Fool Again

Fool Again
Garis Tipis Antara Kenyataan dan Harapan



Keadaan kami menjadi super canggung keesokan harinya. Aku persis seperti tokoh pendukung yang baru ditolak cintanya habis-habisan oleh pemeran utama. Aku tidak mengerti mengapa William masih ada di rumah padahal aku sengaja baru keluar dari kamar pada pukul sepuluh pagi. Aku benar benar ingin menghindarinya namun ia malah tengah bekerja di ruang tamu. Huh. Ini mengesalkan


Ia melirikku setelah menyadari keberadaanku. Namun aku tidak mau menyapanya kali ini. Aku baru membuka kulkas ketika William berjalan mendekatiku. Ia berdeham pelan lalu berkata,“Em, ini aku ada beli sarapan kesukaan kamu tadi,”


Aku bahkan tidak berniat melirik sarapan yang ia beli itu sama sekali. Aku melanjutkan aktivitasku untuk mengisi gelasku dengan susu. Aku hanya ingin minum susu saja. Bagus. William mungkin menyadari mood ku yang masih belum balik sepenuhnya. Ia kemudian mundur dengan penuh kesadaran diri


Aku kemudian sengaja berlama-lama mandi. Aku mau menjemput Camilla dari rumah mertuaku hari ini. Christy dan aku telah bertukar pesan tadi. Kami berencana refreshing ke mall siang ini. Huh, setidaknya inilah refreshing yang normal. Aku tidak tahu mengapa clubbing termasuk refreshing


Aku menyergit karena William telah berganti pakaian ketika aku tengah mencari sepatuku. Ia sudah duduk di kursi dekat pintu sambil menatapku dengan senyum tipis. Huh, mau apa dia?


“Kamu mau ke rumah mama kan? Aku antar ya?” tanyanya sambil menunjukkan kunci mobilnya


Aku tidak menjawab. Sungguh, aku benar benar tidak ingin terlibat komunikasi dengan William hari ini. Aku masih terlalu sakit hati. Aku kemudian bergegas masuk ke dalam taksi online yang telah menunggu di depan rumah ketika William menyalakan mesin mobil. Sungguh, aku tidak peduli isi pikirannya


Firasatku memburuk karena aku menemukan mobil William terpakir di halaman rumah mertuaku. Samar samar aku mendengar suara tawa William bersama mertuaku. Huh, situasi diantara kami pasti akan menjadi super awkward. Aku berdeham pelan sambil menghembuskan napas pelan. Aku berusaha menenangkan dan menguatkan diriku sebelum masuk ke dalam rumah mertuaku


“Hey,Kat. Kok nggak barengan dengan Liam?” tanya mama mertuaku sesaat setelah aku masuk ke dalam rumah


“Iya,ma. Tadi Kat mampir ke tempat lain dulu. Camilla mana ma?” tanyaku sambil melirik sekelilingku. Tentu saja aku mengabaikan keberadaan William lagi


“Camilla lagi di kamar tuh, main main dengan Rey,”


Aku menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri. Berhasil. Aku dapat menghabiskan waktu bertiga bersama Camilla dan Rey. Sejenak, rasa sakit hatiku meluap. Aku merasa bahagia dan lega hanya bermain dengan dua anak kecil menggemaskan


Christy mengetuk pintu kamar ketika aku tengah bermain peak a boo dengan Camilla dan Rey. Ia mengangkat sebelah alisnya sambil melipat tangan di dada


“Kak, kamu nggak lupa kan kita bakal ngemall?” tanyanya sambil melirik jam dinding yang telah menunjukkan pukul dua belas siang. Ah! Aku menepuk keningku sambil ber-oh ria. Kemudian dalam sekejab aku telah menyiapkan Camilla dan Rey


Aku menyergit menemukan William juga berada di dalam mobil, tepatnya ia yang akan menyetir. Bukankah kami tidak mengajaknya? Huh, ini mengesalkan. Ini namanya bukan refreshing dong!


Kami tiba di mall tidak lama kemudian. Kedua mertuaku bersama Christy bergegas membawa Camilla dan Rey untuk bermain di timezone. Entah ini hanya sebuah kebetulan atau memang mama menyadari bahwa William dan aku tengah bertengkar sebab Ia dengan sengaja meminta William dan aku untuk membeli ayam yang lagi hits sejagat raya. Aku tidak enak hati untuk menolak. Huh, aku tidak punya pilihan lain dengan mengiyakannya


William kelihatan beberapa kali membangun pembicaraan diantara kami namun aku bersikukuh dengan tidak menyautnya. Aku kemudian menyebut beberapa jenis bumbu ayam yang mungkin digemari mertua dan iparku. Well, tentu saja aku mengabaikan William lagi


“Baik bu. Totalnya dua ratus ribu ya bu. Apakah Ibu ada kartu kredit bank xxx? Jika menggunakan kartu kredit xxx mendapatkan diskon 20% bu,” ucap seller nya membuatku mengigit bibirku ragu


Aku adalah pemburu diskon. Namun aku tidak punya kartu kredit bank xxx tersebut. Huh, sial. Ah! William punya kartu kredit bank xxx tersebut namun… bukankah akan aneh jika aku meminjam miliknya? Masa aku ‘berbaikan’ dengannya hanya karena kartu kredit?


Aku baru akan menggelengkan kepalaku ketika William menyondorkan kartu kredit bank xxx nya. Aku menyergit melihat seller tersebut tersenyum sipu melihat William yang tersenyum tipis padanya. Huh?


William menenteng dua plastik ayam tersebut setelah itu. Ia berdeham pelan sebelum memberanikan diri berkata,“Mama barusan minta kita untuk duluan reserved meja di tempat favoritenya,”


“Kamu duluan pergi saja,” ucapku sambil melipat tanganku di dada. Ah, aku mungkin kelihatan banget lagi ngambek tapi bodoh amat!


William menunjuk salah satu toko tas yang kami lewati


“Kayaknya ada keluaran terbaru. Kamu mau lihat lihat?” tanyanya sambil menyentuh pergelangan tanganku


Aku menepisnya sambil berjalan melangkah pergi. Oh tidak! Kupikir aku akan menyesalinya. William mungkin akan membelikannya untukku namun… tidak! Aku benar benar lagi marah dengannya. Aku tidak akan mudah diluluhkan hanya karena tas


Ternyata William tidak menyerah. Ia kerap mengejar langkahku sambil menawariku banyak hal seperti,


“Kamu sudah pernah tes minum boba terbaru disana?”


“Em, bajunya bagus. Apakah kamu mau?”


“Kat, lihat sepatunya. It may suit you. Kamu mau coba?”


“Look at that clothes. Camilla pasti lucu banget kalau pakai itu,”


“Wow, swimsuit nya bagus. Kamu mau coba?”


Aku memutar kedua mataku sambil melihatnya dengan tajam ketika kami tengah berhenti di depan lift. Ia kemudian memberiku senyum polos sambil mengangkat bahunya. Oh Tuhan. Mengapa harus laki laki di depan ini yang melukaiku? Dan demi apapun… mengapa aku masih merasa gemas dengannya meski ia telah sengaja melukaiku? See? Orang orang mungkin mengira Williams sebucin itu denganku namun mereka hanya tidak tahu bahwa aku lah yang sebucin itu dengannya. Namun nyatanya ia malah menyia-nyiakannya


“Sini ayamnya,” ujarku sambil mengulurkan tanganku


William menyerahkannya pada detik berikutnya. Kemudian aku melanjut,“Kamu langsung ke restoran yang mama bilang saja tadi. Aku akan menemani mereka,”


William kelihatan kecewa namun ia tidak menolaknya. Aku kemudian bergegas membalikkan badanku dan berjalan berlawanan arah dengannya yang menunggu di depan lift. Jujur, hatiku sakit harus bersikap seperti ini namun sedikitnya aku berharap William dapat merasakannya bahwa hatiku bukan untuk dipermainkan. Jika dia mempermainkan perasaanku maka dia harus menerima konsekuensinya meski aku yakin… aku bukanlah konsekuensi yang ia pedulikan. Ia tidak menyukaiku,bukan? Aku hanya…. hanya seseorang yang tidak penting…dalam hidupnya


***