
Ketika aku membuka kedua mataku di pagi hari, aku sudah menemukan dua orang make up artis dan stylist kondang dihadapanku. Aku menyeka kedua mataku berkali-kali, mencoba memastikan kedua mataku tidak salah. Mengapa ada dua orang populer dihadapanku?
Mereka berjalan mendekat sementara aku menarik selimut sampai ke dagu. Ini mimpi bukan sih?
“Mbak, saya kenal kalian. Kalian sangat terkenal tapi kenapa kalian ada disini?” tanyaku jujur, mulai merasa was-was
Dua orang tersebut saling bertatapan sebelum kemudian berkata,“Pak William hire kita untuk membuatmu kelihatan lebih cantik lagi hari ini,”
“Wi..lliam? Hari ini?” bukankah kita baru terlibat perdebatan semalam?
“Beliau minta kamu untuk membaca pesannya,” ucap Nita, make up artist tersebut
Aku yang masih agak binggung pun meraih ponselku di nakas meja. Benar saja, William meninggalkan satu pesan singkat
Just do the make up and stylist. Aku sdh membawa anak2 ke tmpt ortu
Singkat, padat dan jelas.
Artinya laki laki itu masih marah padaku.
Kedua orang tersebut tidak memberiku kesempatan untuk memikirkan hal lain. Mereka mulai ‘membenahiku’ dimulai dari waxing, cream bath, pedicure manicure sampai herbal massage yang terasa meringankan beban pikiranku. Aku agak takjub karena mereka melakukannya dengan sangat mudah dan lihai padahal mereka melakukannya di dalam rumah. Well, meski mereka mengambil peralatan mereka juga. Aku mulai menebak nebak berapa besar biaya yang William keluarkan untuk ‘membenahiku’.
Aku selesai tepat setelah jarum jam berdenting di angka tujuh malam
Aku berputar beberapa kali, memperhatikan dan sedikit mengaggumi penampilanku malam ini yang dibalut dengan long dress satin polos namun mempertontonkan bahu polosku dan lekuk badanku dengan sempurna. Cantik…, aku bergumam dalam hati. Tapi untuk apa? Apakah ada anggota keluarganya yang menikah atau mungkin partner bisnis nya, huh?
Pertanyaanku seagaknya terjawab sepuluh persen setelah melihat William berdiri di depan pintu dengan tuxedo hitam yang terasa pas di badannya. Dia kelihatan tampan, as always. Namun tatapannya yang masih dingin tersebut membuatku menahan napas
“Kita mau kemana?” tanyaku setelah aku merasa agak canggung ditatap oleh William dengan tatapan dingin tersebut
Aku berjalan mendekat sambil melambaikan tanganku
“Ikut saja,” jawabnya singkat lalu memutar badannya membelakangiku
Aku mendengus tidak percaya namun tidak memiliki pilihan lain untuk menyusulinya yang mulai berjalan meninggalkanku. Hari ini William mengendarai Porsche 911 hitam, membuatku agak mengangga tidak percaya. Aku tahu William adalah orang yang kaya banget namun ini adalah kali pertama laki laki itu membawaku ikut bersamanya duduk di salah satu mobil mewahnya. Tunggu, apakah konsep acara hari ini adalah serba hitam?
Duh, situasi kami sangat canggung dan hening hingga kupikir dia dapat mendengar degupan jantungku
Aku melirik William beberapa kali, memperhatikan penampilannya yang rapi namun juga terkesan sangat dewasa. Fiuh, jujur, aku memang masih sakit hati dengan William namun bukankah sebaiknya aku memulai pembicaraan kali ini? Kami tiidak mungkin masuk ke dalam acara dengan sikap canggung seperti ini, bukan? Orang orang akan mulai mencurigai hubungan kami. Selain itu, aku juga tidak tahu jenis acara apa ini. Artinya William hanya satu satunya orang yang dapat menjadi sandaranku disana. Ini agak menjengkelkan namun aku harus melakukan upaya untuk mencairkan suasana ini
Aku berdeham beberapa kali. Kupikir itu akan sedikitnya membuatnya menoleh namun nihil
“Jam berapa kamu jemput anak anak tadi?” tanyaku
“Waktu kamu masih tidur, pastinya,” jawabnya singkat, masih belum melihatku
Aku memutar kedua mataku, mencoba mencari topik pembicaraan yang dapat membuatnya berhenti bersikap dingin padaku
“Oh, oh ya, aku tidak tahu kalau memesan service herbal massage. Aku sangat menikmatinya. Thank you,”
“Mama yang memesannya,”
Heh?
“Ah, mama... aku akan berterima kasih padanya nanti. Anyway, apakah make up ku kelihatan aneh? Kupikir mereka mengoleskan lipstick cukup tebal,”
Sepuluh detik... dua puluh detik..
William mengabaikanku. Aku menghembuskan napas pelan, masih mencoba untuk membuatnya sedikit lebih luluh dengan menyentuh lengannya dan berkata,“Coba tebak warna softlens yang kupakai kali ini apa?”
Aku mencoba menggoyangkan lengannya namun dia masih mengabaikanku. Aku mulai kesal. Kutarik tanganku menjauh lalu kembali bersandar dengan memalingkan kepalaku ke luar jendela mobil. Kalau memang yang ingin dia lakukan adalah mengabaikanku, untuk apa dia membawaku ke pesta kali ini? Selain itu, bukankah seharusnya dia menerima sedikit usahaku mengajaknya berbalikan?
Kami sampai di sebuah hotel bintang lima.
William menyerahkan kunci mobilnya kepada seorang vallet sebelum membuka pintu mobil untukku. Sebelah alisku terangkat. Apakah dia sudah tidak kesal?
Jemari tanganku perlahan mulai menyemat padanya. Laki laki itu membantuku bangkit dan membenarkan gaunku. Ketika aku menengadah melihatnya, rupanya rahangnya masih mengeras. Duh, perasaan ini sangat tidak mengenakkan. Aku merasa diperhatikan namun juga diabaikan pada waktu yang bersamaan
Kami sampai di ballroom yang cukup padat. Semua orang memakai pakai formal dan aku bukan satu satunya wanita yang memakai gaun satin.
Kami berpapasan dengan salah seorang rekan bisnisnya. Laki laki itu kemudian membahas banyak hal yang kurang kumengerti, seperti masalah ekspor dan kepabeanannya. Aku yang mulai bosan pun memutar kepalaku, memperhatikan penjuru ballroom. Seorang wanita muda nan cantik menarik perhatianku. Dia mengenakan gaun putih yang indah. Apakah ini adalah pesta pernikahan dan wanita itu adalah pengantinnya?
Aku menyergit melihat wanita itu tersenyum ke arahku. Huh? Kenapa dia tersenyum padaku? Aku tidak merasa mengenalnya. Ketika aku sibuk berpikir, aku menemukan William sedang melamabikan tangan pada waita itu. Oh Well, rupanya dia tersenyum kepada William. lalu dalam hitungan beberapa menit, wanita tersebut telah meraih pergelangan tangan William dan membawanya ke kerumunan yang tak jauh dari panggung
Aku mengerjap tidak percaya dengan aksi yang terjadi begitu cepat, sangat cepat sampai aku baru menyadarinya setelah melihat punggung William menjauh. Apakah wanita itu baru .. mengambil alih suamiku?
Dan... lihat. William bahkan tidak menoleh melihatku sama sekali. Aku tahu kalau dia memang masih kesal denganku tapi pantaskah dia memperlakukanku seperti ini di tempat yang bahkan aku tidak ketahui sedang menyelenggarakan acara apa
Laki laki itu kelihatan tertawa sesekali sambil melambaikan tangan pada beberapa orang yang lewat. Dia kelihatan seperti bujangan menggoda, sungguh. Ini membuatku kesal. Mata para wanita kelihatan sedang menelanjanginya namun dia bahkan tidak kelihatan terganggu asma sekali atas itu. Dan oh, apakah mungkin dia sudah lupa aku juga berada disini?
Aku memutuskan untuk berjalan keluar dari ballroom menuju ke rooftop yang berada tak jauh dari sana daripada terus menerus terbakar rasa cemburu. Dia memintaku untuk memahaminya bukan? Well, meski aku tidak tahu siapa teman atau wanitanya
Permandangan gemerlap gemerlip malam hari tidak berhasil membuatku merasa jauh lebih baik. Dadaku terasa panas. Rasanya aku ingin menenggelamkan diriku di kasur dan menangis untuk meluapkan rasa ini.
Aku mengambil satu langkah berani dengan memanjat di kursi kayu yang menempel pada dinding pembatas, berniat untuk memandangi permandangan tersebut dengan lebih luas, mana tau aku bisa merasa sedikit saja lebih baik. Namun hanya dua detik berselang setelah aku bangkit, aku merasa suatu tarikan cukup keras, mendorongku turun
Aku menyergit. Ketika aku hendak menyampaikan kekesalanku, aku menemukan Didi lah tersangka utama yang mendorongku turun
“Didi?”
“Kattie? Astaga,”
Didi menggelengkan kepala sambil mengumpat kesal. Namun umpatan itu lebih terdengar kepada dirinya sendiri.
“Kamu pikir aku mau melompat dari ketinggian dua puluh lantai ini?”
“Bukankah seperti itu? Huh?”
Tawaku pecah, entah karena kepolosannya atau karena sikapnya yang peduli atau mungkin raut wajahnya yang gemas. Aku tertawa cukup keras sampai agak membongkok lalu tanpa kusadari aku mengambil dua langkah mundur ketika Didi melihatku dengan senyum manis. Langkahku yang buru buru itu membuatku tersandung, hampir jatuh, namun dia berhasil meraihku dengan melingkarkan tangannya di pinggangku
Duh duh duh, tiba tiba kecanggungan itu tercipta. Aku berdeham pelan lalu menarik diriku menjauh
“Aku tidak akan pernah melakukan hal aneh aneh yang ada di pikiranmu. Aku hanya sedang ingin mencari udara segar,” ucapku jujur
Didi berdeham pelan sambil tersenyum dengan agak bersalah
“Benarkah? Em, sorry kalau aku menganggu momentmu tadi,”
“Tidak apa-apa. Aku menjadi terhibur setelah melihatmu. Anyway, ini suatu kejutan. Kenapa kamu kemari?”
“Aku? Tentu saja menghadiri pesta ulang tahun anak perempuan dari salah satu investor di bisnisku,”
“Laura..Angela?”
“Ya, kamu tidak tahu?”
“Ti.. em, aku kurang tahu,”
“Ah, jadi kamu kemari bersama seseorang? Siapa laki laki beruntung itu?”
Laki laki beruntung?
Aku hanya membalasnya dengan senyum tipis
Didi dan aku saling bertatapan cukup lama. Laki laki ini membuatku mulai menduga duga bagaimana jadinya kalau kami berkenalan lebih awal dulu. Mungkinkah aku akan hidup bersamanya?
“You look so beautiful today,Kattie,”
Itu adalah pujian tidak terduga dan mendadak. Aku tertawa kecil dan membalas.“kamu juga kelihatan perfect banget hari ini,”
“Laki laki perfect ini tidak dibalas pesan whatsapp nya sama kamu selama setahunan,”
“Whatsapp? Maksudnya kamu ada menghubungiku?”
“Kamu tidak tahu?”
“Aku memulai bisnis bakery kecil kecilan sejak tahun lalu. Ada cukup banyak chat yang masuk untuk orderan. Jadi chat yang tidak jelas itu aku abaikan,”
“Huh, aku diabaikan setahun ha ha ha,”
“Hwaa, sorry sorry. Lagian sih kamu pasti tidak ada pasang profile picture kan? Aku tidak tahu kamu ada chat aku,”
“Err, aku tidak suka memasang profile picture tapi kalau memang itu caranya kamu menandainya, aku akan memasangnya sekarang juga,”
Aku tertawa kecil. Didi langsung mengganti profile picture nya dan spam pesan whatsapp ku, menunjukkannya padaku dengan bangga dan berkata,“jangan abaikan chat aku lagi ya,”
Nada dan tatapannya yang lembut membuatku tertegun. Jangan bilang... Didi tertarik denganku? Oh tidak! Ini berbahaya! Didi memang laki laki yang menarik, sangat menarik. Bagaimanapun dia adalah cinta pertamaku tapi... aku bukan lagi wanita single. Aku tidak tertarik merusak rumah tanggaku dengan cinta lama bersemi kembali dengan cinta pertama. Seperti judul sinetron, huh?
Aku mencoba mengalihkan pembicaraan dengan bertanya,“Kamu juga lagi mau mencari udara segar?”
“Sedikit,” Didi mengeluarkan kotak rokoknya dan berkata,“sebenarnya aku butuh tempat untuk rokok tapi rupanya ada wanita yang lebih menarik bagiku daripada rokok ini,”
Didi menyimpan kembali kotak rokok tersebut di dalam kantong jas nya. Dia tidak bisa menutupi rasa penasarannya
“Kamu datang kemari dengan siapa?”
“Seseorang,”
“Siapa seseorang yang beruntung itu?”
Suamiku, dasar!
“Em, hanya seseorang. Apakah itu penting?”
“Tentu. Teman? Atau pacar?”
Aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis, tidak ingin mengejutkannya dengan fakta aku sudah menikah dan dikaruniai dua orang anak. Aku melipat rambutku ke belakang anak telinga karena angin sepoi sepoi mulai memberantakkan rambutku
“Kalau kamu? Datang sendirian?” tanyaku kembali
“Yap, sendirian. Senang bisa punya teman berbicara seperti ini,” jawabnya terdengar ringan, membuatku mulai yakin kalau aku bukanlah wanita pertama yang dia ajak flirting. Dia kelihatan sangat santai dalam mengatakannya. Fiuh, kupikir dia tidak ada bedanya dengan William. Bedanya hanya yang satu sudah beristri sementara yang satunya masih single
“Apa yang akan kamu lakukan weekend ini?” tanyanya
Dia tidak berencana mengajakku keluar kan?
“Aku ingin mengajakmu nonton. Is that okay?” lanjutnya membuatku menahan napas. Geeez, kenapa bisa bener banget sih dengan firasatku?
“Kalau enggak bisa juga enggak pa-pa kok. There’ll always next time,right?” lanjutnya setelah melihat raut wajahku yang kelihatan aneh mungkin di matanya
Aku menghembuskan napas pelan, mulai berpikir apakah sebaiknya aku jujur saja pada Didi? Meski aku tidak merasa melakukan kesalahan apapun namun aku hanya merasa akan lebih baik menjelaskan ini padanya
Aku mengepalkan jemari tanganku, sedikit berdeham pelan, berencana untuk menyampaikan hal tersebut namun aku dikejutkan dengan kehadiran Laura Angela di tengah tengah kami. Dibelakangnya menyusul William yang menatap Didi dan aku bergantian