Fool Again

Fool Again
Satu Kenyataan Menyakitkan



Aku menatap pantulan diriku di depan cermin dengan senyum getir. Aku tidak tahu mengapa aku memoles diriku sedemikian rupa selama hampir dua jam lebih setelah kami tiba di rumah. Padahal William memberitahuku untuk tidak perlu memoles diriku. Alasannya adalah dia tidak ingin ada laki laki lain melirikku


Well, jika kami berada pada waktu dan situasi yang berbeda, aku mungkin akan terlena atas perkataan itu namun aku yakin dia tidak benar benar memaknainya. Alhasil beginilah penampilanku. Aku mengenakan heels merah delapan senti dengan dress hitam yang cukup seksi hingga menunjukkan belahan dadaku. Riasanku juga cukup tebal. Aku sengaja menata rambutku agar sedikit curly hingga menunjukkan kesan seksi


Namun jujur.. aku tidak mengenal wanita ini. Dia kelihatan berbeda. Huft, aku berusaha menegaskan pada diriku sendiri untuk tidak menyesalinya. Setidaknya aku harus kelihatan cantik dihadapan teman teman William. Aku tidak boleh kalah


William masuk ke dalam kamar ketika aku tengah bersiteru dengan pikiranku sendiri. Aku melihatnya menyergit dari balik cermin. Langkahnya pelan sambil melihatku dari bawah sampai atas. Oh geez…. Jantungku mulai berdegup kencang. Tiba tiba aku mulai dilanda kecemasan. Bagaimana jika aku terlalu over kali ini? Bagaimana jika William tidak menyukainya dan.. tunggu. Mengapa aku memikirkan seperti itu lagi? Ingat, kamu akan berada dalam lingkungan teman wanita suamamu sendiri nanti. Kamu harus kelihatan cantik. Oke?!


“Kenapa?” tanyaku berbalik menghadapnya karena ia tidak kunjung bersuara


“Kamu kelihatan cantik banget,Kat,” jawabnya terdengar tulus


Huft, sebenarnya aku ingin William complain atas outfit aku kali ini. Setidaknya aku ingin dia memintaku ganti pakaian meski aku tidak akan menggantinya sama sekali. Aku tahu aku aneh. Namun setidaknya sikap sekecil itu dapat membuatku sedikitnya 1% percaya atas perkataannya tadi bahwa ia tidak mau ada laki laki lain melihatku


William tidak mengatakan apapun. Ia hanya memintaku untuk tidak lupa memakai kalung yang ia belikan padaku beberapa mingggu lalu. Huh, aku berusaha membuang jauh pikiran menyedihkan itu. Lagian, apa yang bisa kuharapkan pada William?


William dan aku tiba di Youth Club setengah jam kemudian. Kupikir William setidaknya akan mengandeng tanganku bersamanya atau merangkulku namun ia benar benar hanya berjalan didepanku sambil menyapa teman teman wanitanya. Gila, sebenarnya aku telah memprediksi hal ini akan terjadi namun mengapa hatiku


masih sakit?


Aku terbelalak menemukan seorang wanita yang dengan terang-terangan mencium bibir William dihadapanku. Aku ingin memarahinya namun… well, aku menyadari posisiku saat ini. Aku berusaha memasang raut wajah


datar ketika wanita tersebut melihatku dari ujung rambut hingga kaki


“Lihat siapa yang kamu bawa. Istrimu?” tanyanya kedengaran merendahkan


William mengangguk ringan. Huh? Ia bahkan menanggapinya semudah itu?


Kupikir William akan mengenalkan kami namun rupanya tidak. Ia pun kemudian masuk ke dalam club bersama teman wanitanya itu. Aku pun kemudian memutuskan berjalan mengikuti William. Aku menyergit pada detik kedua kakiku menginjak club. Suaranya begitu keras dan kencang hingga rasanya rongga telingaku hampir pecah. Geez, aku tidak sadar telah berjalan sedikit lebih cepat menghindari speaker yang rupanya berada tepat disampingku hingga aku tidak sengaja menabrak punggung seseorang


“Sorry,” ucapku sambil berencana berjalan pergi ketika kedua pasang mata kami beradu namun laki laki itu malah menarik pergelangan tanganku cukup keras hingga aku menempel pada dadanya


“Hei, kenapa aku tidak pernah melihat wanita secantik ini disini?” tanyanya sambil melirik buah dadaku


Aku melirik sekelilingku, mencoba mencari William, namun aku tidak menemukannya. Pencahayaannya dinominasi kemerlap kemerlip dan gelap. Aku mencoba menarik diriku menjauh namun ia malah menahan punggungku sambil berkata,“Fee kamu berapa satu malam?”


Aku ingin marah namun pada detik berikutnya aku merasakan seseorang telah menarikku and see? Dia


adalah William. Ia menatap laki laki itu dengan tajam. Aku tidak tahu keberadaan William yang ditakuti atau tatapannya karena pada detik berikutnya laki laki brengsek itu telah berlari terbirit-birit. Aku tahu bahwa aku


seharusnya bersyukur karena William telah membantuku namun entah mengapa aku tidak dapat berhenti menyalahkannya. Aku marah karena ia meninggalkanku namun lihat bagaimana ia kelihatan berpura pura seperti pahlawan saat ini


“Are you okay?” tanyanya setengah menjerit karena music yang keras


Aku mengangguk. Ia kemudian menuntunku ke bartender


“Kamu mau minum apa?” tanya William setelah aku mendaratkan bokongku di salah satu kursi di bar


Aku memutar mataku. Oke, aku benar benar harus berhenti berharap pada William. Mengapa aku setolol itu berpikir ia mungkin akan minta maaf karena meninggalkanku? Oke, aku bodoh. Aku memang bodoh


"Air putih aja deh. Aku ngga tahan minum." Jawabku kemudian


William menatapku tidak percaya. Tatapannya seperti mengisyaratkan are you kidding me. Tetapi


aku tidak peduli. Aku tidak mau 'kelepasan' lagi karena minum. Maklum, aku benar-benar tidak tahan minum. Segelas saja sudah dapat membuatku benar benar mabuk


William kelihatan ragu


"Yakin?"


Aku mengangguk sebagai balasan


William pun kemudian memberitahuku beberapa sudut club serta fungsinya padaku setelah itu. Namun ia tidak benar benar berada disisiku selama itu. Rupanya ia hanya benar benar berbasa-basi denganku karena Ia telah bergabung di dance floor yang ramai. Aku tidak tahu raut wajah apa yang tercetak diwajahku pada detik ini. Aku


melihat William tengah menari dengan wanita lain di dance floor. Well, wanitanya memang sangat cantik. Tubuhnya juga sangat aduhai. Aku yakin ia lebih mahir tentang urusan ranjang daripadaku juga. Namun… mengapa William harus melakukan seperti itu dihadapanku?


Aku bergegas memalingkan wajahku saat kedua pasang mataku dan William bertemu. Aku yakin pipiku jauh lebih merah kali ini. Aku seperti akan menangis namun aku berusaha menahannya. Aku kemudian memutuskan menyembunyikan diriku di toilet namun aku tidak menyangka toilet akan seramai ini


Beberapa wanita melirikku dengan sinis, seolah seolah aku pernah menyakiti mereka. Ini membuatku binggung


"Kattie 'kan?"


Ugh? Aku berbalik menatap seorang wanita seksi lainnya yang sedang tersenyum tipis padaku. Bagaimana ia tahu namaku?


“Apakah aku mengenalmu?” tanyaku sopan


“Nope. But we do know you for sure,” jawabnya sambil menunjuk beberapa wanita yang menatapku sinis tadi


menggunakan dagunya. Ia kemudian melanjut,“Kamu tidak seharusnya disini. Bukankah kamu selalu jadi ibu rumahan?”


Aku menyergit semakin tidak mengerti. Mengapa aku tidak boleh berada di Youth Club? Apakah aku masuk


dalam daftar DPO? Huh?


“Mereka itu cinta banget sama suamimu. So, kamu itu sudah seperti rival mereka,” lanjutnya membuatku tertawa tidak percaya


“Mereka mencintai suami yang beristri?”


“Well, for some reasons, we all knew kalian menikah bukan karena cinta. Mm, tepatnya karena Liam tahu kamu


Deg. Aku berusaha mengontrol raut wajahku atas pernyataan tidak terduga tersebut. William tahu aku mencintainya? Apakah benar? Jadi… jadi selama ini… apakah dia hanya mempermainkan perasaanku? Dan.. tunggu. Dia baru saja memanggil William dengan sebutan Liam? Kupikir William hanya mengijinkan beberapa orang memanggilnya dengan sebutan itu?


Wanita tersebut kelihatan bersalah. Ia kemudian menatapku dengan sorot yang menyesal. Aku berusaha tersenyum sambil membalas,“It’s okay. Dia pernah menceritakannya padaku juga kok,”


“Benarkah? Termasuk dia menikahimu karena permintaan mantannya juga?”


Oke, ini adalah informasi baru yang sungguh menyakitkan namun aku berusaha mengontrol raut wajahku kali ini. Aku ingin menggali informasi lebih banyak kali ini


Aku mengangguk sambil memaksakan senyum tipis


“Kita memang… memang memiliki hubungan yang aneh. Aku tahu semuanya tapi.. aku tidak tahu dia punya teman secantik kamu,”


“Well, aku juga baru tahu rupanya istrinya secantik kamu. Kamu tahu? Dia selalu bilang kamu terlalu sederhana. No make up and any fancy stuff. Kenapa sih kamu nggak mau menggunakan semua itu? For Godshake! Kamu itu istri seorang William!”


Aku hanya dapat tersenyum getir. Bagaimana mungkin aku memanfaatkan kekayaan.. calon mantan suamiku? Huh, sedikit demi sedikit puzzle dalam hubunganku mulai terungkap. Aku tidak tahu harus lega atau malah menyesalinya. Pada detik berikutnya aku tidak berhenti mendengarkan informasinya mengenai betapa terkenalnya William disini. Ketampanannya selalu berhasil memikat hati kaum hawa. Aku menemukan sorot kekaguman terpancar disana. Huh, apakah dia juga pengaggum setia William?


“Semua fans nya berharap kalian bercerai. Kamu tahu? Mereka bilang kamu tidak pantas bersama dengan William. Mereka bilang.. dia pantas mendapatkan lebih baik. Namun setelah melihatmu hari ini, aku mulai meragukannya. Mengapa ia harus menceraikanmu? Kamu cantik, easy going. Kupikir kamu juga baik,” lanjutnya terdengar tulus


Aku membalas,“Well, semua orang punya hak untuk berkomentar bukan?”


“Sebenarnya bukan hanya itu. Liam… dia juga ingin menceraikanmu. Apakah kamu tahu itu? Tapi… kamu terlanjur mengandung anaknya waktu itu. Aku tidak tahu siapa yang benar atau salah. Namun aku yakin kamu pantas mendapatkan yang lebih baik, well.. meski tidak ada yang lebih baik darinya. Setidaknya kamu pantas mendapatkan laki laki yang menghargai perasaanmu,”


Wanita yang menyebut namanya Ela itu pun menatapku dengan sorot tulus namun sedih. Huh, bahkan orang lain saja merasakan penderitaanku. Namun aku harus selalu berusaha untuk tersenyum meski kenyataan pahit itu benar benar mengoyak isi hatiku. Aku tidak pernah tahu William berencana menceraikanku. Huh, jika begitu kenapa dia malah nagih anak kedua? Sumpah, aku benar benar tidak mengerti William. Bagaimana mungkin dia


mempermainkan perasaanku seperti ini? Sumpah, aku ingin menahan air mata ini namun aku tidak bisa menahan air mata ini untuk tidak menetes. Oke ini sakit, sakit banget. Sepertinya aku butuh ruang untuk menangis


Ela menepuk pundakku. Ia kemudian berbisik,“Aku mengatakan ini diluar sebagai fans Liam namun sebagai sesama wanita. Kamu…tidak boleh kemari lagi. Disini adalah sarang fans nya. Kamu bisa terancam


disini. Aku tidak tahu mengapa dia membawamu kemari namun… ini berbahaya. Kamu harus pulang sekarang dan.. sekali lagi.. aku mendoakan kebahagianmu,”


Aku menyeka air mataku sambil mengangguk


“Em, mengenai pembicaraan hari ini….,”


Ela mengangguk bahkan sebelum aku menyelesaikan perkataanku. Ia membuat tanda mengunci  bibirnya sambil berkata,“Sealed. Jangan khawatir!”


Aku mulai jengah melihat William yang tidak habis habisan flirting dengan wanita tadi. Padahal aku sudah


menunggu selama lima belas menit. Selama itu aku berusaha mengontrol perasaanku namun aku harus akui itu sulit. Aku yakin make up ku mulai berantakan karena air mata sialan ini. Oke, aku kemudian akhirnya kembali pada akal sehatku. Aku harus pulang. Aku memang tidak pantas berada disini. Aku sedang bangkit sambil


mengambil tas ku ketika aku melihat William berjalan mendekatiku. Dasar brengsek!


Aku tidak dapat menahan diriku untuk tidak memalingkan wajahku darinya. Sungguh, hatiku terasa sangat sakit kali ini


Dia melingkarkan tanggannya dipinggangku setelah itu. Dan itu benar benar membuatku merasa terhina. Ia menyentuhku setelah menyentuh wanita lain? Tidak. Aku tidak pernah mau itu! Aku sengaja mengambil jarak tiga langkah hingga ia tidak dapat menyentuhku lagi


“Hei, kenapa? Aku cariin dari tadi,” ujarnya dengan sebelah alis terangkat


“Aku mau pulang,” balasku dingin


Ia melirik jam tangannya dengan ragu. Mungkin ia belum mau pulang sebelum berhasil tidur dengan wanita tadi. Oke, aku mengerti. Aku mencoba mengerti. Ia hanya tidak mau menghabiskan waktu mengantarku pulang bukan? Aku dapat pulang sendiri juga kok!


Aku bergegas berjalan menjauhinya namun langkahku terlalu tergesa-gesa hingga tidak menyadari aku hampir menabrak puluhan gelas alkohol yang sedang diangkut petugas. William berhasil menarik tubuhku hingga aku terhindar dari kecelakaan tersebut


"Hati-hati dong! Alkohol tadi hampir kena kamu!" tegur William sambil memastikan bahwa sekujur tubuhku baik baik saja


Sikapnya membuatku semakin merasa menyedihkan. Apakah ini merupakan bagian dari permainannya? Aku menepis tangannya dengan kesal. William kelihatan terkejut namun aku tidak peduli lagi


“Kamu boleh kembali ke dance floor. Aku akan pulang sendiri,”


“Kamu kenapa,Kat? Kamu sakit? Atau.. kamu marah?”


“William, aku hanya ingin pulang. Bisa kamu berhenti bertanya?”


Oke, kali ini aku tidak akan memanggilnya Liam lagi. Entah mengapa aku merasa marah karena itu. William cukup terkejut dengan caraku yang memanggilnya dengan berbeda kali ini


“Kat, kamu kenapa? Are you okay? Kamu tidak seperti ini tadi dan…,”


Aku memutuskan meninggalkan William pada detik itu. Kupikir aku tidak akan berhasil menahan air mataku jika aku berbicara dengannya lebih lama lagi. Aku memeluk diriku yang kedinginan sambil menunggu taksi online dengan kedua mata berkaca-kaca. Aku berusaha menyekanya lagi namun setiap kali aku menyekanya, air mataku tidak berhenti jatuh


Mobil familiar itu berhenti tepat didepanku. William keluar dari mobilnya dengan raut wajah menggelap. Ia menatapku dengan rahang mengeras. Huh, kenapa ia marah? Ah, ia marah karena aku mengagalkan rencananya untuk tidur bersama wanita itu? Ah, ya pasti karena itu


Aku berjalan menjauhinya namun ia berhasil menahan langkahku. Ini mengesalkan. Aku mencoba menepis tangannya namun sulit. Ia benar benar mencengkramku dengan kuat hingga rasanya tanganku hampir patah. Sungguh


“William, lepas!”


"Aku antar,"


“William,lepas gak? Taksiku sudah mau sampai!”


Rahang William mengeras. Ia menatapku dengan tajam seolah ia bersiap menelanku hidup hidup jika aku menolak lagi


"Kattie Priscilla, aku antar kamu. Kita akan pulang bersama."


Tatapan maut itu membuatku terpaku. Aku tahu aku tidak bisa menolaknya lagi. William merebut ponselku kemudian membatalkan pemesanan taksi onlineku