
Semua orang berkumpul di ruang makan di rumah baru Bern.
"Jadi, seperti yang kita tahu, organisasi Satan kemungkinan besar adalah dalang dari misteri kurangnya sumber makanan di kota Narda. Namun kita tidak memiliki bukti untuk itu. Ada sesiapa yang punya pendapat bagaimana cara membuat organisasi itu menunjukkan diri?"
Ailen mengatakan itu dengan lancar. Dia sudah menyelidiki kasus itu cukup lama dan tidak menemukan bukti dan tanda tanda adanya penggunaan anergi iblis yang terlarang.
"Tidak ada. Memangnya apa yang bisa kita lakukan? Kita bahkan tidak tahu di mana markas mereka, jadi kita tidak bisa memberikan pukulan dari belakang."
Steven mengatakan itu dengan nada kesal. Bahkan ketika dia menjadi salah satu dari organisasi itu, mereka sangat teliti hingga hanya membawa orang yang sangat mereka percaya ke markas mereka.
Bahkan Alastair yang berada dalam kendali tidak di bawa ke markas mereka dan hanya di kurung di goa yang sudah di hancurkan tanpa jejak ketika mereka bergerak mencari roh penyembuhan.
"Apa kita bisa menjejak mereka dengan grimoir?"
Zion bertanya dengan penasaran. Namun Bern menggeleng menunjukkan bahwa itu tidak mungkin. Bahkan jika itu menyakitkan, Bern pasti melakukannya jika itu bisa. Namun jelas, itu tidak bisa membuat semua orang harus memikirkan cara lain.
"Baik, walau kita bersama, masih tidak ada solusi di sini."
Ailen dengan cepat bangun.
"Aku akan keluar untuk mencari informasi."
Ailen memakai penutup kepalanya kembali. Bern ikut bangun membuat semua orang melihatnya.
"Duduk tidak akan menyelesaikan masalah. Hah.... Dari mana aku harus mulai?"
Bern terlihat terbiasa dengan tugas mencari informasi. Itu membuat Kleio dan Uen mengingat bagaimana Bern menangkap mata mata pangeran lain.
"Baik, mari kita semua berkeliling dan berkumpul semula jam 8 malam."
Semua mengangguk dan berpisah.
Bern bergerak sendirian kerana lebih mudah untuk Alastair bergerak sendirian dengan kemampuannya di temani Althea yang sama sama tidak bisa di lihat.
Althea bisa menghubunginya jika sesuatu terjadi juga bisa menunjukkan lokasi pada Bern. Itu menjadi bantuan yang bagus bagi Alastair yang kemungkinan tertangkap kerana dia adalah iblis.
Bern berhenti di sebuah toko kue yang terlihat baik baik saja bahkan ketika kondisi makanan di sana terjejas. Itu adalah tempat yang mencurigakan.
Namun tidak ada yang curiga kerana pemilik toko adalah seorang pedagang kaya yang bisa dengan mudah membeli bahan di luar kota tanpa takut dengan adanya bandit.
Bern memasuki toko itu dan melihat banyak kue yang menggiurkan. Seketika, n*fsu makan Bern melonjak.
Bern dengan cepat menggelengkan kepalanya untuk fokus pada pekerjaannya.
'Satu kue tidak masalah, kan?'
Namun pada akhirnya, dia tidak bisa menahan diri untuk membeli beberapa potong kue dan minun petang sendirian.
Kleio yang kebetulan melalui toko itu tercengang melihat Bern yang selalu fokus pada misinya makan dengan tenang. Orang yang bahkan melewati makan jika dalam mood berkerja sedang makan?
Kleio dengan cepat memasuki toko itu memastikan orang itu Bern atau tidak. Garpu di tangan Bern jatuh ke meja ketika mata mereka bertemu.
"Ini pesanan mu."
Pelayan yang tidak peka meletakkan kue yang ke 5 di meja Bern. Bern hanya tunduk melihat kue itu seolah dia sudah tidak punya ***** makan.
"Bern, apa yang sedang kamu lakukan?"
Kleio bertanya dengan hati hati.
"Aku sedang menyelidiki toko ini kerana mereka memiliki banyak sumber makanan hingga bisa memajang banyak kue, sebelum aku akhirnya tergiur untuk memakannya."
Kleio menahan tawanya dan duduk di meja yang sama dengan Bern.
"Lain kali aku akan membelikan banyak kue untuk mu. Aku tidak berpikir kamu menyukai makanan manis melihat dari kepribadian mu."
Jujur, tidak ada di antara mereka yang benar benar menyukai makanan manis, jadi tidak ada yang membawa hal manis di depan Bern.
Bern juga terlihat tidak memilih makanan selain dia tidak bisa menelan rasa bawang putih.
Bern hanya diam seolah dia kehilangan selera makan. Namun dia masih mengambil garpu dan memakan kue yang di hantar pelayan tadi.
Alis Bern terangkat seolah dia tidak menjangkakan rasa kue itu.
"Ouh, yang ini lebih enak. Koki di toko ini sangat bagus dengan kue."
Bern kaku sekali lagi. Dia lupa Kleio masih berada di depannya.
"Leo, bisa kamu pergi dan biarkan aku makan dengan tenang?"
Kleio tersenyum cerah yang menunjukkan dia tidak ingin pergi.
Bern menghela nafas dan melanjutkan makan kue terakhir dengan rasa canggung. Walau begitu, Kleio bisa melihat Bern sangat menikmatinya dan mencoba yang terbaik untuk tidak menunjukkan itu dalam reaksinya.
Setelah selesai, dia dengan cepat bangun untuk membayar tagihan. Namun koin emas melayang ke arah pelayan yang bertugas dalam pembayaran.
"Simpan saja kembaliannya."
Kleio bangun juga dan berjalan keluar toko. Bern bingung seketika dan akhirnya tersentak mengikuti Kleio keluar toko.
"Apa itu tidak berlebihan? Kamu tahu harga untuk itu hanya beberapa koin perak."
Kleio tersenyum seolah tidak peduli. Melihat Bern menikmati makanannya sudah cukup untuknya melempar koin emas dengan mood yang bagus.
"Kamu tahu, kamu harus mengatakan pada ku jika kamu menyukai sesuatu. Sudah ku bilang aku menganggap mu sebagai keluarga ku."
Bern terdiam seketika dan mengangguk ringan.
"Aku tidak ingin kamu tahu dan mempermainkan ku setelahnya."
Kleio merasa ada panah menusuk dirinya. Tapi memang tidak salah apa yang di ucapkan Bern. Dia sudah menggunakan sup cendawan sebagai bahan candaannya untuk waktu yang lama, jadi Bern pasti itu bisa terulang kapan saja.
"Sudahlah, tidak bisakah kamu memperlakukan aku sedikit lebih baik?"
Bern hanya tersenyum pada Kleio. Dia mencari cari dalam tas sihir yang dia bawa dan terhenti.
"Ah, aku ketinggalan catatan ku. Kamu pergi saja menyelidiki. Jumpa jam 8."
Bern dengan cepat menghilang dari pandangan Kleio.
'Mari maklumi kepala koki supaya membuat kue untuk pencuci mulut malam ini.'
Kleio juga berjalan dengan perasaan senang. Mereka membawa banyak bahan makanan dari kota lain sebelumnya, jadi membuat kue itu tidak akan sukar.
Bern kembali ke toko dan melihat buku catatannya di pegang seorang wanita yang terlihat bukan seperti pelayan di toko itu.
'Apa dia koki?'
Bern mendekati wanita itu.
Bern berbicara dengan nada hormat melihat wanita itu lebih tua darinya. Walau itu terlihat hanya dalam umur 20an.
"Kamu, apa kamu ke toko ku hanya kerana kamu ingin menyelidiki kasus kekurangan makanan? Apa kamu meragui toko ku?"
Bern tidak menyangka wanita itu akan terlihat sangat marah.
"Awalnya begitu kerana saya bukan orang yang tinggal di sini. Namun saya mendengar beberapa orang mengatakan pemilik toko adalah pedagang yang kaya, jadi saya tidak mencurigai toko ini lagi."
Alis wanita itu berkerut mendengarnya.
"Apa kamu menikmati kue ku atau hanya ingin menyelidiki kasus ini?"
Bern tersentak mendengar itu dan menggosok lehernya merasa canggung.
"Kue di toko ini terlihat enak, jadi saya memesannya. Saya juga tidak menyangka kue di sini akan sangat enak."
Akhirnya, pemilik toko itu terlihat puas dengan jawaban Bern.
"Ikut dengan ku."
Wanita itu menuju ke pintu pekerja. Bern agak ragu untuk mengikutinya, namun bukannya dia tidak bisa melindungi dirinya, jadi dia mengikutinya.
Ada jalan tersembunyi yang membawa mereka ke bawah tanah.
'Apa mereka penjual informasi? Pembunuh bayaran? Ah, sama saja keduanya.'
Tempat mewah terlihat dan wanita itu mempelawa Bern untuk di sofa seberang. Bern duduk di sofa tanpa banyak bicara.
"Nama ku Calistia. Aku pemilik toko ini, sama ada toko siang atau malam."
Itu bermakna, toko malam adalah tempat pembunuh bayaran. Pembunuh bayaran bisa mencari informasi dan membunuh pada masa yang sama.
"Jadi, apa yang diinginkan nona Calista dari anak di bawah umur ini?"
Bern tidak basa basi dalam tindakannya. Sangat berbeda dari dirinya yang tadi menikmati kue.
"Seperti yang kamu tahu, kota ini kekurangan makanan. Anak yang bersama mu tadi, aku pasti dia adalah salah satu pangeran, benar?"
Bern tidak menjawab menunjukkan bahwa Calista benar.
"Jika itu benar, bermakna kekurangan makanan di kota ini bukan masalah yang mudah seperti fenomena alam, kan."
Bern masih diam.
"Aku mencintai kota ini kerana ini adalah kota kelahiran ku, jadi aku tidak ingin kota ini mati begitu saja. Namun, semua orang yang aku hantar untuk menyelidiki kasus ini tidak pernah kembali."
Bern masih diam mendengarkan.
"Dan di salah satu mayat yang di temukan, walau mereka bukan salah seorang dari ahli kami, di temukan kain hitam yang mirip dengan yang kamu kenakan sekarang."
Bern sekarang pasti bahwa dia di curigai.
"Aku tidak bersama organisasi itu. Ini adalah barang dengan efek menunda rasa sakit seseorang."
Di lihat dari cara Bern berbicara, Calistia tahu bahwa Bern sudah tahu siapa dalang di balik insiden itu.
"Seperti yang kamu lihat, jubah milik ku tidak memiliki lambang tengkorak iblis dengan bintang 4 bucu."
Calistia semakin pasti Bern mengetahui tentang organisasi itu.
"Apa kamu mengetahui tentang organisasi ini?"
Bern menggeleng.
"Mereka adalah organisasi yang cekap dalam menyembunyikan identitas mereka. Aku juga tidak mengetahui apa apa tentang mereka."
Bern terlihat jujur dengan itu. Calistia memegang dagunya memikirkan sesuatu.
"Jika kamu tidak keberatan, apa kamu ingin menyelidiki pantai selatan bersama? Ada beberapa petunjuk di tengah pantai. Di temukan beberapa jubah hitam yang memiliki lambang juga mana di sekitarnya tidak stabil."
Firasat Bern tidak enak mendengar kata mana tidak stabil.
'Itu pasti mereka. Tapi apa yang mereka lakukan di lautan?'
Bern dengan cepat mengangguk.
"Semoga bisa berkerja sama dengan baik."
Calistia merasa dia tidak sedang berbicara dengan anak berumur 16 tahun ketika menjabat tangannya.
"Ouh, sebelum kamu pergi, bisa aku meminta mu mencoba resepi kue terbaru ku?"
Bern memiringkan kepalanya bingung dan ingin menolak. Namun kue yang di letakkan di meja oleh seorang pelayan membuatnya tergiur.
"Jika itu bisa membantu bisnes mu."
Calistia tersenyum ketika melihat Bern tidak bisa menolaknya.
Bern makan kue itu sampai selesai dan tunduk hormat sebelum pergi.
"Dia benar benar menikmati kue ku, hah. Padahal dia tidak terlihat seperti seseorang yang menyukai makanan manis."
Calistia berpikir Bern berpura pura menyukai kuenya kerana ingin informasi. Tapi sepertinya dia salah besar.
Calistia memegang tombaknya. Dia menarik rambut cokelat umum yang ternyata rambut palsu memamirkan rambut merahnya.
Rambut merah dengan senjata tombak, siapa lagi jika bukan bangsawan tertinggi di wilayah selatan, Count Sullivan. Penerusnya, adalah wanita berbakat Calista Sullivan.
Banyak keluarga Count di wilayah selatan, namun Count terkaya dan memiliki pengaruh terbesar adalah Count Sullivan yang memiliki banyak pendukung dan tidak perlu dukungan bangsawan di wilayah lain.
Mereka punya banyak musuh kerana kekuatan mereka yang bisa menjatuhkan bangsawan di wilayah lain.
"Cuaca hari ini terlihat baik, bukan."
Calistia tidak sabar untuk melihat bagaimana Bern berkerja nanti.
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...**Bersambung**...