
Karen dan aku sedang memilih menu ketika ponselku berdering. Dari mama
“Kattie, Camilla sudah tidur,”
Sebelah alisku terangkat. Aku melirik jam tanganku tanpa kusadari. Ah, benar. Aku terlalu sibuk mencari pekerjaan hingga tidak sadar matahari telah terbenam beberapa jam lalu. Fiuh~!
“Benarkah? Apakah dia ada minum susu tadi?”
“Ada. Ini Camilla lagi tidur dengan Kakeknya,”
Aku tersenyum tipis. Hatiku menghangat. Aku merasa sangat terharu dan lega karena kedua orang tuaku bahkan kini membantuku menjaga si kecil. Sebenarnya aku merasa malu untuk pulang ke rumah orang tuaku. Bagaimana mungkin aku pulang dengan status calon janda?
Namun aku tidak memiliki pilihan lain. Aku tidak mungkin tinggal di apartemen Karen selamanya. Karen memiliki kehidupan pribadinya juga. Aku tidak ingin memberatkan Karen lagi. Tabunganku juga kian menipis sementara aku sama sekali belum menemukan pekerjaan. Oke, aku tidak tahu apakah aku yang memang kurang beruntung atau tidak ada yang spesial dari surat lamaranku
Aku tahu berat bagi mereka menerima kenyataan bahwa bahtera rumah tungga putri tunggal mereka terancam diambang pintu kehancuran namun aku masih dengan tidak tahu malu merasa bersyukur karena mereka membantuku menjaga Camilla. Mereka bahkan tidak menginterogasiku sama sekali. Mungkin mereka tidak mau luka yang berusaha kusembuhkan itu kembali terluka apabila mereka menyinggung masalah rumah tanggaku atau… mungkin mereka memilih untuk diam setelah melihatku menginjakkan kakiku di teras rumah dengan dua koper besar serta Camilla dalam gendonganku. Mungkin aku sudah kelihatan cukup menderita dan orang tuaku tidak ingin menambah penderitaanku dengan sesi interogasi mereka. Pesan orangtuaku hanya satu,
Apapun keputusanmu, papa dan mama akan menerimanya. Kamu sudah dewasa dan tahu mana yang terbaik untukmu. Papa dan mama tetap akan menjaga dan mendukung kamu dan Camilla. Ingat, kamu masih memiliki kami.
Well, aku tidak tahu aku dapat membayar mereka dengan apa lagi. I’m just too speechless. They’re just too kind and too good. Kadang aku merasa aku bahkan tidak pantas mendapatkan orang tua sebaik ini. Sementara aku…? Lihat, aku masih belum dapat membalas budi baik mereka sedikitpun. Aku hanya menyusahkan mereka saja meski aku telah menjadi seorang Ibu
Aku menghembuskan napas pelan sambil menyeka sudut mataku yang berair. Geeez, tiba tiba aku menjadi sedih lagi
“Mama dan papa sudah makan?” tanyaku dengan nada suara yang sengaja kubuat seceria mungkin
“Sudah kok. Kamu lagi makan malam dengan..?”
“Dengan Karen,ma,”
Aku mendengar nada kecewa dari seberang sana. Mungkin mama mengira aku makan malam dengan William
Mama mengakhiri panggilannya setelah memintaku untuk tidak pulang terlalu larut. Karen dan aku kemudian memutuskan memesan spaghetti bolognese favorite kami
“Jadi, gimana hari kamu?” tanya Karen sambil menyeruput segelas Ice green tea favoritenya
Aku menghembuskan napas pelan sambil membalas,“Entahlah. Aku tidak menemukan pekerjaan sama sekali. Kamu tahu? Aku mulai merasa lelah untuk berpura-pura kepada orang tuaku bahwa aku sudah bekerja,”
“Kenapa tidak mau bekerja di kantor papamu saja?”
Aku menggeleng kepalaku dengan refleks
“Setelah pulang dengan status calon janda? Tidak tidak,”
“Lah, lagian itu kan perusahaan papamu. Apa yang salah?”
“Meski mereka tidak mengungkapkannya secara langsung, aku tahu mereka kecewa dengan hubunganku dan.. dia. Bukankah mereka akan semakin kecewa padaku kalau tahu aku ternyata pura-pura bekerja selama beberapa minggu terakhir?”
“Kamu bisa menjelaskannya kok,”
“Nope. Aku tidak mau membebani orang tuaku lagi,”
“Oh, aku hanya berharap aku memiliki orang tua seperti orang tuamu. Aku tidak perlu repot-repot bekerja lagi. Tapi kamu.. lihat dirimu. Kenapa kamu menyiksa diri kamu sendiri sampai begitu sih?”
Karen menggelengkan kepalanya sambil memberiku tatapan ‘kamu aneh!’
“Oh yap. Aku akan ada business trip minggu depan,” ujar Karen
“Kemana?” tanyaku penasaran
“Ke Dubai,”
“Wow, good. Berapa lama?”
“Dua minggu mungkin?”
Aku menepuk Pundak Karen sambil tersenyum bangga padanya. Lihat, bagaimana sahabatku kini telah menjadi orang berhasil
“Wow, congratss! Jujur, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Saat aku sibuk mencari pekerjaan, kamu sudah sibuk melebarkan sayapmu. Well… anyway… good luck and I’m so proud!” ujarku jujur
Karen tertawa sambil berusaha menyemangatiku. Aku mendengar nasihatnya sambil berusaha berpikir positive. Pesanan kami telah datang. Aku mendengar cerita Karen mengenai dunia kerjanya dengan antusias. Pembicaraan yang dimulai dari pekerjaan tersebut mulai beralih ke kehidupan romansa Karen hingga periode menstruasi
“Oh, ****! Jadwal menstruasiku minggu depan pula!” tukas Karen kesal
Aku mengangkat bahuku sambil menikmati piring keduaku. Well, aku tidak tahu aku benar benar sesuka ini makan spaghetti ini. Padahal biasanya aku hanya dapat menghabiskan maksimal satu piring porsi spaghetti, mau seenak apapun itu. Aku bahkan berencana memesan piring ketiga setelah ini. Haiz, kenapa aku kelaparan begini sih? Padahal aku sudah makan beberapa potong roti satu jam lalu
“Kat, kamu denger gak sih?!”
“Ya ya. Minggu depan jadwal menstruasi kamu. Jadi, dimana masalahnya?”
“Geez! Minggu depan itu harusnya aku menikmati cantiknya Dubai tanpa perlu ribet ribet mikir menstruasi,”
Aku menyergit sambil menggeleng kemudian membalas,“It’s not a big deal, you know,”
“IT’S A BIG DEAL.. FOR ME, at least for me. Kamu tahu kan perutku itu bakal keram beberapa hari dan menstruasiku itu banyak banget!”
“Jadi, kamu berencana minta orang lain gantiin kamu ke Dubai? Well, I’m ready for it!”
“Gantiin orang? Huh! Enak saja. Perjalanan bisnis ke Dubai adalah satu satunya hal yang paling kunantikan beberapa tahun ini. Kayaknya aku bakal pakai menstrual cup saja deh. Gimana menurut kamu?”
“Menstrual cup? Em…, it’s a bit weird..,”
“Kamu belum pernah mencoba?”
Aku menggeleng dengan refleks sambil menunjukkan raut wajah agak jijik. Entahlah. Aku merasa mungkin akan kurang nyaman bagiku untuk menggunakannya
“Ah, gimana kamu mencobanya dulu lalu review nanti?” tanya Karen dengan segudang ide gilanya
“Big no!” tolakku tanpa ragu
“Lah, plis? Kamu kan lagi menstruasi kan?”
“Engga kok,”
“Lah, bukannya ini jadwal kamu menstruasi?”