Fool Again

Fool Again
Kesalahpahaman Lanjutan



Sungguh, aku tidak bisa berhenti memperhatikan wanita itu. Laura Angela kelihatan sangat cantik. Dia seperti sebuah peristirahatan yang sangat menyejukkan. Auranya sangat ceria dan positif


“Bang Dik! Dicariin rupanya daritadi disini. Ini.. siapa?” tanyanya dengan senyum manis sambil melirikku


Gosh! Aku tidak tahu bagaimana ekspresiku saat ini. Aku tidak bisa tersenyum namun juga tidak bisa marah. Yang kulakukan hanya sedikit mengangguk sopan padanya


Kini tatapanku jatuh pada William yang mulai mendekat. Dia kelihatan …. cemburu. Aku tidak salah kan? Atau.. em? Apakah aku hanya salah menangkap?


Laki laki itu berhenti tepat dihadapanku. Jemari tangannya hampir menyentuh tanganku namun tangan mungil Laura Angel mengengam jemari itu. Sebelah alisku terangkat karena tidak ada perlawanan dari William. Selain itu, dia tidak kelihatan ingin menjelaskan hubungan kami. Aku tidak tahu apa rencananya, atau apa yang ada di dalam isi otaknya. Mungkin dia masih kesal denganku atau ingin membuatku cemburu. Aku tidak tahu. Namun yang jelas permandangan itu membuat kedua mataku memanas. Sial. Mengapa aku merasa sedih dan kecewa? Jantungku bak terpukul cukup keras. Apakah ada alasan lain mengapa aku tidak boleh kecewa kali ini?


“Liam, kenalin ini Didi. Anak dari sahabat keluargaku. Sudah kuanggap sebagai abangku sendiri,” jelas Laura sambil tersenyum lebar


Aku merasa ketegangan ketika William dan Didi saling bersalaman. Atau mungkin ini hanya perasaanku saja? Entahlah. Yang jelas dua laki laki itu tidak kelihatan hangat menerima jabatan tangan itu


 “Siapakah wanita cantik ini?” lanjut Laura sambil melirikku


“Dia adalah… kenalan waktu sekolah,” jawab Didi dibalas Laura dengan siulan


William berdeham beberapa kali. Laki laki itu tidak memutuskan tatapannya dariku, membuatku merasa kesal dan tidak nyaman. Apaan sih laki laki ini?


Acara seperti akan dimulai


Laura pamit sehingga meninggalkan Didi, William dan aku. Oh, ini adalah moment super canggung, Aku berdiri diapit oleh dua laki laki yang tidak kelihatan ingin memulai pembicaraan. Fiuh


“Yuk, mau masuk?” tanya Didi sambil mengulurkan tangannya padaku


Namun pada waktu yang bersamaan, aku merasakan sentuhan William pada lenganku. Raut wajahnya sudah gelap, lebih tepatnya dia kelihatan seperti akan meledak kapan saja. Huh, terlintas untuk mengabaikannya seperti yang dia lakukan padaku barusan namun akan sangat tidak etis kalau aku menerima permintaan Didi bukan?


Aku mengabaikan William lalu menoleh menatap Didi,“Kamu duluan saja. Aku mau ke toilet dulu,”


Aku bersyukur Didi tidak memaksa lalu tanpa menunggu persetujuan William, aku sudah berjalan meninggalkannya


Aku sengaja berlama-lama di toilet, berharap agar kedua laki laki itu tidak menungguku. Aku tidak mau terlalu ke-geeran namun aku punya firasat baik mereka berdua mungkin akan menungguku di dekat toilet. Yang satu, meminta penjelasanku sementara yang lain untuk mengejarku. Fiuh


Aku benar kali ini


Meski aku sudah menghabiskan waktu hampir dua puluh menit di dalam toilet, dua laki laki itu berdiri tepat di koridor, membuatku mendengus tidak percaya. Aku merasa tensi diantara mereka menjadi sangat dingin, seolah peperangan dingin tersebut akan berakhir di Medan perang kapan saja


William dan Didi berhenti tepat dihadapanku


Didi dengan senyum manisnya berkata,“yuk, mau makan?”


Aku tidak tahu mengapa kedua mataku memutar melihat William yang tidak berbicara satu patah katapun. Dia seolah memberi kesempatan terakhir aku berkomunikasi dengan Didi. Huh, memangnya hanya dia saja yang dapat bermesraan dengan wanita lain? Aku tidak boleh dengan laki laki lain? Dasar egois


Aku hampir mengangguk, demi apapun, aku sudah akan mengangguk namun William menarik pergelangan tanganku lalu membawaku ke luar dari dalam Gedung. Aku mendengar teriakan Didi namun dia lambat dua langkah hingga William dan aku duluan masuk ke dalam lift


“Apaan sih?” ucapku kesal sambil mencoba menepis cengkramannya


Sepertinya perkataan baru saja memetik amarahnya


William menatapku dengan tatapan tidak percaya


“Apaan sih?” dia mengulangi perkataanku baru saja. Lalu melanjut,“Itu Didi bukan? Gimana flirting nya? Sudah terpuaskan?”


Aku menyergit, merasa sakit hati dengan perkataannya baru saja


“Kalau aku tidak menarikmu tadi, kamu mungkin sudah akan end up dengannya bukan?” lanjutnya membuat kedua mataku berkaca-kaca, terasa perih habis


“Kamu benar benar tidak berhenti membuatku speechless,” lanjutnya


Astaga. Aku merasa tidak dapat mendengar ini lagi


Aku menepisnya dengan sekuat tenaga. Berhasil. Cengkramannya melemah. Aku mengambil kesempatan itu dengan memberi jarak kentara diantara kami. Fiuh, kupikir aku akan berhasil menahan emosiku namun rupanya bibirku sudah mulai bergemetar. Aku tidak boleh menangis, oke?


“Speechless? William, kamu benar benar kelewatan. Jadi, kamu flirting habis habisan dengan Laura Laura itu, itu tidak masalah? Hanya karena kamu cowok? Karena kamu punya segalanya?” balasku tanpa berhenti mendengus tidak percaya


“Aku. Tidak. Flirting. Dengan. Siapapun,”


“Tidak flirting? Sentuhan tangan itu artinya apa?”


“Astaga,Kattie. Kamu hidup di jaman apa? Sentuhan tangan artinya aku menyukainya?”


“Kalau begitu berbicara dengan Didi bukan berarti aku menyukainya,”


“Itu adalah cerita berbeda!”


“Bagaimana bedanya? Aku bahkan tidak ada kontak fisik dengannya. Bisa enggak sih kamu terus menerus memojokkanku seperti itu? Aku tidak tahu apa maksudmu membawaku kemari. Untuk menunjukkan hubungan romantismu dengan Laura? Untuk membuatku cemburu? Membuatku merasa bersalah? Meninggalkanku? Kamu kejam, kamu tahu itu?”


William menghembuskan napas pelan. Dia seperti ingin mencoba menahan emosinya


Aku melanjut,“Aku tidak tahu kamu masih se-childish itu!”


“Childish? Kattie, kamu hanya tidak tahu kenapa aku mengajakmu kemari,”


“Untuk mencuekanku, membiarkanku sendiri lalu menuduhku flirting sementara kamu bemesraan dengan wanita lain,”


Perkataanku baru saja mendapat tatapan super tajam darinya. Entah mengapa aku tidak merasa terintimidasi dalam detik ini. Aku melanjut,“Kenapa? Apakah aku salah?”


“Aku memang masih kesal denganmu tapi aku tidak berniat meninggalkanmu,”


“Omong kosong,”


“Ini bukan omong kosong, Kattie. Aku serius,”


“Aku juga serius ketika aku bilang aku kesal denganmu,”


“Kamu pikir aku sudah tidak kesal denganmu? Huh? Aku juga masih kesal dan sangat kecewa dengan praduga tak berdasar itu,”


“Terserah,”


Aku tidak sadar air mataku sudah menetes. Aku menyekanya dengan kesal sementara William yang masih kesal pun tidak berhenti menghembuskan napas. Kami hampir mencapai lobby ketika William tiba tiba membuka jasnya dan meletakkannya di bahuku yang polos. Huh? Jadi dia masih ingat sedikitnya denganku?


Aku berniat mengembalikan jas ini namun William menahannya dengan lengannya. Laki laki itu berbisik tatkala beberapa pasangan lain bergabung ke dalam lift,“oke, sekarang kita pulang dan coba menenangkan pikiran,”


Aku mencoba mendorongnya namun ia sudah melingkarkan tangannya di pinggangku. Fiuh!


Laki laki itu membuka pintu mobil untukku, tidak mengijinkanku untuk kabur sama sekali. Aku mendengus tidak percaya lagi dan lagi. Ia kembali mengulangi perkataan ‘menenangkan pikiran’. Huh? Memangnya mudah menenangkan pikiran setelah melihat kemesraannya dengan Luara? Kupikir aku akan membutuhkan waktu berminggu minggu untuk menenangkan pikiranku


Aku memasang seat belt ku sendiri, membuka sedikit kaca jendela dan menghadap keluar setelah berkata,“Tidak perlu. Kamu tidur di kamar anak anak hari ini. Aku tidak mau satu kamar denganmu,”


Lima menit..


Kupikir William akan kembali membalasku dengan kekesalan yang sama namun ketika aku menoleh melihatnya, ia sedang memijit pelipis kepalanya, tidak menunjukkan tanda tanda akan meluapkan kemarahannya lagi padaku. Aku memutar kedua mataku tidak peduli lalu kembali menyandarkan kepalaku di pintu sambil berharap agar perjalanan pulang ini tidak memakan waktu lama.