
Didi berjalan dengan langkah cepat mendekatiku. Senyumnya melebar tatkala aku membalas senyumnya dengan tipis
“You’re just drop dead gorgeous!” pujinya sambil menunjukku dari atas sampai bawah
Meski dia memujiku dari atas sampai bawah namun aku tidak merasa dia sedang menelanjangiku atau mungkin merendahkanku. Aku menunjuk pakaian formal yang dia pakai dan membalas,“kamu juga kelihatan rapi banget. Ada acara apa disini?”
“Kind of office gathering. And… how about you?”
Aku merasa Christy menguncang lenganku. Dia berbisik,“Itu suamimu sudah seperti singa kelaparan,”
Oh tidak. Aku lupa kalau William sedang berada disini
Aku meliriknya yang rupanya sedang menatap kami dengan sangat tajam. Tatapan matanya sinis, rahangnya mengeras dan bibirnya terkantup rapat. Aku tahu aku mungkin akan dianggap ‘flirting’ lagi sehabis ini. Pemikiran itu membuatku menahan napas. Kapan sih William bisa mengerti posisiku? Apakah bahkan wanita sudah menikah tidak boleh berkomunikasi dengan laki laki yang bukan muhrimnya? Dan apakah laki laki yang sudah menikah bebas melakukan apapun dengan wanita yang bukan muhrimnya?
William mendekat. Entah mengapa aku merasa seperti akan dileyapkan pada detik kedua pasang mata kami beradu sejak dia berdiri disamping Didi. Kedua tanganku mulai mendingin dan jantungku mulai berdebar. Mengapa aku bisa setakut ini padahal aku tidak selingkuh?
“Apakah ada acara disini? Wedding teman mungkin?” lanjut Didi yang belum menyadari kehadiran William
Duh, ini super canggung, super tidak nyaman dan mengesalkan!
Aku membalas,“Hanya acara keluarga,”
“But… damn! You look so beautiful. Acara keluarga apa? Em, do you mind to meet me at the garden, later? Kinda want to talk with you,” Didi kelihatan agak nervous sementara aku merasa keterkejutan Christy disampingku
Entah mengapa aku merasa perang dingin ini akan dimulai. Aku melangkah maju, berniat meraih pergelangan tangan William dan meninggalkan lantai ini sesegera mungkin namun laki laki itu malah melingkarkan tangannya di pinggangku
Didi memutar badannya melihat kami. Ada raut kebinggungan disana
Astaga. Aku tidak sadar sudah memaksa seulas senyum tipis sementara akua gak mengangkat kepalaku, melirik William yang tidak memutuskan kontak mata dengan Didi
“Kamu harus ijin dulu kalau mau bawa istri orang,boy,” ucap William membuat kedua mata Didi terbelalak
“Istri?” Didi mengulangi kosa kata itu beberapa kali sebelum dia menatapku dengan tatapan penuh kekecewaan,
“Kamu sudah menikah?” tanyanya
Aku mengangguk sambil membalas,“Ya. Ini adalah suamiku dan…itu adalah adik iparku, Christy,”
“A..adik ipar?”
Butuh waktu beberapa menit bagi Didi untuk tersadar sementara aku tidak mengerti mengapa kami tidak kunjung pergi. Didi kemudian pamit padaku dan Christy. Christy yang merasa kecanggungan itu pun berjalan lebih dahulu dan menekan tombol lift
“Berarti mbak cantik banget nih sampai orang enggak tanda mbak uda married,” canda Christy untuk mencairkan ketegangan ini
“Em, kayaknya Mbak Jessie udah duluan order makanan kita deh,” ucap Christy sambil mengecek ponselnya lalu ia bergegas lari setelah pintu lift terbuka di lobby
Aku melirik William yang tidak kunjung bergerak meski pintu lift sudah dibuka. Aku berniat pergi namun tidak bisa seolah tangannya sudah mengunci sekujur tubuhku
“Setidaknya biarkan aku jalan kalau kamu tidak mau pergi. Mereka sudah menunggu,” ucapku sambil menyentuh lengannya, berniat untuk mendorong tangan itu menjauh namun itu cukup kuat hingga aku tidak berhasil
Pintu lift tertutup dan kembali naik
Ini membuatku kesal, sangat kesal. Apaan sih? Tidak mau berbicara tapi tidak mau melepaskanku. Huh
“Wi..ehm, Liam, bisa kamu lebih dewasa dikit? Apakah kita harus membuat keluarga kamu menunggu kita hanya karena masalah ini?” tanyaku
Lingkaran tangannya di pinggangku melemah. Aku menggunakan kesempatan itu untuk mengambil jarak diantara kami lalu bergegas menekan tombol lobby. Fiuh, aku baru dapat bernapas sedikit lebih lega
“Sebelum kamu dan praduga tidak jelasmu itu, aku hanya ingin kamu tahu kalau aku tidak tahu Didi ada disini. Aku tidak memberitahunya dan kita tidak ada janji temu sama sekali. Aku berpakaian dan berdandan seperti ini juga atas permintaan adik kamu,” jelasku tidak dapat menutupi kekesalanku. Well, meski aku kesal namun entah mengapa aku merasa memiliki suatu kewajiban untuk memberitahu kebenaran, terlepas dari ia akan mengira aku mengada-ngada atau tidak
William masih tidak menjawab atau bahkan melihatku. Ah, terserah deh!
Aku menunggu lift sampai di lobby dengan agak gelisah. Duh, kapan sih liftnya turun? Kok lama banget!
“Kamu.. akan bertemu dengannya di Garden nanti?” tanya William. Itu tidak membuatku terkejut sama sekali. Aku sudah menduga ia akan bertanya atau mungkin menuduhku
“Tidak,”
“Dia mengajakmu,”
“Lalu kalau dia ajak, aku harus pergi? Terus kamu akan fitnah aku punya maksud lain,”
Bagus, jawaban sarkastik itu membuat William menghembuskan napas berkali kali. Aku berhasil menambah kekesalannya lagi. Tapi.. aku tidak peduli. Aku merasa sudah lelah dengan sifatnya beberapa hari terakhir
“Aku hanya bilang dia mengajakmu bukan memintamu pergi,”
“Aku juga hanya bilang isi pikiranku saja,”
Aku melirik William yang tidak membalas perkataanku. Aku membasahi sedikit bibirku lalu melanjut,“Kamu tenang saja. Aku tidak akan mengacaukan makan malam kali ini hanya karena masalah kita berdua. Real adult act as an adult,”
Kupikir dia akan marah namun kali ini William tidak menunjukkan emosi apapun. Dia hanya memilih untuk tidak membalas perkataanku. Untuk beberapa alasan, aku menemukan diriku sedikit lebih lega. Entah karena dia tidak membalas perkataanku atau karena aku berhasil menyindirnya. Entahlah
Pintu lift kembali terbuka setelah berhenti di lobby. Aku bergegas berlari kecil keluar tanpa menunggu William lebih lama lagi