From No Body To Hero

From No Body To Hero
Episode 2



Bern hanya diam. Dia tidak begitu suka dengan seorang bangsawan. Dia berharap mereka meninggalkannya sendirian.


"Angkat kepala mu dan jawab."


Namun Bern hanya tunduk. Kleio mengerutkan kening.


"Kamu tuli atau gimana?"


Kleio tidak menyukai orang yang mengabaikannya. Apa lagi mereka yang kesusahan dan dia membantu mereka.


Bern akhirnya bangun menyingkirkan wajah kesulitannya. Wajah tenang menghiasi wajahnya.


"Maaf, yang mulia, saya-"


Kruuuk... Kruuuk....


Bunyi perutnya membuat Bern merasa sangat canggung.


Buk!


Bern memukul perutnya agak kuat.


'Sial.'


Bern tunduk kembali tunduk yang lebih rendah.


"Maaf. Kembali ke topik, saya hanya berkerja untuk makan, yang mulia. Ada sesuatu yang harus saya urus. Senang bertemu dengan anda, yang mulia."


Bern langsung bangun dan melarikan diri dari Kleio tanpa melihatnya. Dia tidak bisa melihat wajah Kleio yang meliriknya dengan tajam.


Kleio menatap Bern hingga dia menghilang.


"Apa dia pelajar Luxana?"


Kleio bertanya dan bawahannya dengan cepat datang dengan dokumen di tangannya.


"Bern Kailyth, 16 tahun. Dia masuk ke academy Luxana dengan hutang 1 juta emas dan baru saja di buang keluarganya."


Bawahannya dengan cepat memberitahu informasi tentang Bern.


"Apa perlu mengikutinya?"


Kleio menggeleng.


"Kami akan bertemu cepat atau lambat jika dia pelajar academy. Mari dapatkan pedang ku."


Kleio berpaling dan melihat pedang barunya yang kokoh dan indah. Walau begitu, itu tidak bisa di gunakan di academy Luxana. Itu hanya senjata yang bisa dia gunakan di luar sekolah.


Kleio adalah pelajar kelas 2 di academy Luxana. Luxana adalah batu loncatannya untuk menjadi pangeran mahkota yang sukses.


****


"Mengapa ada kotak di sana?"


Bern bertanya melihat 5 kotak di sudut ruangan.


"Itu hadiah dari pangeran mahkota. Kamu tahu, itu membuat ku kaget dan iri."


Anton menjawab dengan wajah sedikit iri. Namun Bern dengan mata dingin menatapnya.


Dia pergi ke arah kotak dan membukanya. 3 pakaian dan 2 makanan.


'Mari pulangkan saja kotak ini.'


Bern tidak punya niat menyimpan barang itu. Dia bukan seseorang yang mudah di bujuk hanya dengan beberapa barangan mahal.


Kruuuk.....


'Sial....'


Namun pada akhirnya, perutnya yang lapar menang. Dia tidak makan untuk 2 hari kerana tidak punya uang. Dia seseorang yang tidak suka berhutang budi. Tapi melihat makanan busuk juga bukan kegemarannya.


Anton menatap Bern yang mengambil roti dari kotak itu tersenyum.


"Ngomong ngomong, kita akan tes kelas dan senjata besok. Apa menurutmu tentang kelas dan senjata mu? Aku pasti adalah kelas pejuang dan pedang."


Anton dengan percaya diri mengatakan. Kelas dan senjata adalah tes kecocokan sebelum memasuki academy.


"Entahlah. Bagaimana dengan penyihir?"


Bern bertanya mengingat Kleio mengatakan dia cocok menjadi penyihir.


"Penyihir.... Aku dengar mereka akan memilih tongkat dan buku sihir grimoir. Kelas penyihir adalah kelas yang umum."


Kelas penyihir adalah kelas umum dan terlemah kerana penyihir sangat lemah dalam soal fisik.


Mereka sangat mudah di tekan.


"Hnm.... Apakah begitu."


Bern tidak peduli. Jika penyihir kelasnya, dia hanya perlu menjadi penyihir.


****


Keesokan harinya.


Di pusat tes kecocokan.


Belbagai senjata berderetan di sana termasuk tongkat sihir. Itu benar benar terlihat seperti gudang senjata.


"Baiklah. Mari kita mulakan tes kecocokan."


Bern ingin pergi saja. Mengapa orang yang bertugas itu harus dia? Kleio dengan tenang mengetes kococokan semua orang.


Namun dia mengerutkan kening ketika melihat Bern. Tentu saja kerana Bern tidak memakai hal yang dia berikan. Tidak satupon.


"Apa kamu baik baik saja?"


Bern bertanya ketika melihat Anton yang terbaring di lantai penuh kekecewaan. Senjatanya ada tombak dan kelasnya adalah prajurit. Kelas yang umum setelah penyihir. Yah, ada banyak yang kecewa seperti Anton.


Tingkat kelas ada 7


Penyihir


Prajurit


Pendukung


Pejuang


Penembak jitu


assassin


ksatria


Yah, walau kelas tidak menentukan segalanya.


Bern menaiki anak tangga ke tempat Kleio.


Kleio tanpa basa basi bertanya. Bagaimana seseorang bisa menolak barang pemberian pangeran mahkota?


"Saya akan memulangkannya. Namun saya akan membayar untuk makanan. Saya tidak akan bisa memulangkan sesuatu yang sudah saya makan."


Bern juga tidak basa basi dan memberitahunya akan memulangkan barang pemberiannya. Kleio mengerutkan kening dan memalingkan wajahnya seolah ngambek.


"Aku tidak mengambil barang yang sudah aku buang."


Kleio benar benar terlihat ngambek dan Bern menghela nafasnya. Anak yang belum hidup separuh umurnya itu terlihat seperti anak kecil saja di matanya. Kamu harus 20 tahun untuk mendapatkan separuh umurnya. Bern, tidak, Wacth Honton mati di umurnya yang ke 39 tahun hampir 40 tahun.


'Bagaimanapon statusnya, anak tetaplah anak.'


Bern mengabaikannya dan pergi ke bola yang akan menentukan masa depannya di academy.


Bola itu mula bercahaya. Mana mengalir di tubuh Bern dengan sangat baik. Kata penyihir langsung masuk ke pikirannya.


Setelah dapat kelasnya, Bern ingin pergi. Namun matanya bertemu dengan Kleio yang mengerutkan kening. Dia menoleh kembali melihat bola itu masih berjaya seolah belum selesai.


'Ouh, tongkat....'


Bern melupakan itu. Tongkat adalah senjata bagi penyihir. Bern menutup matanya. Bayangan tongkat yang hampir sepanjang pundaknya terlihat dan bola itu berhenti bercahaya.


Bern turun dan melihat semua orang mengambil senjata mereka dengan hati hati. Senjata mereka itu akan menemani mereka hingga akhir hari di academy. Bagaimana mereka bisa hanya setengah hati memilih?


Namun untuk Bern, sangat mudah mengetahui tongkat sihirnya. Satu satunya tongkat sihir terbesar di sana, hanya sedikit di bawah pundaknya.


Bern melihat pelajar kelas penyihir yang jumlahnya mungkin 100 orang mengambil tongkat yang mungkin hanya sepanjang tangan ke siku mereka dengan sedikit iri. Tongkatnya yang besar sangat menghambat gerakannya.


"Para penyihir ikut aku untuk memilih teman kalian seumur hidup. Yang lain bisa ke ruang pelatihan mencoba senjata kalian."


Dengan begitu, para penyihir pergi ke perpustakaan grimoir.


"Di sini, selama 5 jam, kalian harus menarik grimoir keluar dari rak. Jika berjaya dengan mudah, itulah pasangan kalian. Jika tidak berjaya dalam 5 jam, bisa di coba besok."


Kleio menerangkan cara mendapatkan grimoir dan duduk di kursi meja di satu satunya pintu keluar seperti seorang pustakawan.


Para pelajar mula menarik buku grimoir dan mereka terlihat sangat kesulitan untuk menariknya. Grimoir memilih pemiliknya sendiri.


Namun mata Kleio terus melihat Bern dengan tongkatnya yang besar melihat sekeliling. Bern meletakkan tongkatnya dan mula berkeliling. Selama berkeliling, tidak ada buku yang di tariknya.


Setelah selesai berkeliling, dia mengambil tongkatnya kembali dan mengambil buku yang paling nipis. Tentu saja tidak berjaya.


Kemudian dia mengambil tebal yang umum. Itu juga tidak berjaya.


Bern menghela nafas. Dia berjalan dan mengambil grimoir yang paling tebal. Dan tentu, itu berjaya dengan mudah.


'Rasanya seperti membawa beban...'


Bern tidak senang dengan itu. Namun Kleio sangat tertarik dengan Bern. Tongkat yang besar adalah tanda berapa banyak sihir yang bisa dia tampung dan grimoir tebal menunjukkan seberapa banyak mantra yang bisa dia gunakan di masa depan. Tentu saja Bern tidak tahu akan itu.


Hampir 30 orang yang sudah berjaya mengambil grimoir mereka.


"Baik, yang sudah berjaya, bisa mencoba mantra pemula di halaman pertama. Setelah mahir, halaman kedua akan muncul."


Kleio menerangkan dan mereka menggunakan sihir membuat grimoir mereka terapung dan mencoba mantranya.


"[Air suci tiada tanding, air tiada bentuk!]"


Seorang gadis menyebut mantranya dan muncul bola air.


Mantra hanyalah puisi yang terkadang tidak penting. Jika terlalu mencolok seperti 'Air sangat suci, bebola air tiada tanding.' musuh akan tahu serangan penyihir. Yang terpenting adalah imaginasi ketika merapal.


"[Kegelapan menelan dunia, cahaya siap berdiri di depan!]"


Namun tidak ada yang berlaku membuat gadis itu malu.


"[Petir adalah peng....] Ya ampun! Susah amat nyebutnya!"


Ada yang terbelit lidahnya. Banyak yang melempar grimoir mereka dengan frustasi.


'Malu banget yah, nyebut mantra. Mengapa kalian berteriak jika malu?'


Bern menatap para pelajar itu seolah mereka sangat lucu.


Bern bergerak dan tongkatnya tersangkut.


'Merepotkan aja.'


Bern adalah satu satunya yang membuang tongkat serta grimoirnya ke belakang seolah mereka hanya beban. Tongkat penyihir adalah sesuatu yang membuat mana stabil. Namun itu di buang?


Bern mendepangkan tangannya seolah akan menerima sesuatu.


Dia menutup matanya.


"[Angin barat ke selatan.]"


Bern merasakan mana yang mengalir di seluruh tubuhnya. Dia membuka matanya perlahan.


"[Membawa mendung yang tidak berujung.]"


Mata Kleio membelalak. Bern merapal tanpa menggunakan tongkatnya atau grimoir. Itu sangatlah langka. Bern adalah jenius dalam sihir.


Angin lembut yang dingin seperti angin sebelum hujan membuat semua orang menoleh ke arah Bern. Namun yang menarik perhatian mereka adalah angin yang lembut itu membuat mereka mengingat kampung halaman mereka juga keluarga mereka.


Wajah tenang Bern juga memainkan peranan. Semua orang merasa pemandangan itu sangat indah walau wajah Bern hanya pas pasan sebagai rakyat jelata.


Bern menutup kembali matanya dan menghilangkan sihir itu dan mengambil tongkat dan grimoirnya. Di berjalan ke arah Kleio.


"Bern Kailyth."


Kleio hanya mengangguk seolah tidak peduli tentang itu dan mencoret nama Bern di dalam senarai yang sememangnya yang paling atas.


Bern berjalan pergi. Dia masih memiliki pekerjaan yang harus dia lakukan.


Dia berjalan pergi tanpa tahu tatapan panas yang menghala ke arahnya.


Kleio menatap salah seorang penyihir di sana dengan mata berbinar. Orang itu adalah adik bungsunya. Zion Mark. Mereka hanya berjarak 1 tahun.


Dia sepertinya di penuhi tekad.


'Aku harus mendapatkannya dulu.'


Dia tidak bisa kehilangan orang yang akan sangat hebat di masa depan pada adiknya. Yah, walau adiknya yang bungsu tidak akan mencelakainya.


.


.


.


.


.


...**Bersambung**...