
Laura Angela
Dua kata itu berhasil mengobrak-abrik pikiranku. Aku mengambil ponselku lalu bersembunyi di dalam kamar mandi setelah percintaan panas tadi. William sudah tepar. Ia terlelap hanya beberapa menit setelah kegiatan pemacu adrenalin tersebut berakhir
Aku memberanikan diri membuka akun social mediaku lalu mencari nama ‘Laura Angela’. Aku menyergit menemukan beberapa nama yang sama yang tertampang di layar. Aku baru sadar nama itu rupanya cukup ‘banjir’ dan well... hampir semua akun tersebut dikunci. Apakah semua orang yang bernama Laura Angela memang tertutup? Aku mengigit bibirku gelisah. Yang manakah Laura Angela yang kumaksud?
Ada seorang Laura Angela yang tidak memasang profile picture sementara ada Laura Angela lainnya yang menggunakan beberapa foto yang dapat kusimpulkan bukan berdarah Nusantara. Tanganku berhenti mencari tepat setelah aku menemukan seorang Laura Angela yang akunnya tidak dikunci. Jumlah pengikutnya tidak mencapai tiga ratus
Tampilan foto tersebut membuatku menekan tombol kembali hanya beberapa detik setelah melihatnya. Wanita ini kelihatan sangat lembut dan baik. Dia tidak mungkin menjadi seorang pelakor. Selain itu, tidak ada tanda tanda dia ‘bertemu’ dengan William dari beberapa foto terakhir
Aku menghabiskan waktu hampir satu jam untuk mencari tahu siapa itu Laura Angela namun aku tidak menemukan hasil yang memuaskan sama sekali. Ini mengesalkan. Artinya misiku gagal? Huh?
Aku mencoba menenangkan pikiranku. Tenang tenang, meski misi ini gagal, aku masih memiliki beberapa rencana lain. Hal lain yang harus kucari tahu adalah password emailnya William
Aku terlelap setelah berpikir keras kata kunci yang mungkin digunakan William
Aku terbangun setelah merasakan guncangan pelan di bahuku. Aku membuka kecil sebelah mataku sambil menguap,“Liam?”
Laki laki itu tersenyum manis, mengusap pelan kepalaku lalu mengecup keningku cukup lama. Aku tersenyum membalasnya. Ada sesuatu dalam hatiku yang terasa ingin mengabadikan moment ini dalam satu ikatan kenangan tak terlupakan dalam sudut hatiku namun mendadak aku kembali dihantam dengan praduga yang menyesakkan
Aku sengaja menarik selimut hingga membungkus sekujur tubuhku sementara samar samar aku mendengar tawa kecil laki laki itu sebelum kemudian aliran shower memenuhi ruangan. Fiuh, mungkin dia mengira aku malu namun sebenarnya aku khawatir kalau aku mungkin akan menangis melihatnya. Meski sebenarnya semua ini masih pradugaku atau mungkin aku yang terlalu sensitive atau mungkin aku yang terlalu negative thinking tapi.. instingku mengatakan sesuatu mungkin telah terjadi. Aku baru berani mengintip sambil menghembuskan napas lega setelah dia masuk ke dalam kamar mandi Astaga, mengapa aku menjadi seperti ini? Apakah ini bentuk kekesalanku karena tidak berhasil menemukan sosok Laura? Fiuh. Aku tidak boleh begini, oke? Itu hanyalah praduga tak berwujud. Aku mungkin bisa saja salah. Aku mungkin bisa saja hanya salah melihat, oke?
William menyusuliku yang tengah mengoles margarin di roti tawar dengan pakaian kerja yang rapi
“Morning, sunshine. Sarapan hari ini roti tawar?” tanyanya sambil membuka kulkas, mengambil sebotol susu dan menuangkannya ke dalam gelas
Aku mengangguk
“Kamu mau diolesin coklat ceres atau mungkin gula saja?”
“Gula saja, please,”
“Okay. One slice or two?”
“Three. Aku merasa sangat lapar pagi ini. Habis kerja rodi semalam, ha ha ha,”
Aku mendapati diriku tersenyum sangat tipis namun mengapa ada rasa sedih di dalam hatiku?
Aku mencoba untuk tidak terpengaruh dengan itu lalu meletakkan tiga helai roti di piringnya. Sebelah alisku terangkat melihat William yang kelihatan sangat lahap. Dia benar benar sedang sangat lapar, huh?
Baik, ini adalah waktunya menjalankan misi. Aku berdeham beberapa kali sebelum duduk disampingnya dan ikut memakan satu helai roti dengan selai strawberry.
“Enak?” tanyaku mencoba mengawali pembicaraan ini agar William tidak curiga
“Enak dong, apalagi istriku yang membuatnya,” jawabnya sambil tersenyum manis
Astaga, senyuman itu kupikir dapat mengurangi sedikit kekhawatiranku namun entah mengapa aku merasa semakin khawatir? Mungkinkah ada wanita lain yang menikmati senyum ini juga, selain aku?
“Bagaimana dengan sarapan dim sum besok?”
“Dim sum? Memangnya kamu akan sempat membuatnya?”
“Tentu aku akan membeli dim sum frozen dong,”
Aku menggelengkan kepalaku sebagai jawaban. Kubasahi sedikit bibirku setelah selesai mengigit satu gigitan kecil roti
“Oh ya, aku berencana membeli ponsel baru. Aku berencana membuat email baru lagi. Menurutmu kata kunci apa yang sebaiknya ku set?”
“Aku set kata kunci email kamu semalam dengan namaku,”
“Hah?”
“W. I. L. L. I. A. M. M. 1. 1. 1. 1”
“Astaga, apa korelasinya coba?”
“Supaya kamu ingat aku terus,”
Aku mendengus,“Jadi maksudmu kata kunci yang di set itu kebanyakan mengenai orang yang kita cintai dan mengandung makna tertentu?”
William mengangguk. Jemari tangannya menyapu sudut bibirku lalu mengelapnya menggunakan tissue. Aku agak terkejut namun dia menjelaskan,“ada selai strawberry disana,”
“Ah,” aku menyekanya sendiri menggunakan ibu jariku sambil tersenyum tipis
William melanjut,“Kata kunci biasanya sih seperti itu, mengandung makna atau sesuatu yang akan sulit dilupakan. Mungkin tentang favorite band kamu atau angka favorite?”
“Ah, I see. Jadi apakah kata kunci kamu adalah.. aku?”
William kelihatan agak terkejut dengan pertanyaanku. Dia sampai tersendak. Keterkejutan itu secara tidak langsung mengartikan bahwa aku bukanlah kata kunci itu. Fiuh, entah mengapa aku merasa agak kecewa atas hal yang remeh seperti ini. Oke, aku cukup childish bukan?
Aku berusaha menyamarkannya dengan tawa kecil
“Kamu tentu tidak selebay itu sampai membuat namaku kan? Ha ha ha,”
“Ehm, aku menggunakan kata sandi lain,”
Artinya laki laki ini tidak tertarik memberitahuku bukan? Huh, ini akan menjadi cobaan yang berat. Kira kira kata kunci apa yang dia tetapkan ya?
“Kenapa? Kamu tidak biasa kelihatan sangat concern dengan email dan kata kunci,” lanjut William penasaran
Celaka!
Aku menjawab,“Apakah kamu tidak tahu sekarang lagi masanya akun sosial media di-hack orang?”
“Aku tahu. Tapi ini tidak seperti kamu,”
“Meski akun sosial mediaku tidak punya banyak pengikut tapi aku hanya merasa malas untuk membuat akun lainnya lagi. Jadi, aku perlu set kata kunci yang agak kompleks,”
“Oh, perlu ide lain? Em, mungkin dengan nama hewan? Atau alamat rumah?”
“Nope. Thanks for the bad idea, Mr. William,”
William tertawa kecil. Kami terlibat dalam perbincangan ringan lainnya sampai dia menghabiskan tiga helai roti tersebut dan segelas susu. Dia pergi setelah menurunkanku di depan rumah orang tuanya untuk menjemput anak anak pulang
Belum dua puluh detik namun mobil tersebut telah hilang dari peredaran. Aku menghembuskan napas pelan tatkala mendengar pintu rumah terbuka. Kuukir senyum lebar menyambut Issac yang sedang berada dalam gendongan mama mertuaku. Aku tidak tahu mengapa langkahku cukup lambat dan terkesan agak enggan masuk ke dalam rumah itu. Apakah ini karena beban pikiran tersebut? Fiuh, aku menarik napas cukup kuat, mencoba untuk mengusir dan melupakan sejenak beban pikiran itu, setidaknya sesaat saja, karena aku akan memikirkan cara lainnya untuk mencari jawaban atas teka teki tersebut