From No Body To Hero

From No Body To Hero
Episode 26



Bern membuka matanya melihat langit yang sudah gelap dan banyak bintang bersinar sangat indah.


Dia melihat pundaknya ada Althea dan di sampingnya yang menatap langit, Kleio.


"Leo, kamu akan sakit jika kamu terus di luar."


"Katakan pada orang yang tidur di luar tanpa selimut."


Dengan cepat Kleio membalas dengan sinis.


"Sudah malam, jadi kita akan bermalam dalam goa."


Bern mengangguk dan bangun dari duduknya. Dia merasa kakinya mati rasa kerana tertidur dalam posisi duduk. Namun dia masih berjalan dengan baik seolah kakinya tidak mati rasa.


Dia memasuki goa dan hanya sepertiga harta dalam tempat itu tersisa.


["Kakak, ini bahagian mu."]


Kleio yang melihat Alastair menyerahkan tas sihir yang di penuhi harta berpikir dia akan di tolak memikirkan Bern sungguh pelit dengan uang.


"Kamu saja yang pegang itu. Aku tidak begitu bagus dalam urusan uang, jadi ku serahkan itu pada mu."


Kleio mengangkat alisnya kaget.


"Kamu mengambil bahagian mu?"


Bern mengangguk perlahan.


"Alastair akan tinggal bersama ku, jadi aku harus punya uang untuk membiayainya, kan."


Bern tidak mengambil uang itu untuk dirinya melainkan untuk membiayai Alastair yang akan berada dalam penjagaannya.


"Aku juga harus menjaga Althea, jadi aku memerlukan dana."


Althea mengangguk keras seolah teruja walau tidak ada yang melihatnya.


["Jadi, kamu Althea? Salam kenal, aku Alastair."]


Alastair mendekati Bern dan memperkenalkan dirinya pada Althea yang berada di pundaknya.


"Kamu bisa melihatnya?"


Kleio bertanya dengan penasaran.


"Aku bisa kerana aku bukan manusia. Aku iblis yang bisa membuat kontrak juga. Jadi kami kurang lebih adalah spisis yang sama."


Kleio mengangguk seolah memahaminya. Bern yang hanya mendengar mereka berbicara tiba tiba melihat sebuah pedang yang tertancap di tanah. Pedang itu terlihat mahal dan indah.


"Mengapa tidak ada yang mengambil pedang itu?"


Bern bertanya dan Kleio melihat pedang itu seketika dengan wajah sedikit kesal.


"Itu pedang suci, tidak ada yang bisa menariknya. Lihatlah mereka."


Kleio menunjuk temannya yang sedang meratapi dinding goa dengan kecewa. Bahkan Steven ada di sana.


"Standarnya sangat tinggi! Memangnya orang seperti apa yang dia mau!? Aku adalah assasin terkuat di benua ini! Bagaimana dia bisa tidak menerima ku!?"


Steven dengan kesal mengasah pedang besarnya. Jika di banding kelas ksatria, Steven masih lemah. Namun dia adalah yang terkuat jika itu di antara para assasin yang mengandalkan kelincahan.


"Itu benar, bagaimana jika kamu mencobanya? Kamu juga sangat bagus dengan pedang, kan."


Kleio mengatakan itu dan yang lain mengangguk setuju.


{Dia bisa menggunakan pedang!?}


Althea kaget dan pergi ke pundak Alastair bertanya.


["Iya dia bisa. Dan dia sangat hebat dengan itu, hingga bisa menewaskan musuh bahkan ketika dia sekarat."]


Althea mengangkat alisnya menatap Bern.


{Sekarang aku tahu mengapa kondisinya bisa begitu menyedihkan.}


Alastair mengangguk setuju. Kondisi Bern benar benar menyedihkan bahkan untuknya yang tidak begitu tahu tentang penyembuhan.


"Tangan ku yang berdarah tidak layak memegang senjata yang begitu suci."


Bahkan sebelum Bern bisa memulai berbicara omong kosong, Ailen menarik Bern ke depan pedang itu.


"Ucap kan nama mu dan tarik."


Bern menghela nafas dan mula memegang gagang pedang itu.


"Nama ku Bern Kailyth."


Namun Bern masih belum menarik pedang itu. Dia malah berlutut.


"Aku tidak layak untuk memegang pedang suci dengan tangan ku. Tapi, apa kamu ingin sendirian di sini? Aku tidak akan menggunakan mu dan hanya membawa mu keluar jika kamu mau. Tidak ada paksaan untuk menerimanya."


Orang orang mula mencebir tindakan Bern. Mengapa hanya membawanya keluar ketika itu bisa menjadi senjata yang sangat kuat?


"Kamu tahu, ketakutan terbesar ku adalah kesunyian. Apa kamu tidak takut berada di sini sendirian?"


Orang mula mengejek Bern. Ketakutan seperti apa itu? Ketakutan seseorang yang tidak memiliki teman? Dasar pecundang.


Pemandangan laut yang luas terbayang di benaknya. Satu satunya tempat yang membuatnya tenang bahkan jika itu sangat sunyi.


Bern akhirnya menarik pedang suci itu. Namun seperti yang di jangkakan, pedang itu tidak bergerak.


{Wahai anak baik, biarkan saja aku di sini. Tuan ku di bunuh di sini, dan aku hanya setia pada tuan ku. Aku akan menghilang cepat atau lambat dalam beberapa jam lagi, jadi tidak ada gunanya. Biarkan aku pergi bersama dengan pemilik ku di tempat yang sama.}


Bern melepaskan gagangnya dan berdiri lalu tunduk hormat.


"Jika itu keputusan mu, maka aku tidak punya hak menganggu mu."


Bern tersenyum lembut ketika cahaya pada pedang itu semakin meredup. Mempertahankan posisinya selama ini hanya untuk setia pada tuannya, itu layak menerima rasa hormat Bern.


"Dia bahkan menolak mu? Apa dia benar benar sedang memilih penerusnya?"


Steven mencebir dengan Anton yang sedang mencoret dinding goa dengan batu kerana bosan.


"Dia tidak sedang memilih penerusnya. Dia sedang menunggu masa untuk mengikuti tuan lamanya."


Mendengar itu, tidak ada yang berbicara. Pantas saja Bern tunduk pada pedang tua tidak tahu diri itu. Pedang itu layak menerima rasa hormat Bern.


Tidak lama setelah mereka membuat unggun api, Bern melihat cahaya pada pedang itu meredup dan perlahan bertukar menjadi debu.


'Semoga perjalanan mu menyenangkan.'


Sekali lagi, Bern tunduk hormat pada yang baru saja pergi. Melihat debu, mengingatkan Bern pada sesuatu.


"Ah, aku belum mengkremasi mayat kakak mu."


Alastair yang mendengar itu terharu.


["Kita bisa melakukannya di jalan pulang."]


Bern mengangguk dan menggelengkan kepalanya pada Althea yang bingung. Althea yang melihat wajah Alastair yang sedih tahu bahwa Bern menyuruhnya untuk tidak bertanya.


"Hei, kita harus ceria mendapatkan harta! Mari bernyanyi dan bergembira!"


Bern hanya tersenyum pada moment seperti itu.


"Bern, ayo nyanyi! Kamu terlalu kekok!"


Anton mengajak Bern.


Agak canggung bagi Bern untuk bernyanyi seperti itu mengingat umurnya. Dia dengan cepat menggeleng menunjukkan keengganannya.


"Bos, ini tidak menarik jika kamu tidak melakukannya! Marilah!"


Steven tidak menyerah. Dia dan Anton bahkan sudah menarik pangeran es (Ailen) itu bernyanyi bersama, walau hanya bunyi dengungan. Jadi mengapa mereka tidak bisa menarik Bern?


Bern yang melihat kegigihan pada mata mereka merogoh tas sihir yang ada pada Alastair. Dia akhirnya menemukan seruling emas dan menatapnya dengan seksama. Semua orang bingung dengan tindakan Bern.


Bern mula meniupnya.


<🎶~🎶~🎶~🎶~🎶~>


Bern bermain seruling dengan baik. Dulu dia pernah menjadi pelayan di restoran mewah dan belajar bermain pelbagai alat muzik.


"........."


Semua orang terdiam ketika Bern mula memainkannya. Suara yang terhasil dari seruling itu merdu dan membuat semua orang tenang hanya dengan mendengarnya.


"Aku tidak tahu kamu bisa bermain musik."


Kleio terlihat kaget ketika mengatakan itu.


"Ini tidak seberapa. Ada yang ingin mencoba juga?"


Bern dengan cepat mengalihkan pembicaraan dengan memberikan seruling itu pada Anton.


Anton mencobanya dan yang keluar adalah suara melengking yang menyakitkan kuping semua orang termasuk dirinya.


Hari itu berakhir dengan baik. Ketika pulang, Bern menyelinap keluar dari kumpulannya mengkremasi iblis tingkat 1 itu. Alastair menahan tangisannya di sana ketika mengubur abu dari kakaknya dan teman satu satunya. Althea hanya bisa merasa duka di situasi itu.


Namun semuanya baik baik saja hingga mereka pulang tanpa hambatan. Yah, itu tidak baik baik saja untuk Anton yang di marahi ibunya kerana hampir mati. Bern di marahi lebih teruk bahkan ketika dia bukan putra mereka yang memiliki hubungan darah.


Mereka juga menjalani hari hari mereka sebagai pelajar dengan baik kecuali Bern yang menjadi target buli di kelas oleh penyihir muda yang iri padanya.


Bern tidak pernah mempermasalahkan itu mengingat mereka hanya anak kecil. Itu hanya sekadar melempar kertas atau air jatuh di atas kepala, jadi dia tidak terlalu mempedulikannya. Namun temannya yang lain benar benar tidak puas dengan sikap Bern.


Anton juga sudah beradaptasi dengan Althea yang tidak bisa dia lihat dan berpikir itu hantu setiap kali ada barang bergerak. Alastair juga seperti hantu tidak bisa di lihat mengingat kemampuannya.


Anton benar benar merasa hidup bersama hantu ketika Bern tidak ada di asrama.


Dan akhirnya, setelah 3 bulan, hari yang di tunggu tunggu para pelajar tiba!


Itu adalah hari 'CUTI'! Tentu saja itu hari cuti. Hari apa yang membuat pelajar sangat bahagia selain hari cuti?


Itu adalah hari cuti setelah kelas pemula menyelesaikannya 6 bulan mereka. Mereka akan bercuti untuk 2 minggu ke depan.


"Cuti ini, kemana kamu akan pergi?"


Steven bertanya dan Bern memikirkannya.


"Ah, Leo mengatakan dia akan menunjukkan rumah yang aku minta terakhir kali. Jadi aku akan ke pantai selatan kota Narda."


Steven memikirkan pantai dan berpikir sudah lama sejak dia melihatnya.


"Aku akan mengikuti mu. Sudah lama aku tidak melihat pantai."


Steven berpikir untuk menangkap beberapa ikan dan membakarnya.


["Pantai? Apa itu?"]


{Tempat air asin itu, bukan?}


Bern menggaru kepalanya melihat kedua makhluk yang bahkan tidak tahu apa itu pantai dan lautan.


Steven tidak bisa melihat Althea, namun bagaimana dia melihat kondisi Alastair, dia bisa tahu bahwa mereka berdua bersenang senang selama bersama Bern.


"Aku juga akan ke pantai selatan! Aku ingin melihat rumah mu!"


Anton dengan cepat mengatakan itu ketika mengemasi barang barangnya.


"Leo juga bilang yang mulia Uen dan Zion akan berkunjung. Sudah lama sejak kita melihat mereka."


Bern mengatakan itu membuat Steven mengingat Zion yang sangat mengangumi Bern.


Setiap punya alasan membawa Bern masuk ke pembicaraan, dia pasti melakukannya.


"Wilayah selatan adalah wilayah tanpa penguasa bukan? Tidak ada Duke dan Marquis di sana."


Steven mengatakan itu dan Anton mengangguk. Sebagai keluarga pedagang, dia mengetahui itu. Dia bahkan punya villa juga tempat penginapan di bawah nama keluarganya di selatan.


"Walau tidak memiliki penguasa, banyak bangsawan yang berkerja di bawah Duke dan Marquis dari wilayah lain. Ini hal umum dalam politik untuk bergabung dengan yang kuat."


Anton mula memikirkan keluarganya yang sebentar lagi akan naik menjadi keluarga Baron. Mereka pasti akan di tarik ke satu sisi.


"Bukan ke Duke Theor juga seorang penguasa wilayah Barat? Duke Zeke juga penguasa wilayah Utara. Keduanya berada di tangan Bern jika itu benar."


Steven terlihat senang ketika membawa nama Bern.


"Itu tidak mudah tahu. Masih ada wilayah Barat daya dan barat laut yang di kuasai orang lain. Wilayah barat tidak pernah tenteram dengan perebutan kuasa!"


Bern tertanya, bagaimana dari urusan pantai selatan ke arah politik wilayah barat?


****


"Ini adalah tugas kamu untuk menyelidiki masalah ini sebagai pewaris. Ailen Theor, aku percaya kamu bisa."


Ailen memegang dokumen dengan genggaman erat.


Orang yang berbicara padanya adalah pamannya yang menginginkan kuasa atas keluarganya.


'Aku akan membuat mu menyesal memberikan aku misi ini.'


Jika Ailen gagal melakukan misi itu, dia akan di ragukan sebagai seorang pewaris. Itu adalah kehendak dari semua tetua di keluarga itu.


'Lihat saja nanti.'


Ailen berjalan dengan langkah yang berat.


[Misteri kurangnya punca makanan di pantai selatan kota Narda.]


Ailen juga sedang menuju ke pantai selatan.


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...**Bersambung**...