From No Body To Hero

From No Body To Hero
Episode 14



Sehari berlalu dan tidak ada tanda tanda hujan akan berhenti. Tidak ada yang tahu itu malam atau siang. Semuanya gelap dan lembab.


Bern melirik sekeliling mencari pria bertubuh besar itu.


'Kemana dia pergi? Berani dia sumbat sesuatu dalam mulut aku. Umur kau sekurangnya 2 dekad lebih muda!'


Bern benci menelan sesuatu dengan paksa. Apa lagi jika ada rasa bawang putih nya.


'Mengapa semua ramuan sihir memiliki bawang putih di dalamnya? Telan darah 100 kali lebih baik dari bawang putih.'


Bern sangat membenci rasa bawang putih.


'Aku ingin muntah.....'


Rasa ramuan seperti bawang putih itu masih melekat di tekaknya.


Datang 3 orang berjubah lambang tengkorak iblis.


"Seperti yang kita sudah bincang, mari ambil 3 orang itu."


Orang yang di ambil itu adalah Bern, Zion dan Thomas. Mereka di suruh berdiri dan tangan mereka di ikat dengan erat ke belakang.


Uen menggertak giginya dan bangun.


"Jangan sentuh adik aku!"


Uen melempar dirinya ke depan dengan sia sia.


Buk.


"Ugh..."


Uen hanya di tendang dan berakhir menghantam tembok.


"Uen!"


"Cepat gerak."


"Eghh.."


Zion di tarik paksa dan berjalan mengikuti ke mana dia di tarik.


****


Goa itu kembali di hiasi dengan keheningan. Anton menggigit bibir bawahnya.


"Sial! Kau pikir palang besi ni akan hentikan aku!? Mimpi!"


Anton bangun dan meludah kedua telapak tangannya.


"Aaaaarrrgggg!!!"


Anton menarik besi itu dengan penuh semangat. Dia menggertak giginya hingga mungkin membuat gusinya berdarah. Namun jeruji besi itu tidak sedikit pon bergerak.


Para penjaga hanya menahan tawa mereka. Sangat lucu melihat Anton mensia siakan tenaganya pada jeruji besi yang di lapisi mana iblis.


"Aku takkan biarkan teman ku di jadikan korban!!! Kau dengar!? Aku akan hancurkan jeruji besi ni!"


Namun Anton juga tak mengalah. Ailen yang melihatnya menghela nafas.


Dia bangun dengan bunyi 'hup' dan memegang jeruji besi juga.


"Tanggung jawab Duke adalah memastikan keselamatan keluarga kerajaan. Yang mulia Zion adalah salah satu keluarga kerajaan."


Semua di goa dan bahkan penjaga itu tersentak mendengar Ailen mengatakan keluarga kerajaan. Itu hanya ada satu makna. Zion adalah seorang pangeran.


"Ugh....."


Ailen sebagai ksatria yang mungkin menggunakan oura seorang sword master di masa depan, dia bisa merasakan mana iblis di besi itu. Itu menusuk tangannya. Dia melihat Anton yang menarik jeruji besi itu dengan semangat dan semua kekuatannya dan merasa malu.


Jeruji besi itu terasa seperti duri yang tajam menusuk tangan semakin erat dan kuat itu di pegang. Namun Anton mengabaikan kesakitan itu dan menariknya dengan semua kekuatan yang ada.


'Aku tidak bisa kalah dari rakyat jelata.'


Ailen selalu merasa dia sudah cukup kuat dan bangga atas apa yang dia capai. Dia selalu di puji di kediamannya dan bertarung dengan para prajurit untuk latihan. Dia selalu menang dan membuatnya puas.


Namun pertempuran terakhir kali membuatnya sadar, yang dia hanya membutakan dirinya sendiri. Dia bahkan hampir kehilangan kakinya. Jika Bern tidak datang tepat waktu, dia akan mati, tidak, mereka semua, termasuk semua pelajar kelas pemula akan mati.


'Aku setidaknya harus berusaha juga.'


Ailen menggertak giginya dan menarik jeruji besi itu dengan semua kekuatannya.


Anton menutup matanya merasakan kesakitan. Namun cengkraman tangannya tidak melemah. Begitu juga Ailen. Semua yang ada di goa hanya mampu diam menyaksikan mereka.


Lewis dan Uen hanya diam. Mereka bukan kekuatan dari mula. Lewis seseorang yang bertarung dari jauh, sedang Uen bertarung dalam sembunyi sembunyi.


Mereka ingin membantu. Namun sangat tidak mungkin bagi mereka untuk menarik jeruji besi yang bahkan Ailen kelas ksatria tidak bisa.


Mata Uen tiba tiba melihat kunci yang tergantung di ikat pinggang penjaga goa.


Dia mendapatkan ide.


Dia mengambil batu dan melilit benang dari bajunya dengan sembunyi sembunyi. Kemudian dia memberikan itu pada Lewis.


'Ambil kunci dengan ini. Sementara Anton dan Ailen menjadi sumber perhatian. Aku akan buka pintu.'


Lewis tersentak dengan bisikan Uen. Jika gagal, mereka semua pasti mati.


Namun.....


'Tidak salah untuk mencoba.'


Mata Lewis di penuhi tekad. Dia menggenggam batu yang di lilit benang dan melilit benang pada jarinya. Panjang benang itu setidaknya 3 meter. Cukup untuk mencapai kunci di ikat pinggang penjaga goa.


'Ha..... Huh.....'


Lewis mencoba memfokuskan perhatian pada lemparan itu. Hanya satu peluang. Dia menarik dan menghembus nafas menenangkan dirinya.


Swush.....


Suara angin lembut terdengar dengan lemparan. Batu kerikil itu melepasi pegangan kunci dan Lewis menarik benang. Batu terhenti dan jatuh lalu melilit pegangan kunci.


'Huh.....'


Lewis menghela nafas lega secara internal.


Deg, deg, deg.


Namun jantungnya berdetak kencang tidak seperti dirinya yang menghela nafas lega.


Pak!


"Arrggg!!!!!"


Pegangan kunci itu patah namun dengan erangan Anton yang kuat, bunyi patahan itu tidak terdengar.


Tang!


Namun kesialan muncul. Kunci malah menghantam jeruji besi hingga menghasilkan bunyi dengung.


Lewis dengan cepat menarik kunci itu lagi. Kunci itu langsung terbang ke dalam genggaman Uen.


"Mereka mengambil kunci!"


Buk!


Uen menjatuh kan orang yang kuncinya di ambil dan seorang lagi lari pergi melapor.


Ailen, Anton dan Lewis dengan cepat keluar. Mereka mengambil senjata mereka masing masing di tampat senjata yang tidak di jaga.


Uen mengambil 2 belati, Ailen mengambil pedang, Anton mengambil pedang dan tombak, Lewis mengambil busur dan panah sebanyaknya.


Namun dengan cepat, mereka di kepung organisasi Satan.


"Tangkap mereka!"


Seseorang berteriak memberi arahan.


"Mari lari dulu! Kita harus temukan yang lain dulu!"


Mereka mengangguk. Alasan mereka keluar adalah membantu Bern dan Zion. Lewis mengambil tongkat sihir Zion yang di rampas dan tongkat paling besar di sana yang hanya sepanjang pinggang Bern.


Lewis mengaingat bahwa Bern menggunakan tongkat sihir yang besar.


Mereka mula berpecah untuk mencari keberadaan teman mereka yang lain.


****


Mereka bertiga berjalan dengan patuh dan diam. Thomas tertunduk manakala Zion gelisah. Bern hanya berjalan dengan tegak seolah dia adalah ksatria yang menjalankan tugas bukan tahanan yang sedang menuju kematiannya. Dia tenang dan tabah.


Setelah cukup jauh dari penjara goa, Bern akhirnya menundukkan kepalanya. Zion yang melihat itu merasa ada sesuatu yang sakit di dadanya. Bern yang selalu tabah tiba tiba tertunduk? Dia tidak bisa menerimanya.


Namun itu tidak berlangsung lama.


"[Hancur.]"


Bern tidak punya waktu untuk merapal mantra yang panjang dan rumit. Ikat di tangan mereka langsung hancur menjadi debu tidak tersisa. Darah berkumpul di tenggorokannya. Dia menelannya seperti itu air dan menarik pedang di ikat pinggang orang yang membawanya.


Swish.


Bahkan sebelum orang itu bisa membuat reaksi, Bern sudah memenggal kepalanya. Bern bukan orang yang berbelas kasihan terhadap musuhnya.


Zion tersentak hingga kaku melihat adegan itu sementara Thomas ingin muntah. Namun mereka juga tidak ingin berbelas kasihan pada orang yang sudah membunuh mungkin ratusan orang yang tidak bersalah sebelum mereka tiba.


Kedua orang lainnya mengeluarkan senjata mereka juga. Seorang memegang belati di tangan sedang seorang lagi memegang tongkat sihir.


"Sial! Mengapa kau terus menyusahkan kami!?"


Penyihir menyumpah dan mula mengalirkan mana ke tongkat sihirnya. Anergi iblis juga bisa di rasakan seiring dengan aliran mana.


Orang yang memegang belati mula menyerang. Bern dengan gesit menghindari serangannya seperti bermain dengan air.


"[Perisai.]"


Lingkaran muncul di bawah kaki Zion dan Thomas. Perisai berbentuk kubah transparan muncul seperti mengurung Zion dan Thomas.


Tang! Tang! Tang!


Perisainya di hantam serangan sihir penyihir. Penyihir itu menggertak giginya dengan kesal.


Bern tahu yang orang di depannya pasti mencari kelemahannya. Jadi, dia hanya perlu menghilangkannya sebelum itu muncul. Juga bagus jika Zion dan Thomas diam saja dari berkeliaran dan Bern kehilangan jejak mereka.


"Terlalu perlahan."


Bern mengejek. Itu pertama kali Zion mendengar Bern mengejek. Dia tidak pernah mengatakan mereka terlalu perlahan dan hanya mengikuti rentak mereka. Juga, sebenarnya bahkan Zion dan Thomas tidak bisa melihat gerakan pria dengan belati itu.


Bern memang tidak suka mengejek. Namun jika mereka memang sedari awal adalah musuh, mengapa perlu menjaga sopan santun anda?


Swish, swish, swish.


Sekarang serangan sihir tertuju padanya. Dan sama seperti dia menangani pengguna belati, dia seperti bermain dengan air menghindari semua serangan.


Penyihir dan pengguna belati itu menggertak gigi dengan kesal.


Bern adalah orang yang tidak akan menunjukkan sikap sopan terhadap musuh kecuali musuh mereka masih anak kecil. Bern cukup sensitif dengan itu.


Jadi, orang di depannya setidaknya harus sudah pertengahan 30 tahun melihat dari wajah mereka. Mereka bukan anak anak lagi di matanya. Mereka sudah hampir seumurannya. Mengapa menghabiskan masa berbicara dengan orang bodoh yang hanya tahu mengambil jalan pintas?


Tusk.


Bern dengan mudah menusuk jantung pengguna belati tanpa masalah. Bahkan tanpa erangan menerima tusukan itu. Bern menarik pedangnya dan orang itu jatuh ke tanah tanpa daya kehilangan nyawanya.


"Apa masalah kau!? Orang berbakat seperti kau takkan paham perasaan kami!"


Penyihir itu marah dan menembakkan sihir yang seperti kembang api ke langit seperti signal bantuan.


"Thomas Zeke! Kau juga sebagian dari kami! Ambil kekuatan iblis dan kau akan jadi kuat!"


Benar benar seperti setan. Kerjanya menggoda seseorang ke jalan yang buruk.


Thomas menutupi kupingnya. Dia lemah. Dia ingin jadi kuat. Suaranya adalah suara godaan dengan bantuan mana iblis. Thomas hanya bisa menutupi kupingnya.


"Orang berbakat sepertinya tidak akan memahami kau! Hanya kami yang memiliki masalah sama paham apa rasanya di hina dan di lecehkan! Ayoh pergi bersama kami!"


Zion bahkan merasa tertekan dengan kalimat itu. Merasa tidak berguna dan selalu di bandingkan. Dia adalah pangeran terlemah dari kelima pangeran yang ada. Begitu juga Thomas. Dia sangat lemah di banding adik perempuannya. Betapa memalukan dirinya ketika seorang cewek yang lebih muda darinya, bisa lebih kuat darinya?


'Membunuh 2 burung dengan 1 batu. Aku hebat.'


Penyihir itu menjilat bibir atasnya merasa puas. Godaan seperti itu hanya bisa terjadi ketika seseorang merasa mereka lemah atau mengenai titik lemah seseorang.


Namun Bern mengabaikan itu. Itu bukan kerana dia kuat. Bern hanya sekuat orang biasa pada umumnya. Dia tidak sekuat Anton atau Ailen. Dia tidak segesit Uen atau bisa menembak dengan bagus.


"Berbakat?"


Bern mencebir.


Alasan dia bisa menjadi kuat ketika dia hanya setaraf orang biasa.


"Tidak ada yang namanya bakat. Selama kamu ingin berusaha keras, selagi kamu tidak takut akan kesakitan...."


Bern berhenti menelan darahnya. Darah itu mengalir keluar dari mulutnya seperti air yang mengalir deras dari pipa. Sangat banyak hingga penyihir itu mengerutkan keningnya.


Ya, Bern adalah orang yang tidak takut akan kesakitan.


"Bagaimana?...."


Penyihir itu melangkah mundur beberapa kali dengan kaki yang menggigil.


'Monster! Dia monster! Bagaimana mungkin seseorang bisa masih berdiri dengan semua darah itu!!?'


Ketakutan meresapi mata penyihir itu.


Namun Bern hanya berdiri tabah seolah darah tidak mengalir dari mulutnya. Namun tubuhnya serasa di cincang ratusan kali. Walau begitu, perisai pada Zion dan Thomas masih kokoh seperti dia yang berdiri kokoh dengan dua kaki.


.


.


.


.


.


...**Bersambung**...