
GILA GILA GILA
Karen tidak ragu ketika meminta seorang stylist untuk merombak penampilanku habis-habisan. Rambut hitam sepinggangku langsung dibabat habis sebahu. Ia kemudian meminta stylist tersebut mengubah warna rambutku menjadi soft ashy. Kami juga menghabiskan waktu hampir satu jam untuk facial di salah satu klinik kecantikan terpopuler
Aku menatap tampilanku yang berubah total dengan kedua mata terbelalak. Is that me?
“Gimana? Terkejut?” tanya Karen sambil berputar mengelilingiku dengan tatapan puas. Dia kemudian menatap cermin di depan kami dengan kagum. Karen bertepuk tangan heboh sambil melanjut,“Iya. Itu kamu! Kamu hanya tidak sadar kalau kamu itu bisa secantik ini!”
Aku mencoba menarik keatas baju off shoulder yang aku kenakan kali ini. Aku mengigit bibirku ragu,“Could we return to the salon? Aku pikir warna rambut ini terlalu terang dan.. mm, pakaian ini kayaknya ngga cocok banget denganku,”
Karen menghembuskan napas pelan. Ia melipat tangannya di dada sambil menggelengkan kepalanya
“Kita tidak akan pernah kembali ke salon lagi. Kamu cocok kok kayak gini! Berasa muda beberapa tahun lagi. Kamu jadi kayak gadis dua puluh tahun kembali!”
“Ih, apaan sih,Ren? Geli banget!”
“Seriously! Kamu nggak percaya?”
Aku menggeleng dengan refleks. Sementara itu Karen bergegas memanggil salah satu pria di butik kemudian memintanya menebak usiaku
Laki laki berkulit sawo matang tersebut menatapku dengan malu malu sambil menjawab,“Sembilan belas tahun ya?”
Sebelah alisku terangkat
“Sembilan belas tahun?” gumamku tidak percaya
“Anw, rambut kamu cantik, secantik kamu,” lanjutnya membuatku menatap Karen dengan tidak percaya. Karen hampir tertawa terbahak bahak sementara laki laki itu menyondorkan ponselnya padaku lalu berkata,“Boleh minta nomor kamu?”
WHAT?
Karen mengambil ponsel tersebut kemudian mengetik nomor ponselku disana. Aku terbelalak. Kuambil paksa ponsel tersebut kemudian menghapus nomor tersebut lalu berkata,“Sorry. I’m married, little kid,”
“Little kid? Kita seumuran kok,”
Aku menggelengkan kepalaku dan bergegas pergi sementara itu laki laki itu tertawa tidak percaya sambil menggaruk kepalanya tidak percaya ketika Karen membisikan usiaku yang sebenarnya
Karen tidak berhenti tertawa sementara aku menghembuskan napas kesal
“See? Kamu itu cantik,”
“Oh, terima kasih Ibu Karen. Saya menjadi cantik karena anda,”
Aku tersenyum getir. Aku bahkan tidak berani menduga atau bahkan sekedar mengharapkan pertemuan kami lagi. Mungkin kami hanya akan kembali bertemu di sidang perceraian nanti. Huh. Memikirkannya saja sudah membuat mataku berkaca-kaca
Aku menyergit ketika taksi membawa kami berlawanan arah dari rumah Karen. Aku baru akan bertanya namun Karen dengan raut wajah exicted langsung menjawab,“Ini adalah saatnya menjalankan misi Ibu Kattie Priscillia,”
***
Karen memaksaku masuk ke Youth Club meski aku bersikukuh menolaknya. Aku tidak habis pikir dengan ide gila Karen. Karen ingin aku membuat William cemburu? HAH? Aku bahkan diam membeku hampir lima menit ketika Karen mengutarakan idenya di taksi. Bagaimana mungkin aku dapat membuat William cemburu? Youth club sangat padat. Selain itu, William tidak mencintaiku. Kami bahkan mungkin akan bercerai nantinya. Membuatnya cemburu sama saja menghabiskan waktuku
“Kamu tidak akan pernah tahu sebelum mencobanya,” ujar Karen
“Karen, kamu gila ya serius. Aku bahkan nggak pernah flirting dengan William sekalipun,” balasku kesal
Karen tidak peduli dengan alasanku. Ia menarikku duduk di bar di meja langanan William. ****! Jantungku tiba tiba berdebar kencang meski aku tidak yakin apakah William ada di meja tersebut
“Aku akan memantau dari ujung. Jangan lupa misi ini. Better do now or you’ll regret it later!” bisik Karen sebelum benar benar meninggalkanku sendirian
Oh gila. Aku mengigit bibirku gelisah sambil mencoba menutup celanaku yang kependekan menurutku. Huh! Aku menarik napas kesal ketika menerima spam pesan dari Karen yang memaksaku untuk flirting dengan laki laki asing
-----------------------------------------------------------------
Kamu gila ya? Serius! (Sent. Katty)
He is coming…! (Sent. Karen)
Siapa? (Sent. Katty)
Your husband… (Sent. Karen)
------------------------------------------------------------------
Deg deg.
Tanganku mendingin dengan refleks. Kupikir tubuhku juga menegang. Apakah.. William mungkin mengenaliku?
Aku tidak kuasa menahan diriku untuk tidak melirik William yang sedang duduk di sofa di belakangku. Laki laki itu sedang duduk bersandar sambil menekuk cocktail. Sesekali Ia berbincang dengan beberapa teman wanita dan laki laki yang semeja dengannya. Aku tidak tahu rasanya akan sesakit ini melihat bagaimana baiknya keadaan William saat ini. Dia tidak kelihatan kurusan sementara aku mungkin kurusan dua kilo. Huh. Kedua mataku kembali berkaca-kaca. Aku bergegas memalingkan wajahku ketika William memutar matanya ke penjuru ruangan. Barangkali ia sedang mencari keberadaan Yuriska? Huh!
Aku menekuk wine yang kupesan tanpa kusadari. Rasa panas menjalar ke seluruh tubuhku. Ah, aku marah. Aku ingin pulang saja. Sudah kuduga ide Karen adalah ide terburuk yang pernah ada
Aku baru akan bangkit dari dudukku ketika seorang laki laki duduk disampingku. Sebenarnya aku tidak peduli dan berencana tetap pergi namun laki laki itu menahan pergelangan tanganku. Ia kemudian mengukir senyum manis lalu berkata,“Long time no see, Katty,”