From No Body To Hero

From No Body To Hero
Episode 31



{Bern, kamu harus makan! Perut mu berantakan kerana gangguan mana! Apa kamu akan bertarung dengan perut kosong!?}


Althea meneriaki Bern menyuruhnya makan. Namun Bern hanya mengabaikannya. Bagaimana dia bisa makan di situasi yang menegangkan itu? Dia bisa saja makan, namun itu membuatnya tidak enak melihat bagaimana situasi pertempuran di sana.


"Seperti yang kalian lihat, Sebasta sedang di serang. Yang bisa kami lakukan hanyalah bertahan sekarang. Kami sudah kesulitan kerana serangan binatang iblis laut, sekarang kami harus melawan orang berjubah dengan lambang tengkorak iblis itu. Jadi kamu seharusnya tahu mengapa aku bisa menyerang mu sekarang. Kamu seharusnya tidak meletakkan dendam pada ku."


Faura mengatakan itu sambil menatap tajam Bern. Bern tersenyum melihatnya.


"Di situasi ini, sayalah yang bersalah. Saya mencoba menarik orang yang bersangkutan dengan mengenakan jubah hitam. Jadi ini kesalahan saya."


Bern dengan mudah mengakui kesalahannya. Dan itu membuat Faura merasa bodoh kerana memasuki rencana sederhana Bern.


"Tapi apa hubungannya menyerang kota Sebasta dengan kota Narda? Kamu tahu, kita kekurangan makanan laut kerana ini, namun ini tidak ada kaitan dengan wabah penyakit yang membuat sumber makanan menipis."


Ailen mengatakan itu sambil melihat Kleio yang memikirkan hal yang sama. Bern mula memikirkan beberapa kemungkinan, namun dia hanya mendiamkan diri.


Mereka tiba di depan istana yang masih terlihat baik baik saja.


"Ini istana kota Sebasta. Aku Faura, putri pertama kota ini."


Seorang elf pria yang di lihat dari layar muncul di depan pintu.


"Selamat datang ke kota Sebasta. Aku Felix, pangeran pertama, dan Faura, kamu putri mahkota."


Faura hanya memutar matanya tidak peduli.


"Seperti yang kalian lihat, kami ras elf air sedang kesulitan, jadi tidak bisa menyambut kalian dengan mewah."


Ras elf ada 6. 5 dari itu adalah elimen seperti elf api, air, angin, tanah dan tumbuhan. Manakala yang tersisa adalah elf yang tidak bisa mengendalikan elimen membuat diri mereka menjadi seorang penempa dan hidup bersama kurcaci di panggil elf besi.


"Raja kami sedang kesakitan kerana racun iblis, jadi hanya aku yang bisa menyambut kalian dengan beberapa pengawal."


Bern bisa melihat selain elf air, ada banyak dari mereka yang terlihat seperti manusia. Namun perbedaan mereka terlihat di tangan mereka. Ada yang terlihat seperti tangan gurita, ada juga yang memiliki sirip.


"Dian."


Faura meninggalkan mereka dan pergi ke arah pria berambut biru kehitaman. Dia memiliki gigi runcing dan wajah yang tampan. Dia mungkin paus pembunuh.


"Apa ada perkembangan?"


Dian menggelengkan kepalanya.


"Tumbuhan laut di racuni dengan racun iblis membuat kita kekurangan makanan. Jika kita tidak menemukan sumber makanan, kita harus menjadi kanibalisme untuk bertahan."


Faura menggertak giginya mendengar itu. Dia kemudian melihat Felix.


"Apa kita perlu meminta bantuan dari kota elf lainnya? Kita tidak akan bisa bertahan jika begini."


Felix menggeleng.


"Walau ras elf tidak materialistis, mereka tidak akan datang membantu begitu saja. Juga di situasi ini, lebih baik untuk mengurangkan sumber pengeluaran makanan."


Faura menggertak giginya tidak puas. Dia adalah putri mahkota, namun ayahnya di racuni, rakyatnya mati, kakaknya juga tidak bisa bertarung, sang ratu sudah lama meninggal setelah melahirkannya. Faura memukul kepalanya berpikir jalan keluar.


Uen dan Kleio mula membicarakan banyak hal dan berencana menyelidiki ikan yang di racuni sedang Ailen akan menyelidiki luka para warga Sebasta yang bertarung. Kemungkinan luka dengan racun iblis sangat tinggi. Zion akan mengikuti Ailen melihat jika dia bisa memberikan pertolongan pertama dengan sihir. Walau itu adalah kawasan gangguan sihir, Zion tidak bisa diam tidak melakukan apapon di situasi itu. Anton dan Steven akan mengikuti pengawal untuk melakukan patroli.


Kumpulan Calistia tentu saja di bagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan penyelidikan.


Tiba tiba keluar seorang pria dari istana.


"Ah, mengapa kalian bisa ada di sini?"


Kumpulan Bern kaget melihat orang itu. Orang itu adalah Lewis sedang berjalan ke arah mereka dengan tangan kanannya di saku terlihat keren.


"Tidak, itu kamu. Bagaimana kamu bisa di sini?"


"Lewis!?"


Anton dan Zion mengatakan itu dengan wajah kaget.


"Aku jatuh ke laut ketika melakukan perjalanan pengiriman ke kota Narda. Lalu putri Faura menyelamatkan ku waktu itu."


Bern berjalan mendekati Lewis dan memegang tangan kanannya yang di masukkan ke dalam saku.


"Apa yang terjadi?"


Lewis tersentak ketika Bern langsung tahu apa yang di sembunyikannya.


"Bagaimana jika kita masuk dulu? Tidak enak rasanya membicarakannya di luar."


Lewis mengatakan itu membuat yang lain bingung. Kemudian Lewis menggeleng.


"Tidak, Bern, hanya kamu."


Bern mengangguk. Jika dia tidak ingin membuat orang lain khawatir, Bern tidak menghalangnya.


Mereka semua berpecah di berikan ruangan mereka tersendiri. Bern mengikuti Lewis dan menyuruh Alastair melihat kamarnya bersama Althea. Juga menyuruh Steven menjaganya kerana Alastair adalah iblis.


Di ruangan itu, kesunyian terjadi cukup lama. Bern hanya menunggu Lewis bersedia menceritakan apa yang terjadi.


Akhirnya Lewis menarik tangannya keluar dari sakunya. Terlihat jari telunjuk dan jari tengah yang menghilang dari tangannya.


Bagi pemanah jika kedua jari itu hilang, bermakna masa depannya sudah hancur.


"Bagaimana ini bisa terjadi?"


Bern bertanya dengan lembut tidak memaksa. Dia terlihat tenang bahkan setelah melihat dua jari Lewis menghilang. Itu membuat Lewis lega Bern tidak langsung panik dan memaksanya bercerita.


"Aku berpikir untuk menjadi lebih kuat, dan mengambil pekerjaan untuk menjadi pembunuh bayaran. Gajinya mahal dan bisa membuat ku mendapatkan banyak pengalaman juga. Tugas ku adalah mencari informasi tentang telur naga."


Bern tersentak mendengar itu. Naga adalah makhluk yang sangat kuat di dunia itu dan hanya di kenali sebagai lagenda kerana tidak pernah di lihat lagi.


"Telur naga di katakan berada di kota Narda. Namun ada juga yang mengatakan itu di lindungi ras elf, jadi kota yang paling dekat dengan kota Narda adalah kota Sebasta, ku pikir itulah yang membuat organisasi Satan ingin melumpuhkan kedua kota ini dan mencari keberadaan telur itu."


Bern memegang dagunya dan melihat tangan Lewis.


"Dan kerana kamu mengetahui ini, kamu di kejar?"


Lewis mengangguk pada pernyataan itu.


"Mereka ingin melempar ku ke laut ketika melihat ku sudah sekarat, namun penyihir terakhir kali sepertinya punya dendam dengan ku lalu memotong kedua jari ku. Aku di lempar ke laut dan di selamatkan putri Faura yang sedang mencari informasi."


Lewis mengingat dia mencoba membunuh penyihir itu kerana membuat Bern menderita beberapa kali dan bahkan pernah meracuninya. Serangan terakhirnya adalah serangan yang tidak dia percaya dia melakukannya. Panah beratribut, di mana hanya seorang penembak jitu bisa melakukannya. Namun mimpi untuk menjadi kuat hancur kerana penyihir itu memotong dua jari seorang pemanah.


Lewis benar benar terlihat putus asa.


"Aku pasti, kamu memiliki keterampilan yang bagus kerana dia ingin memotong jari mu. Kamu melakukan sesuatu yang bagus dengan bertahan hidup."


Bern mengatakan itu dan mengelus kepala Lewis. Air mata Lewis mula mengalir mengingat bagaimana dia bisa kehilangan masa depannya dengan mudah.


"Jangan bersedih, pasti akan ada kebaikan yang datang pada orang yang bertahan. Mungkin kita akan menemukan kekuatan seperti roh penyembuhan di masa depan."


Bern menghapus air mata Lewis sambil terus mencoba menenangkannya. Lewis merasa bahwa dia sedang di bujuk oleh orang tua melihat bagaimana Bern menenangkannya. Tapi itu memang tidak salah, Bern benar benar menenangkannya seolah Lewis adalah anaknya. Yah, walau dia tidak pernah punya satu di dunianya yang dulu.


"Dan Bern, bisakah kamu merahsiakan ini?"


Bern dengan tenang mengangguk. Bern meninggalkan kamar Lewis dan pergi ke kamarnya melihat Steven berdiri di depan pintu.


"Kamu terlihat seperti pengawal."


Steven tersenyum sambil meninggikan hidungnya.


"Apa yang terjadi pada Lewis?"


Steven bertanya dan Bern menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya hanya aku yang salah paham. Tidak ada yang berlaku."


Steven hanya menggaru belakang kepalanya kerana dia tahu ada yang tidak kena. Namun jika Bern tutup mulut, itu bermakna Lewis sendiri yang tidak ingin itu di ungkapkan.


"Kamu berjaga sedikit lebih lama, aku akan pergi ke kamar Calistia."


Steven mengangguk dan berdiri dengan patuh, hingga Anton datang dengan biskuit.


Bern hanya tersenyum dan pergi ke kamar Calistia.


Tuk, tuk.


Dia mengetuk.


"Masuk."


Kata Calistia dan Bern masuk tanpa bantahan. Calistia duduk di sofa dan di meja ada teh beserta kue yang sudah di sediakan untuk Bern.


Namun kali ini, Bern seolah tidak melihat kue itu sama sekali dan duduk dengan santai tanpa menyentuh kedua hal itu. Itu membuat Calistia bingung.


"Bukannya saya akan makan jika saya menyukainya. Anda tahu bahwa kita harus tahu kapan untuk menahan diri."


Calistia hanya mendengus tidak percaya mendengarnya. Bern hanya tidak bisa berhenti ketika dia sudah memulainya.


"Aku mendapatkan beberapa informasi dari Lewis, namun aku menginginkan sesuatu sebagai bayaran."


Bern mengatakan itu sambil menyilang kakinya seolah dia tidak memerlukan bayaran sama sekali. Itu sedikit melukai harga diri Calistia dengan sikapnya.


"Dan apa itu?"


Bern tersenyum membuat Calistia merasa dia akan di rampok.


.


.


"Terima kasih untuk perbincangan hari ini."


Bern tunduk hormat dan pergi. Calistia hanya tersenyum sambil menggaru belakang kepalanya.


'Dia tidak menyentuh kuenya sampai akhir, huh.'


Bern minum sedikit teh, namun dia tidak makan kue.


'Tapi apa yang dia akan lakukan dengan hal yang dia minta itu? Ku pikir aku akan di rampok. Anak yang aneh.'


Calistia memasuki kamarnya semula.


"Van."


Muncul seorang wanita dengan pakaian hitam umum seorang pembunuh.


"Sudah ku bilang nama ku Vanny, bukan Van."


Calistia mengabaikannya dan duduk di sofa.


"Kamu pergi ikut anak itu. Aku tertanya, apa yang akan dia lakukan dengan hal yang dia minta."


Vanny tunduk hormat dan langsung menghilang. Sebagai seorang assasin, Vanny sangat di menangkan dengan tubuh langsing dan kecil membuatnya sangat lincah dan mudah menghilangkan keberadaannya.


*****


{Bern, kapan kamu akan tidur dan makan?}


Althea mengatakan itu dengan nada khawatir melihat betapa keras kepalanya Bern pada kesihatan sendiri.


["Kakak, bagaimana jika kamu istirahat sebentar? Ini sudah sangat larut."]


Alastair juga mencoba membuatnya berehat. Namun Bern bersikeras sambil terus membalik halaman buku.


Titis, menitis.


Hidung Bern mengeluarkan darah membuat Alastair dan Althea panik. Bahkan jika dia adalah roh penyembuhan, ada batas di mana dia bisa menyembuhkan seseorang. Jika orang itu terlalu lelah, apa yang bisa dia lakukan? Dia hanya bisa menyembuhkan, bukan membuat seseorang tidak lelah.


"Aku baik baik saja."


Bern mengatakan itu dan terus membalik halaman sambil menahan hidungnya dengan tisu.


'Ini baik baik saja, untuk aku yang sudah kehilangan segalanya, ini bukan apa apa.'


Bern tidak pernah mundur setelah mengambil keputusan.


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...**Bersambung**...