
"Mari kita mulakan." Ucap Bu guru.
Semuanya mula di panggil. Kumpulan Bern adalah yang terakhir. Jadi Bern hanya duduk di bawah bayang dan tidur.
"Heh, lihatlah. Dia tertidur seolah kita hanya permainan." Ucap seseorang yang berada di kumpulan Bern.
"Dia kuat kerana dia jenius, memang apa yang bagus dengan itu?" Balas temannya.
"Dia bisa menjadi sekuat itu pasti kerana pangeran mahkota." Balas temannya yang lain dengan keringat di pipi.
Bern yang menutup matanya, membukanya sedikit, dan menatap 3 bocah itu dengan tajam.
'Berani mengutuk ku ketika aku keluar?' Bern ternyum mengerikan.
Walau di bilang dia hanya malas, itu lebih kepada kepribadian ganda. Kepribadian ganda Bern cukup bahaya.
Itu kerana Bern yang ini lebih kejam pada orang yang tidak mendengarkannya. Namun dia masih akan melayani orang yang dia sayangi dengan cara yang sama.
Teman Bern menang dengan mudah. Lawan mereka terlalu lemah bahkan jika mereka senior. Perbedaan antara mereka yang sudah bertarung di medan tempur sesungguhnya sungguh besar.
"Baik, group terakhir sila maju." Ucap Bu guru.
Semua orang berdiri di tengah lapangan. Semuanya saling bertatapan setuju untuk menghabisi Bern terlebih dulu.
"Baik, mulakan!"
Pertempuran di mulai, dan semuanya siap menyerang Bern.
"[Melutut.]" Suara Bern dingin tidak terasa hangat. Itu memberikan rasa kengerian bagi mereka yang melutut kerana mantranya.
Namun, mereka bisa bangun setelah beberapa detik.
"Aku tidak punya urusan dengan kalian, selagi kalian tidak menyentuh ku, maka kalian tidak perlu berlutut." Ucap Bern dan semua orang yang akhirnya bisa bangun, mengabaikan Bern seolah dia tidak ada.
Bern berjalan mendekati ketiga tuan muda itu.
"Hei, jika kalian mengalah sekarang, ini akan lebih mudah." Ucap Bern dengan senyum mengejeknya.
"Mana mungkin! Kau pikir kami akan kalah dengan kekalahan memalukan itu!" Tuan muda di tengah berteriak tidak puas.
"Itu benar! Kau orang rendahan sialan!" Balas temannya.
Temannya yang satu lagi, pelayan dari keluarga Baron, diam seketika.
"Aku mengalah!" Ucap yang ketiga.
Bern mengangkat alisnya tidak menyangkakan itu.
"Kau pasti sering di tindas. Tidak heran kau menghianati mereka dengan mudah." Ucap Bern semakin merendahkan.
"Baik, kau pergi saja. Untuk kalian, aku tidak akan membiarkan kalian pergi dengan mudah." Ucap Bern dengan tatapan mengerikan.
Buk! Duk! Buk!
"Aaaaarrrggg!!!" Teriak tuan muda rambut kuning ketika perutnya di tendang.
"Aaaaa! aku akan memberitahu ayah ku!" Ucap yang rambut biru.
Bern tidak mengubah warna wajahnya dan terus memukuli mereka hingga setengah mati.
Tidak ada yang bisa menyuruh Bern untuk berhenti. Suhu menjadi dingin ketika mereka melihat pemukulan satu sisi itu.
"A, aku menyerah...." Ucap yang rambut biru lemah.
"A, aku juga menyerah...." Ucap rambut kuning setelah melihat yang biru menyerah.
Bern mengerutkan kening mendengarnya.
"Bukankah kalian bilang takkan mengalah dengan cara memalukan? Apa kalian menarik kembali ucapan kalian?"
Bu guru ingin mengatakan sesuatu sebelum Bern melepaskan keduanya.
"Ingatlah untuk tutup mulut kalian. Ketua dan wakil ketua club pembenci ku."
Ketika itu keluar, semua orang terdiam. Jika itu masalahnya, mereka memang layak di pukuli.
"Aku berbaik hati untuk tidak mematahkan tulang kalian. Tapi, jika aku mendengar kalian menyebut namaku lagi, akan ku patahkan semua tulang itu."
Semua orang bisa merasakan tekanan yang mengerikan dari ancaman Bern.
Bern kembali berjalan ke arah teman temannya tanpa ada darah di tubuhnya.
"Bern, dia adalah anak dari keluarga Count, akan sukar jika mereka menargetkan mu." Lewis berbicara khawatir.
Bern mendengus dan menatap dingin keduanya. Dia kembali ke keduanya, dan mengambil dokumen dari tas ruangnya.
"Anak dari Count Law, aku rasa kamu tahu ini."
Tubuh si rambut biru bergetar melihat dokumen itu.
"Kelemahan mu ada di tangan ku. Aku hanya diam kerana aku baik, tapi tidak untuk sekarang. Cuba pikirkan, apa yang akan terjadi pada keluarga mu jika Leo mengetahui ini? hnm?"
Bern berjalan kembali tanpa melihat ke belakang. Si rambut biru menggertak giginya dan langsung bangun ingin menyembunyikan dokumen itu.
Semua orang terdiam dan menyadari sesuatu. Mereka tidak menyadarinya kerana Bern selalu baik dan terlihat tidak merbahaya. Namun sekarang, mereka tahu bahwa Bern adalah seseorang yang tidak bisa mereka sentuh.
Jika bukan kerana dia menolak segalanya, dia mungkin sudah menjadi bangsawan dan memiliki gelar yang setidaknya di tingkat Count.
Bahkan orang yang paling banyak berkontribusi dalam kasus kota Narda adalah Bern sendiri.
Akan gila jika Bern masih belum menerima gelarnya secara normal.
"Ka, kamu siapa? Kamu tidak terlihat seperti Bern!" Ucap Zion bersembunyi di balik Uen.
Bern tersenyum lembut seperti biasanya, menatap Zion.
"Yap, aku bukan dia. Lebih kepada kepribadian ganda. Sebulan sekali, ketika waktu damai, aku akan keluar. Jangan khawatir, aku hanya menyakiti orang yang Bern tidak peduli tentangnya. Selagi aku tidak membunuh mereka Bern tidak akan peduli. Juga aku hanya ada 3 hari."
Hanya 3 hari. Mereka semua lega.
"Kerana itu, aku harus mengubah semua barang barangnya." Gumam Bern.
"Apa?" Lewis bingung.
"Aku ingin bertemu Leo. Kelas sudah selesai, kan? Aku pergi dulu. Ah, Bern terkadang keluar jika di ada sesuatu yang memicunya. Seperti pakaian mewah tadi." Bern yang selalu sopan, pergi begitu saja tanpa menyapa gurunya.
.
.
.
"Leo!" Bern memasuki ruangan Kleio tanpa mengetuk.
Kleio tersentak hingga hampir jatuh dari kursi.
"Ka, kamu bukan Bern. Perilaku mu sangat aneh!" Ucap Kleio.
"[Getaran melintasi samudera, suara adalah komunikasi.]"
Tiba tiba saja layar muncul di depan Kleio menunjukkan wajah Zion.
"Aku malas ingin menerangkannya lagi. Tanyakan saja pada dia." Ucap Bern dan berbaring santai di sofa.
Kleio mendengarkan keterangan dari Zion dan mengangguk paham dan layar itu menghilang.
"Jadi, apa kamu inginkan?" Tanya Kleio. Yah, Bern mungkin depresi mengingat dia dari keluarga miskin dan mengembangkan kepribadian ganda. Itulah yang di pikir Kleio.
"Uang. Kamu tahu, tidak enak meminta pada Alastair. Jadi aku meminta gaji ku. Aku harus membeli pakaian, perabut dan segalanya. Aku tidak percaya diriku hanya di berikan pakaian lusuh itu!" Keluh Bern.
Kleio tidak masalah memberikannya uang ketika yang ingin di lakukan hanyalah membeli keperluan untuk dirinya sendiri.
"Maka, aku pergi dulu." Ucap Bern setelah mendapatkan sejumlah uang.
.
.
.
Di taman belakang sekolah.
Gelang ular di lengan Bern bercahaya dan menjadi sapu sepeda motor.
"Hei, mari kita pergi berbelanja." Ucap Bern ketika dia menaiki Ben.
"Mari naik." Ucap Bern pada ketiga anak anjingnya.
ketiganya terlihat bersemangat. Alastair membonceng, Althea di pundak Alastair, dan naga biru tergantung di pundak Bern tanpa terlihat.
Dengan kecepatan luar biasa, mereka tiba di kota. Bisa di bilang, Bern bolos kelas, namun peduli apa dia?
"Kita harus pindah kamar, bukan? Maka kita bisa tinggalkan, tidak, kita harus membakarnya." Gumam Bern ketika memasuki toko pakaian.
'Jika di tinggal, dia akan mengutipnya kembali.' Pikir Bern.
Anak anjing Bern juga memasuki toko.
"Dari sini ke sini, bungkus semua." Ucap Bern membuat pemilik toko kaget, juga ketiga anak itu.
"Aku bisa membayar." Sambung Bern melempar satu tas uang penuh koin emas.
Mata pemilik toko berbinar, dan dengan cepat melakukan apa yang di suruh.
"Iya. Hantar ke asrama academy Luxana kelas 2. Berikan ini pada Steven." Ucap Bern, sambil memberikan masej pada Steven untuk mengambil barangnya menggunakan sihir.
Pemilik toko itu tunduk hormat dan dengan cepat pergi.
"Mari pergi ke toko lain." Ucap Bern dan mula berjalan lagi.
Mereka pergi ke toko mainan, membeli pakaian boneka untuk Althea, kemudian membeli banyak alat sihir sebagai permainan naga biru. Sebagai naga, keingintahuan lebih kedapa permainan dari permainan itu sendiri. Jadi alat sihir adalah permainan terbaik untuk naga biru.
Ukuran Bern dan Alastair tidak jauh beda, jadi, dia bisa memakai pakaian Bern.
Juga pergi ke toko perabotan, dan alat kegunaan sehari hari. Membeli jajan, jajan jalanan, mencoba beberapa permainan, membeli lebih banyak perhiasan.
"Ahh.... Aku sudah kehabisan uang." Keluh Bern sambil bersandar ke Ben.
["Kakak, mari kita makan malam dulu? Ini sudah lewat."] Ucap Alastair.
Bern mengangguk sebelum ada 2 pria paruh baya mendekatinya.
"Hei, anak muda tidak seharusnya membawa sapu yang begitu keren. Lebih baik memberikannya pada kami." Ucap pria yang sedikit beruban.
Bern menatap berandalan itu dan tersenyum.
"Silakan." Ucap Bern.
["Ouh tidak! Mereka sudah tamat!"]
{Mereka orang bodoh. Semoga pergi dengan tenang.}
-Gwoool!
Ketiga anak Bern terlihat kaget, namun siapa yang menyuruh mereka mengganggu Bern.
"Heh, kamu tahu bersikap." Ucap pria yang gemok.
Keduanya mula menyentuh Ben, dan langsung di bakar dengan aliran listrik.
"Mereka tidak mati hanya dengan tingkat ini, kan? Padahal itu lebih rendah dari ketika membakar ketam." Gumam Bern menendang mereka apakah masih bernyawa.
Semua orang mula menatap Bern dengan ketakutan.
'Heh, siapa yang menjilat Bern kerana menjadi pahlawan yang tidak membutuhkan apapon? Bern, kenapa kamu terlalu baik?' Pikir Bern sambil menatap bulan.
"Aku tidak punya uang sekarang. Mari kita makan di asrama saja." Ucap Bern dan menaiki Ben.
Anak anaknya bisa merasakan mood Bern berubah. Alastair menatap tajam semua orang yang ketakutan.
Namun, kerana Bern tidak melakukan apapon, maka dia juga naik tanpa keluhan.
.
.
.
["Wau! Ini 2 kali dari ruangan kelas 1!"] Alastair bergumam kagum.
{Benar!}
-Gwoool!
Ketiga anak itu bersemangat berkeliling asrama.
Bern mula memasak makan malam, yang selalunya menjadi tugas koki.
Setelah makan malam, langsung mandi dan tidur. Kerana masih banyak barang yang belum di urus, mereka hanya bisa tidur di kasur yang sama. Jika tidak mau, yah tidur di lantai saja.
.
.
.
Di kelas 2.
"Ouh, jadi ini junior kita. Aku masih ingat ketika aku mematahkan tongkat sihir ku kerana berantem dengan senior di kelas ini. Hah... Kenagan yang indah." Senior berambut hijau dengan kaca mata satu mata tersenyum ramah.
Beberapa pelajar tertarik sedang beberapa membuat wajah tidak tertarik.
"Tentu, kemudian kamu di pukuli sampai jadi bubur. Beritahu nama kita dulu." Balas temannya dingin.
Si rambut hijau tersenyum dan menyiku temannya. Tentu, temannya yang menjadi prajurit dengan senjata pedang, memiliki otot yang bagus, tidak tergerak oleh sikuan penyihir yang lemah.
"Nama ku Shin, dan ini Hector." Sambung si rambut hijau dengan senyuman ramah.
Temannya memiliki parut di tangannya, kulit kecoklatan, bermata kelabu dan berambut hitam.
"Temannya memenuhi standar ketampanan ku." Gumam Bern. Memiliki parut, kulit sedikit gelap, rambut hitam.
Semua orang menatap Bern yang duduk menyandarkan kursi di meja belakang, dan kaki di atas meja.
'Sayangnya aku yang dulu maupon yang sekarang tidak bisa menjadi coklat. Yah, dulu aku punya parut, tapi, sudahlah.' Pikir Bern dan mengeluh ketika tahu dia tidak akan punya peluang untuk memiliki parut dengan Althea bersamanya.
"Tapi Bern, menjadi putih adalah standar kecantikan dari kedua jenis kelamin." Ucap Zion di meja belakangnya.
"Jadi dia pasti tidak pernah menerima surat cinta." Ucap Bern membuat Hector menerima panah.
Shin mentertawakan Hector dan Hector menatap tajam kearahnya.
"Jika aku cewek, aku mungkin sudah memberikannya surat cinta. Sayang sekali aku cowok." Sambung Bern membuat semua orang terdiam.
"Jika ada cewek seeprti itu, apa kau akan mencobanya?" Soal Steven.
"Tidak. Aku tidak memiliki keinginan untuk memulai keluarga dan punya anak." Sambung Bern membuat orang di sekelilingnya salah paham.
'Aku berumur 40 tahun, dan ingin mengencani gadis 16 tahun? Apa aku terlihat seperti pedophile?' Pikir Bern sendiri tidak mengetahui kesalahpahaman yang dia timbulkan.
"Ahem, baik, mari kita mula dengan pembelajaran. Di kelas 1, kalian di berikan dasar menerbangkan sapu, sekarang, kalian bisa mencoba terbang dengan sapu, melalui halangan itu sambil di serang oleh ku." Ucap Shin bersemangat.
"Yang lain, kalian harus mencoba untuk tidak tertangkap olehku." Jelas Hector singkat.
Di awali dengan banyak penyihir yang terkena bebola air kerana hilang imbangan atau sesuatu, Bern hanya berdiri di tanah.
"Ugh.... Seluruh tubuh ku basah." Keluh Zion ketika dia terus terbang di atas penyapu.
Begitu juga dengan kelas lain, yang di awali dengan di pukuli. Jika tertangkap, kalian akan di pukuli sekali. Tapi tidak seperti Shin, Hector tidak menahan diri.
Buk!
"Ugh! Sial!" Umpat Ailen ketika dia di pukuli.
Tik!
"Ouch!" Uen memegang dahinya yang terkena jentikan keras hingga merah.
Bukk!
"Ugh! tulang belakang ku terasa patah!" Anton berteriak ketika punggungnya di tendang.
Twack!
"Ack!" Lewis memegang pundaknya yang di pukuli hingga jatuh dari pohon.
Yah, kerana Uen adalah pangeran, dia mendapatkan perlakuan yang lebih lembut.
"Kamu tidak terbang?" Tanya Shin.
"TIDAK!!!" Sebelum Bern menjawab, semuanya sudah menunjukkan penolakan mereka.
Shin menatap penyihir lainnya.
"Apa kamu di buli?" Tanya Shin.
"Bukan! Dia terlalu hebat, jadi biarkan kami berlatih dulu! Dia tidak perlukan latihan!" Ucap Zion dan di setujui yang lain.
"Mengejar Bern, senior, kamu gila!" Balas dari sisi Hector.
"Senior, lupakan saja dia! Sayangi tubuh anda!" Sambung dari sisi Hector.
Shin perlahan melihat ke arah Bern.
"Kamu, Bern Kailyth?" Tanya Shin.
"Iya." Jawab Bern singkat.
'Ah, ini gawat.' Pikir Shin ketika melihat Bern dengan mata kosong.
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...**Bersambung**...
Gimana dengan sisi Bern yang ini? Jujur, aku suka Bern yang ini. Tapi, Bern sebenar juga type ku. Ugh.... Baik, semoga kalian terhibur!
Tata 👋