Fool Again

Fool Again
Pertemuan Pertama Setelah...



Aku tidak menduga hariku yang berat adalah bertemu dengan Yuriska. Yuriska hadir dalam meeting sebagai CEO PT. AAA. Sungguh, aku tidak pernah merasa hariku akan seberat ini. Aku tidak dapat fokus dalam meeting hari ini. Aku bahkan tidak berani melihat Yuriska sama sekali. Suaranya saja sudah membuatku benar benar seolah jatuh ke dalam lubang tak berdasar. Aku merasa takut, sedih, marah dan… malu. Bagaimanapun aku bertemu dengan sahabat dan mantan pacar suamiku sendiri


Sumpah, aku tidak tahu mengapa aku bisa sepengecut ini. Aku tidak berani melihatnya sama sekali. Tatapanku hanya fokus pada selembaran dokumen yang aku print out di kantor tadi. Aku tidak tahu sudah berapa lama meeting ini berjalan hingga Rianti dan Rinaldi bangkit berdiri dan berjabat tangan dengan Yuriska. Oh damn! She’s so beautiful


Aku berencana mengekori Rianti dan Rinaldi tanpa berpapasan dengan Yuriska namun tanpa kuduga, ia menghentikan langkahku. Rianti dan Rinaldi menatapku dengan binggung sementara aku seperti kehilangan arah


“Maaf, saya boleh pinjam Kattie nya sebentar?” tanya Yuriska sopan kepada Rianti dan Rinaldi yang langsung dibalas dengan anggukan kepala meski aku menemukan sorot kebinggungan di mata mereka


Yuriska mengajakku ke ruangannya. Ia mengeluarkan dua botol soda dari kulkas mini di ruangannya


Sial… aku tidak pernah tahu aku sepengecut ini. Aku bahkan tidak berani bergerak sedikitpun. Apakah mungkin ini karena aku tidak pernah berpikir bahwa Yuriska dan aku dapat bertemu dalam situasi seperti ini sehingga aku bersikap aneh seperti sekarang? Entahlah. Jujur, aku merasa.. bersalah meski aku berusaha menyakinkan diriku berkali kali bahwa aku tidak mengkhianatinya


“Hey, kenapa kamu tidak duduk?” tanya Yuriska sambil meletakkan dua botol soda di atas meja tamu nya


Badanku terasa kaku. Aku tidak dapat bergerak sama sekali


“Are you okay?” lanjutnya sambil menyergit


Oh God! Aku menghembuskan napas pelan. Aku tidak boleh seperti ini, okay? Aku memaksakan kedua kakiku berjalan mendekatinya kemudian aku mengambil posisi duduk terjauh darinya


“Good to see you here. Meski aku juga terkejut. Well, dunia memang sempit bukan?” ujar Yuriska sambil membuka satu kaleng soda kemudian memberikannya padaku


“Bagaimana kabarmu?” tanya Yuriska sambil tersenyum


****! Aku masih belum berani menatapnya lagi. Aku memang pengecut


“Aku yakin ada banyak hal yang ingin kamu tanyakan padaku. Well, sebenarnya aku juga memang berencana untuk menemuimu namun siapa sangka kita dapat bertemu seperti ini? Sejak kapan kamu mulai bekerja di perusahaan Liam?”


Liam. Dia memanggilnya dengan Liam juga


“Anyway, aku suka style baru kamu. Kamu kelihatan lebih cantik.”


“Bagaimana kabar Camilla? Aku sering mendengarnya dari Liam. Dia pasti secantik kamu dan se-amazing papanya,”


Oh please… aku sepertinya tidak dapat mendengarnya lebih lanjut lagi. Aku memutar kepalaku menatap Yuriska. Sebenarnya aku ingin menegurnya namun entah mengapa ketika kedua pasang mata kami beradu, aku merasa tidak berdaya. Kedua mataku berkaca-kaca. Oh what a loser


“Apakah kamu pikir kita pantas berbicara seperti ini?” tanyaku


Yuriska mengangkat bahu sambil menekuk soda tersebut


“Well, why not? Bagaimanapun kamu adalah sahabatku,”


“Sahabat? Apakah kamu sedang membuat lelucon?”


“Kenapa? Apakah kamu tidak menganggap aku sebagai sahabatmu lagi?”


Ini adalah pertanyaan sulit yang membuatku meneteskan air mata tanpa kusadari. Lalu ketika aku menyadarinya pada detik berikutnya, Yuriska telah mendorong kotak tissue dihadapanku. Senyumnya masih sama seperti dulu dan itu membuat rasa bersalah yang tak dapat kubendung semakin besar


“Bisakah kamu menamparku saja? Atau kamu dapat menjambakku. Lakukan apapun yang kamu mau,Yuriska,” ucapku frustasi


“Kenapa aku harus menampar atau menjambakmu? Kamu sahabatku,” balasnya tulus


Sial. Kenapa orang ini seperti ini sih?


“Tidak ada sahabat yang merebut pacarnya sendiri!”


Perkataanku serasa menembus langit ketujuh. Berlebihan memang tapi setidaknya perkataan itu berhasil membuat Yuriska terdiam. Ada kesedihan terpancar di matanya. Ia duduk bersandar sambil menghembuskan napas pelan. Aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya. Pada menit berikutnya, kedua matanya berkaca-kaca. Ia menarik kotak tissue tersebut dan mengambil satu lembar tissue


“Sepertinya aku membutuhkannya juga,” tukasnya sambil mencoba tertawa namun garing


Ia menarik satu tarikan napas kuat sebelum berkata,“dengar Kattie, semua ini bukan salahmu. Jadi jangan pernah menyalahkan dirimu.”


Yuriska melanjut bahkan sebelum aku dapat membalas perkataannya,“aku menyadari kamu menyukai William sebelum kita berangkat ke Harvard. Aku masih ingat kamu memeluk Liam sambil menangis segugukan. Aku tahu ada sesuatu diantara kalian yang bahkan kalian tidak menyadarinya sama sekali namun.. aku mengabaikannya,”


Yuriska kemudian menyeka air matanya lalu melanjut,“Aku kecelakaan tepat beberapa bulan sebelum pernikahan. Well, beberapa organ tubuhku rusak karena itu. Aku bahkan di-diagnosa oleh dokter bahwa aku.. tidak bisa hamil lagi, setelah aku keguguran karena kecelakaan itu,”


Aku tidak dapat memberikan response apapun. Aku tahu Yuriska kecelakaan tepat beberapa bulan sebelum pernikahan namun aku tidak pernah mengetahui bahwa Yuriska tidak dapat hamil lagi karena itu. Pemikiran itu tiba tiba membuatku menalar ke akar permasalahan. Apakah karena itu Yuriska meminta William menikahiku?


Yuriska mengangguk, seolah mengerti pertanyaan dalam pikiranku


“Kamu benar. Aku tidak mengenal wanita yang jauh lebih pantas bersama dengan Liam daripadaku, selain.. kamu. Jadi aku memintanya untuk menikahimu apapun yang terjadi. Aku tahu kamu akan menjaganya dan mencintainya seperti aku dan.. yang terpenting, kamu adalah wanita seutuhnya,” lanjut Yuriska membuatku mengigit bibirku, menahan tangis


Yuriska mencoba tertawa namun tawanya terdengar sedih. Ia kemudian bangkit berdiri sambil menarik napas berkali-kali. Mungkin ia ingin tidak kelihatan lemah dihadapanku namun dia lupa bahwa aku sebenarnya sama lemahnya dengannya


Yuriska kemudian melanjut,“Youth Club. Itu adalah klub sepupuku, yang aku akusisi beberapa tahun sebelumnya. Bisa dibilang Youth Club menjadi saksi bisu kisah kami. Aku mendorongnya pergi namun aku tidak bisa menahan diriku untuk menerimanya ke dalam Youth Club. Aku tahu dia ingin membuatku cemburu melihatnya dekat dengan wanita lain disana. Dia sering mengisahkan kehidupannya pada mereka, mungkin agar kisah itu sampai di telingaku. Bagaimanapun Liam adalah sosok terkenal dimanapun dia berada. Kita sama sama setuju bukan?”


Ini adalah peringatan berbahaya. Aku tidak mau mendengar bagaimana kisah William mengejar Yuriska kembali. Aku tidak ingin luka lamaku kembali terbuka lagi


“Yuriska, aku pikir.. kamu tidak perlu menceritakan kisah kalian padaku lagi. Kami sudah memutuskan untuk memperbaiki semuanya dan…,” aku menggantung perkataanku selama beberapa detik sebelum melanjut,“Dan kami sudah mendekati tahap bahagia,”


Yuriska tersenyum lirih


Kini giliranku tersenyum getir. Aku tidak yakin apakah William merasakan yang sama sepertiku. Aku merasa hampir bahagia namun aku tidak dapat menjamin perasaan William dan itu..sungguh membuatku frutasi


“William datang menemuiku beberapa minggu sebelumnya,” ucap Yuriska sambil kembali duduk di sofa. Ia menatapku dengan sorot yang sedih namun bahagia. Aku tidak tahu bagaimana mendeskprsikannya. Sorot matanya mengatakan ia telah lega. Apakah mungkin aku benar?


“Dia menemuiku untuk benar benar mengakhiri kisah kami. Kupikir si bodoh itu akhirnya mengetahui siapa pemilik hatinya yang sebenarnya,” lanjut Yuriska sambil tertawa lirih. Ia menatapku cukup lama sebelum akhirnya mengatakannya dengan senyum tulus,“dia mencintaimu,Kat. Meski dia mungkin belum menyadarinya sepenuhnya namun aku tahu… dia mencintaimu lebih dari siapapun. Kamu hanya perlu menunggunya,”


Bulir air mataku jatuh. Bukan… aku bukan meneteskan air mata karena kemungkinan William mencintaiku namun mengapa ada wanita sebaik Yuriska? Aku menyekanya dengan kesal


“Apakah kini kamu menyesal dia sudah menyukaiku?”


“Dia mencintaimu,Kat. That’s all you need to know,”


“Mengapa kamu memberitahu aku semua ini?”


Yuriska tidak dapat menjawabku langsung. Ia tampak memikirkannya dengan keras. Lalu pada detik berikutnya ia mengulangi pertanyaanku,“mengapa aku memberitahumu semua ini?”


“Apakah hanya karena kamu tidak bisa hamil? Kamu bisa mengadopsi anak. Pernikahan bukan berarti harus memberinya keturunan,”


“Kamu benar. Kami bisa mengadopsi anak. Namun.. kamu lihat.. aku bahkan tidak berani melihat anak kecil saat ini. Aku masih dalam pengobatan psikiater. Aku masih.. sesakit itu kehilangan anakku namun lihat Liam… dia sudah dapat mengatasinya dengan baik. Tidak, aku bukan mengatakan Liam egois karena masih membiarkanku hidup di dalam lubang itu…sendirian. Dia membantuku bangkit, dia menemaniku meski aku menolaknya terus. Ini sedikit melukai hatiku namun.. dia bisa ‘pulih’ karenamu,Kattie. Kamu berhasil menyembuhkan lukanya,”


Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku tidak yakin apakah memang aku yang membantu William pulih atau karena memang waktu dan usahanya sendiri. Aku tidak pernah yakin atas hubungan kami namun mendengar kisah mereka yang sebenarnya membuatku tidak dapat membendung air mataku


Yuriska memberiku beberapa lembar tissue sambil tertawa kecil. Mungkin ia aneh mengapa aku menangis lebih hebat daripada pemeran utamanya. Samar samar aku mendengarnya berbisik,“Both of us love you so much, you know that right?”


Aku menyeka air mataku setelah merasa selesai menenangkan diriku. Kutatap Yuriska yang baru menyeka air matanya sambil berkata,“Aku minta maaf atas semua yang terjadi namun aku tidak berpikir aku dapat menghentikannya lagi. William dan aku.. serius atas hubungan ini,”


Yuriska mengangguk setuju


“Aku senang mendengar semangat itu darimu lagi,Kat. Aku harap kamu berhenti memikirkan masa lalu. Fokus ke masa kini dan masa depanmu bersama William. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian,”


Aku bersumpah aku tidak pernah mendengar nada suara tertulus seperti itu. Yuriska benar benar tulis mendoakan kami. Oh, ini membuat kedua mataku berkaca kaca lagi. Huh


“Semoga kamu dapat mengatasi traumamu dan bertemu dengan laki laki yang lebih baik,”


“Yeah. Laki laki sempurna bukan hanya suamimu saja,”


Kemudian kami berdua tertawa pelan. Aku lupa bahwa Yuriska adalah sahabat lamaku. Hatiku menghangat. Aku tidak yakin kapan terakhir kami tertawa bersama. Namun rasanya begitu lega dan bahagia untuk saat ini


“Jika aku sudah dapat menyembuhkan luka ini, bolehkah aku bertemu dengan Camilla?” tanya Yuriska hati hati


Aku mengangguk antusias lalu menimpali,“Camilla dan adiknya,”


“What? Kamu lagi hamil?!”


“Iya. Hanya saja aku sedang merahasiakannya dari William,”


“Kenapa?”


“Entah. Aku ingin melihat seberapa jauh ia berusaha untuk memperbaiki hubungan ini,”


“Atau kamu mungkin mau menunggunya menyatakan cintanya tanpa ragu padamu dulu baru kamu memberitahu kehamilanmu?”


Kami terkekeh. Aneh. Kami pernah ‘berbagi’ laki laki yang sama namun entah mengapa kami dapat bercanda seperti ini. Padahal baru beberapa menit yang lalu kami terlibat pembicaraan yang emosional. Mungkin karena kami berdua telah menyelesaikan masa lalu pada satu titik di masa lalu bersama-sama dengan baik. Kami tidak ingin menyalahkan masa lalu dan berharap melanjuti masa kini dan masa depan dengan lebih baik lagi


“Kamu tahu kan kamu ngga boleh berhubungan intim dulu dengan suamimu dengan sementara?” tanya Yuriska membuatku merona. Huh!


“Aku hanya reminder kamu untuk tidak ke-blablasan saat si Mr. W itu sudah menyadari perasaannya sepenuhnya dan menyatakannya padamu,” lanjut Yuriska membuat aku tertawa kecil


 “Bagaimana kamu tahu julukannya Mr. W?”


“Everybody knows,”


Kami mengangguk setuju atas bagaimana sependapat kami dengan betapa terkenalnya William di dunia ini. Yuriska dan aku pun terlibat pembicaraan yang lama sebagai ganti rugi atas hidup kami yang pada waktu tertentu tidak berada di sisi satu sama lain. Beruntungnya Yuriska telah meminta ijin Rianti sehingga aku tidak perlu khawatir menghadapinya nanti


Yuriska dan aku telah menghabiskan lima kotak snack serta minuman ringan lainnya selama itu. Aku memutuskan untuk pamit saat jarum jam telah menunjukkan pukul delapan malam. Yuriska memberiku pelukan hangat sambil berbisik,“I don’t know where I ever heard this but I just wanna tell you, we will always be friends until we’re all old and die. Then we will be new best friend again,”


Aku tidak dapat menahan senyumku. Kedua mataku berkaca-kaca penuh haru


“Aku akan menagihnya di kehidupan selanjutnya,”


“Sure, Let’s do that,”


“Thank you,Yuriska, and.. I’m sorry,”


Yuriska tersenyum tulus padaku sebelum membalas,“Thank you for everything,Kat, and… I’m sorry because.. I deserves a better man,”


Kami tertawa sebelum benar-benar berpisah