
Kupikir William sudah berangkat kerja ketika aku keluar dari kamar saat hari hampir siang. William sedang duduk di ruang tamu dengan sebuah laptop dalam pangkuannya. Apakah dia bekerja dari rumah?
Ia menoleh melihatku, membuatku menjadi gugup seketika. Aduh! Padahal aku berencana untuk menghindarinya
“Hi… good afternoon, means?” sapanya sambil berjalan mendekatiku
Aku tidak tahu harus memberi response apa. Jujur, aku masih merasa agak sulit berkomunikasi dengannya. Aku masih agak sakit hati meski aku tahu kenyataan itu belum seratus persen benar
William menempelkan telapak tangannya di keningku lagi, membuatku menahan napas dengan refleks
“Sudah membaik?”
“Se..sedikit?”
“Aku ada masak bubur. Yuk makan,”
Aku harus menghindar. Aku harus menghindar!
“Aku.. belum lapar,”
“Kamu harus makan lapar atau tidak,”
“Tapi…,”
“Tidak ada tapi-tapi-an,”
William menuntunku duduk. Ia meletakkan segelas air hangat tepat dihadapanku sebelum kemudian duduk tepat dihadapanku. Tatapannya yang teduh itu membuatku tidak berhenti menahan napas. Sejenak terlintas di benakku apakah sebaiknya aku mengonfirmasi hal ini padanya daripada aku berspekulasi terus menerus? Tapi… apakah jawaban itu akan memuaskanku? Reaksi apa yang harus kuberikan kalau memang spekulasi itu benar adanya?
“Diminum,sayang,” lanjutnya sambil menggeser hingga gelas itu mengenai lenganku
Aku menekuknya cukup lama, agak sengaja sambil mencoba meluruskan pikiranku yang kusut. William menggeser gelas yang sudah kuhabiskan ke samping lalu meletakkan satu mangkuk berisi bubur panas. Huh, sikap manisnya membuatku menahan napas sekali lagi
Baiklah baiklah. Ini hanya semangkuk bubur. Aku hanya perlu menghabiskannya dan kembali ke kamar
“Apa yang mau kamu makan nanti sore?” tanya William tanpa berhenti menatapku. Geeez, aku tidak berani menatapnya kelamaan atau aku mungkin akan goyah lagi. Bagaimanapun kemungkinan laki laki ini mendua tetap ada
“Tidak tahu. Aku bahkan belum menghabiskan ini,”
“Bagaimana dengan mie ayam?”
“Mie ayam?”
“Benar. Dua bungkus?”
“Kamu gila? Aku mungkin akan meletus kalau makan hingga dua bungkus,”
“Ha ha ha, oke. Satu bungkus, mie ayam favorite. Any other request?”
“Cukup itu saja,”
“Jam tiga sore, mungkin?”
“Oke, aku akan ambil sendiri,”
“Aku akan mengambilnya,”
“Lah, kamu tidak kerja?”
“Bagaimana aku bisa kerja kalau kamu sakit?”
Oh tidak…
Ini adalah ungkapan yang membuat jantungku panas. Tunggu tunggu, apakah aku baru menerima ajakannya makan mie ayam? Artinya kami akan bertemu lagi dan lagi? Huh? Astaga! Kenapa aku bisa selambat ini sih? Bukannya aku berenana menghindarinya?
“Aku bukan anak anak yang harus dipantau. Kenapa kamu enggak kerja saja? Kamu pasti punya banyak pekerjaan penting bukan?” tanyaku setelah menghabiskan satu mangkuk bubur itu. Rupanya aku memang lapar sekali
“Aku sudah menyelesaikan sebagian waktu kamu masih tidur,”
“Kamu bisa menyelesaikan sebagaian lainnya lagi di kantor,”
“Kenapa aku merasa kamu ingin aku ke kantor?”
Aku mencoba menyangkal dengan menggelengkan kepalaku. Semoga dia tidak menyadarinya
“Maksudku, akan lebih nyaman kalau kamu kerja di kantor bukan? Kamu bisa langsung ketemu karyawan karyawan kamu,”
“Itu bukan masalah besar. Aku masih bisa bekerja efektif meski dinas selama satu tahun kemarin,”
Fiuh, ini adalah jawaban skak mat
Eh, tunggu. Ini adalah moment yang pas untuk mengungkit masa masa itu. Aku merasa mendapat sedikit pencerahan. Kuletakkan sendokku ke dalam mangkuk lalu berkata,“waktu kamu masih dinas nomaden waktu itu, kamu berkomunikasi via apa? Whatsapp? Email? Yahoo mail? Atau..,”
“Atau perangko mungkin maksudmu? Ha ha ha. Ini bukan lagi dunia jaman dulu,sayang. Tentu saja aku memakai whatsapp atau email,”
“Bagaimana dengan orang orang lokal disana?”
“So far aku bertemu dengan orang orang yang baik semuanya. Ah, aku pernah kehilangan dompetku di London. Namun aku berhasil mendapatkannya kembali. Dia menghubungiku dari kartu namaku,”
“Wanita wanita disana cantik?”
“Aku lebih prefer wanita London,”
“Kenapa?”
“Mereka bisa membukakan pintu bagi siapa saja yang berada di depan dan di belakang mereka. Em, ini bukan urusan jatuh cinta, kagum dan lain lain tapi bagi mereka ini seperti suatu kewajiban disana which is membuatku merasa mereka ramah,”
Apakah Laura Angela juga dari London? Fiuh, astaga! Aku mencoba menyadarkan pikiranku dengan mencubit pahaku agak keras. Yang William sebutkan adalah hal umum. Aku tidak boleh terus menerus menyangkutpautkannya dengan Laura Angela. So, please stop it, Kattie!
“Kenapa? Apakah kamu tertarik untuk tinggal nomaden sepertiku dulu?” lanjut William terlihat penasaran
Aku menggelengkan kepalaku dan membalas dengan jujur,“tidak. Aku tidak suka hidup nomaden. Aku bertanya hanya karena merasa kita tidak pernah membahas kehidupanmu disana, selain kamu menjadi lebih mahir melukis,”
William tertegun
Aku menggunakan kesempatan itu untuk mengambil beberapa piring dan gelas kosong di meja dan meletakkannya di dapur. Ia berjalan menyusuliku lalu berhenti disampingku yang sedang menekuk segelas air
“Apakah kamu mau belajar melukis denganku?” tanyanya dengan senyum lebar
Huh? Jadi dia memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan itu?
Aku berbalik melihatnya setelah selesai minum. Aku mengangguk,“Oke. Sekaligus ajarin aku bagaimana cara hidup nomaden. Itu kelihatan menyenangkan, mungkin bagimu?”
Sebelah alisnya terangkat. Dia menahan pergelangan tanganku ketika aku hendak berjalan mendahuluinya. Tatapan teduh itu lagi lagi membuatku menahan napas. Aku berusaha mati matian menatapnya dengan datar. Rupanya jarak kami cukup dekat sampai sampai bahuku menyentuh dadanya
“Apakah ada yang salah,Kat? Aku merasa kamu sedang memendam rasa kesal dan marah padaku. Please tell me,”
“Tidak, aku tidak kesal atau marah. Aku sungguh ingin belajar seperti kamu, hidup nomaden. Mana tau aku akan membutuhkannya suatu hari nanti,”
“Kenapa hanya kamu? Kita berempat bisa hidup seperti itu kalau kamu mau. Aku tidak masalah,”
“Jadi Camilla dan Issac akan terus menerus pindah sekolah maksud kamu? Terus menerus belajar beradaptasi? Kamu pikir itu hal mudah, apalagi bagi anak anak?”
“Bukan begitu. Maksudku adalah…,”
“Itu alasan kenapa aku tidak suka hidup nomaden. Mungkin di kasus mu adalah kamu bisa membuang stress atau berbahagia disana, bertemu orang baru, berteman dan menjadi sahabat atau mungkin lovers. Tapi di kasusku adalah aku benci orang itu. Kamu meninggalkan keluarga kamu, negara kamu dan semuanya,”
William seperti mulai menyadari signal yang kuberi. Cengkaramannya melembut. Ia menyentuh kedua bahuku lalu agak menunduk. Ia agak menyergit sebelum kemudian mengusap lembut kedua bahuku
“Sorry… kamu masih marah atas itu? Sorry… kupikir kita sudah sepakat waktu itu. Sorry,Kat,”
Aku mendengus tidak percaya. Apakah signalku tidak cukup kuat? Mengapa dia bahkan tidak mau jujur denganku?
Atau.. mungkinkah sebenarnya tidak ada Laura Angela versi lovers? Mungkinkah selama ini hanya imajinasiku saja?
Duh, kan. Aku menjadi subjective lagi
Aku menggelengkan kepalaku lalu menarik tangannya agar menjauh dari bahuku
“Tidak. Aku tidak marah dan kamu tidak perlu meminta maaf. Aku hanya merasa agak lelah jadi sampai berpikir demikian. Sorry. Aku mau kembali ke kamar dulu,” ucapku tanpa menatapnya lalu dalam hitungan lima, aku sudah berjalan pergi dari hadapannya, benar benar berjalan dengan langkah cepat sampai ke dalam kamar
Tidak ada ketukan di pintu atau panggilan. Tidak ada pesan whatsapp atau satu panggilan ponsel dari William sama sekali. Aku tahu maksudnya. Mungkin adalah untuk memberiku waktu menenangkan diri dan merajut kembali pikiran pikiran kusut itu, namun entah mengapa aku merasa sedih, berharap laki laki itu akan mengetuk pintu kamar kami dan menjelaskan semuanya. Aku aneh. Aku tahu. Di satu sisi, aku ingin menghindarinya agar dapat menilai segalanya dengan objective namun di sisi lain, aku ingin dia mengejarku. Huh, sebenarnya apa sih yang kamu inginkan, Kattie Priscilla?