From No Body To Hero

From No Body To Hero
Episode 41



Semua orang bergerak pulang keesokan paginya. Bern dan Lewis akan langsung ke asrama mereka. Alastair dan Althea juga naga biru sudah pasti mengikuti Bern. Steven harus mengikuti Kleio mengingat dia adalah pengawal Kleio.


Anton mengajak Bern ke rumahnya mengingat Bern lebih di layani seperti anak dari dia. Namun Bern menolak mengingat mereka memang tidak punya hubungan darah.


Elf yang di hantar Felix juga baru sampai. Sebagai seorang elf, cewek pula, dia memang layak di sebut keindahan alam.


Dia juga akan mengikuti Kleio. Dengan bom seperti elf bersama Kleio, pangeran kedua dan ketiga akan sedikit lebih waspada. Elf bukan tipe yang mencari masalah, namun ketika ras mereka di sakiti, mereka tidak akan diam.


["Hah.... Kita perlu mula bergerak seperti hantu lagi...."] Alastair sedikit mengeluh.


"Tentunya. Kamu pikir ada orang lain yang bisa menerima iblis selain Bern dengan mudah?" Lewis membalas ketika dia berada di kereta kuda yang sama.


Kerana searah, mengapa menggunakan kereta kuda lain?


{Tapi kalian menerimanya dengan baik!} Althea berbicara tidak puas walau Lewis tidak bisa mendengarnya. Naga biru menganggukkan kepalanya mendengar Althea.


"Nona Althea, saya tidak bisa melihat dan mendengar anda." Ucap Lewis sambil tersenyum.


["Dia bilang kalian menerima ku dengan baik."] Alastair menyambung.


"Hah? Jika bukan kerana Bern, kami juga akan seperti itu. Kami tahu Bern tidak akan menyimpan hal yang bisa membahayakan orang lain." Ucap Lewis dan semua orang mengangguk setuju.


Bern yang menjadi subjek pembicaraan tertidur lelap sambil bersandar di dinding kereta.


"Apa yang di lakukan Bern tadi malam? Dia terlihat letih." Tanya Lewis.


["Ah, Althea bilang itu efek terlalu banyak menggunakan mana."] Balas Alastair.


Lewis juga tahu Bern kewalahan kerana perang sipil kota Sebasta, juga kehabisan mana kerana merakit sapu terbangnya.


.


.


.


"Hahhh! Entah kenapa, aku merindukan aroma academy." Ucap Lewis ketika menghirup udara dengan rakus.


"Kerana kita akan merindukan tempat ini setelah kita lulus." Balas Bern ketika pergi ke kamarnya.


.


.


.


Setelah selesai beres beres, Bern berjalan sendirian pergi ke perpustakaan.


Dan biasalah, ketika seseorang lebih baik dari orang lain, itu pasti akan menimbulkan rasa iri.


Semua tuan muda itu mula berbisik dan menjelek jelekkan Bern. Yah, tentu ada beberapa yang menjadi fans nya seperti Zion.


Bern tentu saja mengabaikan mereka seperti hantu.


Tusk!


Bern mendengar suara panah menusuk sasaran dan pergi ke arah pusat latihan.


Bern bisa melihat Lewis yang berlarian dengan panahnya.


Pusat pelatihan panah bukan seperti hanya berdiri dan menembak, itu adalah tempat yang luas dengan pelbagai fitur yang membuat diri merasa memanah di ruang lingkup yang sulit.


Efek yang paling menyebalkan adalah gempa dan ribut salju. Dan yang paling mudah tentu saja jalan datar.


"Kamu berlatih setelah tiba? Kamu semakin membaik." Tegur Bern.


Lewis yang mendengar suara Bern tersenyum sambil mengelap keringat dengan lengan bajunya.


"Iya! Itu berkat pengalaman ku juga!" Lewis terlihat bersemangat.


Bern tersenyum dan memunculkan busur cahaya putih yang terbuat dari mana.


"Pengalaman itu penting, namun postur tubuh yang baik juga menyesuaikan diri di setiap keadaan adalah yang terpenting. Setidaknya, itu bisa membuat kamu bisa bertahan sendirian jika terpisah dari kumpulan mu." Ucap Bern dan mula berlari memulakan pelatihan.


Tanah normal tiba tiba menjadi lumpur dan angin kuat bertiup. Ini adalah tantangan lainnya dari pemanah. Angin yang kuat sangat menyebalkan.


Namun Bern melepaskan panah mananya yang di buat persis seperti panah biasa. Itu berbelok terbawa angin, namun masih mengenai sasaran.


Membaca arah angin adalah hal yang penting bagi mereka yang menggunakan serangan jarak jauh.


Semua tepat sasaran walau Bern tidak mengendalikan panah tersebut.


"Huh.... Lebih mudah dari yang aku pikirkan." Ucap Bern membenarkan rambutnya yang berantakan kerana angin.


Lewis sudah menganga dan ingin pingsan ketika Bern mengatakan itu mudah. Mana Bern tidak mengendalikan panah itu lagi.


"Sebagai pemanah, gunakan lingkungan sebagai teman, bukan musuh. Bagaimana jika aku membantu mu berlatih? Cuba tembak aku. Jika kamu bahkan bisa mengenai hujung pakaian ku, kamu menang." Ucap Bern sedikit tersenyum.


Mata Lewis berbinar dan mengangguk dengan cepat.


.


.


.


Lewis terbaring di tanah setelah 2 jam. Pakaiannya kotor, wajahnya berlumpur dan bahkan rambutnya memiliki ranting di dalamnya.


Selain rambut yang berantakan, Bern tidak memiliki sedikit pon kotoran di tubuhnya. Dia bahkan tidak berkeringat!


"Sial! Aku bahkan tidak bisa mengenai hujung pakaian mu!" Keluh Lewis.


'Gunakan postur tubuh seperti ini di situasi ini.' Lewis mengingat Bern bahkan sempat mengajarinya di fitur ribut salju.


Tusk!


'Kamu terlalu lambat. Di lingkungan seeprti ini, kecepatan adalah segalanya.'


Dia juga mengingat panah putih hampir mengenai kepalanya di situasi hujan deras. Dan yang menyedihkan adalah Bern bahkan tidak menggunakan mananya untuk mengendalikan panahnya!


'Kekuatan tangan mu bagus, tapi kaki mu lemah. Jika kamu bertemu kelas assasin, maka kamu tamat.'


Lewis juga mengingat Bern bisa menembakan panah tepat di belakang kepalanya di fitur jalan datar.


'Ketika gelap, andalkan pendengaran mu. Jika tidak, kamu akan mati tanpa tahu bagaimana. Ini juga baik jika kamu terlalu banyak menggunakan mana dan atribut hingga menjadi buta sementara.'


Lewis juga mengingat ketika fitur gelap, Bern bahkan bisa memegang lehernya dengan mudah seperti sudah tahu dia di mana.


"Apakah aku berlatih dengan monster?" Gumam Lewis memikirkan semua kesalahannya bisa di deteksi Bern seolah dia adalah pemanah veteran.


Bern menghilangkan panahnya dan menatap Lewis yang seperti baru saja berguling guling dalam lumpur.


"Kesimpulannya, kamu harus menguatkan kekuatan kaki dan pendengaran mu." Ucap Bern dengan tenang membenarkan rambutnya sambil melihat air.


Namun dia merasa aneh ketika Bern dari tadi membenarkan rambutnya. Sebagai penyihir, mereka memang suka membela rambut yang panjang. Jadi tidak heran rambut Bern sudah mencapai sikunya.


"Kamu terus terusan membenarkan rambut, apa kamu mula narsis?" Ucap Lewis bercanda.


Bern masih mengingat rambutnya hanya sepanjang bahu. Kini itu sudah lebih panjang dari yang dia sangkakan.


"Apa aku harus memotongnya? Rambut panjang sangat menganggu. Ahh... Ini menyebalkan." Gumam Bern sambil terus membenarkan rambutnya.


Lewis menatap Bern dengan aneh. Jika ingin memotong, potong sajalah. Bukannya tidak ada penyihir yang memiliki rambut pendek.


"Jadi, potong saja." Balas Lewis.


Bern mengeluh sebentar dan menarik sehelai rambutnya. Rambutnya yang berwarna coklat mendadak menjadi putih.


"Ada kekuatan penyembuhan dalam rambut ku. Aku adalah saint dan Althea adalah roh suci. Kekuatan penyembuhan ketika menelan rambut ku sama dengan menerima penyembuhan dari seorang saint atau lebih kuat. Jika orang menemukan ini, bukankah aku akan di buru?" Gumam Bern dan Lewis terdiam.


Lewis melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada yang orang di sekitar.


"Aku sudah memasang pembatas sejak awal kita berlatih." Ucap Bern membuat Lewis lega.


"Bagaimana dengan rambut mu yang gugur?" Tanya Lewis penasaran.


"Rambut ku takkan gugur dengan kekuatan Althea." Balas Bern ringkas.


Lewis mengangguk paham.


"Aku juga merasa rambut mu terlalu panjang. Terlebih poni depan mu yang terlihat akan menutupi mata mu." Ucap Lewis dan Bern juga mengangguk setuju.


Lewis menatap Bern sedikit aneh.


"Bern, kamu cukup banyak berbicara hari ini." Bern selalunya menggunakan kata kata ringkas. Tapi dia cukup banyak berbicara hari ini.


"Apa salahnya menjadi lebih terbuka? Lagian kita di sekolah, bukan medan tempur yang mana ucapan biasa bisa menjadi informasi bagi lawan." Balas Bern membuat Lewis diam lagi.


Bern melihat rambutnya di cermin, dan mengeluh pendek.


"Aku akan memotongnya sendiri. Aku kembali sekarang. Kamu juga istirahat." Bern melambaikan tangannya dan pergi.


Lewis sedikit takut untuk tahu bagaimana rambut Bern besok. Namun apa yang bisa dia lakukan? Akan bahaya jika rambutnya di ketahui orang lain.


Dia bertemu dengan Steven dan Anton. Bern kini tinggal sendirian. Dia mendapatkan kamar sendiri dengan bantuan Kleio.


Anton jadi berbagi kamar dengan Steven. Ailen dan dia juga sekamar.


Dia menceritakan kejadian itu, lalu Zion dan Uen mendengarnya juga. Dan tentu saja, Zion pergi mengadu pada Kleio yang sedang membicarakan kasus kota Narda bersama Ailen.


Mereka berharap potongan rambut Bern baik baik saja. Mereka tidak bisa mengharapkan Alastair atau Althea. Mereka sebagai iblis dan roh suci, tidak memanjangkan rambut! Rambut Alastair sama dengan bulu, yang hanya ada tingkat tertentu sebelum berhenti tumbuh. Althea tidak akan berubah kerana dia adalah roh.


Naga biru jangan di tanya.


.


.


.


Keesokan harinya, kelas 2 di mulai, dan semua teman Bern menunggu kehadiran Bern.


Bern yang selalu datang awal, tidak terlihat di mana pon walau kelas sudah ingin di mulai.


Dan akhirnya Bern berjalan masuk sambil menguap. Dia terhenti ketika semua orang menatapnya.


"Ada apa?" Bern bertanya melihat mereka semua menatapnya.


Tidak, melihat Bern terlihat malas itu, aneh. Bern sangat rajin hingga dia akan menjadi yang pertama ada di kelas.


Belum lagi, dia seseorang yang tidak peduli pada penampilannya, hingga dia terlihat selekeh. Yah, Bern yang dulu terbelit hutang hingga tidak akan sempat mengurus diri.


Pakaian Bern bukan saja cukup terbuka menampilkan sedikit dadanya, lengannya yang pendek terlihat seperti berandalan, memamirkan ototnya juga gelang ular hitamnya. Mantel hitam yang selalu di pakai Bern menutupi kepalanya hingga tidak jelas itu di sambungkan dengan rantai permata biru, membuatnya terlihat menawan dan karismatik.


Juga rambutnya yang sedikit melebihi bahu, tidak lurus seperti selalunya, itu sedikit kerinting memamirkan keindahan wajah Bern yang dulu terlihat biasa biasa saja.


Pakaiannya juga terlihat terbuat dari sutera dan ada beberapa perhiasan yang terbuat dari permata dan emas.


"Mengapa kamu, terlihat terlalu mewah!?" Anton bertanya kaget.


Bern bingung, dan melihat dirinya juga kaget.


'Sepertinya aku terlalu mamai dan ini terjadi. Biarlah, hanya sehari.' Pikir Bern. Dirinya yang dulu pernah berkerja di toko gunting rambut sebagai kerja paruh waktu, jadi dia tentu saja bisa memotong rambutnya dengan baik. Pakaiannya, yah, dia selalu bergaya ketika dia melakukan sesuatu ketika mamai. Itu kebiasaannya.


"Kebiasaan ku ketika mamai. Abaikan saja." Ucap Bern seolah tidak ada yang aneh.


Mereka semua tidak percaya, ada orang yang bisa terlihat sangat baik ketika mereka mamai.


"Apa yang membuat mu terlalu mengantuk?" Tanya Zion khawatir.


"Tidak ada, hanya malas." Ucap Bern.


Jika wanita memiliki period setiap bulan, Bern memiliki waktu ketika dirinya hanya ingin bermalasan setiap bulan. Kerana dia belum benar benar mengenal dunia ini, dia meninggalkan sifatnya yang ini. Tapi sekarang, dia sudah cukup mengenal dunia itu dan kemalasan setiap bulannya kembali.


Semua temannya melihatnya dengan tatapan aneh dan bingung.


["Kerana sekarang aman dan damai, Bern mengatakan kalau dia memiliki waktu seperti wanita period, namun itu malas."]


Alastair yang mengikuti Bern sambil tidak terlihat berbisik pada mereka.


Semuanya mengangguk paham. Mungkin ini cara seseorang yang rajin menjadualkan kemalasan mereka.


Pat, Pat, Pat.


Mereka mendengar seseorang tepuk tangan dan memandang ke arah suara itu.


"Baik, semua sudah ada di sini? Mari mulakan kelas. Ibu akan memilih orang yang akan kalian lawan. Setiap group ada 12 orang, jika bisa mengalahkan 3 dari teman kalian, kalian bisa naik kelas."


Bu guru menatap semua orang dengan tajam. Tentu saja, yang memilih adalah pangeran mahkota sendiri supaya bisa membantu temannya cepat naik kelas.


..."Baik, mari mulakan kelas kita."...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...**Bersambung**...