From No Body To Hero

From No Body To Hero
Episode 23



Semua orang menyerang iblis tingkat 1 itu untuk 2 jam penuh. Tubuh mereka penuh lumpur dan tidak tahu apakah tubuh mereka masih bergerak atau tidak.


Banyak dari mereka yang tubuhnya sudah terluka akibat menyerang dan menerima serangan. Namun iblis tingkat 1 itu tidak menerima luka apapon itu.


"Bern bertahan dengan kondisinya bertarung sendirian dengan 2 iblis dalam 20 menit tanpa luka? Kekuatannya benar benar candaan ketika dia mengatakan dia masih lemah!"


Anton merasa frustasi setiap kali dia membandingkan kekuatannya dengan Bern. Dia merasa sangat lemah. Dia tidak bisa melakukan apa pon. Bukan dia seorang, semua orang yang bertarung merasakan hal yang sama.


'Aku tidak bisa melihat kelemahannya.'


Kleio yang tangannya berdarah dan beberapa luka lecet merasa frustasi kerana belum menemukan celah atau kelemahan lawan mereka.


Mereka menyerang iblis itu dengan segalanya. Serangan jarak jauh dan dekat. Semua elimen sihir. Semuanya di kerahkan. Namun sedikit kesan pon tidak ada di tubuh pucat iblis itu.


"Sial, apa tidak ada celah?"


Bahkan Steven yang sering memburu iblis merasakan sulit melawan iblis yang satu itu.


'Aku sudah berlatih keras sejak kecil. Apa aku masih belum cukup kuat untuk mengalahkan banjingan ini?'


Steven selalu mencari orang kuat untuk di ikuti dan mencari pengalaman. Dia juga sudah menjalani banyak pengalaman hidup dan mati. Tapi dia masih tidak bisa mengalahkannya.


'Aku tidak berguna lagi. Sama seperti terakhir kali.'


Ailen sangat marah pada dirinya sendiri. Dia tidak bisa melakukan apapon. Pedangnya retak hanya kerana dia memukul kulit pucat iblis itu.


Bahkan para ksatria yang bertarung dengan aura pedang mereka merasa kewalahan.


Bang!


Tiba tiba muncul serangan yang membuat iblis itu mundur beberapa langkah.


Seorang dengan jubah hitam dan pedang yang bersinar dengan getaran aneh di sekelilingnya.


"Bern!?"


Anton berteriak kaget. Bern berdiri dengan baik lebih dari sebelumnya dan iblis yang menyerangnya sekarang beradik di sisinya.


****


Bern mengejar iblis itu hingga dia berjarak sangat jauh dari teman temannya. Mereka bertempur hingga satu jam setengah walau kebanyakan dia hanya mengejar iblis yang mencoba melarikan itu.


Tiba tiba Bern merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Sepertinya racun iblis dalam tubuhnya mula bereaksi.


Dia melutut dan batok darah mengingat tidak ada siapa pon di sana.


[Apa kamu sekarang bisa memahami ku?]


Bern tersentak dan menatap iblis itu.


[Sepertinya kamu bisa. Cara untuk melepaskan kendali adalah dengan menggunakan mana memutuskan hubungan benang ini dengan pemiliknya.]


Bern sekarang tidak bisa melihatnya kerana tidak memfokuskan mana pada matanya. Namun dia pasti tidak mudah untuk memutuskannya.


[Aku tidak memohon untuk diri ku. Namun bebaskan teman ku. Dia adalah tipe iblis penyerang dan sudah menderita sangat lama. Walau dia tidak bisa berkomunikasi dengan benar kerana dia baru saja mencapai 1,000 tahun, dia lebih menderita dari ku.]


Bern hanya diam mendengarkan.


[Iblis memiliki pemikiran sendiri setelah memasuki umur 1,000 tahun. Umur ku 1,230 tahun. Namun aku bersumpah bahwa kami tidak pernah membunuh bangsa manusia! Ketika kami di lahirkan, kami sudah di kurung dan di jadikan kelinci percobaan organisasi Satan yang mengaku di sisi iblis! Kami adalah iblis kuno. Aku jenis pertahanan sedang teman ku jenis penyerang.]


Bern masih mendengarkan bahkan ketika kesakitan tidak lagi mengganggunya.


"Kebebasan seperti apa yang kamu ingin berikan padanya?"


Bern bangun dan bertanya. Tidak semua kebebasan bermakna kebebasan.


[Bunuh dia. Bahkan jika benang kendali ini di putuskan, dia akan menderita pelbagai kesakitan. Dia sudah di siksa lebih keras dari ku kerana dia adalah iblis bertipe serangan.]


Bern hanya diam walau iblis itu sudah mula bergerak untuk menyerangnya.


Namun tubuhnya tidak bisa di gerakkan dan terperangkap dalam ledakan mana.


"Jadi sekarang, kita di sisi yang sama? Siapa nama mu?"


Bern bertanya membuat iblis itu tersentak kaget. Dia tidak berpikir manusia di depannya akan mempercayainya mengingat dia sedang menyerangnya.


[Mereka memanggil ku Apolion.]


Apolion dalam bahasa yunani bermakna malaikat maut atau sang pembinasa.


'Nama juga malaikat maut, ya.'


Bern menggerakkan tongkat yang berada di sisinya.


"Aku tidak menyukai nama itu. Bagaimana malaikat maut bisa menjadi malaikat maut ketika dia tidak pernah mencabut nyawa siapa pon?"


Bern berencana mengubah namanya. Nama apapon setidaknya bukan malaikat maut. Satu nama muncul di benak Bern.


"Alastair, dengan ini, aku memutuskan benang pengendali mu."


Mana mengalir dari Bern berpindah pada Alastair. Tidak lama, mereka mendengar sebuah benang yang terputus.


Mana langsung menghilang dari tempat itu setelah benang itu putus.


"Uhuk!"


Mulut Bern tidak berhenti mengeluarkan darah.


[Alastair...?]


Iblis itu terlihat sangat bingung dengan namanya.


"Itu bermakna pelindung bagi banyak orang. Kamu mencoba membantu teman mu, kamu layak menerima nama itu."


Bern mengatakan itu membuat tubuh Alastair bergetar. Seorang iblis layak, menerima nama yang baik?


Tiba tiba Bern merasa sebuah pakaian di tubuhnya. Itu jubah hitam yang sama dengan milik Alastair.


Rasa sakitnya juga berkurang hingga dia berpikir dia kembali ke kondisi di mana dia belum menggunakan mana tadi atau di serang racun iblis itu.


[Ini tidak maha kuasa. Itu hanya bisa menanggung beberapa kesakitan untuk kamu bertahan sampai akhir.]


Mulut Bern melengkung membentuk senyuman.


"Alastair adalah nama yang bagus."


Kemampuannya untuk menekan rasa sakit Bern sangat bagus. Bern bangun dan langsung pergi ke arah teman temannya yang lain.


****


[Mengapa kamu menggunakan belakang pedang mu?]


Jika Bern menggunakan pedangnya dengan benar, kaki temannya sudah terpisah sekarang. Apa lagi kondisi Bern sedang dalam keadaan yang baik berkat jubah itu.


"Teman pada teman ku adalah teman ku."


Alastair kembali bergetar kerana terharu.


"Jika kamu menyuruh ku membunuh musuh ku, aku bisa melakukannya. Namun jika kamu menyuruh ku membunuh teman ku, aku lebih rela kehilangan nyawa ku."


Alastair benar benar merasa tersentuh dengan ungkapan Bern.


'Tenang saja, kami teman kalian. Kita di sisi yang sama.'


Walau organisasi itu mengatakan hal seperti itu, mereka menyakiti mereka seperti mereka bukan di sisi yang sama.


"Teman yang berani menyakiti temannya, bukan seorang teman. Namun jika buat keputusan untuk membunuh seorang atau membunuh 2 orang, aku akan memilih untuk mundur dan lari. Aku lebih teruk dari mereka yang menyakiti temannya."


Atau Bern akan memilih pilihan ketiga. Dia akan menyelamatkan semua orang dan membiarkan dirinya sendiri mati.


Iblis tingkat satu itu mula menyerang Bern namun di hentikan Alastair.


"Alastair, apa namanya?"


'Itu menjadikannya lebih mudah.'


Bern dengan cepat menggunakan tongkatnya untuk memutuskan benang pengendali itu.


Tang!


Steven berdiri di belakang Bern menangkis tombak yang terbang ke arahnya.


"Apa kalian akhirnya membuat keputusan untuk keluar dari tempat kalian bersembunyi?"


Steven mengejek. Bern melirik ke arah mereka dan melihat seorang penyihir yang mencuri tongkat dan grimoirnya.


Bern berpaling seolah tidak mengenalinya dan terus fokus untuk memutuskan tali pengendalian itu.


Yang lain juga menyerang organisasi Satan itu. Walau mereka tidak bisa menyerang dengan baik mengingat kelelahan mereka juga diri mereka terluka. Lawan juga memiliki racun iblis pada senjata mereka membuat semua orang kewalahan.


Melakukan hal yang sama pada Alastair, mana mula memenjarakan iblis tingkat 1 itu dan akhirnya bunyi benang yang putus terdengar.


Mana menghilang dari iblis yang langsung berhenti bergerak terbaring tidak berdaya. Alastair mendekatinya memeriksa kondisinya.


Tenggorokan Bern di penuhi darah lagi. Namun seperti biasa, dia akan menelannya tanpa berpikir 2 kali.


Bern menarik pedangnya dan siap menyerang organisasi itu. Namun penyihir itu tersenyum ketika melihat Bern.


Bern melutut dan mencengkam dada kirinya. Jantungnya merasa tersangat sakit seolah akan di cabut atau berhenti berdetak.


"Bern!!!"


Anton langsung lari untuk mendukungnya. Darah mengalir di mulut Bern dan mata Bern dengan tajam melirik penyihir itu.


"Kamu....."


Penyihir itu tersenyum lebih lebar.


"Apa racun yang ku berikan rasanya enak?"


Kleio tersentak mendengar kata racun. Orang yang tahu Bern meminum racun adalah dirinya. Dia tidak terlalu memikirkannya kerana mengapa organisasi itu mencoba meracuninya?


"Mengapa kamu mencoba meracuni ku?"


Kleio bertanya dengan pedang di tangannya.


"Meracuni mu? Tidak."


Penyihir itu menggeleng.


"Aku mencoba meracuni anak itu. Aku tahu kamu akan menyuruh anak itu minum dengan mu dan menyebabkan dirinya yang di racuni."


Kleio menjadi kesal. Sepertinya mereka di ikuti dari awal.


"Semuanya tidak berguna! Mengapa tidak ada yang menyadari kita diikuti!?"


Kleio berteriak frustasi ketika dia bergerak ke depan mencoba menyerang. Ailen melakukan hal yang sama.


"Aku tidak punya waktu untuk permainan anak seperti kalian. Kalian lah yang mengganggu kami untuk mencari peninggalan roh penyembuhan."


Kleio mengerutkan keningnya.


'Informasi bocor? Siapa mata mata di antara kami?'


Bang!


Ledakan mana dengan anergi iblis membuat semua orang jatuh ke tanah tidak bisa bergerak. Melawan anergi iblis benar benar menyebalkan.


Bern masih berlutut tidak bisa bergerak kerana racun yang menyerangnya. Dia pasti itu racun iblis juga.


"Selamat tinggal, pahlawan tanpa nama."


Penyihir itu mengatakan itu ketika 10 duri yang terbentuk dari angin dan kegelapan mula menyerang ke arah Bern. Bern melempar Anton menjauh kerana dia akan mati jika mengenai hal itu.


Dia lebih baik mati sendirian dari membawa orang di sisinya mati bersama.


Tusk! Tusk! Tusk!


Penyihir itu mengerutkan kening melihat darah yang terpercik ke mana mana. Mata Bern melebar.


Orang yang menerima serangan itu adalah iblis tingkat 1. Alastair bergetar menghampirinya seolah merasa shock berat.


"Sudah tidak berguna, mengacaukan serangan ku lagi."


Penyihir itu ingin menyerang Bern lagi. Namun sebelum itu, dia menargetkan Alastair.


"Apolion, kamu benar benar melangkah garis mu."


Penyihir itu di penuhi mana yang gelap dan keras.


[Apolion, tidak, Aalstair, ya, sekarang.]


Alastair hanya diam.


[Hei, ini keputusan ku. Bahkan jika aku hidup, aku sudah tidak bisa hidup dengan tenang seperti mu. Lihat saja bagaimana dengan perubahan tubuh ku.]


Alastair masih diam.


[Hei, ikutlah anak itu.]


Alastair tersentak mendengar itu.


[Hanya dia yang ingin mendengarkan kamu ketika kamu terus berbicara dan mencoba memahaminya. Dia seorang yang baik dan bisa kamu percayai.]


Iblis tingkat satu itu sejujurnya lebih matang dari Alastair. Itu kerana dia sudah mengenal banyak manusia selama dia menjadi kelinci percobaan.


[Baik.]


Hanya itu yang bisa di ucapkan Alastair.


[Jaga dia untuk ku.]


Bern mendengar yang terakhir. Tidak, itu di berikan padanya secara peribadi. Hanya dia yang mendengarnya.


[Dia cukup menjengkelkan. Tapi dia adalah iblis yang sangat baik hati. Walau dia di kurung dan di sakiti, dia masih sama. Tolong jaga dia.]


Bern perlahan mengangguk dan membuat iblis itu merasa lega. Dia tidak menyangka ada manusia yang akan bersedih kerana iblis mati. Dia percaya temannya akan hidup dengan baik bersama anak itu.


Dengan begitu, dia dengan tenang meninggalkan dunia.


Angin bertiup membuka penutup kepala Alastair. Dia terlihat persis seperti manusia jika bukan kerana kupingnya yang lancip dan tato '\=' di bawah kedua matanya.


Dia sangat tampan dengan pupil mata merah, rambut hitam, bergigi taring dan bibir yang bagus. Rambutnya serabut tidak panjang. Namun rambutnya yang serabut membuatnya tampak lebih menawan.


Matanya merah menitiskan air mata atas pemergian satu satunya teman yang dia punya.


Para organisasi itu mengejek tangisan Alastair. Namun ada orang yang turut berduka dan seharusnya mereka tidak mengganggunya.


Malaikat maut sesungguhnya.


Mata Bern sangat dingin dan siap membunuh siapa saja musuhnya.


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...**Bersambung**...