
Tap, tap, tap.
Bunyi telapak kaki terdengar setiap kali mereka melangkah. Tidak ada dari mereka yang mencoba menyembunyikan kehadiran mereka di sana.
Mereka semua bergerak dengan cepat mengikuti belut listrik itu bahkan ketika itu adalah jalan berliku seperti labirin.
"Sial, belut itu pasti sudah memiliki peta tempat ini!"
Faura megutuk terus mengejar sang belut listrik yang lincah itu. Siapa saja bisa mengatakan dia sangat frustasi saat ini.
Bang!
Mereka mencapai pintu masuk dan menghempas dengan kuat. Setelah beberapa pintu yang kokoh
Ketika mereka mencapai sarang naga, telor berwarna biru dan emas seolah itu hiasan sudah berada dalam genggam si belut listrik.
"Heh, kalian mengejar ku sampai ke sini? Aku kagum."
Faura yang marah mula menyerangnya. Namun sama seperti sifat alami belut yang licin dan sukar di tangkap, itu membuatnya sukar untuk di lawan.
"Sial, kembalikan telor itu!"
Faura mengutuk lagi dan menyerangnya. Bawahannya yang datang bersamanya juga mula menyerangnya, namun seperti aliran air, dia sangat sukar di sentuh, apa lagi di pukul.
Bern hanya mengamatinya untuk waktu ini. Kelemahan belut adalah kepalanya, jika mereka memegang kepalanya, maka belit tidak lagi bisa melarikan diri.
Belut listrik itu membuang waktu hanya untuk merendahkan mereka. Kerana dia yakin dia akan lepas, dia tidak masalah membuang waktu.
Buk!
Namun akhirnya dia di hentak ke lantai. Bern memegang lehernya dengan erat dan telur yang terlempar ke udara dengan cepat di tangkap tampa ada sedikitpun kesalahan seolah tahu itu akan mendarat di tangannya.
"Apa kamu pikir kamu bisa lepas hanya kerana kamu belut?"
Belut listrik itu menyeringai masih berpikir dia bisa lepas dengan mudah.
Seketika, cahaya biru dengan cepat membutakan pandangan semua orang.
Belut listrik itu menggunakan kekuatan penuh memberikan serangan listrik pada Bern.
Bern mengernyitkan mata kirinya merasa sakit akan renjatan itu.
Cahaya biru itu menjalar ke seluruh tubuh Bern dan bahkan telur biru yang berada di tangannya. Asap keluar dari tubuhnya dan dia masih dengan erat mencekik belut listrik itu.
"Kamu pikir, itu cukup?"
Bern kembali mengejek.
"Apa kamu gila!? Kamu juga manusia, ada telor naga di tangan mu! Jika kamu makan, kamu bisa menjadi sekuat mereka! Apa kamu tidak tertarik sama sekali!?"
Perkataan itu membuat bawahan Faura melihat telor naga dengan cara yang aneh.
'Dia menggunakan anergi iblis untuk menggoda!'
Faura siap memperjuangkan nyawanya jika semua bawahannya selain elf air mula menyerangnya. Namun ras yang paling lemah dalam godaan adalah manusia.
Faura takut Bern akan menjadi musuhnya, namun dia juga tidak bisa mundur.
"Jadi, apa itu ada hubungannya dengan ku?"
Faura tersentak mendengar suara dingin Bern yang di iringi aura membunuhnya yang mencengkam membuat semua orang sadar.
Bern melempar telor ke arah Faura. Faura yang kaget hingga hampir menjatuhkan telur yang sedikit retak kerana serangan listrik. Faura hampir kehilangan detak jantungnya kerana takut telur itu akan jatuh. Dia takkan bisa menjawab jika yang agung itu bertanya mengapa dia terganggu ketika menetas!
Mata Bern sedikitpun tak terpengaruh dengan godaan itu.
"Lemah bukan bererti kita pecundang. Lemah bererti seseorang masih bisa maju, apa itu saja banjingan seperti mu tidak tahu? Jika aku lemah, apa masalah dengan itu? Aku hanya perlu menjadi naga yang aku banggakan. Cuma makhluk yang tidak tau erti perjuangan akan melakukan hal seperti ini."
Suaranya perlahan, namun dapat di denger oleh semua orang yang Indra mereka di atas rata-rata.
Walau Bern sangat menakutkan sekarang, ucapan yang di berikan Bern hangat.
'Jika kamu lemah, bergerak majulah ke depan tanpa pikir omongan orang lain.'
Ketakutan muncul di mata belut listrik itu. Namun, apa yang bisa dia lakukan sekarang?
Selain listrik, tidak ada yang istimewa dengannya setelah tertangkap. Bern dengan mudah membunuhnya setelah dia menusuknya dengan pedang.
Bern bangun dan menuju keluar. Dia bahkan tidak tertarik untuk melihat telur yang indah itu lagi. Dia mengkuatirkan temannya yang berada di luar.
Crack.... Crack....
Faura kaget mendengar suara retakan dan sedikit gelisah.
"Apa ini menetas!?"
Walau Faura berteriak kaget dan membuat bawahannya menoleh ingin melihat keberadaan terkuat itu, Bern hanya berjalan keluar tanpa peduli.
Crack!
Telur itu pecah dua dan muncul naga yang imut dari dalam telur. Memiliki pupil reptil berwarna biru gelap dan sisik yang mengkilap berwarna biru laut yang sangat indah.
Orang pertama yang dia lihat adalah Faura yang memegangnya. Namun, naga bukanlah burung yang menganggap orang pertama yang dia lihat adalah ibunya.
Naga lahir tanpa orang tua. Mereka menetas setelah mereka menerima seseorang menjadi orang tua mereka.
Sayap kecil naga imut itu bergerak dan mula terbang dengan kekok mendekati Bern.
"Mmm..."
Bern tersentak mendengar bunyi dengungan. Dia menoleh mendapati makhluk yang mirip dengan gambar dalam buku tentang lagenda sang naga yang agung.
Bern ingin mendorongnya dan terhenti kerana tubuhnya masih penuh dengan listrik.
Dia menggerakkan jarinya dan seolah dia menggerakkan penyapu terbang, naga kecil itu kembali ke tangan Faura.
"Aku bukan penjaga mu."
'Aku terlalu miskin untuk itu.'
Bern dengan tegas mengatakan itu dan berjalan dengan langkah besar. Itu terlihat seolah Bern sedang sibuk dan memikirkan temannya di luar. Namun, selain itu, Bern hanya melarikan diri. Tolonglah, apa dia adalah pengasuh? Semua temannya adalah anak muda!
Seorang bawahan Faura mencoba menghentikannya dengan memegang pundak Bern. Namun beberapa detik kemudian dia terbaring di tanah kerana pingsan akan renjatan listrik.
Bern tersentak dan mengabaikan segalanya seolah dia tidak salah dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi.
Faura dan naga kecil itu saling menatap.
"Sepertinya, dia tidak menginginkan mu."
Naga kecil itu tahu bahkan tanpa Faura mengatakannya. Naga lahir dengan kepintaran yang luar biasa hingga mereka bisa memahami apa yang di bicarakan orang orang di sekitarnya. Dia hanya perlu masa untuk benar benar berbicara.
'Dia berhati lembut.'
"Aku yakin dia akan menerima mu, cepat atau lambat dengan hati yang lembut itu."
Naga kecil mengangguk atas pernyataan itu. Dia tidak akan menyerah hanya kerana di tolak sekali.
'Orang yang tidak menginginkan kekuatan naga atau menjaganya, betapa sial dan beruntungnya diri mu untuk mendapatkan ini?'
Faura juga akhirnya bergerak untuk keluar dari kawasan itu.
****
Bern tersentak ketika melihat keadaan di luar. Dia melihat Zion dengan kepala yang berdarah dan Steven yang mengerang kesakitan.
Bern dengan cepat merasa bersalah membiarkan anak muda menangani hal yang sukar ini.
Zion yang melihat Bern seolah melihat cahaya harapannya.
"Bern, Seven.... Seven....."
Tanpa Zion menceritakan apa yang terjadi, Bern sudah tahu dari tangan Steven yang menghitam.
Dan itu sebenarnya sangat bagus kerana dia masih bertahan kerana semua yang terkena racun sudah menghembuskan nafas terakhir mereka.
Bern dengan cepat mendekati Steven dan memegang tangan Steven. Serangan listrik yang lemah mengalir ke tangan Steven membuatnya merintih.
Bern menatap tangan yang di penuhi racun dengan mata kosong.
'[Takdir yang menyebalkan, aku ambil ini.]'
Bern tidak menyebut mantra secara keras. Cukup dalam pikirannya. Cahaya putih mengelilingi tangan Steven dan racun itu menghilang.
"Apa! Bagaimana!?"
Zion kaget melompat tak percaya.
"[Kesihatan dan kesejahteraan untuk rakyat ku.]"
Bern melantunkan mantra dan 2 lingkaran sihir yang besar muncul menyembuhkan semua orang yang bertarung.
Sekarang Vany memahami apa yang Steven katakan tentang Bern sangat peduli tentang temannya. Bahkan jika seorang teman terluka, mereka hanya akan merawatnya sedikit, bukan menyembuhkan 100 persen.
"Mari kembali."
Bern mengatakan itu mengkuatirkan istana yang di tinggalkan cukup lama. Faura dan Felix kehilangan kontak sejak mereka berpisah.
"Bern, bagaimana kamu menyembuhkan tangan ku?"
Steven bangun dengan curiga menatap Bern. Bern bahkan tidak mengucapkan mantra dan itu sangat janggal!
Bern hanya menatap Steven dengan mata dinginnya yang biasa. Namun tangan kirinya bergetar.
Walaubagaimanapon, dia masih seorang manusia dan dia masih merasakan sakit. Dia tidak menyembuhkan racun Steven melainkan mengambil racun itu sendiri ke tubuhnya. Mustahil mengeluarkan racun itu keluar kerana racun itu akan mencari rumah untuk didiami sehingga pemilik mati.
Kerana itu, tidak ada racun di lantai bahkan ketika mereka bertarung dengan gurita yang sangat beracun.
"Pertempuran lebih penting. Ketepikan urusan peribadi atau kalian ingin berada di pihak yang kalah?"
Bern mengatakan itu dan berbalik mengambil penyapu entah siapa punya dan berdiri dengan mantap di atasnya.
"Aku akan ke istana terlebih dulu. Cepat kerahkan yang tersisa ke istana."
Dengan itu, Bern dengan cepat terbang lebih cepat dari ketika dia membawa Steven bersamanya.
"Gila, dia masih bisa lebih cepat!"
Para penyihir tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Dengan kapasitas sihir yang di miliki Bern juga cara bertempur ya yang sangat berpengalaman, ya tuhan, apa itu masih bisa di bilang anak anak?
Faura dengan cepat mengatur pasukan untuk kembali ke istana secepat mungkin dan membiarkan naga kecil itu mengikuti Zion. Zion mendengar bahwa naga kecil itu ingin mengikuti Bern namun di tolak dengan mentah dengan mata berbinar.
Sepertinya bukan dia seorang yang di tolak mentah mentah!
*
*
*
Bang!
"Bagaimana mungkin 100 orang masuk ke istana semudah ini!"
Felix menghantam meja dengan frustasi setelah dia kembali dari sarang naga. Medan perang bukan medannya. Dia adalah orang yang selalu di ruang kerja mengerjakan kertas kerja sepanjang hari!
Juga 70% pasukan sudah di hantar ke tempat telur naga berada. 30% pasukan yang tinggal dan 20% adalah pasukan yang terluka! Dan 100 orang yang datang adalah seseorang yang sekuat seorang tentera yang pergi berperang dan dapat membunuh beberapa orang dengan mudah!
10 orang adalah orang dari organisasi satan sedang 90 orang yang hadir adalah penghianat dari kota Sebasta.
Uen, Ailen dan Alastair berada di garis depan sedang bersedia dengan beberapa prajurit yang tidak terluka.
Anton dan Lewis berada di tengah siap mempertahankan warga kota yang berlindung dan para prajurit yang amatir atau bahkan mungkin magang.
Althea sedang duduk di belakang memerhatikan segalanya sebagai pengamat. Wajahnya tegang merasakan kondisi Bern.
'Banjingan itu!'
Kleio berada di bahagian belakang dengan para pemanah bersiap melepaskan tembakan. Sebagai seorang pangeran mahkota, dia tidak bisa gegabah berada di barisan depan melainkan dia cukup kuat.
Uen menentang keputusannya untuk berada di depan, begitu juga Ailen sebagai seorang keluarga Duke yang bertugas melindungi negara dan keluarga kerajaan.
"Heh."
Seorang organisasi menunjukkan giginya ketika tersenyum.
"Serang istana!"
Dengan seruan itu, kedua pihak mula bergerak menghancurkan satu sama lain.
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...**Bersambung**...
Nulho: Udah lama tidak ngetik rasanya kekok bener. 😅 Moga terhibur dengan chapter ini dan terima kasih sudah membaca!