Fool Again

Fool Again
Pertemuan Tidak Terduga



Deg.


Pertanyaan itu membuat tubuhku menegang. Aku tidak dapat menelan spaghettiku secara refleks. Dadaku berdegup kencang. Aku yakin wajahku telah pucat pasi saat ini sementara itu Karen menutup mulutnya dengan kedua mata terbelalak. Ia memperhatikan wajah dan dua piringku dengan bergantian


“Kamu… hamil?” tanya Karen hati hati


Aku hamil?


Aku ingin menggelengkan kepalaku dan berteriak ‘TIDAK’ namun jika mengingat kembali beberapa hal ‘aneh’ yang terjadi pada diriku selama beberapa minggu terakhir membuatku semakin ragu. Aku semakin cenggeng, terlalu melankolis, nafsu makanku juga semakin besar. Dan yang paling terpenting adalah.. aku sudah tidak menstruasi selama.. well.. 70 hari mungkin? Aku terlalu sibuk mempertanyakan hubunganku dengan William akhir akhir ini hingga membuatku benar-benar tidak memperdulikan jadwal menstruasiku. Oh astaga… aku… hamil anaknya lagi?


Oh Tuhan!


Kedua mataku berkaca-kaca seketika. Aku tidak tahu aku harus bagaimana. Aku tidak tahu apakah aku pantas merasa bahagia dengan kehamilanku yang mungkin 80% akurat. William dan aku akan segera bercerai. Aku tidak mungkin… aku tidak mungkin mengorbankan kebahagian William hanya karenaku lagi. Bukankah dia sangat tersiksa saat bersamaku dan Camilla? Oh.. aku mengigit bibirku yang mulai bergemetar tidak jelas


“Tenang, Kat.. besok pagi kita check up ya?” tanya Karen sambil mencoba menyemangatiku


“Aku…, aku…,” Oh s..  Aku menemukan diriku mulai tergagap sekarang


“Kamu mungkin terlalu stress, terlalu overthinking makanya menstruasi kamu telat. Kamu.. belum pasti hamil kok!” lanjut Karen sambil tersenyum


Jujur.. jujur aku ingin mencoba mempercayai perkataan Karen namun… namun aku tidak mungkin lupa percintaan panasku dengan William beberapa waktu lalu. Kami… kami melakukan kesalahan.. lagi. Oh,, stupid me!


Karen menendang kakiku beberapa detik kemudian. Semula aku menghiraukannya namun dia tidak berhenti menendangku. Aku menghembuskan napasku, mencoba untuk tidak terinterupsi dengan kata ‘hamil’, namun Karen memintaku menoleh kebelakang and… there he is!


Ayah biologis dari anakku itu sedang mengelap tangannya menggunakan tissue sambil berbicara dengan beberapa teman laki lakinya. Sesekali dia tersenyum menanggapi perkataan temannya yang tidak kuketahui siapa meski seberapa keraspun aku mencoba mengingat siapa mereka. Oh, stupid… sejak kapan aku mengenal temannya? Aku baru menyadari betapa kecilnya scope pengetahuanku tentang kehidupan William. Aku bahkan hampir tidak tahu apapun mengenai pekerjaan dan pertemanannya. Selama ini kami hanya membahas Camilla atau… masalah gairah. Oh, sejak kapan aku mulai tidak mengenali sahabatku sendiri? Oke. Ralat. William bukan sahabatku lagi. Dia adalah calon mantan suamiku


Aku tahu bahwa aku seharusnya meninggalkan tempat ini pada detik ini juga namun entah mengapa aku tidak dapat menahan diriku untuk melihatnya dari kejauhan. Jantungku berdegup setiap kali melihatnya berbicara. Wajahnya masih setampan itu hingga membuat para wanita di restoran meliriknya dengan diam diam dan…  Oh Tuhan… hatiku nyeri. Kedua mataku berkaca-kaca tanpa kusadari. Aku merindukannya dan… membencinya. Kebencian itu semakin tidak terbendung ketika aku menemukan seorang wanita lain berjalan mendekati meja mereka. Yuriska.


Yuriska menarik kursi di sebelah William dan memberinya senyum manis. Seketika seluruh wanita di ruangan itu mulai menilai Yuriska dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan super kesal. Aku memalingkan wajahku sambil menahan bulir air mataku yang hampir jatuh. Oh tolol! Aku lupa kalau Karen disini. Aku harus menahan tangis ini. Aku harus berhasil menunjukkan pada Karen bahwa aku sudah berhasil melupakan William… sepenuhnya


Aku berusaha memakan sisa terakhir spaghettiku sambil menekuk segelas teh hangat namun aku malah tersendak karena memakannya dengan terlalu terburu-buru. Huh! Kenapa aku bodoh banget sih? Kenapa aku malah tersendak?


“Are you okay,Kat?” tanya Karen sambil mengelus tanganku


“Apakah kamu mau pulang sekarang?” tanya Karen lagi


“Bagaimana kalau mereka melihat kita?” tanyaku hati hati sambil mengepalkan jemari tanganku. Kamu harus kuat,Kat!


“Kamu jalan di sisi kanan aku aja, oke? Aku akan berusaha menutupi kamu. Kita juga tidak mungkin bisa menunggu mereka selesai makan. Mereka baru sampai dan bahkan belum order makanan,”


Aku memejamkan mataku pasrah. Karen benar. Kami tidak mungkin menunggu hingga William dan kawan kawan selesai makan. Aku harus pergi sebelum William menemukanku. Well, speaking of that.. aku berbicara seolah-olah William akan mencegatku, memohon dan bersujud dihadapanku agar aku kembali padanya. Oke, aku terlalu hiperbola dan itu menjijikkan


Karen telah membayar bill dan kami mulai berjalan keluar dari restoran. Sialnya pintu keluar hanya satu. Artinya kami harus melewati meja William mau tidak mau… jantungku bak teremas sakit ketika melirik William yang masih sibuk dengan temannya. Tuhan.. kumohon.. kumohon jangan alihkan perhatian William.. setidaknya hingga satu menit. Aku ingin keluar dari restoran ini tanpa harus berpapasan dengannya. Aku masih belum siap menemuinya .. lagi


Aku meremas lengan Karen. Aku tahu semua akan baik baik saja namun aku masih saja cemas. Aku berusaha menyembunyikan diriku sebaik mungkin namun entah mengapa laki laki yang sedari tadi berbicara dengan temannya itu menggerakkan kepalanya dan kemudian melemparkan tatapannya di penjuru ruangan


Deg.


Pada detik itu kedua pasang mata kami beradu


Detik dimana kedua mataku langsung berkaca-kaca dengan tidak tahu malu. Pipi dan hatiku memanas. Aku mengeratkan cengkramanku pada Karen sambil memutuskan tatapan diantara kami. Aku menyerahkan beberapa menit masa depanku sepenuhnya di tangan Karen. Aku mengikuti langkahnya dan berusaha tidak memutuskan gengaman tanganku padanya


Dan… aku berhasil. Aku berhasil melarikan diri dari restoran itu


“Duh..! Aku lupa bayar parkir,” umpat Karen sambil memukul ringan kepalanya


“Kita kan bisa bayar waktu mau keluar nanti?”


“Nope. Kita hanya bisa membayarnya di pintu masuk restoran menggunakan uang digital,”


Aku memutuskan menunggu di parkiran daripada harus mengikuti Karen ke pintu masuk restoran. Bagaimana jika William menemukanku disana lagi? Well, meski hampir kedengaran mustahil, ia mungkin saja mencariku untuk menandatangani berkas perceraian mungkin? Huh!


Seseorang menepuk pundakku tidak lama kemudian. Tepukan itu terasa begitu familiar hingga membuatku sontak melangkah menjauh beberapa langkah


“Kat?”