From No Body To Hero

From No Body To Hero
Episode 29



'Mengapa pencuci mulut di penuhi kue, puding dan banyak benda manis?'


Seperti yang sudah di janjikan, mereka berkumpul di jam 8. Semuanya baik baik saja hingga pencuci mulut yang selalu mereka semua lewati di letakkan di depan mereka.


Mereka semua melirik ke arah Kleio. Kleio makan dengan tenang kerana bahagiannya sudah di asingkan di mana itu tidak manis seperti yang selalu dia bawakan pada Bern ketika dia sakit.


"Mengapa kalian tidak makan?"


Melihat senyuman cerah Kleio, semua tahu dia sedang mencoba menjahili mereka.


{Ini enak!}


Di sisi lain, Althea sibuk memakan puding dengan nikmat. Sudu kecil bergerak sendiri seolah di gerakkan hantu di dekat Alastair.


["Kamu benar, kue, puding dan semuanya sangat enak."]


Alastair juga menikmatinya. Mereka yang tidak pernah makan makanan manis tentu saja menikmatinya.


Ailen memasukkan satu sudu ke mulutnya dan segera menutup mulutnya.


'Apa aku sedang makan gula? Apa ini bisa di makan?'


Semua orang terlihat kesulitan menelannya. Mereka memiliki reaksi yang sama dengan Ailen ketika kue dan puding itu masuk ke mulut mereka.


'Kalau aku tidak bisa menelannya, bagaimana dengan Bern?'


Secara serentak, mereka semua menoleh ke arah Bern. Bern yang merasa mata di tuju padanya menjadi kaku.


"........"


Althea memiliki 3 cup puding yang sudah kosong, Alastair memiliki 3 piring kue dan 2 cup puding di sisinya. Namun Bern memiliki 7 piring kosong di sisinya juga piring yang dia miliki sudah kosong menjadikan itu piring ke 8. Dia juga memiliki 5 cup puding di sisinya.


Bern yang merasa canggung meletakkan sudu di meja dengan lembut.


"Aku kenyang, kalian bisa meneruskannya."


Bern ingin bangun dan pergi kerana merasa canggung. Namun tangan besar membuatnya kembali duduk di kursi.


"Bos, mengapa kamu tidak mengatakan kamu menyukai makanan manis? Aku bisa membelinya kapan saja. Tidak perlu malu, kamu bisa makan sepuasnya."


Steven memerhatikan ada remah kue di bibir Bern menunjukkan dialah yang memakan semua kue itu.


Bern hanya diam tidak melawan. Dia secara alami mengambil kue lain lalu makan dengan baik. Tidak ada paksaan dalam wajahnya dan malah dia terlihat menikmatinya.


Agak aneh melihat Bern yang bahkan tidak makan lebih dari satu piring, makan dengan jumlah yang banyak.


"Apa kalian tidak menyukai hal manis? Ku lihat, kalian tidak begitu sering makan hal hal manis."


Bern menanyakan itu membuat semuanya tersentak.


"Tidak! Aku menyukainya!"


Zion sebagai fans garis keras Bern dengan paksaan memakan kue di depannya.


"Akh, sangat manis! Air!"


Kleio hanya menahan tawa melihatnya.


"Bagaimana anda tahu Bern menyukai hal manis, yang mulia?"


Anton bertanya sambil menghulur air ke Zion yang terlihat akan muntah kapan saja.


"Aku melihatnya makan di toko kue. Aku pikir aku berhalusinasi, dan rupanya Bern tidak bisa menolak kue yang terlihat enak."


Melihat Bern secara alami mengambil kue seterusnya bahkan setelah piring ke 10 selesai, mereka mempercayai itu.


"Ah, aku kenyang...."


Bern bergumam sambil melihat kue ke 11 yang dia ambil. Tidak, dia sudah kenyang sejak kue ke 3. Namun dia tidak bisa berhenti makan kerana semua kue itu terlihat menggiurkan.


"Kamu bisa memakannya nanti sebagai cemilan malam. Bukannya kamu tidak bisa melakukan itu."


Uen mengatakan itu ketika menolak kue ke tengah menandakan dia tidak akan makan.


Namun semuanya terdiam ketika Bern masih memasukkan kue ke 11 itu ke mulutnya.


"Leo, kamu akan membuat ku gemuk cepat atau lambat jika begini."


Bern bergumam sedikit kesal, namun masih membawa masuk kue itu ke mulutnya.


"Tidak, kamu terlalu kurus."


Semua setuju dengan penilaian Kleio. Bern sangat kurus dan terlihat menyedihkan walau dia memiliki otot kecil.


Bern tidak memilih makanan, namun dia selalu makan dengan kuantiti yang sedikit dan banyak belajar juga kurang tidur membuat dia menjadi kurus.


Jadi, melihat Bern makan dengan lahap dan bahkan tidak berhenti makan ketika dia sudah kenyang membuat mereka senang.


["Jadi, makanan yang paling kamu sukai adalah kue?"]


Alastair bertanya dan Bern dengan santai mengangguk.


"Makanan yang paling kamu benci?"


Steven bertanya dan wajah Bern menjadi gelap.


"Aku tidak memilih makanan."


Sebagai orang tua, di mana harga dirinya ketika dia tidak menyukai sesuatu?


"Benarkah? Tapi wajah mu mengatakan sebaliknya...."


Steven masih mencoba. Bern menghela nafas pendek.


'Tidak ada salah memberitahu mereka.'


Bern pasrah.


"Bawang putih."


Mendengar itu, mereka semua terdiam kaku merasa bersalah.


"Bahahahahahaha!"


Kleio tidak lagi bisa menahan tawanya melihat reaksi mereka. Mereka sudah memaksa Bern untuk makan sup cendawan yang kaya akan rasa bawang putih hingga dia muntah. Steven juga sudah memaksa Bern menelan ramuan sihir yang rasanya seperti air rebusan bawang putih.


"Maaf....."


Semuanya secara serentak meminta maaf. Mereka akan lebih berhati hati di masa depan.


"Baik, mari kesampingkan itu sekarang. Bagaimana dengan penyiasatan kalian?"


Bern langsung mengubah topik pembicaraan.


"Tidak ada yang menarik di sisi kami."


Steven mengatakan itu dan Anton mengangguk. Bern mula membuka buku catatannya.


"Tentu saja, kalian pergi menggoda beberapa wanita dan akhirnya di tampar. Anton kanan dan Steven kiri."


Keduanya melompat kaget mendengar itu dari Bern.


"Kemudian kalian pergi memancing dengan harapan mendapatkan ikan namun berakhir dengan tangan kosong."


Keduanya menggaru belakang kepala mereka.


'Jadi, mereka pergi bermain.'


"Aku menyelidiki kawasan di dekat pantai, namun tidak ada yang aneh terlihat. Aku pergi bersama dengan yang mulia pangeran kembar."


Ailen mengatakan itu dan pangeran kembar menganggukkan kepala mereka.


"Aku melihat ke dalam kota dan tempat hewan ternak. Namun tidak memiliki bukti anergi iblis atau semacamnya. Aku sudah mengkonfirmasi itu bersama Alastair yang sememangnya iblis."


Kleio mengatakan itu dan Alastair mengangguk. Althea masih menikmati pudingnya tidak peduli dengan pembicaraan.


"Jadi, tidak ada petunjuk sama sekali."


Zion mengatakan itu dan akhirnya mereka melihat Bern yang masih mencatat walau sudu masih berada di mulutnya.


"Bagaimana dengan mu?"


Anton bertanya tidak puas dengan itu. Bern bertanya namun tidak memberitahu miliknya.


"Besok kita akan ke laut mencari petunjuk bersama guild pembunuh upahan. Aku sudah berjanji untuk membantunya. Jika kalian tidak ingin melakukannya, aku sendiri baik baik saja."


Bern mengatakan itu dengan tenang.


"......"


'Di mana kamu bertemu guild pembunuh upahan coba?'


Tidak ada yang protes menunjukkan mereka tidak membantah untuk membantu guild pembunuh. Yah, guild pembunuh sangat bagus dalam mengumpulkan maklumat, jadi, mengapa tidak?


"Ada laporan bahwa jubah hitam dengan lambang organisasi Satan berlumuran darah mengambang di laut tengah. Di pos ronda malam juga mengatakan mereka mendengar suara aneh binatang seperti mereka ketakutan sedang nelayan yang selalu melaut mengatakan terkadang mereka menemukan ikat yang menjadi hitam di penuhi racun seolah ada iblis yang meracuni mereka."


Bern sekali lagi berbicara dengan tenang.


"......."


Semua orang terdiam mendengar semua maklumat yang di dapatkan Bern. Bern memberikan buku catatan itu pada Kleio dan dia melanjutkan makan kue dengan tenang.


"Baik, ada yang ingin mendengar laporan yang di dapatkan Bern?"


Kleio mengatakan itu dengan senyum kekok. Masih ada banyak kesaksian yang di catat Bern di bukunya.


"Bos, bagaimana kamu bisa mendapatkan informasi secepat ini?"


Steven bertanya dengan penasaran. Namun Bern mengabaikan soalan itu lalu melihat mereka semua yang menyedihkan juga tidak memiliki pengalaman dalam hal itu.


"Kalian tidak akan dapat informasi jika kalian terlihat sangat mencurigakan juga terlihat terlalu kaya membuat warga setempat ragu mengatakan hal sebenarnya. Ailen, kamu terlalu mencurigakan dengan jubah menutupi seluruh tubuh mu. Yang lain juga terlalu memamirkan keindahan diri kalian."


Dengan rasa tanggung jawab, Bern menasihati cara mereka mencari informasi. Dia memerhatikan mereka semua ketika mencari informasi takut takut organisasi Satan melakukan sesuatu.


Saudara Mark hanya bisa menggaru salah satu bahagian di kepala mereka mendengar penjelasan Bern.


"Tapi kamu juga mengenakan jubah, apa bedanya aku dengan mu?"


Ailen merungut tidak puas. Bern merasa di tusuk ketika dia hanya ingin menasihati mereka sebagai orang tua yang baik. Itu membuatnya kesal.


Bern merogoh tas sihirnya dan mengeluarkan beberapa hal yang terlihat tidak berharga seperti batu dan gelang yang terbuat dari batu sungai.


Yah, itu memang terlihat di ukir dengan bagus dan bisa mendapatkan beberapa koin perak darinya.


"Apa ini?"


Zion bertanya.


"Hal yang aku buat untuk sedikit melegakan perasaan penduduk. Kekurangan makanan bukan saja berdampak pada manusia, itu juga berdampak pada haiwan dan persekitaran. Aku juga mendengar sudah hampir 5 bulan hujan tidak turun dan bekalan air minum di kota ini semakin menurun."


Bern mengambil batu yang di ukir dengan namanya.


"Setidaknya, jika kalian ingin menyelidiki sebuah kasus yang berhubungan dengan banyak orang, kalian harus memahami penderitaan mereka. Bagaimana putus asa mereka untuk mencoba bertahan hidup di situasi sulit ini, dan jadilah sosok yang bisa membuat mereka bisa bertahan hingga akhir bencana ini."


Bern menyimpan kembali batu batu itu.


"Ini bukan kasus pembunuhan di mana hanya ada satu korban. Ini kasus di mana banyak nyawa di pertaruhkan jika gagal."


Bern bangun dari kursinya dan ingin pergi. Dia kehilangan selera untuk makan kerana kesal. Juga dia ingin segera beristirahat setelah lelah berkeliling.


Namun merasa dia berlebihan, jadi dia menyambung beberapa kata supaya anak muda di depannya tidak terlalu serius memikirkannya.


"Ouh, dan ini hanya pendapat aku. Sebagai 'bangsawan', kalian seharusnya punya penilaian sendiri."


Tidak ada yang berani menghentikan gerakan Bern. Gerakan Bern terlihat berat di mata mereka, namun Bern hanya lelah bergerak seharian.


"Ok, siapa yang akan membujuknya sekarang?"


Anton mengatakan itu ketika dia melihat kue yang belum selesai di makan. Dia tidak tahu apa yang Bern rasakan hingga selera makannya menghilang, tapi sepertinya dia sedang kesal. Juga, kata bangsawan membuat itu terlihat jelas Bern sedang marah. Dia tidak pernah menganggap mereka bangsawan kerana baginya manusia sama saja tingkatnya tidak kira kaya atau miskin.


"Bagaimana jika kita hubungi Lewis?"


Steven mengatakan itu. Lewis tidak mengikut mereka kerana dia pulang ke desa black juga melakukan pekerjaan paruh waktu untuk melunasi hutangnya.


Tidak mungkin mereka memanggil Lewis hanya untuk itu. Suasana menjadi canggung kerana mereka memikirkan apa yang membuat Bern sangat kesal.


.


.


Keesokan paginya.


"Ouh, kamu datang dengan teman teman mu?"


Bern mengangguk. Semuanya diam seolah mereka merasa canggung dengan Bern.


"Apa kalian berantem?"


Calistia bertanya melihat suasana canggung itu. Bern memiringkan kepalanya bingung.


"Bos, bukan kah kamu marah kemarin?"


Bern memikirkannya sebentar.


"Ah, apa kalian pikir aku marah? Aku hanya sedikit kesal kerana kalian mempertanyakan hal yang aku lakukan. Aku hanya sedikit terbawa suasana. Mengapa aku marah dengan hal kecil seperti itu? Juga, aku terlalu lelah waktu itu, jadi kalian tidak perlu memikirkannya."


Bern benar benar terlihat tidak mempermasalahkannya lagi. Namun mendengar Bern kesal juga lelah membuat mereka merasa bersalah. Bern sudah melakukan segala yang dia bisa dan mereka bahkan tidak menghargainya.


Bern hanya kesal juga membuat mereka semakin bersalah. Lebih baik jika Bern marah pada mereka kerana meragukannya.


"Sudah, mari fokus pada pekerjaan sekarang."


Semua mengangguk walau masih merasa canggung. Bern merasa dia bahkan tidak bisa kesal lagi di depan anak muda seperti mereka di masa akan datang.


Calistia hanya diam ketika melihat itu. Bern terlihat mengetuai, namun Kleio dan Ailen yang berada di depan membuat dia semakin bingung.


'Yah, kita akan tahu setelah berlayar bersama.'


Tidak perlu terburu buru untuk mengetahui sesuatu yang bagus. Seringai muncul di bibir Calistia yang penasaran.


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...**Bersambung**...