'
Hilen merasa itu tidak masuk akal. Bagaimana seorang anak bisa memiliki mata seperti itu? Mata yang siap bertempur. Itulah yang di lihat Hilen.
"Juga, bukan ke anjing akan menjadi kuat ketika tuan mereka juga kuat?"
Hilen tersentak.
Mendengar itu, Kleio melangkah dengan senyum puas.
"Ku pikir hadiah yang aku berikan belum cukup untuk buat orang tahu siapa pemilik mu. Bagaimana jika aku memberikan hadiah lagi?"
Bern sedikit berkerut. Namun hanya sedetik lalu wajah tenangnya kembali. Semua orang tersentak mengetahui siapa orang di belakang Bern. Walau Kleio adalah pangeran mahkota tanpa kekuasaan seperti pangeran lainnya, pangeran mahkota mengatur segalanya atas perintah raja.
Hilen menatap tajam Kleio yang mengabaikannya. Kleio tidak takut atau bahkan khawatir tentang Hilen. Yang dia khawatikan adalah ratu di belakang Hilen, ibunya.
"Leo."
Semua orang tersentak Bern memanggil Kleio dengan nama panggilan. Siapa yang begitu berani mengucapkan nama seorang pangeran? Apa lagi nama panggilannya.
Namun Kleio sepertinya tidak terganggu dengan itu.
"Baik, baik. Aku tidak akan mengirim hadiah. Jangan menatap ku seperti itu."
Kleio tahu bahwa Bern sangat membenci menerima hadiah. Dia seseorang yang akan berkerja keras untuk membayar apa yang dia gunakan. Itulah Bern di matanya yang dia lihat sejak mengenalinya. Jadi Bern pasti sedikit kesal mengingat semua kotak kotak itu.
Kleio dan Hilen dengan senyum ramah di bibir mereka mula memainkan pedang di bawah lidah. Bern melangkah mundur bersama Anton yang sudah kehilangan selera makan. Berkat Bern mengatakan dia anjing Kleio, tidak ada yang mencoba menarik mereka ke kumpulan mereka.
Zion ingin mendekati Bern.
Yah, mungkin ada seorang.
Namun Uen terus memegang kerahnya setiap Zion mula akan bergerak ke arah Bern. Nama baik Zion akan sedikit tercoreng mengingat apa yang baru saja terjadi.
Zion hanya bisa menunggu sekolah bermula untuk berbicara dengannya sekarang.
2 jam berlangsung dan gelak tawa memenuhi jamuan itu. Anton sedang berbicara dengan Bern yang hanya mendengarkan dan Kleio yang menguruskan perang lidah yang tidak berpenghujung di dekat mereka.
Grrrrrrr!!!
Semua orang kaget dengan getaran seolah gempa terjadi. Itu tiba tiba saja berlaku.
Bang! Bang! Bang!
Pintu aula jamuan yang tertutup berbunyi hentakan yang sangat keras.
Buk!
"Ahhhh!!!"
Ramai yang jatuh ke lantai dan berteriak sangat takut.
"A, apa itu!!?"
Semua orang panik di sana. Aula jamuan yang baik baik saja tiba tiba di serang? Bagaimana mungkin?
Kebanyakan dari pelajar tidak memiliki pengalaman atau bahkan pernah membunuh. Mereka di penuhi ketakutan dan putus asa. Otak mereka kosong. Guru juga tidak ada di sana. Bagaimana dengan nasib mereka?
Bang! Bang! Bang!
Tanduk seperti tanduk kerbau yang satu meter besarnya melubangi pintu aula. Dari lubang yang terhasil, semua orang bisa melihat mata merah dan tubuh kerbau yang melayang berwarna hitam seperti hantu.
"Kerbau hantu!!? Bagaimana bisa binatang iblis tingkat 5 itu di sini!!?"
Anton berteriak kaget. Hantu kerbau adalah binatang iblis yang bergerak berkumpulan. Bagaimana bisa mereka tiba di aula perjamuan tanpa di ketahui?
Kleio yang juga panik, menatap tempat Bern berada.
"Bern?"
Namun Bern sudah menghilang. Dia menoleh mencari keberadaan seseorang dengan tongkat besar dalam kepanikan itu.
"!!?"
Mata Kleio membelalak.
"Bern!!?"
Bern berlari ke arah pintu masuk aula.
'Jangan biarkan siapapun jatuh.'
Anton tiba tiba mengingat apa yang di ucapkan Bern dalam perjalanan ketika melihat Bern berlari ke depan. Dia meraih tombaknya dan menggenggamnya dengan erat.
'Benar, masih ada pintu belakang.'
Mereka tidak bisa terus panik. Korban akan jatuh terlalu banyak jika itu berterusan.
"Semuanya! Angkat senjata kalian! Pelajar pemula yang pertama! Keluar dari pintu belakang!"
Anton berteriak dan membantu beberapa yang terjatuh dekat dengannya. Dia panik, tentu saja. Namun jika bisa membantu setidaknya beberapa orang selamat, dia harus bersikap tegas. Dia adalah orang yang mungkin menjadi seorang Baron di masa depan.
Bang! Bang! Bang!
Pintu itu semakin hancur.
Bang!
Pintu itu hancur.
Groooourrr!!!
Auman iblis kerbau terbesar sangat kuat hingga ada beberapa dari mereka mengeluarkan darah dari kuping mereka. Rasa putus asa menyelimuti mereka.
Bern mengangkat tongkatnya.
Buk.
Bern menghentak tongkatnya ke lantai. Dia berdiri di depan binatang iblis yang berjumlah 20 ekor dengan tubuh masing masing 3-4 meter. Dia berada di barisan terdepan.
"Bern!!!?"
Kleio berteriak mencoba mencapai Bern dalam kerumunan yang panik.
"[Sampai darah mengalir kering, tongkat ku takkan jatuh.]"
Perisai putih besar menutupi pintu aula yang hancur. Semua orang kaget melihat perisai besar itu.
Bang! Bang! Bang!
Binatang iblis yang marah menghantam perisai dengan keras.
Semua orang terpaku pada perisai putih itu. Orang yang paling kagum ketika itu adalah Zion. Dia ingin melakukan hal yang sama. Namun dia menggenggam tongkatnya dan menggeleng. Dia hanya beban jika dia mencoba. Yang bisa dia lakukan hanya larikan diri dan tidak menjadi beban. Uen menariknya untuk keluar dari aula jamuan itu.
Buk.
Anton tersadar ketika melihat Bern berlutut. Dia pasti perisai besar itu terhasil dari Bern yang melampaui batasnya dalam menggunakan mana.
"Bangun! Sekarang waktunya kita pergi!"
"Anton! Pergi panggil guru segera!"
Kleio berteriak dan Anton mengangguk. Beberapa pelajar senior mula menggerakkan pikiran mereka dan melakukan apa yang Anton lakukan. Dia dengan cepat keluar dari pintu belakang.
Crack.... Crack......
Perisai Bern retak sedikit demi sedikit. Retakan itu membuat dampak yang cukup keras pada tubuhnya. Darah mengalir keluar dari mulutnya.
"Bern!!!"
Kleio membantu Bern yang berlutut di lantai sambil memegang tongkatnya yang besar.
Dia tidak peduli bahkan ketika bajunya di kotori darah Bern.
"Bern tarik periasi kamu! Kamu hanya menyakiti diri mu sendiri!"
Kleio dengan cemas menyuruh Bern berhenti. Tubuh Bern bergetar kerana sakit. Namun Bern baik baik saja.
"Ini masih bisa di tampung."
Bern bisa mendengar teriakan dan iskaan anak yang belum benar benar mengenal dunia. Bagaimana dia, sebagai orang dewasa di sana membiarkan itu terjadi?
"Aku anjing yang setia, namun tidak patuh."
Perkataan Kleio adalah arahan pada Bern. Namun Bern lebih suka menjadi anjing yang setia namun tidak patuh. Kleio mengerutkan kening.
"Kamu masih bisa bercanda!? Tarik kembali perisai mu!"
Kleio mengatakan itu dan menarik pedangnya dengan posisi siap bertempur. Ada beberapa senior yang melakukan hal yang sama.
'Berapa orang yang akan mati jika aku melakukan itu?'
Jika Bern melakukan itu, orang yang sudah berpengalaman dengan senjata dan bertarung akan selamat. Namun bagaimana dengan para pemula atau orang lemah lainnya?
"Aku tidak bisa."
Kleio semakin berkerut dan merasa frustasi.
'Dari mana banjingan ini mendapatkan sifat seperti ini!?'
Kleio mengumpat dari dalam.
Bang! Bang! Bang!
Crack..... Crack......
Bern semakin menunduk. Semakin banyak retakan pada perisainya yang membuat kesakitannya bertambah. Ada terlalu banyak dari mereka hingga perisai Bern takkan bertahan hingga guru tiba.
'Aku harus pikirkan sesuatu yang lain.'
Bern menilau sekeliling dengan matanya. Dia tidak begitu mengangkat kepalanya mengingat kondisinya.
Bang! Bang! Bang!
Crack.... Crack....
Darah tidak berhenti mengalir keluar dari mulut Bern.
Bang!
Crash!
Perisai putih Bern hancur berantakan seperti kaca yang pecah.
"Uwekk!!!"
Perisai yang pecah membuat dia memuntahkan darah.
"Bern! Cukup!"
Kleio mencoba menghentikan Bern yang sepertinya masih mengalirkan mana untuk sesuatu yang lain.
Grrooow!!!!
Auman kerbau hantu yang marah itu membuat semua orang kaku di tempat.
"Belum....."
Kleio merasa sangat marah mendengar itu.
"Belum apanya!? Kamu sudah selesai! Selesai! Kamu ke belakang saja!"
Kleio berteriak. Lalu Bern meraih pedang yang ada di tangan Kleio.
"Kamu....."
Kleio menatap Bern dengan tidak percaya. Namun Bern langsung merampas pedangnya. Memakai kakuatan mana terakhirnya sebagai pendukung membuatnya bergerak dengan cepat.
"Bern!!! Sial!!!"
Kleio mengumpat dan meraih pedang orang di samping terdekatnya dan mengikuti Bern.
Namun Bern hanya menargetkan seekor hantu kerbau. Hantu kerbau terbesar di banding hantu kerbau lainnya.
'Ketua?'
Kleio tidak percaya dengan apa yang di lihat. Binatang iblis yang membentuk kumpulan seperti hantu kerbau akan kehilangan sentralnya jika ketua mereka mati.
'Mungkin.'
Kleio tahu apa yang di rencanakan Bern. Bern dengan cepat melompat.
Tusk!
Awoooooo!!!
Hantu kerbau itu berteriak kesakitan ketika matanya di tusuk pedang di tangan Bern. Kleio yang berada di belakangnya dengan cepat melompat juga naik ke belakang hantu kerbau itu.
Tusk!
Groooooow!!!!
Kleio menusuk tengkuk hantu kerbau itu. Bern yang berada di depan menarik pedang yang berada di mata hantu kerbau. Darah hantu kerbau itu terpercik keluar. Namun Bern tidak berhenti.
Tusk!
Bern menusuk kepala hantu kerbau hingga merusak otaknya.
AWOOOoooooo.....
Teriakan hantu kerbau semakin mereda dan cahaya di matanya menghilang. Hantu kerbau itu jatuh ke lantai begitu juga dengan Bern.
"Bern!!!"
Kleio menyambut Bern yang jatuh. Seperti tebakan Kleio, hantu kerbau yang mereka bunuh adalah ketua. Hantu kerbau lainnya bergerak kebingungan setelah ketua mereka mati.
"Uhuk."
Bern batuk darah.
"Ini cukup."
Kleio menggertak giginya mendengar itu.
'Ini lebih dari cukup! Kamu berlebihan banjingan!'
Kleio mengerutkan kening tidak bisa menyembunyikan emosinya yang kesal.
"Iya, ini cukup."
Namun Kleio hanya mengatakan itu melihat kondisi menyedihkan Bern.
"Bern!!? Guru di sini! Semuanya tenang!"
Anton tiba dan guru akan menguruskan hantu kerbau yang lain. Bern dengan tenang menutup matanya.
'Semua orang selamat, ku harap.'
Hanya dalam beberapa detik, Bern kehilangan kesadarannya dengan pemikiran seperti itu.
.
.
.
.
.
...**Bersambung**...