Fool Again

Fool Again
Harapan dan Kenyataan



"Kapan Camilla bakal punya dedek lagi?"


Pertanyaan Jessie yang tidak terduga membuatku terkejut setengah mati. Memiliki anak lain dengan William? Tidak, itu adalah ide yang paling buruk yang pernah kudengar. Aku berusaha tertawa kecil sambil membalas,"Mbak sendiri kapan kasih aku keponakan baru?"


"Hemm, lagi usaha nih. Kamu juga dong dek! Pasti seru deh punya keponakan dan anak yang sama umurnya, bisa baby shower bareng, sekolah bareng, semuanya bareng-bareng. Hwaaaa.." balas Jessie terlihat antuasias atas idenya. Semua anggota keluarga yang tengah makan siang bersama pun mengangguk setuju dengan antusias, termasuk William


Aku memberinya tatapan membunuh dan itu berhasil menghentikannya


"Bagus banget mbak! Aku bakal punya dua keponakan baru sekaligus!" balas Christy


William mengangguk lagi. Huh, padahal kupikir tatapan membunuhku baru saja dapat memberinya pelajaran. Ia pun kemudian mengecup bibirku pada detik berikutnya dihadapan seluruh anggota keluarganya. AHHH! Ini benar benar memalukan! Aku yakin pipiku sudah semerah tomat. Aku menekuk air sambil menunduk setelah mencubit lengannya cukup keras.Huh, rasakan!


Papa dan mama menahan tawa. Mereka kemudian mulai menceritakan kisah muda mereka yang


dipenuhi semangat 45 di awal pernikahan. Sementara itu Christy berbisik sambil mengedipkan matanya pada kami,“Bro, kamu bisa melakukannya di kamar kamu sekarang juga. Tenang, aku akan menjaga Camilla sepenuh hati,”


Oke, fix aku malu


“Kamu mau ayam goreng nya?” tanya William sambil menyandarkan sebelah tangannya di punggung kursiku. Sebenarnya aku berniat mengacuhkannya namun ia terus menerus menanyakan hal yang sama dan itu membuatku mau tidak mau harus menjawabnya dengan gelengan kepala daripada semakin diledekin anggota keluarga


William terkekeh. Bukannya mencoba memberiku jarak dan waktu, ia malah mendorong kursiku agar menghadapnya sebelum kemudian ******* habis habisan bibirku. Ciumannya memang selihai itu namun


tetap saja aku marah. Gila, apakah William tidak ada sopan santunnya sama sekali? Aku tahu keluarga William


memang sangat open minded dan menyukaiku namun… ini tetap saja tidak benar. Aku mendorong dadanya sambil menatapnya dengan marah, benar benar marah, namun anggota keluarga lain malah terkikik melihat kami. Mereka tidak berhenti memberikan ide untuk hamil kedua bahkan mereka dengan terang-terangan mendorong kami ke kamar William dulu di rumah orang tuanya


Aku marah. Aku marah. Aku marah! Namun aku harus memaksa diriku untuk tersenyum. Aku tidak mungkin menunjukkan kemarahan dihadapan keluarga William


Aku menghindari William setelah itu. Aku sengaja bergabung dengan Jessie dan Christy atau bahkan orang tua William. Aku benar benar tidak mau terlibat pembicaraan dengan William untuk saat ini. Aku mungkin bisa menangis jika berbicara dengannya. Ia benar benar memperlakukanku seperti pelacur saja tadi. Apakah tidak cukup ia memperlakukanku seperti itu di ranjang? Mengapa bahkan kini ia memperlakukanku seperti itu di publik? Ini benar benar melukai hatiku


Aku tidak sadar telah menyeka sudut mataku yang berair


"Kamu marah?"


Oh! Aku bergegas melirik sekelilingku yang kosong. Ah, tau begini aku tidak perlu menawarkan diri mengambil minuman di dapur


Aku berniat mengabaikan William lagi namun ia menahan pergelangan tanganku. Ia kelihatan khawatir. Ia kemudian melanjutkan pertanyaannya dengan hati hati,"Apakah ini karena aku menciummu tadi?”


“Nggak!”


William tersenyum tipis. Ia kembali mengecup bibirku dengan sengaja dan itu benar benar membuatku tidak dapat menahan rasa kesal ini lagi. Aku mengigit bibirku kesal kemudian melanjut,“Kamu benar benar ngga ada urat malunya ya?!”


“Nah, kamu memang beneran marah,”


“Ya, aku marah. Jadi kenapa? Kamu tidak suka aku marah?”


“Hey, bukan seperti itu. Oke, aku minta maaf. Tapi.. bukankah kita juga sering eum…berciuman atau ketahuan ciuman dengan orang rumah?”


“Hey, kenapa kamu tiba tiba menyangkut pautkan dengan Camilla? Aku bahkan tidak mau memikiran itu dulu,”


“Liam, kita selama ini sudah salah. Ini tidak benar dan…,”


William menyergit. Ia meremas pergelangan tanganku cukup lama sebelum melanjut,“Are you okay,Kat? Kamu kelihatan aneh sejak pagi tadi. Apa yang kamu pikirkan?”


Huh, aku tidak mungkin memberitahunya semua isi pemikiranku kan? Yang ada mungkin dia akan menjauhiku, mengejekku atau bahkan menginjak harga diriku. Aku menghembuskan napas pelan sambil menjawab,“Nggak. Lupakan. Yang penting kamu nggak boleh mengulanginya lagi. Kita hanya boleh melakukan hubungan badan atau berciuman ketika lagi berdua, oke?”


Oke. Kosa kata itu cukup menginjak harga diriku… sekali lagi. Yang kami lakukan selama ini memang hanya selalu seputar hubungan badan


“Kasih tahu aku alasannya dulu,”


“Itu membuatku tidak nyaman,”


Kejujuranku membuat William menyergit lebih dalam. Ia berdeham pelan


“Mengapa dulu kamu tidak mempersalahkannya lalu tiba tiba sekarang kamu berubah pikiran?”


Huh, apakah aku harus berteriak dengan speaker demi menjelaskan bagaimana ia membuat hubungan ini terlihat normal dihadapan keluarganya? Kami sudah kelihatan seperti pasangan sungguhan. Dan ini membuatku semakin frustasi. Jika kami terus menerus seperti ini maka keluarga William pasti semakin menaruh kepercayaan dan harapan besar padaku. Aku hanya akan berakhir melukai mereka jika kami berpisah suatu hari nanti, Eh, memang benar bukan bahwa kami akan berpisah suatu hari nanti? Itu sudah seperti garis hidup jelas yang dapat kuprediksi akan terjadi


“Aku sudah semakin dewasa,Liam. Aku hanya malu dan tidak enak hati jika mempertontonkan hal sevulgar ini dihadapan keluargamu. Bisakah kamu mengerti aku?”


William mengangguk setelah bergulat dengan pikirannya selama hampir dua menit. See? Aku bahkan tidak


dapat menebak isi pikirannya sama sekali. William kemudian mengajakku untuk refreshing. Well, gagasan itu membuatku sedikit lebih baik. Aku tidak tahu kapan terakhir kami jalan jalan berdua. Ini membuatku sedikit lebih bersemangat dan benar benar berhasil melupakan kekesalanku sepenuhnya. Kami kemudian menitipkan Camilla di rumah orang tuanya


“Mau kemana?” tanyaku sambil memakai seat belt


"Clubing." Jawab William datar


What?! Clubbing?!


Kedua mataku membulat sementara William hanya mengangkat bahu melihatku. Dia terlihat tidak peduli dengan pendapatku dan hanya memintaku bersiap-siap. Bibirku setengah terbuka, hendak berkomentar sebelum ia kemudian melanjut."Tifanny alumni Hiru Hara. Barusan dia ngajak ke youth club. Kamu harus ikut."


Rupanya dia hanya memanfaatkanku agar ia dapat nge-date dengan Tiffany malam ini. Ia mungkin tidak mau menimbulkan kecurigaan keluarganya tentang dirinya yang meninggalkan rumah hari ini, mengingat kami sebenarnya berencana untuk menginap di rumah orang tuanya hari ini


Aku mendengus tidak percaya. William… oh! Kamu benar benar tega


Aku bahkan tidak punya kekuatan untuk membalasnya lagi. Aku benar benar sudah pasrah akan dirinya. Aku memalingkan wajahku menghadap jalanan di luar. Aku bersyukur karena William tidak mengajakku berbicara lagi setelah itu. Mungkin dia tengah membayangkan betapa aduhainya tubuh spanyol Tiffany yang merupakan model


majalah dewasa saat ini


Marah?


Ya, tentu aku marah. Namun tidak semua kemarahan itu dapat kuekspresikan. Aku berusaha menahannya selama itu. Aku tidak ingin William menyadari alasan dibalik kemarahanku. Aku tidak mau dia tahu bahwa aku sebenarnya mencintainya. Aku memutuskan memejamkan mataku sambil membuka sedikit jendela mobil dengan harapan angin sore dapat meringankan sedikitnya sedikit saja beban hidupku saat ini