Fool Again

Fool Again
Satu Langkah Berani



“Selamat Ibu Kattie Priscilla atas kehamilannya. Saat ini usia kandungan Ibu Kattie sudah memasuki minggu kelima,”


Aku tertawa getir menatap nanar restoran dimana aku dan William akan bertemu siang ini sambil menyentuh perutku. Kegelisahan menyelimuti pikiranku. Aku bahkan tidak tahu apakah aku patut bahagia atau sedih atas berita kehamilanku. Aku yakin aku kelihatan seperti orang yang stress akut. Tatapanku kosong dan aku bahkan tidak tahu harus bagaimana. Aku benar-benar kehilangan arah. Aku hamil? Oh, ini gila. Ini benar benar gila. Aku tidak dapat memproses semua nasihat yang Karen berikan padaku sesaat setelah dokter mengumumkan kehamilanku


“Aku tahu kamu membencinya tapi…bukankah kamu harus membicarakan masalah kehamilan kamu dengan William?”


“Bagaimanapun dia adalah ayah dari anakmu,”


“Dia pantas mengetahuinya,”


“Biar dia memutuskan apakah dia akan bertahan atau melepaskan anak kalian,”


Sial. Perkataan Karen masih menari dengan mengesalkan di otakku. Rasanya berita kehamilanku sama seperti diagnosa kanker stadium empat. Aku merasa takut dan khawatir. Tidak.. bukan karena aku tidak menyayangi anak ini. For Godshake! Bagaimanapun anak ini adalah bagian dari dalam diriku. Aku tidak mungkin membencinya. Aku hanya khawatir jika aku tidak dapat memberinya kebahagiaan seperti anak anak normal lainnya. Aku yakin aku akan menjadi Ibu yang hebat namun…. aku tidak yakin aku dapat memerankan peran ‘ayah’ bagi anak anakku kelak, mau seberapa keras pun aku berusaha


Aku mengigit bibirku gelisah. Aku telah berdiri di depan restoran namun ada keraguan besar dalam relung hatiku. Aku takut aku tidak dapat mengontrol perasaanku meski aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk menerima keputusan William dengan lapang dada. Bagaimanapun ini adalah hidupnya. Aku… aku tidak punya hak untuk mengendalikannya. Lagian… kami hanya akan membahas mengenai perceraian bukan?


Ketika aku tengah berpikir keras, aku tidak sengaja melihat William tengah memutar kepalanya menatap sekeliling. Kemudian pada saat itu kedua pasang mata kami beradu. Ia melambaikan tangannya sambil tersenyum tipis


Aku menghembuskan napas pelan sambil mencoba menguatkan diriku sendiri. All will be well. All will be well


“Sorry. Aku tidak telat lama kan?” tanyaku ketika telah berdiri di dekat meja


William menarik kursi untukku namun aku memutuskan duduk di kursi lain. Aku tahu aku tidak berperasaan. Seharusnya aku duduk di kursi yang Ia tarik saja. Aku tahu.. aku tahu. Namun aku tidak dapat menahan diriku untuk tidak melakukannya. Bagaimanapun aku harus menggambar garis keras diantara kami bukan?


“Tidak kok. Aku juga baru sampai,” balas William sambil menggeser menu padaku


Huh, bohong. Aku melihat William masuk ke restoran satu jam yang lalu. Dia sudah menunggu selama itu namun lihat bagaimana ia tidak menunjukkan kekesalannya sedetikpun padahal aku melakukannya dengan sengaja. Aku ingin William merasakan bagaimana rasanya menunggu kedatangan seseorang, menunggu ketidakpastian. Aku ingin ia merasakan semua perasaan yang kurasakan meski aku yakin dia tidak akan merasakannya. Semua usahaku selalu berakhir sia sia. Aku tahu namun aku tidak dapat menahan diriku untuk tidak melakukannya. Bodoh..


“Ayo makan dulu,” ucap William sambil menyerahkan menu padaku. Ia memberitahuku menu handalan restoran.. Jujur, aku cukup speechless. William sedang duduk bersamaku sebagai sesame partner atau sales restoran sih?


“Jadi, kamu tertarik yang mana?” tanya William setelah menjelaskan hampir kurang lebih sepuluh menit


“Sorry. Aku masih kenyang. Kupikir kita bisa langsung ke inti pembahasan,” jawabku singkat


William tidak langsung menjawabku. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam isi kepalanya saat ini. Ia mengunci tatapan diantara kami namun sorot matanya tidak menunjukkan emosi. Ia kemudian tersenyum tipis sambil meminta waitress mengangkat menu tersebut setelah memesan dua cangkir kopi


“Jadi, kapan kamu akan berangkat ke London?” tanyaku berusaha bersikap normal setelah mengklarifikasi pesanan William, yaitu menjadi satu cangkir kopi dan segelas air mineral. Aku berusaha bersikap senormal mungkin. Aku terlalu khawatir William dapat membaca situasiku. Aku tidak mungkin lupa bagaimana mudahnya seorang William dalam membaca dan menilaiku. Huh, ini mengesalkan


“Bulan depan,”


“Ah, I see.. apakah kamu membawa suratnya?”


William menyergit. Ia kelihatan tidak mengerti dengan arah pertanyaanku. Huh, kebinggungan itu membuatku semakin kesal. Apakah aku perlu menekankan kata ‘perceraian’?


Aku menghembuskan napas kesal kemudian melanjut,“Surat perceraian. Kita akan bercerai bukan?”


William kelihatan sedikit terkejut sementara aku mendengus kesal. Kenapa William harus kelihatan terkejut? Lagian bukankah ini yang dia inginkan?


“Siapa yang akan bercerai?” tanya William sambil menggelengkan kepalanya tegas. Ia mendorong botol air mineralku yang baru tiba tepat dihadapanku lalu melanjut,“Kita tidak akan pernah bercerai,Kattie Priscilla,”


Sumpah, William kelihatan sedikit mengerikan kali ini. Ia kelihatan super serius dengan perkataannya. Tatapannya lurus dan tegas. Rahangnya mengeras dan ia kelihatan marah. Huh, reaksi apa itu? Mengapa William harus semarah itu? Bukankah aku tengah memberinya kebahagiaan dan kebebasan?


“Apakah kamu mencintaiku?” tanyaku refleks. Oops, aku dan mulutku!


Aku berusaha menatap William dengan tatapan dingin dan menantang meski sebenarnya jantungku berdebar kencang. Aku tahu… aku tahu jawaban William akan menyakitiku namun aku tidak dapat menahan diriku untuk tidak menanyakannya meksi aku sudah tahu jawabannya. Sudah kukatakan, aku memang wanita bodoh


Kebodohanku terbukti dengan ketidakjawaban William. Dia tidak langsung menjawab dan itu…. Benar benar melukai perasaanku. Geez, aku sudah berjanji harus menahan air mataku. Aku tidak boleh kelihatan lemah dihadapan William… setidaknya setelah dia menolakku lagi


“Aku akan membawa kalian bersamaku ke London. Jadi bersiap-siaplah. Jessica akan mengurus segala keperluan kalian nanti,” ujar William serius


Ah, jadi dia mengalihkan pertanyaanku? Dan.. siapa itu Jessica?


“Jessica adalah sekertaris pribadiku,” jelas William seolah mengerti kebinggunganku. Ugh, sudah kubilang. Aku mudah sekali dibaca oleh William. Huh! Ini benar benar mengesalkan


Aku duduk bersandar sambil melipat tanganku di dada,“Siapa yang bilang kami akan ikut denganmu di London?”


Rahang William mengeras lagi. Ia membalas,“Kalian adalah istri dan anakku. Jadi, kalian harus ikut denganku ke London,”


Jawaban William benar benar menyayat hatiku kali ini. Jadi, William mengajakku dan Camilla ke London hanya karena kami adalah anak dan istrinya? Well, aku jelas tidak akan meragukannya apabila pasangan normal lainnya mengatakan itu. Tapi lihatlah kami. William bahkan tidak sanggup hanya untuk mengendong Camilla. Dia masih hidup dalam trauma masa lalu. Dan yang terpenting… dia tidak mencintaiku. Dia dengan jelasnya masih sangat mencintai wanita lain. Hm, mungkin dia berencana membawaku kesana sebagai pemuas nafsunya saja. Mungkin dia tidak cocok dengan standard percintaan wanita lokal sana?


“Apakah hanya karena kami adalah istri dan anakmu jadi kami harus ikut denganmu?” tanyaku sambil tersenyum lirih. Aku melanjut,“kamu akan menceraikanku suatu hari nanti. Dan wanita yang lebih baik itu akan memberimu anak. Jadi, bukankah sebaiknya untuk tidak menundanya terlalu lama?”


“Bisa nggak sih kamu tidak membahas orang lain dalam rumah tangga kita?”


“Kenapa? Itu adalah fakta,William. Dan aku… well, aku banyak melakukan analisa selama kita pisah beberapa minggu terakhir. Lihat aku!”


Aku menunjuk ujung rambut hingga ujung kaki menggunakan telunjuk tanganku. Fiuh! Hatiku sakit namun mau tidak mau aku harus mengakuinya


“Dari ujung rambut hingga ujung kaki, aku.. tidak ada lebih baik dari semua kenalan wanitamu. Aku tidak kurus. Aku tidak cantik. Tubuhku tidak jauh lebih bagus. Aku tidak pintar. Aku tidak bisa minum alcohol. Pergaulanku biasa saja. Aku tidak punya pengetahuan yang luas. Aku hanya kebetulan mantan sahabatmu waktu SMA yang kebetulan merebut pacar sahabatnya sendiri dan melahirkan anaknya. Ah, aku lupa. Aku yakin aku tidak sebaik itu dalam urusan ranjang jika dibandingkan wanita lain. Aku bukan good kisser. Aku tidak punya gen apapun yang menarik. Tidak ada yang special dariku dan Camilla. Camilla tentu akan menjadi anak yang hebat tapi aku yakin dengan wanita lain yang lebih hebat, kamu bisa mendapat keturunan yang jauh lebih hebat. Lalu lihat, kamu tidak ada untungnya membawa kami ke London. Kamu hanya practically habisin duit kamu saja. Aku tidak pandai bahasa inggris dan aku tidak cocok hidup disana. It’s just such a waste,”


Bagus. Aku menyelesaikannya dengan cepat hanya dalam satu menit. Dadaku naik turun. Aku tahu aku hanya sedang mempermalukan diriku sendiri saat ini namun itu adalah faktanya. Aku.. tidak jauh lebih baik dari wanita disekeliling William. Dan ah, aku lupa… aku juga tidak tahu apapun tentang kehidupan William. Aku tidak tahu siapa temannya  atau kehidupan pekerjaannya. Aku benar benar buta. Jadi, bukankah memang kita sebaiknya bercerai?


“Apakah kamu melakukan analisa ini untuk mengajukan perceraian?” tanya William tidak percaya


Aku mengangguk setuju meski rasanya sakit sekali. Kedua mataku perih. Huh, mungkin tinggal menunggu menit kedua mataku akan berkaca kaca


“Kamu adalah laki laki hebat,William. Kamu pantas mendapatkan kebebasan ini,”


“Kebebasan yang kamu maksud itu adalah kebebasan aku atau kamu?”


Aku tertegun. Demi apakah aku memperjuangkan perceraian ini? Demi kebebasan aku… atau William? Ah, mungkin… aku sedikit egois. Aku tidak sadar bahwa aku memperjuangkan kebebasanku sendiri dan.. juga kebebasan Wiliam tentu saja. Bukankah begitu?


“Pikiranmu sedang kacau. Sebaiknya kita membicarakan ini lain kali,” tukas William sambil meminta bill pada waitress


“Pikiranku sedang tidak kacau. Aku benar benar sadar dengan semua pemikiran ini. Dari hasil analisaku, kita memang tidak cocok,” balasku berusaha menyakinkan William yang ia balas dengan tawa tidak percaya


Ia memejamkan matanya sambil melonggarkan kerah dasinya. Sikapnya yang kesal itu membuatku sedih. Mengapa William harus bersikap seperti itu? Dia tidak berencana memberiku harapan palsu lagi kan? Aku bergegas menyeka air mataku ketika ia memejamkan matanya. Huh, syukurlah aku tidak ketahuan. Aku langsung memasang raut wajah dingin ketika ia membuka matanya dan menatapku dengan serius. Em, tatapannya membuatku terintimidasi


“Apakah kamu mau bercerai karena aku tidak berusaha membujukmu selama beberapa minggu terakhir kamu keluar dari rumah?”


Aku tidak dapat menjawab


“Aku berjanji akan melakukan wish apapun dari kamu waktu itu. So, I did! Aku memberimu waktu tapi bukan berarti aku mau melepaskan kalian. Tapi lihat, apa yang kutemukan? Kamu di Youth Club dengan first love kamu!”


William tertawa tidak percaya sekali lagi. Tatapannya begitu tajam seolah seolah dapat mengirisku dalam kepingan kecil hanya dalam beberapa menit sangking tajamnya


“Aku memberimu waktu menenangkan pikiran bukan untuk ngedate dengan laki laki lain!” lanjut William membuat kedua mataku berkaca kaca tanpa kusadari. Jadi, jadi… William meragukanku? Tunggu, bahkan dia ingat Didi? Huh, mengapa dia mengingat hal sepele itu sih?


“Kamu bisa membuat analisa. Jadi, mari aku memberikan analisaku juga. Camilla bisa menuntun pendidikan yang lebih baik disana. Kamu dapat melanjutkan pendidikan di luar negeri seperti yang kamu inginkan dulu. Aku dapat support kamu dan Camilla sampai puluhan keturunan sekalipun. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun disana dan…,”


“Dan.. aku hanya akan tetap menjadi partner gairahmu?” tanyaku tanpa kusadari telah memotong pembicaraan William. Geez, rupanya William tidak mengerti pokok permasalahnnya sama sekali. Aku ingin pergi ke London. Tentu saja! Siapa yang tidak ingin pergi ke negara indah itu apalagi bersama anak dan laki laki yang kucintai? Tapi.. apakah itu cukup? Tidak. Aku menginginkan hatinya. Namun aku cukup sadar diri bahwa aku berada jauh dibawah level semua wanita kenalan William. Aku tidak akan punya kesempatan mencairkan dingin hatinya atau membuatnya melupakan Yuriska sekali pun. Aku tidak punya kemampuan itu!


“Partner gairah?”


“Ya. Kamu mungkin tidak pernah menyadarinya tapi lihat.. apa yang kita lakukan selama ini? Kita hanya melakukan hubungan seksual! Apakah kamu bahkan mengenal sahabatku? Dan… apakah kamu pernah memberiku akses mengetahui masalah pekerjaanmu, sahabatmu dan pergaulanmu? Tidak… kamu hanya menginginkanku karena aku bisa memuaskan nafsu kamu. Well, apa aku sebaik itu sampai sampai kamu mau membawaku ke London? Tapi aku yakin wanita itu atau.. wanita lainnya dapat memberimu malam yang lebih baik dan…,”


“Kattie!!”


Oke, kali ini William marah besar. Mungkin aku sudah kelewatan batas atau.. mungkin dia tidak mau Yuriska terlibat dalam pembicaraan kami. Ia menarikku masuk ke dalam mobilnya. Aku tidak punya kuasa menolaknya sama sekali. Rahangnya semakin mengeras dan Ia benar benar marah. Oh, aku tidak pernah membayangkan akan melihatnya semarah ini namun aku tahu aku tidak boleh berhenti menyampaikan perasaanku. Setidaknya… setidaknya William harus tahu perasaanku. Dia sudah terlanjur marah besar jadi… marah sedikit lagi juga tidak menjadi masalah bukan?


“Kamu mungkin berpikir masalah kita sederhana. Tapi pernahkah kamu berpikir bahwa rumah tangga kita tidak normal?” tanyaku sambil menatapnya dengan hati hati. Geez, dia kelihatan menakutkan


Aku bergegas memalingkan tatapanku kembali. Aku mengepalkan jemari tanganku, mencoba menenangkan dan menguatkan diriku sendiri. Ayo, Kat. Kamu bisa… kamu bisa


“Kita sudah pernah membahasnya. Aku sudah pernah minta maaf atas itu dan kita telah bersedia untuk memperbaikinya, bukan?” tanya William frustasi. Ia memukul pelan stir mobil sambil memijit pelipis kepalanya


“Kamu tidak benar benar melakukannya dengan tulus bukan?”


“Apa maksudmu? Aku…,”


“Dia.. wanita itu memintamu melakukannya. Wanita itu juga yang memintamu menikahiku dan membawaku ke London. Bukankah begitu?”


Sial… air mataku menetes. Aku memalingkan wajahku menatap keluar jendela. Aku tidak ingin William sadar aku tengah meneteskan air mata lagi untuknya


“Kamu mungkin salah paham. Aku.. baik. Aku mengakui aku melakukan semuanya karenanya. Tapi tidakkah kamu lihat aku sedang berusaha memperjuangkanmu? Kita bahkan belum melewati waktu tiga bulan dari masa percobaan. Dan kamu sudah menyerah? Ini tidak adil!” ujar William


Aku bersyukur aku tidak sedang menatapnya sekarang. Aku tidak mau melihat ekspresi wajahnya. Aku takut melihat raut wajah yang tidak kuharapkan. Aku mengigit bibirku sambil menahan isakan tangis. Geez, ternyata rasa sakitnya benar benar diluar batas wajarku


“Tidak bisakah kamu mencoba mengerti? Aku telah mencintai dan bersamanya selama lebih dari delapan tahun. Aku tidak bisa secepat itu..melupakannya dan…,”


“Sudah kubilang, cinta itu tidak bisa dipelajari,William. Aku tidak bisa memaksamu mencintaiku,”


“Oh God! I’m trying!”


Aku menyeka air mataku kemudian menatapnya. Entahlah. Ia kelihatan lebih ‘lunak’ setelah melihat wajahku. Huh, apakah mataku membengkak atau hidungku semerah tomat? Entahlah. Aku tidak peduli lagi


“Kalau begitu, biarkan aku menanyakan beberapa hal padamu. Tapi kamu harus menjawabnya dengan cepat dan jujur,” tukasku sambil mengontrol nada suaraku. Aku berusaha.. berusaha agar tidak kelihatan sesedih itu


William mengangguk meski kelihatan ragu selama beberapa saat


“Apakah kamu masih mencintainya?”


Aku menemukan sorot terkejut yang terpancar di raut wajahnya. Ia membasahi bibirnya sebelum menjawab pertanyaanku dengan hati hati


“Aku sedang mencobanya denganmu. Kita sudah sepakat untuk mencobanya selama tiga bulan bukan? Dan…,”


“Jawab aku. Apakah kamu masih mencintainya? Ya atau tidak?”


William tidak dapat menjawab namun ia mengangguk dengan pasrah. Ah, gila. Pertanyaan ini sama saja dengan menarikku ke kandang buaya. Rasanya sakit namun aku harus menerimanya


“Apakah kamu masih memikirkan anak kamu yang keguguran dengannya?”


William mengangguk dengan pasrah lagi. Dan… geezz… air mataku menetes tanpa dapat kuhindari


“Apakah kamu… sudah mulai mencintaiku?” tanyaku tanpa memutuskan kontak mata diantara kami. Kali ini, tatapan kami beradu dengan perasaan campur aduk. William tidak dapat menjawabku atau bahkan mengangguk. Ia masih diam dan itu…. Cukup. Cukup menjawab segalanya


Oke, meski William belum mencintaiku namun aku yakin ada beberapa hal yang mungkin ia sukai dariku. Baiklah, aku menghembuskan napas pelan sebelum mulai mempertanyakan hal itu


“Kalau begitu, apa yang kamu pikir kamu suka dari diriku? Aku tidak cantik. Aku tidak hebat. Aku berada di level terendah dari semua teman wanitamu. Jadi, kenapa harus aku?”


“Karena kamu adalah Ibu dari anakku,”


“Jika aku bukan Ibu dari anakmu, apakah ada hal lain yang membuatmu mungkin menyukaiku?”


“Kamu lupa? Kamu adalah sahabatku,Kattie. Kamu pendengar yang baik. Kamu mungkin tidak secantik para wanita diluar sana, kamu tidak memiliki wawasan seluas mereka tapi kamu selalu ada di satu tempat dihatiku. Kamu adalah sahabatku, ibu dari anakku dan teman hidupku,”


Aku mengerjap sambil mengigit bibirku menahan tangis. Apakah ini adalah pengakuan bahwa aku hanya akan selalu menjadi sosok ‘sahabat’ di matanya? Sahabat mana yang bisa ditidurin?! Huh!


“Diluar dari sahabat, ibu dari anakmu dan ‘teman hidupmu’, apa yang membuatmu merasa waktu tiga bulan itu worth it untuk kamu perjuangkan? Maksudku, setidaknya… setidaknya aku memiliki satu poin yang dapat membuatmu melihatku dengan sedikit berbeda bukan?”


William mengerjap, mencoba memikirkan satu poin kelebihanku yang tidak dimiliki yang lain. Huh, apakah William bahkan harus memikirkannya seperti itu? Ah, kupikir memang sulit menemukan sisi menonjol dari dalam diriku


Aku menggelengkan kepalaku sambil menyeka air mataku dengan kesal


“Sudah, lupakan saja pertanyaan bodohku. Aku hanya ingin mencari pembelaan saja. You know.. i’m a loser, as always, kamu tidak perlu mencoba mencari cari atau mengada-ngada poin positiveku. Aku…,”


“Yang membuatmu berbeda dari yang lain adalah… kamu. Kamu adalah kamu. Kamu tidak berusaha menjadi orang lain saat bersamaku. Kamu selalu mendengar keluh kesahku, menemaniku, menyemangatiku dan…,”


“Kamu mungkin tidak menyadarinya… aku yang kamu sebutin tadi adalah aku yang dulu, William. Di dalam benak dan hatimu hanya tertanam aku, si gadis masa putih abu abu kamu. Kamu mungkin lupa kalau… kamu tidak pernah menceritakan masalahmu lagi padaku sejak.. kita menikah,”


“Bukan begitu. Maksudku…,”


“Kamu tahu kan kalau aku… cinta denganmu?”


William tidak menjawab lagi. Aku memejamkan mataku kesal dan marah. Goshhh, realita ini benar benar begitu menyakitkan. Aku tidak pernah membayangkan kami akan terlibat pembicaraan serius mengenai perasaan ini.


“Aku mencintaimu. Tidak… aku sangat sangat mencintaimu. Tapi kamu lihat… rasanya agak menyakitkan melihatmu mengaku seperti ini. Aku tidak yakin apakah aku bisa membantumu belajar mencintaiku sementara sulit bagimu menemukan sisi menonjolku. Mungkin…,” aku menatap William sesaat dengan air mata yang mengalir. Sial. Aku sulit mengontrolnya. Aku melanggar janjiku untuk tidak menangis. Namun rasanya benar benar begitu menyesakkan hingga membuatku serasa hampir pingsan. Bibirku bergetar dan jemariku mendingin sebelum aku melanjut,“mungkin.. kita akan lebih cocok menjadi sahabat saja. Tapi bagaimana? Tidak ada friend with benefit dalam kamus hidupku. Kita bahkan tidak qualified lagi menjadi sahabat. Jadi, kita harus bagaimana lagi?”


Wlliam menggelengkan kepalanya. Ia meraih pergelangan tanganku, meremasnya dengan pelan. Ia kelihatan gelisah namun kuyakin kegelisahan itu bukan karena cinta. Geez, aku hampir muak membahas masalah cinta


“Kat, dengar. Aku tahu aku tidak bisa menyakinkanmu sekarang karena… karena aku masih belum yakin dengan perasaanku sendiri. Tapi.. kamu harus tahu kalau aku sudah terbiasa hidup dengan kalian. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kalian. Aku mencintai kalian. Maaf kalau caraku salah selama ini. Aku tahu aku tidak tahu mengatakan ini tapi.. kumohon jangan tinggalkan aku. Kita dapat memperbaiki ini bersama dan…,”


“Maaf,William. Aku sulit mempercayai kata-katamu lagi,”


“Oh no, Kat. Please…,”


“Jika kamu benar benar mau memperbaiki ini…, kamu tidak seharusnya membuatku merasa diriku seperti pelacur. Jika kamu benar benar mau memperbaiki ini… kamu seharusnya datang kepadaku di hari pertama aku meninggalkan rumahmu. Jika kamu membuatku merasa seperti istri yang sebenarnya dan menjemputku pulang waktu itu, aku mungkin akan pura pura melupakan semuanya. Aku akan bersiap menjadi pelacurmu lagi dan…,”


“Kat, kamu bukan pelacur. Oke? Kamu bukan itu dan…,”


“Tapi maaf… aku sudah terlanjur kecewa dan benci denganmu, William. Aku membencimu,”


Pernyataanku membuat gengaman tangan William padaku mengendur. Ia kelihatan super terkejut dengan sorot mata terluka. Kemudian tangan itu perlahan lahan terlepas dari tanganku


“Jangan menghabiskan waktu dan uangmu untuk kami lagi. Kamu lihat… kita tidak bisa kembali seperti dulu lagi,” lanjutku


William masih tidak membalasku. Jiwanya kelihatan melayang laying. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Apakah pernyataan aku membencinya benar benar membuatnya shock batin? Entahlah. Aku menyeka air mataku sambil menghembuskan napas pelan. Sebenarnya aku menunggu agar William meresponse pernyataanku namun ia masih kelihatan cukup shock. Aku pun memutuskan untuk keluar dari mobilnya. Mungkin ini memang akhir dari kami? Huh?


Namun sesaat sebelum aku menginjakkan kakiku di tanah, William memanggilku. Aku tidak punya pilihan selain menoleh melihatnya. Deg. Sudut matanya basah. Ia menatapku dengan sorot mata yang membuatku bisa berlari memeluknya jika aku lengah sedetikpun. Ia kelihatan cukup terluka namun.. mengapa aku tidak merasa puas setelah melakukannya? Hatiku malah berdenyut sakit. Aku bahkan harus meremas tali tasku, mencoba menenangkan jiwaku dan menunjukkan raut wajah dingin


“Aku akan membuatmu mempercayai kata kataku lagi,” tukas William serius. Ia menunjukkan cincin pernikahan kami yang terpasang indah di jemari manisnya. Huh, sejak kapan William memakainya?


“Siapa menduga sumpah setia yang kuucapkan dua tahun lalu membawaku sampai disini? Aku yakin aku akan membawa kalian bersamaku ke London dan…,” William tidak langsung melanjutkannya. Ia menatapku dengan senyum tulus. Deg. Senyum itu membuatku blank


“Aku belum menjawab pertanyaanmu tadi mengenai apakah aku mulai mencintaimu,” lanjut William


Oh please.. tidak tidak.. aku tidak ingin mendengarkannya lagi. Aku tidak mau menolerkan satu luka tambahan lagi untuk hari ini. Aku memalingkan wajahku, berniat untuk segera pergi namun perkataan William selanjutnya membuat langkahku berhenti otomatis


“Aku pikir… aku sudah mendapatkan jawabannya setelah berusaha menemukannya selama beberapa minggu terakhir. Aku..bukan mulai mencintaimu. Tapi aku … aku akan membuatmu mencintaiku lagi karena… aku mungkin telah mencintaimu,”


Hah?


“Kamu mungkin akan mendapati ini untuk sulit dipercaya tapi.. this is what my heart tell me to do,”


William benar. Aku menemukan diriku sulit mempercayai pernyataan tidak terduganya. William mencintaiku? Hah! Itu adalah lelucon terBURUK yang pernah kudengar sepanjang masa. William mencintaiku rasanya seperti pegumuman bahwa matahari akan mulai terbit dari Selatan mulai hari ini. Yeah, artinya hal itu sangat mustahil terjadi


Alih alih membalas omong kosong William, aku memutuskan untuk melangkah pergi sementara itu dari balik kemudinya William menghubungi sekertaris pribadinya untuk memintanya cancel semua meeting dan appointment selama satu bulan kedepan


“Are you serious sir?!” tanya Jessica diseberang sana


William mengiyakan sambil menatap punggung Kattie yang semakin lama semakin menjauh. Ia tidak pernah menyangka wanita yang selalu menyambutnya itu akan meninggalkannya seperti ini. Well, ini mungkin sudah terlambat namun setidaknya lebih baik daripada dia tidak melakukannya sama sekali. Ia sudah bertekad akan mengejar Kattie kembali. Misinya terpenting saat ini adalah membawa istri dan anaknya ke London bulan depan.


***