From No Body To Hero

From No Body To Hero
Episode 13



Sha-------


Suara hujan tidak berhenti walau sudah lama waktu berlalu. Sepertinya logika cuaca tidak berlaku di sana.


"Hah......"


Bern menghela nafas sambil melihat langit langit goa. Dia hanya ingin pingsan. Namun dia tidak bisa melakukan itu mengingat dia dalam kondisi yang tidak memungkinkan dirinya melepaskan kewaspadaan nya walau hanya sedetik.


Juga seluruh tubuhnya terus terusan membuat dirinya ingin memuntahkan darah dalam beberapa detik.


Temannya yang lain tidur di sisi goa yang lain dan kondisi mereka baik baik saja tentunya setelah meminum ramuan sihir. Namun efeknya membuat mereka semua tidur seolah pingsan.


****


"Baiklah. Aku berjanji."


Pria setinggi 2 meter itu dengan mudah bersumpah dan muncul benang hitam melingkari leher pria itu. Itu tanda janji maut sudah di sepakati.


Dalam 24 jam, jika janji itu tidak di penuhi, benang itu akan membuat kepala pria itu terpenggal begitu saja. Setelah selesai di jalankan janji itu, benang akan menghilang.


"Hah........"


Bern menghela nafas dan melepaskan pria yang di cekiknya. Dia menendang kepalanya mengingat semua temannya yang terluka.


"Apa kamu berdendam?"


Pria setinggi 2 meter itu sepertinya ingin terkekeh dengan tindakan Bern.


"Hanya sedikit balasan kecil mengingat apa yang dia lakukan pada teman ku. Dia pantas mati."


Sedikit api kemarahan muncul di mata Bern. Namun Bern tidak menunjukkan permusuhan pada pria di depannya itu.


"Kamu sangat menarik. Ini."


Pria itu melempar 5 ramuan sihir pada Bern dan Bern langsung tidak berpikir untuk menggunakan pada dirinya sendiri.


"Bern, kamu gunakan saja ini pada diri mu."


Lewis mengatakan itu walau dia masih menahan sakit. Bern menghela nafas mendengar itu.


'Anak anak tetaplah anak anak. Bagaimana aku bisa menggunakan ini untuk aku ketika aku orang dewasa di sini?'


Bern tidak pernah berpikir untuk mencuri dari anak anak bahkan jika dia akan mati kebulur. Juga lebih baik jika hanya dia yang menderita kerana kekalahan kaki ini.


"Diam dan telan saja."


Bern mengatakan itu dengan dingin lalu menyumbat ramuan sihir berbentuk cecair ke dalam mulut mereka semua hingga mereka tertidur kerana efek dari ramuan.


Bern membuang kain yang menutupi wajahnya dan menyeka darah di wajahnya hingga tidak tersisa. Mata pria besar itu terlihat melebar dan ingin mengatakan sesuatu sebelum tertutup rapat ketika kumpulannya yang lain muncul.


Setelah temannya yang lain minum, tali di leher pria 2 meter itu menghilang membuat kumpulannya tidak tahu bahwa dia memberikan bocah nakal itu ramuan sihir melalui perjanjian maut. Kemudian mereka di lempar ke dalam penjara goa itu. Semua senjata mereka di sita, tentu saja.


****


Dari hal hal buruk yang terjadi, sedikit hal baik muncul. Bern akhirnya bisa sedikit merehatkan tubuhnya yang lelah di penjara itu. Walau kewaspadaannya tidak turun, dia bisa tidur walau tidak nyenyak. Bagaimana dia bisa tidur dengan nyenyak ketika rasa sakit terus membangunkannya?


"Mnnm..."


Mereka semua bergerak menunjukkan mereka bangun. Pandangan mereka kabur kerana bangun dari tidur yang lelap dan pandangan pertama yang memasuki mata mereka adalah jeruji besi.


Mereka mula berkerut tidak puas. Namun pandangan kedua adalah Bern yang duduk santai seolah tidak sakit sama sekali.


"Bern, kamu baik baik saja, kan."


Anton dengan cepat ingin memeriksa kondisi Bern. Namun Bern tentu saja langsung mengelak dan mengangguk ringan.


Kemudian mata mereka menangkap seseorang di dalam penjara itu. Walau pupil dan matanya di warnai hitam, mereka mengenalinya.


Putra sulung dari Duke Zeke, Thomas Zeke. Orang yang di lirik mereka menunduk seperti sudah mengetahui apa yang mereka pikirkan.


"Kamu, kamu anak sulung Duke Zeke, kan."


Thomas tidak mengelak dan mengangguk ringan. Kekesalan dari rasa kalah juga semua yang mereka alami memenuhi mereka. Mereka ingin melampiaskan itu pada anak orang yang seharusnya bertanggung jawab dalam hal ini. Semua orang di penjara itu juga terlihat tidak peduli kerana mereka merasakan hal yang sama.


Namun baru saja mereka ingin membuka mulut.


"Diam."


Mereka semua langsung tutup mulut dengan suara dingin Bern. Walau suaranya dingin, dia masih duduk dengan santai seolah suara dingin itu bukan berasal darinya.


"Kamu anak dari Duke Zeke?"


Bern bertanya dan Thomas mengangguk ringan lagi.


"Berapa umur mu?"


Thomas bingung.


'Mengapa ingin menanyakan umurku?'


"15."


Namun dia masih menjawab dengan putus asa.


"Hah....."


Bern menghela nafas dan menatap langit langit goa seperti merasa semua kekuatannya terkuras.


"Apa kalian ingin melampiaskan kemarahan kalian pada anak yang bergetar ketakutan dan bahkan di bawah umur kalian? Jadilah sedikit matang."


Mereka semua yang ada di goa tersentak termasuk Thomas.


"Jika ingin menyalahkan, kalian harus menyalahkan aku. Aku merasakan kehadiran asing namun aku mengabaikannya. Jadilah matang sebelum bertindak di situasi ini."


Semua orang tertunduk dan malu. Apalagi mereka yang jauh lebih tua dari Bern. Juga menyalahkan Bern yang menolak ramuan sihir ketika dialah yang paling membutuhkannya? Bagaimana mereka bisa? Orang di goa itu juga melihat bagaimana Bern bertarung dan mendukung temannya. Mereka tidak berhak marah bahkan jika itu kecuaian Bern mengabaikan keberadaan di situasi itu. Juga sangat malu kerana Bern sudah memberikan segalanya sedang mereka hanya duduk dan melihat kerana sangat takut untuk bertarung.


"Lidah bisa membuat musuh dan membunuh kalian. Ingatlah, jika kalian hanya akan mengatakan sesuatu yang menyakitkan pada orang lain, lebih baik kalian potong saja lidah itu."


Anton lah yang paling merasakan apa yang di bicarakan Bern benar benar di lakukannya. Bern tidak banyak bicara sepertinya juga tidak pernah menyakiti orang lain dengan perkataannya.


"Jangan terlalu murung. Semangat lah."


Bern menepuk pundak Thomas lembut seolah membujuknya.


Terlebih, Bern di matanya terus memberikan ketenangan daam kumpulan itu.


Bern memikirkan rencana ke depannya. Dia tidak bisa hanya duduk menunggu tanpa rencana.


"Ouh, apa nama ayah mu?"


Semua bingung. Bern tidak tertarik dengan pangkat bangsawan. Baginya, semua orang hanyalah manusia ketika mereka di tanam kembali ke sang pencipta.


"Rashal Zeke."


Thomas menjawab dengan patuh. Di dalam kegelapan itu, tidak ada yang bisa melihat mata berbinar Thomas. Merasa seolah dia kembali hidup setelah menerima beberapa kata Bern, dia benar benar ingin mengetahui siapa orang di depannya itu.


Dia hanya tahu namanya Bern kerana Anton.


"[Getaran melintasi samudra...]"


Bern berhenti seketika ketika darah menaiki tenggorokannya. Dia menelannya dan menggertak giginya sedikit menahan rasa sakit.


"[Suara adalah komunikasi.]"


Layar muncul memunculkan wajah Duke Zeke yang sepertinya sedang marah, panik dan semua perasaan cemas. Semua orang tersentak melihat itu.


Bern dengan cepat memutar layar ke arah Thomas dan mengerang di sudut sambil memegang perutnya. Rasanya seperti dia di hancurkan beberapa kali.


"Bern....."


Anton, Zion dan Lewis ingin berteriak. Namun mereka tidak bisa dan menggigit bibir mereka. Mereka ingin menangis melihat Bern mengerang di sudut. Ailen dan Uen juga merasa seperti paku di mata mereka melihat adegan itu.


"Tho...!"


"Shhhhh...."


Thomas langsung memotong ayahnya. Dia memerhatikan sekelilingnya. Dia tidak bisa mengabaikan pengorbanan Bern untuk menghubungi ayahnya. Setiap detik adalah kehancuran Bern. Lihat saja bagaimana dia mengerang di sudut goa seolah tidak ingin menunjukkan kelemahannya.


Dia terus menerangkan apa yang terjadi dengan bantuan Uen sang pangeran keempat. Mata Duke menyalakan kemarahan yang sepertinya tidak akan dengan mudah padam. Setelah selesai, layar langsung terputus.


Erangan Bern sedikit lebih baik. Sepertinya gangguan mana semakin kuat untuk sihir komunikasi dan taliportasi.


"Bern, kamu terlalu berlebihan."


Zion mengatakan itu dengan wajah tidak berdaya. Kesakitan yang lebih dari yang di jangka Bern membuatnya kewalahan.


"Hah..... Anton, pinjam bahu."


Bern hanya bercanda dan ingin bersandar ke dinding goa. Tapi tangannya malah tergelincir dan berakhir bersandar pada Anton di dekatnya.


Bern yang sudah kehabisan kekuatan tidak bisa menggerakkan tubuhnya lagi. Dia kehilangan kesadaran di bahu Anton.


Anton tidak berpikir untuk mendorongnya atau sesuatu. Bern pasti sudah sangat kesakitan hingga pingsan kerana menggunakan mana. Sedikit darah mengalir keluar dari mulut Bern. Darah yang mengalir adalah darah yang tidak sempat Bern telan sebelum pingsan.


"Mari kita rehatkan tubuh kita."


Semua mengangguk setuju. Mereka tidak akan bisa melakukan apa pon jika mereka terlalu letih.


****


Semua orang tertidur lelap di dalam goa. Pria dengan tinggi 2 meter itu kembali. Namun tidak ada yang menyadarinya mengingat dia adalah seorang kelas assasin.


Namun walau begitu, Bern dengan cepat buka mata seolah merasakan bahaya.


"Eh, bukan kamu pingsan ke?"


Pria itu jongkok di depan Bern. Walau dia sudah berjongkok, dia tetap terlihat seperti gunung di mata Bern.


"Aku hanya tidur. Bagaimana aku bisa pingsan di situasi ini?"


Bern berbicara dengan dingin. Namun matanya tidak menunjukkan permusuhan pada pria di depannya.


"Kalau begitu, tidur saja."


Pria itu dengan kasar memaksa Bern meminum sesuatu. Bern yang kesakitan tidak bisa melawan dan minum saja. Namun bukan menyakitinya, itu membuatnya sedikit lebih baik. Walau masih terasa menyakitkan, itu tidak terlalu teruk.


Mata Bern kabur kerana efek ramuan sihir adalah mengantuk.


"Mengapa?"


Namun Bern masih menjaga kasadarannya.


"Benar benar menarik. Kamu bisa melawan rasa kantuk mu. Sudah, tidur saja."


Tangan besar pria itu menepuk kepala Bern dengan lembut dan akhirnya Bern kehilangan kesadaran setelah merasa tidak ada bahaya.


"Yah.... Langsung tidur ketika niat membunuh ku menghilang? Benar benar seperti radar. Hahahaha...."


Pria itu tertawa dan merapikan semula kedudukan Bern pada Anton. Dia menghilang dalam beberapa detik seperti tidak pernah ada di sana sama sekali.


Dia berjongkok di atas dahan dengan tangan kanan menopang dagunya.


"Orang lemah ini benar benar menyebalkan."


Pria itu tidak bisa tidak mencebir pada tindakan kumpulan tengkorak iblis itu. Namun dia bahkan belum bisa mencapai kaki tangan utama kumpulan itu.


"Organisasi Satan, apa tujuan kalian sebenarnya?"


Pria itu hanya menyelidikinya kerana terlihat menarik di banding kehidupannya yang membosankan. Namun semakin lama dia bersama mereka, semakin jijik dia dengan organisasi itu.


Matanya kembali tertuju pada goa tempat semua orang di tahan. Lebih tepatnya, dia melihat Bern yang bersandar pada Anton.


'Dia tidak terlihat seperti bocah yang baru mengenal dunia.'


Pria itu mengabaikan perasaannya dan kembali berpura pura menjadi anggota kumpulan itu.


"Yo, siapa setelah ini?"


Seseorang bertanya dan pria itu bisa melihat gambar Bern di gambar paling atas untuk pengorbanan. Matanya berubah dingin.


.


.


.


.


.


...**Bersambung**...


Nulho: Gimana ya, aku lupa yang Zeke itu Marquis dan mengubahnya jadi Duke. ಥ‿ಥ Jadi kita ubah saja jadi Duke di sini, ya. Kalo yang mau nanya tentang tingkatan bangsawan Inggris, ini tingkatnya.


👇



Baron


Viscount


Count


Marquis


Duke



Baron yang paling rendah dan Duke yang paling tinggi. Ok, harap membantu. Semoga chapter ini menghibur ya.