
Aku baru dapat pulang setelah menyelesaikan laporan yang diminta oleh Rianti. Huh. What a tough day ever! Siapa yang menyangka aku akan melalui hari pertama sedramatis ini? William telah sampai di rumah ketika aku pulang. Ia bahkan sudah mengganti pakaiannya. Kulirik jam tanganku yang telah menunjukkan pukul sembilan malam. Oh, gila. Aku bahkan tidak menyadari hari telah begitu larut
William bangkit menghampiriku. Ia meraih tasku sambil mengangkat sebelah alisnya,“Hari pertama yang mengesankan, huh?”
“Bolehkah aku makan dulu? Aku lapar banget,” balasku sambil menyentuh perutku. Oh maaf sayang. Mommy melupakanmu selama beberapa waktu tadi
“Kamu masih belum makan?” tanya William terkejut. Ia kemudian bergegas membuka kulkas sambil mengeluarkan beberapa bahan makanan yang membuatku binggung
Aku menyusulinya sambil menyergit,“Kamu mau ngapain?”
“Masak untuk kamu. Kamu mandi saja dulu. Makan malam akan selesai setelah kamu selesai mandi,”
“Sejak kapan kamu bisa masak?”
“Aku belajar sewaktu kamu lagi… mm.. proses healing di rumah orang tuamu,”
“You did?”
“Yap. Aneh bukan? Aku merindukan masakanmu. Jadi aku mencoba memasaknya. Meski tidak sama persis namun setidaknya itu bisa dimakan,”
Perkataan William membuatku tersenyum tanpa kusadari. Aku bergegas membersihkan diriku setelah itu. Tidak lupa aku mencium puncak kepala Camilla yang telah tertidur sebelum menghampiri William yang hampir selesai memasak
“Aromanya boleh juga. Kuharap kamu tidak mengecewakanku, Mr. W,” ujarku sambil menekuk segelas air
Sebelah alis William terangkat. Ia melirikku,“Mr.W?”
“Benar. Kamu tidak tahu julukanmu di kantor itu Mr. W?”
“Not really,”
William meletakkan sepiring nasi goreng di meja makan tidak lama setelah itu. Kemudian aku tidak menyadari aku telah menghabiskannya hanya dalam lima menit. Huh, ternyata aku memang selapar itu. William tersenyum simpul, seolah ada kebangaan terselip dalam relung hatinya melihatku menghabiskan masakannya hanya dalam lima menit. Ia meraih piringku kemudian mencucinya meski aku bersikeras ingin mencucinya sendiri
Kuputuskan menemani William mencuci piring sambil bersandar di kulkas dengan segelas susu dalam gengamanku. Aku tersenyum tipis melihat bagaimana William bisa semudah itu mencuci piring sekarang. Ia bahkan tidak pernah membantuku mencuci piring sebelumnya. Apakah proses healing yang kulalui waktu itu benar benar mengubah William?
“Fans kamu di kantor mungkin akan menggila jika melihatmu mencuci piring,” ujarku tanpa kusadari
William tertawa kecil,“fans aku?”
“Yap. Kamu tidak tahu bagaimana terkenalnya kamu?”
“Tidak sampai kamu memberitahuku tadi,”
Aku tertawa kecil sambil menekuk susuku. Namun tiba-tiba ingatan William menegurku di ruang meeting membuatku kesal. Aku berdiri menghadapnya sambil melipat tanganku di dada setelah selesai menekuk segelas susuku
“Kamu juga kelihatan sangat annoying tadi,”
“Tentang…?”
“Kenapa kamu menegurku tadi? Bukankah semua orang juga berdiskusi kecil tadi?”
William menutup keran air setelah itu. Ia mengeringkan tangannya yang basah lalu menatapku dengan kedua mata menyipit,“well, aku senang kamu membahasnya. Kamu tahu hari ini adalah hari pertamamu bukan?”
“Ya, lalu apa hubungannya?”
“Kamu tidak berhenti berbicara dengan teman kamu sejak aku bergabung di meeting tadi,”
“Kita hanya…,”
“Aku tahu kalian bukan mendiskusikan pekerjaan,”
“Huh, bagaimana kamu mengetahuinya? Apakah kamu menyadapku?”
“Sorot matamu. Kamu kelihatan excited. Apa yang kalian bahas?”
“Kamu,”
William menyergit lebih dalam sementara aku menggelengkan kepalaku sambil melanjut,“kamu benar benar tidak tahu kamu selalu menjadi topik hangat di kantormu?”
William mengangkat bahunya,“Apakah itu pujian atau ledekan?”
“Tergantung bagaimana kamu menanggapinya,”
“Okay, tell me apa hasil dari investigasimu?”
Aku tertawa kecil. Investigasi? Huh, apakah kita sedang dalam misi NIS? Aku memutar mataku sambil mencoba mengingat semua informasi yang kudengar di kantor tadi
“Ibu Rianti mengidolakanmu,” ujarku membuat William menggelengkan kepalanya tidak percaya. Ia baru akan menanggapinya sebelum aku melanjut,“Dan bukan hanya Ibu Rianti. Semua wanita di kantor mengidolakanmu,”
“Termasuk kamu?”
Oh geez.. aku memutar mataku sebagai response yang membuat William tersenyum tipis. Ia menyerahkan segelas air hangat padaku. Ujung jemari kami bersentuhan dan… itu masih saja terasa seperti sengatan listrik. Aku mengumamkan terima kasih sebelum memberi jarak dua langkah diantara kami. Jujur, gagasan William yang hampir menikahi Yuriska masih menganggu pikiranku sedari pagi tadi. Aku ingin menanyakannya pada William namun aku khawatir apabila aku mungkin dapat ‘menyakitinya’
“Mm, sebenarnya ada. Tapi aku tidak tahu apakah aku boleh menanyakan ini padamu,” jawabku hati hati. Aku membasahi bibirku sebelum melanjut,“Kamu tidak perlu menjawabnya kalau itu menganggumu,”
William kelihatan tertarik. Ia mengangguk
“Sure. Ask me,”
Oh God. Aku menarik napas pelan lalu membalas,“Apakah kamu hampir menikah dengan.. dia?”
Aku menatap William dengan hati hati. Ia kelihatan sangat terkejut dengan pertanyaanku. Mungkin ia tidak menduga aku akan menanyakan hal ini. Lihat bagaimana ia tidak dapat menjawab pertanyaanku. Sorot matanya berubah. Ada sedikit kekecewaan yang terpancar disana. Huh, dasar bodoh. Aku tidak seharusnya menanyakan itu. Meski aku tahu William sedang berusaha serius denganku namun bukan berarti aku dapat seenaknya menanyakan hal yang sensitive baginya. Huh, sadar. Aku memang tidak pernah peka!
Aku baru akan menggelengkan kepalaku dan meminta William untuk melupakan pertanyaanku sebelum ia menjawab,“Aku tidak tahu bagaimana berita itu tersebar. Namun..itu benar. Aku hampir menikah dengannya,”
“Kecelakaan itu… hanya berselang beberapa bulan sebelum pernikahan kita bukan?”
Oh, lihat bagaimana aku dan mulutku yang duluan melayangkan pertanyaan lain. William menganggukkan kepalanya. Ia berusaha tersenyum sambil berkata,“Well, semuanya hanya masa lalu. Anyway, you look so beautiful today,”
William mengalihkan pembicaraan kali ini. Aku mengerti. Bagaimanapun ini adalah topik pembahasan yang paling sulit untuk dibicarakan diantara kami. Aku mengukir senyum tipis dan membalas,“You look so handsome as hell too!”
Sebelah alis William terangkat. Ia hampir akan menggodaku sebelum aku mengeluarkan ponselku dan menunjukkan pesan whatsapp dalam grup aneh itu.
“Itu yang dibilang fans fans kamu, you look so handsome as hell, ha ha ha,”
“Kalian bahkan punya grup aneh ini?”
Aku mengangguk antusias sambil menunjukkan foto foto yang difoto fans William dengan diam diam. William terbelalak tidak percaya. Ia mengerutkan dahinya menemukan fotonya yang sedang mengunjungi team audit tadi siang
“Wow, what an unexpected truth. Sepertinya aku perlu menindaklanjuti internal audit terkait ini,” ujar William membuatku bergumam kesal. Aku menarik kembali ponselku dari William
“Lalu semua orang akan mencurigaiku. Bagaimana mungkin Mr. W menindaklanjuti internal audit di hari kedua orang penuh ‘koneksi’ masuk? Semua orang akan mempertanyakannya. Huh, kalau begitu sebaiknya aku tidak memberitahumu tadi. Aku harusnya…,”
William mengacak rambutku hingga membuatku tidak dapat meneruskan perkataanku. Ia memberiku senyum manis sambil berkata,“I’m joking. Itu adalah entertainment bagi mereka. Aku tidak akan menganggunya selagi masih dalam batas wajar,”
Geeez, jujur aku tidak dapat mendengar perkataan William dengan jelas saat ini. Aku masih terlalu terkejut karena William baru mengacak rambutku. Sikapnya itu tidak berhenti membuat gadis batinku berteriak. Aku tidak tahu sejak kapan wajah William kelihatan begitu dekat denganku. Aku bahkan dapat merasakan hembusan napasnya. Laki laki itu mengambil dua langkah mendekat. Jemari tangannya menarik lembut pinggangku sementara hidungnya hampir menempel pada hidungku. Apakah..kami akan berciuman? Oh tidak. Bagaimana jika aku tidak dapat mengontrol diriku?
Aku baru akan mengelak namun rupanya William hanya mengecup pipiku. Kecupan itu memberikan rasa hangat yang menjalar ke sekujur tubuhku. Namun mengapa aku merasa sedikit kecewa dengan kecupan itu? Huh, tunggu. Apakah yang kupikirkan? Oke. Fix. Aku memang sudah gila. Atau.. aku mungkin memang sudah masuk ke jajaran Eternal Fans Mr. W?
“Ayo tidur. Besok kita masih harus bekerja,” ujar William sambil berjalan mendahuluiku
Hufftt, aku menghembuskan nafas pelan. Good thing William lebih dahulu berjalan mendahuluiku atau mungkin dia akan melihatku blushing
Kami menghentikan langkah kami ketika telah berdiri tepat di pintu kamar masing masing. Aku mengintip William yang rupanya juga tengah melirikku. Kami berdua tertawa kecil, yang membuat hatiku menghangat sekali lagi
“Kattie?”
“Ya?”
William kelihatan sangat berhat-hati kali ini. Ia kelihatan ingin menyampaikan sesuatu. Aku mengangkat sebelah alisku sambil menunggunya mengungkapkan hal yang ingin ia sampaikan
“Terima kasih karena tidak menuntutku untuk menceritakan lebih lanjut mengenai masalah itu. I really appreciated it,Kattie,” ujar William jujur. Ia membasahi bibirnya sebelum melanjut pada detik berikutnya,“Aku berjanji akan memberitahumu nanti, jika waktunya tiba. Apakah kamu bisa menunggu?”
Aku tidak punya pilihan selain mengangguk. Aku memang penasaran dan khawatir akan kenyataan itu namun tidak ada yang dapat kulakukan selain menganggukan kepalaku. Aku tahu William masih membutuhkan waktu untuk benar-benar dealing dengan sisa persaannya pada… Yuriska
Sorot mata yang penuh kehati-hatian itu telah menghilang. Ia kemudian melanjut dengan nada kesal,“please jaga jarak dengan teman laki lakimu di kantor,”
“Huh, kenapa?”
“Kenapa? Kamu tidak bisa melihatnya? Dia adalah laki-laki single,”
“Lalu ada apa jika dia adalah laki-laki? Kami satu team dan…,”
“Dan kamu adalah perempuan bersuami. Bagaimana jika dia…,”
Geeez, apakah.. William cemburu?
Gagasan itu membuatku mengulum senyum tanpa kusadari. Aku membalas,“Baiklah jika kamu bersikeras. Aku akan mengurangi komunikasi dengannya, Mr. Single,”
William menyergit. Ia kelihatan binggung dengan begitu banyak julukannya,“Mr. Single?”
“Yap. Semua orang berpikir kamu masih single. Mereka hanya tidak tahu kamu sudah beristri dan beranak satu,” and soon father of two children
William mengulum senyum tipis. Ia menunjuk pintu kamar sambil berkata,“sana tidur!”
Aku baru akan mengunci pintu kamarku ketika William kembali mengetuk pintu kamar. Ia telah berdiri dihadapanku dengan senyum manis yang membuat jantungku berdebar debar lagi. Oh ini bahaya
“Good night,Kattie. Sweet dreams ya,” ucap William yang bahkan tidak menunggu responseku sebelum ia berlari kecil menuju ke kamarnya yang berada di sebarang kamarku
Apakah William datang hanya untuk mengatakan itu?
Sudut bibirku terangkat. Aku tidak dapat berhenti tersenyum bahkan ketika aku menutup lampu kamar. Aku masih menemukan diriku tersenyum tidak karuan dengan jantung berdebar-debar bahagia. Well, Satu kalimat singkat itu berhasil membuatku merasa cukup untuk hari ini. Ini cukup… cukup membuatku merasa bahagia…lagi