
Setelah jamuan yang besar, sekolah pon di mulai. Semua pelajar pemula akan mendengar ceramah dan pembelajaran dasar yang membosankan seperti lulabi untuk tidur selama 6 bulan.
"Hoam....."
Anton menguap dan meletakkan kepalanya atas meja. Dia ingin tidur saja mendengar dasar dasar dari guru di depan.
Sementara Bern dengan rajin mencatat dengan banyak buku di sampingnya yang di hadiahi oleh Kleio juga orang tua Anton. Kleio memberikannya mengingat Bern sangat miskin sedang orang tua Anton sangat senang memberikan peralatan belajar padanya mengingat Bern seorang yang rajin tidak seperti putra mereka itu.
"Ini sangat membosankan."
Banyak yang mengeluh seperti Anton.
Mereka hanya menunggu permainan labirin yang di adakan sekali setiap bulan. Mereka harus menemukan jalan keluar dalam waktu yang cepat dalam tim 2 orang.
Itu untuk meningkatkan kerjasama tim bahkan jika mereka bukan di tim yang sama.
Tim akan di pilih guru atau pilih sendiri jika guru lagi malas dan semuanya akan mulakan permainan itu.
Setiap bulan, labirin itu akan di ubah untuk tidak menimbulkan curang atau sesuatu seperti itu. Menggunakan sihir untuk itu menjadikannya lebih sukar untuk di contek.
"Kalian bisa menguatkan sihir dengan membuat lingkaran sihir."
Guru wanita berjubah dan bertopi penyihir berbicara dan lingkaran berwarna merah muncul dengan banyak huruf sihir muncul.
"Dengan lingkaran sihir, kalian bisa hanya menyerang satu target, membantu orang tertentu juga menekan sihir lawan yang berada di dalam lingkaran. Juga lingkaran sihir berwarna mengikuti jati diri kalian."
Guru itu membuat apa yang di katakan sebagai contoh.
"Sekarang, siapa yang ingin mencoba?"
Tentu saja, tidak ada yang ingin ke depan. Guru itu mendengus dan menunjuk 10 orang ke depan. Dan tentu saja, Bern adalah salah satu dari mereka.
Namun ada salah satu penyihir mendekatinya.
"Tongkat yang bagus."
Orang itu menyapa dan matanya yang polos terus menatap tongkat Bern yang besar. Hanya dengan penampilannya saja, semua orang tahu itu adalah pangeran kelima, Zion Mark.
"Mau mencobanya?"
Bern menawarkannya. Mata Zion berbinar dan mengangguk keras. Sudah lama dia menunggu untuk berbicara dengan Bern.
"Aku Zion Mark."
Zion mengambil huluran tangan Bern pada tongkatnya. Guru itu hanya bisa melihatnya. Dia tidak bisa sesuka hati memarahi seorang pangeran hanya kerana meminjam tongkat orang lain. Nanti malah dia yang di marahi atasan.
"Bern Kailyth."
Bern hanya menjawab singkat dan dingin. Tidak menunjukkan tanda ingin berteman.
"Baik, kalian bisa mulakan."
Guru memotong mereka dan Zion mula memfokuskan mananya. Dengan bantuan tongkat Bern yang sangat bagus dalam pengendaliannya dalam mana, dia berjaya dalam sekali coba.
Lingkaran yang terjadi berwarna emas dengan simbul rumit yang sangat mewah.
Clap. Clap. Clap.
Seuara tepukan terdengar. Namun Zion tidak bisa mendengarnya. Dia terlalu kagum dengan lingkaran miliknya. Dia seorang yang sangat suka benda berkilau dan lingkarannya membuat dia buta seketika. Namun dia sangat kagum dengan lingkaran itu. Perlahan, lingkaran itu pudar dan menghilang kerana hilangnya fokus Zion.
Zion menoleh ke arah Bern, pemilik sebenar tongkat. Bibir Bern yang kaku terukir senyuman halus seolah dia bangga.
Zion tersenyum dan ingin menyerahkan tongkat itu kembali. Jadi dia mendekatinya. Namun dua langkah sebelum mencapainya, lingkaran muncul di kaki Bern.
Itu tidak mencolok seperti milik Zion dan 8 pelajar lainnya. Itu hanya 2 lingkaran kosong berwarna putih hingga bahkan tidak ada yang perasan Bern membuat lingkaran sihir.
Hanya guru dan Zion yang berada di dekatnya perasan Bern membuat lingkaran sihir.
Namun hanya Zion, yang paling dekat bisa merasakan rasa tenang di dalam lingkaran itu. Tapi juga membawa rasa sedih yang tidak dia ketahui dari mana.
Bern membuka matanya dan tersentak Zion tepat di depannya dan lingkarannya menghilang. Namun mata berbinar Zion tidak menghilang.
"Mari berteman!"
Zion mengatakan itu dan Bern hanya mengambil tongkatnya kembali lalu pergi ke tempat duduknya kembali tanpa memberikan jawaban. Zion juga kembali ke tempat duduknya dengan mata kosong.
"Uen....."
Uen memandangnya. Dia terlihat dingin. Namun Zion sepertinya tidak peduli sama sekali dengan tatapan dingin itu.
"Dia tidak mau berteman dengan ku."
Uen menghela nafas dan memijat batang hidungnya.
"Dia tidak akan berbicara dengan mudah kerana dia anjing kakak Leio. Kamu harusnya sudah mengetahui itu."
Zion memuncungkan bibirnya tidak puas.
"Aku sangat baik padanya. Ibu juga baik padanya. Aku bukan seperti banjingan 2 dan 3."
Uen hanya memalingkan wajah tidak peduli. Namun matanya melirik ke arah Zion yang menatap tajam Bern dan tatapan penuh iri pada Anton yang berbicara pada Bern walau Bern mengabaikannya.
'Ini akan sedikit sulit.'
Perilaku Zion adalah dia akan mencoba apapon untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Namun yang dia inginkan hanyalah sesuatu yang kekanak kanakan.
"Ahem. Sekarang, bukalah Grimoir kalian."
Sekarang ini adalah kelas sihir. Jadi kelas yang bukan penyihir hanya ingin tidur.
"Sebagai sihir dasar, kalian pasti sudah pernah mencobanya di perpustakaan, kan. Sekarang, kalian bisa mencoba membuka halaman kedua."
Semua pon membuka halaman kedua dan mendapati ada mantra baru di sana. Bern mengangkat tangan ketika itu.
"Iya."
Guru memberikan Bern izin berbicara.
"Namun saya punya 4 halaman yang sudah terisi. Jadi bagaimana ini?"
Guru itu jadi mengingat bahwa ada anak bernama Bern di kelasnya yang menolak medali.
Bern mengangguk paham. Ada beberapa orang merasa bahwa Bern hanya ingin menyombongkan diri. Namun Bern hanya bertanya kerana menghormati gurunya. Sepintar apapon seorang murid, mereka masih lebih rendah dari gurunya. Guru diibaratkan orang tua kerana mereka bersedia memberikan ilmu pada orang lain.
"Setelah halaman kedua ini, kalian harus menciptakan sihir sendiri atau membaca buku sihir lainnya. Kembangkan lah diri kalian sendiri dan usaha kalian akan di catat dalam grimoir kalian. Begitulah caranya berkerja."
Guru itu menerangkannya.
'Seperti tidak ada gunanya saja. Aku tahu apa yang kalian pikir. Namun dengan grimoir, sihir kalian menjadi dua kali lebih kuat."
Guru itu bisa melihat wajah para pelajar mula berubah tentang grimoir. Namun hanya Bern yang tidak tertarik dengan itu.
"Pelajar Bern, apa kamu punya beberapa kata yang ingin kamu sampaikan?"
Guru itu ingin tahu apa yang di pikirkan anak yang tenang itu. Bern berdiri untuk menjawab.
"Kamu bisa kedepan dan memberikan pendapat kamu pada semua."
Bern bisa dengan tenang turun semula tanpa ada rasa gugup seorang pelajar.
"Berikan pendapat mu pada seluruh kelas."
Guru itu dengan senyum lembut mengatakan itu.
"[Hari kekacauan yang muncul.]"
Semua orang tersentak ketika Bern merapal mantra.
"[Pahlawan juga akan muncul.]"
Bern merapal itu sambil membuat grimoirnya terapung dengan mana. Itu adalah mantra di halaman keempat.
Semua orang merasa sangat takut bahkan untuk melihat ke arah Bern. Mereka merasa akan mati jika mereka melakukannya.
Namun itu hanya untuk beberapa detik saja.
"Mantra yang aku rapalkan tadi adalah mantra untuk mengancam seseorang. Ini adalah sihir di halaman keempat ku."
Semua orang bingung dengan apa yang coba di terangkan Bern.
"Namun itu bukan milik ku. Sihir yang aku rapalkan bukan milik ku. Rasanya seperti kalian mengambil sihir yang bukan milik kalian dan gunakannya."
Apa yang berbeda dengan itu? Semua orang terlihat bingung bahkan guru yang mengajar.
"[Rahmati ku, berikan aku kekuatan.]"
Itu adalah mantra yang Bern guna untuk menguatkan dirinya dan mengalahkan ketua hantu kerbau. Hanya ucapannya tidak bisa di dengar siapapon kerana dia merapal hanya dengan gerakan bibir.
Semuanya merasakan kekuatan berbeda dari Bern. Itu tidak sehebat kekuatan yang mengancam seperti tadi. Namun sihir kali ini membuat mereka ragu menyerangnya. Itu mengikuti Kepribadian Bern yang tidak menyakiti selagi tidak ada yang mendekat.
Bern mengambil pembaris besi dan dengan mudah menghancurkannya. Dan kemudian dia menghilangkan mantranya.
"Grimoir mencoba membuat kita mencari jati diri kita sendiri. Kerana itulah, mereka memberikan 2 sihir dasar untuk menyedarkan kita tentang betapa pentingnya berjalan untuk berusaha. Walau sihir keempat yang aku gunakan, lebih kuat dan mengancam, sihir ketiga ku yang telah aku peroleh sendiri lebih cocok dengan ku."
Semua orang tidak bisa menyangkal itu. Sihir kedua yang dia gunakan tampak lebih lemah. Namun lebih mengancam dari sihir pertama. Tidak seperti sihir pertama yang di tunjukkan, membuat semua orang takut begitu saja. Sihir kedua memberikan mereka amaran untuk tidak menyerangnya kerana orang di depan mereka memang hebat.
"Aku tidak tahu mengapa grimoir di sebut teman seumur hidup penyihir. Namun itu mungkin kerana mereka akan mencatat semua sihir yang kita kembangkan dan mengikuti perjalanan sang penyihir seumur hidup. Sekian dari saya."
Bern tunduk pada guru wanita itu.
"Tidak, tidak. Aku mendapatkan sesuatu yang baru dari kamu. Kamu seorang yang jenius."
Guru itu memujinya.
"Tidak. Saya masih memerlukan tunjuk ajar semua guru. Saya masih mentah dalam pengetahuan."
Guru itu tersenyum melihat Bern menghormati gurunya walau dia sangat terkenal dan seorang bawahan pangeran mahkota.
Bern kembali duduk ke kursinya. Jam pelajaran berubah kepada pelajaran lain.
"Cara menggunakan pedang dengan sempurna....."
Guru di depan menerangkan gaya berpedang yang dasar. Para penyihir tidak tertarik dengan itu mengingat mereka hanya akan di belakang dengan serangan sihir.
Namun Bern, di kelas manapon, dia terus mengambil nota. Bahkan di kelas tombak yang Anton pergi tidur walau itu jenis senjatanya.
Bern melihat cara guru itu mengajari dasar dasar berpedang mengingat bagaimana dia mula berlatih pedang. Semua yang di tunjukkan adalah teknik dasar yang benar. Bern tidak pernah melakukannya di dunianya yang dulu. Tidak ada guru untuk mengajarinya.
Dia mula meletakkan pensel dan memerhatikan bagaimana guru itu berpose dengan pedangnya sebagai teknik dasar.
"Ada sesiapa yang ingin mencoba?"
Sekali lagi, tentu saja tidak ada yang mengangkat tangan. Sangat membuang waktu melakukan hal dasar yang sudah di pelajari sejak kecil.
Namun Bern mengangkat tangannya.
"Eh....? Dia bukan penyihir ke?"
"Dia penyihir kan?"
Banyak bisikan pergi ke arah Bern. Namun Bern mengabaikannya. Tidak ramai yang tahu dia menggunakan pedang untuk serangan akhir. Bahkan Anton tidak tahu itu kerana datang terlambat.
'Aku sedikit tertarik dengan guru ini.'
Bern tertarik dengan guru dengan kulit coklat di bakar sinar matahari itu. Rambutnya biru kehitaman dan mata hitam. Warna yang unik untuk di katakan rakyat jelata.
Bern pasti guru itu seorang bangsawan atau seseorang yang berpura pura menjadi seorang guru. Mungkin mencoba mencari bakat baru.
Bern tidak peduli dan mengambil pedang kayu. Ini pertama kali dia menggunakan teknik dasar untuk pedang.
.
.
.
.
.
...**Bersambung**...